Beberapa menit yang lalu. Perasaan Alyssa dihantui dengan rasa takut. Akan tetapi setelah satu jam berlalu. Perasaannya kini tenang kembali. Namun itu tidak berselang lama. Selepas magrib. Alyssa di kejutkan dengan suara bas di depan rumah yang mengucapkan salam.
Tentu, Ningsih yang mendengar itu langsung saja membukakan pintu. Alyssa pun ikut untuk melihat. Dan ketika tau yang datang adalah Pak Akhtar, jantung Alyssa pun tidak lagi bisa dikontrol.
Apalagi setelah mendengar apa yang di utarakan oleh pak Akhtar membuatnya berkeringat dingin menjawab pertanyaan Ibu dan Bapaknya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Pak Akhtar, masuk Pak. "Ningsih menyambut Akhtar dengan baik.
"Ada Pak Amil sama Pak Ryan, Pak RT juga. semuanya masuk,"
"Terimakasih Bu Ningsih, Pak Misnan."
"Iya, ini ramai-ramai ada apa ya, ada Pak RT pak Amil juga. Maaf sekiranya pertanyaan saya lancang."
Akhtar tersenyum mendengar ucapan Bu Ningsih. Saat ini perasaannya begitu gugup. Bahkan tangannya terasa dingin.
Akan tetapi ia berusaha mengontrolnya dan menjawab pertanyaan kedua orang tua Alyssa dengan lugas.
"Saya ke sini ingin menyampaikan niat baik saya untuk menikahi Alyssa hari ini juga. Sesuai dengan syarat yang di ajukan Alyssa tadi sore."
Ningsih dan Misnan yang mendengar itu saling memandang satu sama lain. Lalu kemudian beralih ke arah Alyssa.
"Benar itu."
Alyssa yang ditatap penuh oleh kedua orang tuanya itu meremas jarinya yang terasa dingin.
"Iy-a Pak," balas Alyssa. Ia menundukkan kepalanya.
"Bagaimana Pak, Bu. Apa lamaran saya di terima?" tanya Akhtar
Niatnya sih bercanda. Alyssa mengatakan ingin di nikahi oleh gurunya yang bernama Akhtar, akan tetapi, apa yang di ucapkan olehnya di anggap serius. Hingga akhirnya pada hari itu dua jam setelah Alyssa mengatakan ingin di nikahi hari itu juga benar-benar terjadi.
Pak Akhtar, guru matematika yang paling tidak di sukai oleh Alyssa, menjadi suaminya dalam waktu yang begitu singkat.
"Kamu serius Alyssa?" tanya bapak Alyssa mencoba meyakinkan bahwa ini adalah keinginan Alyssa. Bukan karena dipaksa atau ada hal yang lain.
"Boleh Alyssa bicara sebentar sama, Pak Akhtar?" Alyssa meminta izin.
Misnan menghela nafasnya. "Silahkan."
Alyssa menganggukkan kepalanya. Ia memberikan isyarat kepada Akhtar agar mengikutinya.
Saat ini keduanya tengah berbicara di dapur. Sedangkan orang tua Alyssa dan juga rekan-rekan yang di bawa oleh Akhtar tengah menunggu calon pengantin yang kini sedang berdiskusi.
"Pak, sore tadi itu saya becanda. Gak serius. Kenapa malah Bapak bawa penghulu ke rumah saya."
"Tapi saya serius ingin menikah dengan kamu. Jujur ketika kamu mengatakan ingin menikah dengan saya hari ini juga saya sangat bahagia. Karena pada akhirnya, saya tidak perlu menunggu satu bulan untuk menunggu balasan chat dari kamu."
Alyssa memegang keningnya yang tiba-tiba saja terasa hangat. Ingin rasanya Alyssa memutar balikan waktu dan meralat ucapannya yang ingin menikah dengan pak Akhtar hari ini.
"Terserah Bapak deh. Saya sudah pasrah."
Akhtar tersenyum senang. "Kalau begitu, saya sudah bisa mengucapkan ijab kabul."
Alyssa menatap kedua orangtuanya, penghulu serta saksi yang di bawa oleh pak Akhtar ke rumahnya.
"Mau gimana lagi, Pak. Kalau sudah begini, gak bisa nolak." Alyssa dan Akhtar pun kembali.
Alyssa terduduk lemas di kursi yang akan menjadi ijab kabul hari ini.
Pernikahan kilat yang tidak akan pernah ia duga selama hidupnya. Tidak ada riasan atau baju pengantin yang di pakainya. Selain pakaian biasa dan juga kerudung yang melekat di kepalanya.
"Bagaimana?" tanya Pak Misnan kepada Alyssa.
"Bapak restui, kalau Alyssa nikah sekarang?" Alyssa balik bertanya.
"Nak Akhtar itu pemuda yang baik. Dia pintar ngaji juga. Insyaallah. Kalau kamu mau menerima dia. Hidup kamu tidak akan terlalu suram karena memiliki suami yang paham agama."
"Ya sudah kalau Bapak setuju. Kita bisa melaksanakan acara pernikahannya."
Ningsih menatap putrinya. "Kamu ikhlas."
Tenggorokan Alyssa tercekat mendengar pertanyaan ibunya. Apa dia ikhlas. Jawabannya adalah tidak, tapi dia tidak pernah ingin mempermalukan dirinya sendiri beserta keluarganya. Masalah ikhlas atau tidak, ia pasrahkan pada Allah aja wajalla. Akhir jomblo yang tragis untuk dirinya.
"Alyssa, memasrahkan semua ini kepada Allah Bu, jika ini adalah takdir Alyssa. Alyssa, akan menerimanya."
Mendengar jawaban Alyssa semua sepakat, jika tidak ada paksaan dalam hal ini dan acara akad nikah bisa di laksanakan secara langsung.
"Baiklah, rukun nikah sudah terpenuhi, ada calon mempelai, ada saksi, ada wali nikah sekarang tinggal ijab kabul. Pihak wanita pun sudah setuju untuk menikah, dan sekarang Bapak Misnan. Bisa jabat tangan nak Akhtar."
Akhtar dengan perasaan berdebar-debar menjabat tangan Ayah Alyssa.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Alyssa Wulandari binti Misnan dengan mas kawin uang tunai sebesar 86 juta rupiah di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya. Alyssa Wulandari binti Misnan dengan mas kawin uang tunai sebesar 86 juta rupiah di bayar tunai." Dengan satu kali tarikan nafas. Akhtar berhasil mengucapkan ijab kabul.
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu.
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Alyssa yang mendengar kata sah di telinganya seketika memejamkan matanya. Berharap ketika ia membuka matanya, kejadian ini tidak pernah terjadi. Akan tetapi sudah beberapa kali ia mencoba. Hasilnya sama, saat ini Alyssa duduk di samping Pak Akhtar dengan dirinya yang kini sudah menjadi istrinya.
"Untuk surat-surat dan buku nikah. Bisa diurus besok," ucap penghulu memberi tahu.
"Iya, Pak. Terimakasih."
"Selamat ya Pak, sekarang gak sendiri lagi," ucap Pak Ryan.
"Iya, terimakasih Pak Ryan yang sudah bersedia menjadi saksi pernikahan saya yang tiba-tiba ini."
"Iya sama-sama. Kalau begitu saya pulang dulu."
"Iya Pak Ryan."
"Selamat untuk malam pertamanya nanti."
Akhtar tersenyum. Lalu tatapannya beralih ke arah Alyssa yang saat ini sedang tersenyum paksa.
"Alyssa." Panggil Akhtar dengan suara lembut.
"Iya," jawab Alyssa dengan berat.
"Kita ... "
"Ehm ... "
Akhtar tubuh bisa mengatakan apapun. Dia begitu bahagia karena berhasil menikah dengan gadis yang selama ini ia sebut dalam setiap do'anya.
"Alyssa!" Panggil Ningsih.
"Iya Bu." Alyssa mengalihkan perhatiannya ke arah ibunya.
"Sekarang kamu udah nikah dan juga punya suami. Bersikaplah dewasa dan hormati Pak Akhtar sebagai suami."
"Iya, Bu."
"Kalau begitu ajak suami kamu istirahat. Tanya apa sudah makan atau belum. Kasih minum, kopi atau teh. Tanyakan apa yang dia suka." Nasihat Ningsih.
"Iya Bu, Alyssa paham."
"Ibu akan bicara sama Pak Akhtar setelah makan nanti."
Alyssa menganggukkan kepalanya. Ia sudah tau apa yang harus dilakukannya. Akan tetapi. Alyssa masih belum terima dengan kejadian hari ini.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Alyssa duduk di kasur yang di tempatinya sambil melamun ia juga membawa panci yang selama ini ia cuci. Masih ingat di kepalanya tentang perkataan Ibunya. Tentang, jika ia ingin memiliki suami yang tampan dan juga bersih. Maka ia harus membersihkan sesuatu itu dengan bersih. Tapi kenyataannya dia malah mendapatkan jodoh seperti Pak Akhtar. Yang notabenya. Menganut sunah Rasul.
"Kamu kenapa?" tanya Akhtar hati-hati. Takut menyinggung perasaan Alyssa. Sikapnya masih lembut dan penuh kasih sayang.
"Bapak tau gak? Ibu saya nyuruh nyuci panci yang item ini sampai kinclong biar punya jodoh katanya bersih, nyapu halaman sampai enggak ada daun yang tersisa. Tapi kenapa saya malah dapat jodoh kaya bapak!" ucap Alyssa sambil menunjukkan panci yang seiring dicucinya.
"Emang saya kenapa?" tanya Akhtar. Sambil menunjuk dirinya sendiri.
Alyssa membuang wajahnya ke arah samping. Enggan menatap Pak Akhtar yang terasa lebih tampan jika di lihat dari dekat.