Saat ini sang ibu sedang memilih tumbuhan yang akan di jadikannya obat herbal. Setelah dirinya puas menstalking idolanya yang kini tengah di beritakan dekat dengan girlband yang paling terkenal saat ini.
“Al, ada siapa tuh? Kayanya Ibu denger ada orang manggil.”
“Masa sih Bu?” Alyssa berjalan ke arah depan rumahnya. Dan benar saja. Ada seorang pria yang sedang mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam.
“Bu ada tamu!” beri tahunya pada Ningsih.
“Ya udah sana bukain pintu terus suruh masuk, jangan lupa, kasih minum.”
Alyssa yang mendengar perintah ibunya pun menunjukkan wajah tidak sukanya. Alyssa merasa berat setelah tau siapa yang datang ke rumah.
“Kenapa?” tanya Ningsih yang melihat raut wajah Alyssa yang merasa tidak enak.
“Itu Bu....” Alyssa menggigit bibirnya. Alyssa merasa malas jika harus melayani tamu. Apalagi tamu itu adalah gurunya.
“Ayo sana, keburu tamunya pergi!” titah Ningsih cepat.
Alyssa pun mengangguk kepalanya dengan terpaksa. Sebenarnya Alyssa sangat malu jika harus melayani tamu. Apalagi tamu tersebut adalah gurunya waktu sekolah madrasah. Guru yang paling dirinya tidak suka karena pernah menghukum dirinya. Meskipun itu karena kesalahan dirinya. Tapi tetap saja ia tidak menyukainya. Lalu tidak ada angin tidak ada hujan. Tiba-tiba saja gurunya itu datang ke rumahnya sebagai tamu tak di harapkan.
Huh
Alyssa menghembuskan nafasnya.
Gadis penyuka idol Korea itu segera menyiapkan air putih untuk disuguhkannya kepada sang guru.
“Di minum Pak air putihnya. Maaf seadanya aja, soalnya di rumah lagi gak buat apa-apa,” kata Alyssa, ia mencoba bersikap ramah walau hatinya merasa dongkol.
“Terimakasih,” balas guru Alyssa. Tidak lupa dengan senyum ramahnya.
“Iya Pak, sama-sama," jawab Alyssa.
Setelah itu Alyssa pun memutuskan untuk berpamitan dan pergi ke kamarnya. Biarkan ibunya saja yang melayani tamu tak diundang itu pikir Alyssa.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak,”
“Iya silahkan.” Setelah kepergian Alyssa. Ningsih pun datang.
“Assalamualaikum Pak,” ucap Ningsih ramah.
“Waalaikumsasalam,” jawab guru Alyssa dengan ramah. Tidak lupa ia juga sungkem dengan ibu Alyssa.
“Maaf ya Pak, hanya ada air putih aja,” ucap Ningsih dengan perasaan tidak enak.
“Enggak papa Bu. Ini juga saya sudah mengucapkan banyak terimakasih. Maaf juga bila kedatangan saya merepotkan Ibu Ningsih.”
“Gak merepotkan kok Pak, ya gini aktivitas seorang Ibu rumah tangga. Ngomong -ngomong ada apa ya Pak. Pasti pada sesuatu, saat Bapak memutuskan datang ke rumah ini, pasti ada tujuannya?” tanya Ningsih.
Pria yang disebut bapak itu adalah Akhtar, guru Alyssa saat dirinya sekolah madrasah.
“Maaf sebelumnya, saya sudah mendapat kabar dari beberapa warga di sini. Apa benar beberapa calon yang dikenalkan untuk Alyssa selalu saja gagal. Maaf sebelumnya saya lancang menanyakan hal ini.”
Ningsih tersenyum dengan ucapan Akhtar. Memang satu tahun ini Alyssa sedang gencar-gencarnya ia kenalkan dengan beberapa pria. Namun, semuanya gagal karena calon yang di pilihannya atau pilihan suaminya itu selalu saja Alyssa tolak secara tidak langsung. Banyak alasannya, bukan tipenya lah atau karena sikapnya yang kerap kali membuat pria yang dikenalkannya memutuskan untuk membatalkan perkenalan ini.
“Saya tidak ingin berbohong atau menyembunyikan ini, karena ini memang bukan aib atau segala macamnya. Usia Alyssa sudah cukup dewasa untuk berumah tangga di bandingkan dengan teman-temannya yang lain. Akan tetapi, pemikiran dari keluarga kami juga tidak terlalu kolot untuk menikahkan Alyssa dengan secara paksa. Jodoh atau calon suaminya harus lah Alyssa yang memilihnya. Namun sampai saat ini, belum ada yang tepat. Itu saja.”
Akhtar mengerti dengan perkataan ibu Ningsih. Alyssa bukanlah gadis desa yang pemikirannya pendek. Bisa dibilang Alyssa adalah gadis desa yang mengikuti perkembangan zaman. Sehingga ketika dirinya dijodohkan atau apapun. Ia bisa menolaknya.
“Saya paham Bu, Alyssa adalah gadis dengan pemikiran luas. Segala sesuatunya pasti ia perhitungkan. Apalagi dia pernah bekerja selama dua tahun di Jakarta. Pasti pemikirannya berbeda dengan yang lain.” Akhtar tersenyum. Ia meremas jemarinya gugup. Apa yang akan dirinya sampaikan kepada orang tua gadis yang akan coba ia pinang.
“Ya Bapak tau sendirilah. Bagaimana jika gadis desa sudah menginjakkan kakinya ke kota. Pasti banyak sedikitnya pola pikirnya berubah. Dari segi tipe calon suami bahkan yang lain. Sedangkan di desa masih di bilang cukup.” Wanita paruh baya itu tersenyum.
“Saya paham Bu. Saya juga pernah belajar di sana dan sedikit banyak pergaulan di sana pasti akan terbawa. Tapi Alhamdulillah dengan keimanan yang kuat. Sampai saat ini saya bisa memegang teguh prinsip saya.” Akhtar pun meminum air putih yang Alyssa bawa.
“Ya seperti itulah, Pak.”
Akhtar mengangguk.
“Jadi Bu, kedatangan saya ke sini. Meminta izin kepada Ibu Ningsih. Sebagai orang tua dari Alyssa untuk meminta Alyssa sebagai istri saya.”
Ningsih yang mendengar ucapan Akhtar pun tersentak kaget.
“Maaf, Pak....” ucapnya terbata-bata. Karena ucapan Akhtar yang secara tiba-tiba.
“Saya bukannya mau menolak atau apa...” Ningsih mencoba mencari kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaan pria yang ada di hadapannya. “Tapi Bapak tau sendiri, Alyssa bagaimana? Saya sendiri sebagai ibunya, tidak tahu alasan mengapa sampai sekarang Alyssa terus saja menolak pria yang ingin berkenalan dengannya.”
Akhtar mengerti. Wanita seperti Alyssa memang sangat langka dan susah untuk didekati. “Saya mengerti, tapi izinkan saya untuk mengenal Alyssa lebih jauh lagi. Saya tau lamaran saya ini pasti tidak akan langsung di terima oleh Alyssa dan juga Ibu. Untuk itu, izinkan saya mengenal lebih jauh lagi tentang Alyssa.”
“Kalau begitu Silahkan. Saya tidak bisa menolak atau menerima, karena semua kembali lagi kepada Alyssa.” Balas Alyssa.
Akhtar pun tersenyum lega. Keinginannya sih ia bisa langsung melamar Alyssa dan menikah. Akan tetapi semuanya tidak mudah, meskipun ia mempunyai gelar di belakang namanya, tetapi wanita yang akan dipinangnya itu sangat susah di dekati.
“Terimakasih kasih atas izinnya. Insyaallah, meskipun saya mendapatkan izin dari Ibu. Yang saya lakukan nanti tidak akan melewati batas.”
Ningsih tersenyum bahagia dengan ucapan Akhtar. Dari sekian banyak pria yang datang untuk melamar Alyssa Alhamdulillah. Semuanya pria baik, akan tetapi yang benar-benar serius dan bukan hanya sekedar penasaran itu hanya gurunya Alyssa sajalah yang terlihat.
“Tolong Bu, sampaikan pada Ayah Alyssa nanti jika sudah datang. Saya meminta izin untuk mendekati dan mengenal putrinya sebelum saya pinang secara resmi.”
“Iya Pak akan saya sampaikan.”
Akhtar yang mendengar itu mengucapkan terimakasih sekaligus berpamitan untuk pulang. Namun sebelum itu, ia pun menitipkan surat untuk Alyssa kepada Ningsih.
“Terimakasih, kalau begitu saya pulang. Namun saya ingin menitipkan sesuatu untuk Alyssa.”
Ningsih pun menerima sebuah amplop putih yang di berikan oleh Akhtar.
“Apa ini Pak?” Tanya Ningsih.
“Ini surat untuk Alyssa. Saya yakin. Jika saya mengirim pesan lewat w******p. Pasti belum tentu di balas dalam waktu dekat. Untuk saya menulis surat untuknya. Saya harap Alyssa membacanya dan menerima niat baik saya.”
Ningsih mengangguk mengerti.
“Iya Pak, pasti akan saya sampaikan.”
“Terimakasih, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumssalam.”