Mencuci piring adalah kegiatan pagi sebelum dirinya berhalusinasi jika Taehyung akan datang ke rumah dan melamarnya. Meskipun begitu, mau di manapun dirinya berada dan beraktivitas apapun, nyatanya Taehyung tidak pernah lepas dari pikirannya. Seperti saat ini dirinya sedang di kamar mandi, ia mendapat teguran dari sang ibu karena tengah melamun sambil senyum-senyum sendiri.
"Itu cuci yang bersih pancinya. Kalau pengen dapat jodoh yang ganteng dan bersih, " ucap Ibu Alyssa.
Sepertinya kata-kata itu sudah sangat melegenda di kalangan Ibu-Ibu ketika menyuruh anaknya membersihkan sesuatu, dengan mitos jika kita menyapu halaman atau rumah dengan bersih. Saat besar nanti kita akan mendapatkan jodoh yang bersih. Dalam artian tidak memiliki kumis atau jambang yang menghiasi wajahnya. Tipe idaman anak jaman sekarang. Berwajah Korea dengan kulit halus putih bersih tanpa noda. Tanpa sadar jika dirinya memiliki wajah yang sangat pas-pasan.
"Iya Bu, tiap hari juga di cuci bersih tanpa noda pake abu kehidupan. Lagian kenapa sih Bu, orang-orang zaman dulu selalu bilang seperti itu?" tanya Alyssa.
"Ya emang kenyataannya gitu. Tapi kalau kamu mau dapat yang begitu ya gak masalah. Ibu hanya ngasih tau aja. Udah kamu lanjut aja. Cuci semua yang bersih. Jangan lupa, nanti sapu halaman rumah," titah Ningsih, ibu Alyssa.
Alyssa yang mendengar tugas selanjutnya dari ibunya pun menghela nafasnya.
"Ih amit-amit Bu, gak mau," dumel Alyssa.
"Ya udah cuci yang bersih."
Alyssa menganggukkan kepalanya. Dirinya menggosok kuat-kuat piring yang sedang di gosoknya lalu menatap panci dan peralatan lainnya yang belum ia bersihkan.
"Kalau begini terus, kapan pacarannya sama Taehyung. Aku yakin dia udah nunggu aku dari tadi. Ini lagi kerjaan yang satu aja belum kelar. Udah dapet tugas lagi. Ih sssttt," geram Alyssa, ia berani berkata seperti itu ketika Ibunya sudah tidak ada. Sambil meremas spon pencuci piring yang penuh dengan busa. Ia pun segera mengambil panci yang harus ia bersihkan.
"Awas aja ni panci, kalau aku dapat jodoh brewokan aku lempar lo ke tengah laut. Biar di makan sama buaya sekalian," rutuknya pada benda mati yang tidak tahu apa-apa.
Hingga beberapa menit kemudian, semua peralatan masak yang di gunakan sudah di cuci bersih oleh Alyssa tanpa noda. Tentu hal itu membuat Alyssa merasa bangga. Meskipun dirinya tidak pandai dalam menggoda orang dengan kecantikannya. Tapi dirinya bisa menggoda orang dengan kepiawaiannya dalam urusan rumah. Tentu hal itu menjadi nilai plus dalam dirinya.
"Akhirnya beres juga saatnya stalking ayang!" ucap Alyssa dengan semangat. Dan baru saja ia memegang ponsel, suara gumaman seseorang sudah menginterupsi dirinya.
"Hmm!"
"Halaman rumah masih belum di sapu ya."
Alyssa yang mendengar itu pun kembali menaruh ponselnya yang masih di isi dayanya. Lalu dengan berat hati ia pun meninggalkannya dan menjalankan perintah sang ibu.
Serk
Serk
Srek
Terdengar suara sapu lidi yang beradu dengan tanah.
"Assalamualaikum. Selamat pagi, Alyssa."
"Waalaikumsalam.Bi," balas Alyssa kepada tetangganya yang sedang menyapanya.
"Ini ada surat undangan buat kamu."
Alyssa pun menerimanya.
"Dari siapa, Bi?" Tanya Alyssa.
"Itu dari Pak Rahmat, mau nikahin anaknya si Salwa."
Alyssa yang mendengar tetangga sebelahnya akan menikah pun tersenyum tipis.
"Terimakasih, Bi."
"Iya sama-sama. Kamu kapan nyusul?" tanyanya sambil tersenyum dan berjalan begitu saja untuk membagikan surat undangan lainnya pada tetangga yang lain.
"Kamu kapan nyusul." Alyssa memeragakan Ibu-Ibu yang tadi memberikan undangan kepadanya.
"Dasar Ibu-Ibu, emang gampang apa nyari cowok," kata Alyssa kesal. Lalu dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan memberitahu perihal undangan untuk ibundanya dan juga dirinya.
"Bu, ini ada surat undang!" teriak Alyssa kencang sampai terdengar ke dalam kamar.
"Jangan teriak-teriak, Al," sahut Ningsih.
"Ini ada undangan," beritahu Alyssa sambil membuka undang yang tertutup rapat dengan plastik.
"Dari siapa?" tanya Ningsih, menghampiri Alyssa yang sedang duduk di sofa.
"Dari Pak Rahmat. Katanya mau nikahin si, Salwa."
"Salwa, bukannya usianya sama kaya adik kamu ya."
"Iya Bu, umurnya juga baru 16 tahun tapi udah nikah. Kecil-kecil udah nikah. Enggak sayang apa? Masa muda udah di habiskan mengurus rumah," decak Alyssa. Ia sangat menyayangkan sekali dengan keputusan tetangganya yang memutuskan untuk menikah muda. Memang menikah muda di kampung itu bukanlah hal yang tidak biasa. Malah sangat lumrah, apalagi ada teman seangkatan Alyssa yang menikah pas lulus SD. Pas usianya baru menginjak usia 13 tahun.
"Iya usia segitu dia udah nikah. Lah kamu usia udah berapa? Boro-boro nikah. Ada cowok yang deketin aja gak ada."
Tak
Perkataan Ningsih sukses membuat Alyssa menelan ludahnya kasar.
"Kamu kapan nikah? Umur udah segitu belum ada cowok yang datang ke rumah. Ada sih, tapi di tolak terus, awas nanti pilih-pilih malah dapat yang brewok."
Alyssa yang mendengar itu meringis.
"Ibu apaan sih. Kitakan lagi ngomongin si Salwa yang nikah muda. Kenapa malah jadi mojokin aku sih. Lagian usia aku juga belum tua-tua amat. Baru 20 tahun otw 21 jadi apa masalahnya."
"Masalahnya, usia segitu. Ibu udah punya dua anak, bukan kaya kamu jangankan dua anak. Satu cowok yang mau temenan sama kamu aja gak ada."
Jleb
Perkataan Ningsih sukses membuat hati Alyssa berdarah-darah.
"Ibu kok ngomongnya gitu sih."
"Emang kenyataanya gitu kan. Udah! kamu bacain aja tanggal berapa Mang Rahmat acara hajatannya?" tanya Ningsih. Dirinya tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan sang anak.
"Nanti tanggal 17 hari jum'at," jawab Alyssa. Ia pun melipat kembali surat undangan tersebut.
"Oh ya udah. Nanti kasih tau bapak kamu. Terus itu nyapunya lanjutin," titah Ningsih. Lalu ia pun meninggalkan Alyssa untuk ke halaman belakang. Mencari tumbuhan untuk dijadikan jamu.
"Uuhhh!" jerit Alyssa kesal."Ada gak sih yang nasibnya kaya aku?" Alyssa pun menaruh surat undangan itu dengan kasar.
"Gara-gara surat undangan. Hari ini aku diributkan dengan pertanyaan kapan nikah? Dikira nikah itu gampang tinggal comot langsung aja ke KUA. Padahal Kan gak segampang itu, butuh kesiapan mental juga duit yang kuat. Sedangkan aku, sama sekali belum siap. Jangankan mental, duit buat modal nikah aja gak punya. Apalagi jodoh yang aku inginkan itu sangat mustahil digapai, tinggi putih mulus, dan berduit. Macam Taehyung," pikir Alyssa
"Udah dari pada ributin soal undangan lebih baik lanjut nyapu. Udah gitu baru pantengin ayang. Siapa tau jadi kenyataan, punya jodoh spek Taehyung. Tinggi putih dan berduit." Alyssa pun beranjak dari duduknya dan melanjutkan acara nyapu bersih tanpa sehelai daun yang tersisa agar spek jodoh yang diinginkannya tercapai.