bab 3. Surat dari pak guru

1023 Kata
"Alyssa sini!" panggil sang ibu. Alyssa yang saat ini tengah bersembunyi di kamarnya pun mengintip di sela pintu kamarnya. Memastikan jika mantan gurunya itu sudah pulang. Dan ketika di ruang tamu sudah tidak ada yang dihindarinya itu Alyssa pun membuka pintunya dan menghampiri Ningsih. "Iya Bu," jawab Alyssa. "Dari tadi dipanggil kamu diam aja!" omel Ningsih. "Ck!" Alyssa berdecak pelan, ia melirik sang ibu sekilas lalu bertanya ada apa ibunya memanggilnya. "Ada apa Ibu manggil?" Ningsih tersenyum, lalu mendekat ke arah Alyssa dan duduk disebelahnya, lalu dengan antusias Ningsih pun menceritakan apa dan maksud tujuan guru Alyssa datang ke rumah. "Jadi, tadi guru kamu bicara sama Ibu. Dia ingin melamar kamu." "Apa? Ibu serius." Alyssa membulatkan matanya tidak percaya dengan maksud dan tujuan gurunya itu untuk melamar dirinya. "Serius, bahkan guru kamu ngasih surat buat kamu." Ningsih pun memberikan amplop putih yang berisi surat itu kepada Alyssa Alyssa pun menerima surat itu pun dengan malas membukanya. "Ishh, apaan sih kuno banget. Wa udah ada, ngapain ngirim surat segala, " rutuk Alyssa dengan kelakuan gurunya itu. "Mungkin guru kamu tahu. Kalau ngirim pesan lewat Wa pasti enggak akan dibalas sama kamu." "Ih, sok tau banget tuh orang," kata Alyssa. Ia merobek dan membuang amplop itu di meja. Assalamualaikum Untuk calon bidadari surgaku.... "Idih, perett calon bidadari surga." Baru sepenggal surat yang ditulis oleh Akhtar. Tapi Alyssa sudah meledeknya. "Alyssa baca yang bener!" kata Ningsih. "Iya Bu, nih aku baca. Lagian ada-ada aja pakai nulis surat segala," ucap Alyssa sebal. Sungguh dirinya sangat tidak menyukai gurunya itu. Mau dibuatkan surat satu novel sekaligus, dirinya tidak akan pernah luluh atau apapun. Assalamu'alaikum Untuk calon bidadari surgaku. Saya Muhammad Akhtar Al Basir. Ingin menyampaikan niat baik saya untuk mengenal kamu, sebagai calon makmum dalam rumah tangga kita nanti. Jika berkenan, kamu membaca surat yang saya tulis untuk kamu. Izinkan saya memberi kamu kabar atau menanyakan kabar. Mengetahui banyak hal tentang kamu dan juga hal hal lainnya. Mungkin tidak banyak yang ingin saya sampaikan. Tapi tolong, balas pesan wa saya yang sudah satu bulan kamu gak bales. Itu saja, terimakasih. Calon imam. Muhammad Akhtar Al Basir Alyssa yang membaca kalimat terakhir dari sang guru pun segera membuka ponselnya. Terdapat banyak pesan masuk yang tidak dia baca atau sekedar membukanya. Menurutnya orang yang menanyakan selamat pagi atau selamat sore adalah orang yang sangat membosankan. Untuk itu ketika ada pesan masuk, dia tidak pernah membalasnya. Tanpa tahu ada satu nomor yang menunggu balasannya. "Sial, ini emang Pak Akhtar," gumam Alyssa. Tertera di sana satu bulan yang lalu jika pesan itu masih ke dalam ponselnya. "Tuhkan, bukan Pak Akhtar yang gak Wa kamu, tapi Wa nya enggak kamu bales, kebiasaan," omel Ningsih dengan kelakuan putrinya itu. "Ishhh Ibu. Ibukan tau kalau aku enggak suka sama mereka. Terus ngapain aku balas wa dari mereka." Ningsih yang mendengar itu merasa geram. "Alyssa. Kamu itu mau nyari yang gimana lagi. Udah sekarang mah terima aja. Nanti Ibu kasih tau sama Bapak." Alyssa yang mendengar keputusan Ningsih pun protes tidak menerima. "Gak Bu, gak mau. Pak Akhtar itu udah tua, lagian dia itu guru matematika yang paling menyebalkan. Ogah jika harus nikah sama dia amit-amit. Bisa-bisa aku diketawain sama satu alumni kelas aku." Alyssa brigidik ngeri, membayangkan jika ia harus bersanding dengan guru yang selama ini ia suka gibahin dengan teman-temannya. "Terserah kamu. Ingat jangan kebanyakan milih. Nanti malah dapat zonk. Ibu do'ain kamu jodoh tuh sama guru kamu.' Alyssa yang disumpahin begitu oleh Ibunya langsung saja mengatakan amit-amit. "Iihhh amit-amit ya Allah. Jangan sampai itu terjadi. Gak bisa bayangin kalau nikah sama dia, apa-apa nanti dihitung. Bukannya nanti dikasih nafkah, ini malah dikasih kertas ujian, cukup sudah ketika aku sekolah dipusingkan dengan soalnya. Jangan sampai nikah juga dipusingkan dengan gurunya." Keesokkan paginya. Alyssa sedang membersihkan kamarnya. Lalu ia pun teringat dengan surat yang diberikan oleh gurunya yang berisi tentang dirinya yang harus membalas pesannya yang sudah satu bulan tidak dibalas. Akan tetapi dirinya yang memang benar-benar tidak suka dengan Akhtar memutuskan untuk membuang surat tersebut. "Apaan sih, gak peduli. Lagian gue juga gak ingat yang mana nomornya, udah dihapus juga. Jadi lebih baik buang aja deh suratnya," putusnya lalu ia pun meremasnya sampai membentuk bola dan melemparnya. Akan tetapi secara kebetulan lemparan Alyssa itu secara tidak sengaja mengenai seseorang yang baru saja lewat. "Duh!" ucap orang yang terkena lemparan Alyssa. Posisi rumah Alyssa yang memang dekat dengan jalan umum membuat Alyssa yang sembarangan melempar sampah pun mengenai seseorang. Dan melihat siapa orang yang baru saja dirinya lempar dengan kertas, seketika. Alyssa langsung menegang. "Mati gue!" rutuk Alyssa dalam hati. Ketika orang tersebut menghampiri dirinya. "Assalamualaikum!" ucap salam orang itu ketika sudah ada dihadapan Alyssa. "Wa'alaikumssalam," jawab Alyssa dengan perasaan tidak enak. Dia pun langsung meminta maaf. "Maaf Pak, gak sengaja." Alyssa memamerkan senyumnya. Orang itu hanya menghela nafasnya. "Lain kali kalau buang sampah itu jangan sembarangan. Jangan mentang-mentang kita di desa. Kamu bisa buang sana sini. Ingat dimanapun kita berada, menjaga lingkungan adalah kewajiban kita." "Iya Pak." Akhtar menatap Alyssa lekat. Dirinya pun memberikan bulatan kertas itu kembali kepada Alyssa. "Ini. Jangan lupa balas pesan saya." "Iya Pak." "Kalau kamu lupa. Nanti saya kirim pesan lagi." "Iya Pak, makasih." "Kalau gitu saya pamit. Assalamu'alaikum." "Wa'alakumssalam," balas Alyssa. Setelah kepergian Akthar Alyssa pun menatap bulatan kertas yang di pegangnya dengan geram. "Ihhh. Kenapa sih tuh cowok enggak nyerah aja. Gak nyadar banget sama usia. Udah tua, masih aja ngejar yang muda. Mana cuma guru honorer lagi. Mau dikasih makan apa gue? Bisa-bisa puasa Senin sampai Kamis ini mah." Alyssa tidak bisa membayangkan hal itu jika dirinya benar-benar menikah dengan guru matematikanya itu. Lagipula Alyssa itu bukan cewek matre. Tapi realistis, meskipun Athar menjabat sebagai guru. Alyssa tidak mau menikah dengan Athar. Karena apa? Karena Athar bukan guru PNS melainkan honorer yang gajinya 600 ribu sebulan. Alyssa mana bisa dikasih nafkah dengan uang jajan sekolah semasa SMA nya. Di kasih 50 ribu per hari aja untuk saat ini Alyssa tidak mau. Apalagi itu. Namun, tanpa banyak yang tahu. Bahwa Akhtar bukan hanya seorang guru honorer. Tetapi dirinya juga seorang pengusaha jual beli ikan gurame. Ia memiliki banyak kolam ikan di desa tetangganya yang berkisaran ribuan meter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN