Alyssa, saat ini tengah duduk di teras rumah. Saat ini dirinya tengah di landa kebosanan luar biasa. Karena tidak ada sesuatu yang harus dia lakukan. Sepanjang hari ini dia sudah melakukan berbagai kegiatan. Akan tetapi, semua kegiatan itu sudah selesai di laksanakan. Namun, setelah tugas itu selesai. Dirinya tidak melakukan apa-apa lagi. Bermain ponsel sudah ia lakukan. Tapi, tidak ada yang menarik. Hingga akhirnya, ia memilih duduk di teras rumah sambil melihat rumput yang bergoyang.
“Ih bete,” gumam Alyssa.
“Ibu!” panggil Alyssa. Ia menghampiri Ibunya yang sedang memilih tumbuhan yang akan di jadikan obat herbal.
“Ada apa?”
“Enggak, Cuma manggil doang.” Alyssa menatap Ibunya sekilas.
Ningsih yang mendengar itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ibu aku bosan,” curhat Alyssa.
“Ya udah nikah sana!”
Alyssa memutar bola matanya malas. “Apa hubungannya bosan sama nikah.”
“Ada, biar gak stress.”
“Kata siapa? Nikah gak bikin stress. Malah banyak kok yang abis nikah stress. Ya kalau nikahnya sama orang yang tepat kalau enggak. Bisa jadi janda muda.”
Ningsih mengabaikan ucapan Alyssa dan memilih bahan yang akan di jadikan obat.
“Ibu!” panggil Alyssa. Ia tidak suka jika di cuekin seperti ini.
“Apa?”
“Bete!”
“Udah ah sana! Kamu pergi aja. Ibu mau buat jamu. Biasanya juga sibuk sama pacar-pacar kamu.”
Alyssa mengerucutkan bibirnya. Sebahagia apapun dirinya dengan pacar-pacarnya. Akan ada posisi dimana dirinya akan merasa bosan dan juga jenuh. Hal itu di rasakan oleh Alyssa sekarang.
“Auh ah. Bete kesel.” Alyssa menendang nendang kakinya. Lalu Alissa pun memutuskan untuk pergi ke halaman depan. Tanpa sengaja ia bertemu dengan gurunya. Akhtar.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Alyssa.
“Mau kemana?”Tanya Akhtar. Dia memarkirkan motornya di sisi jalan dan memutuskan untuk berbincang sedikit dengan Alyssa.
Sedangkan Alyssa yang melihat itu sedikit malas jika harus berbincang dengan gurunya. Namun, karena Alyssa sedang kesal jadi dia memutuskan untuk menanggapinya.
“Kenapa pesan saya gak pernah di balas?”Tanya Akhtar. “Padahal saya udah nunggu dari lama loh.”
Alyssa menatap sekelilingnya, dia tidak ingin ada orang yang mendengar pembicaraannya.
“Maaf Pak sebelumnya. Kenapa Bapak begitu maksa saya harus balas pesan Bapak?” Alyssa malah balik bertanya.
“Saya ingin mengenal kamu lebih jauh lagi, berkomunikasi dengan baik itu saja.”
“Masalahnya, saya gak mau Pak. Lagipula Bapak ini aneh, saya itu secara halus nolak Bapak. Kenapa Bapak enggak peka sih,”
Akhtar, bukannya tersinggung dengan ucapan Alyssa. Dia malah tersenyum dengan jawaban jujur dari mulut Alyssa.
“Saya tau. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, jika kita menyukai seseorang maka kita harus memperjuangkannya.”
Alyssa menggelengkan kepalanya. “Masalahnya Pak, saya itu bukan orang yang pantas untuk di perjuangkan. Saya itu tidak seistimewa itu, saya bukan orang yang pintar dan juga bukan orang yang cantik,”ucap Alyssa.
“Saya menyukai kamu bukan karena cantik.”
“Lalu apa? Saya tidak punya keistimewaan apapun. Kecuali.” Jeda Alyssa.
“Maaf, saya bukannya menghina. Tapi ini fakta, Bapak itu terlalu tua untuk saya yang masih imut lucu mirip gulali berwarna warni. Meskipun tak seputih gula pasir. Saya itu gak cocok sama Bapak. Jadi urungkan niat Bapak yang mau menikahi saya," lanjut Alyssa dengan lancar.
“Saya tidak peduli, saya sudah yakin buat nikah sama kamu.”
“Saya ini matre loh Pak,”
“Enggak masalah.”
“Tapi saya udah punya pacar!” ucap Alyssa dengan nada tegas.
“Gampang, tinggal kita minta restu aja sama dia. Ya kalau itu juga pacar kamu itu nyata bukan fiksi,” ledek Akhtar.
“Saya enggak suka sama Bapak!” Alyssa mengetatkan rahangnya. Gemas dengan tingkah Akhtar yang terus saja ngotot ingin mendekati dirinya.
“Nanti juga suka kalau sudah nikah.” Akhtar malah membalas Alyssa dengan santai.
“Arghhh!” Jerit Alyssa kesal karena Akhtar tidak mau mengalah.
“Ok fine, jika Bapak terus saja memaksa saya menikah dan mau menerima Bapak. Saya punya persyaratan,” ucap Alyssa menggebu-gebu.
Akhtar tersenyum. “Saya ingin mendekati kamu seperti pria lain mendekati wanita yang di cintainya. Saya gak mau kamu terpaksa.”
Alyssa memejamkan matanya lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu di keluarkan secara perlahan. Memang sangat susah bicara sama orang tua yang telat masa balighnya. Ditolak secara halus gak peka. Di bilang pemaksaan gak terima. Ya Allah kenapa ada manusia kaya begini. Batin Alyssa.
“Begini aja Pak. Saya sebelumnya gak pernah yang namanya dekat sama cowok.” Alyssa mencoba bersikap tenang.
“Saya tau.”
“Bapak dengerin dulu saya ngomong.” Andaikan Alyssa ada di film kartun. Mungkin saat ini wajahnya sudah merah seperti tomat matang.
“Saya gak suka yang namanya pacaran.”
“Saya enggak ngajak kamu pacaran, tapi saling mengenal lalu menikah,” sela Akhtar.
“Saya gak mau pacaran, atau berkomunikasi seperti zaman sekarang bilang PDKT. Saya enggak mau, jadi gini aja Pak. Saya yakin satu juta persen. Bukan lagi seratus persen. Keyakinan saya, Bapak tidak akan mampu memenuhi syarat yang saya ajukan.”
“Kamu belum menyebutkan syarat. Tapi sudah yakin kalau saya tidak mampu memenuhi syarat. Kenapa bisa begitu, sebaiknya kamu katakan saja apa syarat kamu. Insyaallah, saya bisa memenuhinya.”
Alyssa menyeringai senang. “Kalau begitu, saya mau, Bapak nikahin saya sekarang juga, detik ini juga. Dengan mas kawin gaji Bapak selama ngajar sampai sekarang. Dan itu semua full gak di kurangi.”
Akhtar terkejut dengan syarat yang Alyssa ajukan. Bukan karena nominal yang di sebutkan, melainkan keinginan Alyssa yang ingin menikah hari ini juga.
“Kamu serius?” Tanya Akhtar.
“Serius Pak. Saya kasih waktu Cuma dua jam buat Bapak nyiapin semuanya. Kalau gak bisa, jangan pernah minta saya buat balas chat apalagi balas surat Bapak.”
Akhtar menghembuskan nafasnya kasar.
“Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum.”
Tanpa banyak bicara Akhtar meninggalkan Alyssa dan pulang ke rumahnya.
Sementara Alyssa sendiri, dia tersenyum senang karena berhasil membuat Akhtar pergi dan tidak akan mengganggunya lagi. Alyssa menatap sekitarnya dan tanpa dia sadari bahwa ada yang menguping percakapan mereka. Dia adalah teman Akhtar di madrasah.
“Alyssa!”
“Eh, Pak Ryan. Assalamualaikum Pak,” ucap Alyssa dengan ramah.
“Waalaikumsalam.”
“Saya mau tanya boleh?”
Alyssa berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.
“Apa yang kamu katakan sama Pak Akhtar itu beneran?” Tanya Ryan memastikan.
“Pak Ryan tadi denger?” Alyssa gugup sekaligus malu dengan apa yang telah di ucapkannya pada Akhtar barusan.
“Iya.”
“Saya hanya bercanda aja Pak. Mana mungkin serius, lagipula mengurus pernikahan mana mungkin bisa di persiapkan dengan cepat.”
“Tapi saya melihat Pak Akhtar bersungguh -sungguh loh.”
Alyssa yang mendengar itu menelan ludahnya kasar. Dalam hatinya ada rasa takut jika perkataannya di anggap serius.
“Aduh Pak, jangan nakutin saya dong. Masa saya nikah, tapi kaya yang didepein duluan, bisa-bisa gempar satu kampung.”
“Saya gak nakutin kamu. Tapi di liat dari sikap Pak Akhtar barusan. Kamu harus hati-hati, siap-siap aja nanti langsung malam pertama.”
Alyssa yang mendengar ucapan prontal Pak Ryan seketika sekujur tubuhnya merinding geli.
“Aduh Pak!” Alyssa merasa gelisah. Sepertinya tidak baik melanjutkan percakapan ini dengan Pak Ryan
Alyssa membalikkan badannya dan berkata. “Pak sepertinya saya harus pergi.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Alyssa langsung saja berlari ke dalam rumahnya. Entah kenapa firasatnya mengatakan akan ada kejadian besar yang merubah hidupnya. Tapi ia tidak tahu itu kapan.
Jantungnya saat ini berdetak dengan kencang. Entahlah dia tidak tau pertanda apa ini.
Alyssa berdo’a semoga apa yang di katakannya pada Pak Akhtar tidak di tanggapi serius. Karena jujur jika Pak Akhtar berani memenuhi syarat yang di ajukan oleh dirinya maka, habislah masa jomblonya hari ini juga.
Ia tidak bisa lagi pacaran sama baby tampannya. Apalagi melepas Taehyung. Alyssa tidak bisa, karena jika dirinya menikah dengan Pak Akhtar hari-harinya akan di penuhi dengan ceramahnya yang menyakiti hati tapi itu adalah kebenaran.