"Ryou-kun!" sapa seseorang.
"Rin? Apa itu kau?" tanya Ryou.
Ryou menoleh ketika ada seseorang yang memanggilnya. Melihat penampilan sang gadis dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cantik sekali. Dia tidak menyangka kalau Rin Namida bisa secantik ini. Sudah lama mereka tidak berjumpa.
Ryou dan Rin pertama kali dipertemukan dalam sebuah acara talkshow. Rin yang berperan sebagai moderator saat itu diam-diam mengagumi Ryou. Menurutnya, Ryou adalah laki-laki yang berintegritas. Terlihat dari bagaimana jawaban-jawaban yang Ryou berikan saat mendiskusikan sebuah topik.
Belum lagi, Ryou pernah menemui Rin secara pribadi di belakang panggung. Di situlah mereka bertukar nomor ponsel. Setiap kali berbicara dengan Rin, Ryou akan selalu menatapnya tepat di mata. Siapa yang tidak akan meleleh kalau ditatap terus seperti itu? Dari jarak dekat itu, Rin tidak akan memungkiri kalau dia sempat salah tingkah.
"Jangan bilang kalau kau melupakanku," ucap Rin sedih.
Rin mulai menampilkan raut kecewanya. Perlahan-lahan, air mata itu berhasil lolos. Rin memang cengeng, jadi dia sedih kalau Ryou melupakannya. Padahal, Rin sangat berharap kalau dia bisa lebih dekat lagi dengan Ryou.
"Hei, kenapa kau menangis, hm?"
Ryou menghapus air mata Rin dengan kedua tangannya. Mengusap pipinya dengan lembut.
"Karena kau melupakanku," ucap Rin jujur.
'Apakah pertemuan kita memang tidak berkesan bagimu, sehingga kau bisa melupakanku semudah ini?' batin Rin.
"Siapa yang bilang kalau aku melupakanmu? Tentu tidak, Rin. Aku mengingatmu dengan sangat jelas. Kau dengan sweater abu-abu kesayanganmu itu. Tenanglah, aku tidak amnesia. Namamu selalu terukir indah di hatiku."
Seperti biasa, Ryou selalu menatap Rin tepat di matanya. Dan itu selalu membuat Rin merasa senang. Mata Ryou adalah candu baginya.
"Benarkah?"
Rin tersipu malu mendengar ucapan Ryou. Berusaha membalas tatapan Ryou yang berhasil mengalihkan dunianya. Ryou memang tampan dan Rin mengakui itu.
"Tentu saja. Tadi aku hanya sedikit terkejut melihat perubahanmu. Kau tampak semakin seksi," puji Ryou sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ahh, hentikan itu. Kau membuatku malu."
Setelah itu, Ryou dan Rin tertawa bersama. Saling bercerita banyak hal tentang pekerjaan mereka.
"Huhh, sepertinya penyakit buayanya mulai kumat. Seharusnya tadi aku berikan dia obat dulu," gumam Aika.
"Bersabarlah, Nona Aika. Tuan Ryou memang selalu seperti itu," balas Rika sambil tersenyum kikuk.
"Kau juga pasti kewalahan menghadapinya, kan? Aku salut kau bisa bertahan menjadi asistennya sampai sejauh ini. Kalau orang lain mungkin sudah menyerah untuk mengurusinya," ucap Aika sambil menepuk bahu sang asisten.
"Iya, Nona. Terkadang, beliau juga sering menggoda saya. Tapi, saya sudah terbiasa dengan semua itu. Saya tidak lagi menganggapnya serius."
"Bagus kalau begitu. Baiklah, mari berjuang bersama menghadapi orang gila ini."
Ya, Aika dan asisten pribadi Ryou melihat semua drama itu. Sudah bukan hal yang aneh lagi ketika melihat Ryou tebar pesona dengan banyak gadis. Setelah bosan mendekatinya, Ryou akan menjauh secara perlahan. Begitulah seterusnya. Apa Ryou tidak punya perasaan?
"Baiklah, kali ini kita akan membuat iklan tentang produk minuman terbaru, Krimson Fresh. Akan ada 2 part, yaitu bagian pemotretan dan bagian teaser. Sekarang, peganglah minuman itu. Buatlah pose yang menunjukkan kesegaran ketika meminum Krimson Fresh. Tapi, ingat, kalian tidak boleh menutupi merek ataupun membelakangi kamera. Minum produk itu dengan cara yang elegan. Bagaimana, kalian bisa melakukannya?" ucap penata gayanya.
"Tentu saja, akan kulakukan," ucap Ryou enteng.
Jangan pernah meremehkan kemampuan Ryou. Dia selalu ingin menampilkan yang terbaik untuk penggemar setianya. Kalau hanya pose-pose seperti itu saja pasti sangat mudah untuknya.
"Oke, set position!"
Ryou dan Rin mulai siap di posisinya masing-masing dengan memegang minuman Krimson Fresh. Mereka memegang Krimson Fresh dengan caranya sendiri.
"Ganti gaya. Penonton tidak akan tertarik kalau pose kalian monoton seperti itu, terutama untuk Rin. Rin, ada baiknya kau tebarkan sedikit senyummu. Jangan terlalu kaku, mengerti?"
Rin mengangguk. Namun, berkali-kali pose, berkali-kali juga penata gayanya mengomel karena pose yang diambil belum sesuai dengan keinginannya. Belum lagi, tadi Ryou sempat-sempatnya melirik ke arah Aika yang sedang mencepol rambutnya. Jelas saja itu mengundang kejengkelan penata gaya, kan? Lawan mainnya sekarang adalah Rin, bukan Aika. Penata gaya dan seluruh kru tidak mau klien kecewa dengan hasilnya. Alhasil, Ryou dan Rin diberikan waktu sekitar 10 menit untuk beristirahat sejenak.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau ceroboh seperti itu. Apa-apaan itu tadi? Di mana fokusmu?" omel Aika.
Aika dan Rika menghampiri sang artis. Di saat asisten Ryou memberikan air mineral untuknya, Aika malah mengomelinya.
Glek
"Ahh, fokusku ada padamu. Salah sendiri karena mencuri perhatianku," goda Ryou.
"Huhh, alasan klasik. Kau ini bagaimana? Jobmu bisa lenyap kalau kau terus saja membuat pose yang tidak diinginkan penata gaya."
"Bukan salahku. Saat ini, Rin yang sedang kesulitan menemukan gaya terbaiknya. Semua posenya berantakan, tidak ada satu pun yang memuaskan. Jujur saja, aku bosan terus-terusan mengulangi gaya yang sama. Dibandingkan dengan itu, kau jauh lebih menarik."
"Terserah. Tetap saja perbuatanmu itu tidak bisa dibenarkan. Kau malah menghambat proses pemotretannya."
"Lalu? Apa yang harus kulakukan kalau masalahnya ada pada Rin?"
"Aku pikir kau cukup pintar untuk memahami situasi ini, Ryou. Sekarang, penyakit buayamu itu diperlukan. Tapi, di saat-saat seperti ini, kau malah tidak melakukannya. Sudahlah, datangi dia dan tanyakan apa masalahnya. Sebagai partner kerja, kau harus memberikan dukunganmu untuknya."
"Apa? Penyakit buaya? Apa itu? Aku tidak mengerti."
"Lupakan saja. Sekarang, cepat datangi dia. Kau sendiri yang bilang bahwa dia kesulitan, jadi tunggu apa lagi? Jadilah lelaki yang sedikit pengertian. Dia itu butuh semangat darimu. Membangun chemistry itu sangat penting. Kau pernah satu project dengannya, kan?"
Hening sejenak, sampai suara Ryou kembali terdengar. Senyuman genit dan tatapan jail itu kembali dia tampilkan di hadapan Aika.
"Sejak kapan kau bijak seperti ini? Jadi, apa menurutmu aku kurang perhatian padamu selama kita saling mengenal?"
Ryou terlihat ingin menyentuh wajah Aika. Untung saja, Aika segera menepisnya. Dia langsung memelototi Ryou.
"Cepat lakukan saja kalau kau ingin project ini sukses."
"Hahaha, iya, iya, baiklah. Jangan marah padaku, Sayang."
Setelah Ryou pergi, asisten Ryou baru berani membuka suaranya.
"Seperti itukah yang Nona maksud penyakit buaya?" tanya Rika ragu.
"Ya, begitulah. Kalau hanya kata-katanya saja itu bisa disebut penyakit buaya. Tapi, kalau dia sudah bertindak seperti tadi, itu levelnya sudah naik 1 tingkat jadi penyakit komodo."
Aika langsung berlalu pergi begitu saja, memilih untuk mengobrol dengan manajer lain ataupun para kru yang bertugas. Setidaknya itu lebih baik daripada mengurusi Ryou yang paling menyebalkan.
"P-penyakit komodo? Aku baru pernah mendengarnya," gumam asisten Ryou heran.
***
Tok
Tok
Tok
"Rin, apa aku boleh masuk?"
"Ryou-kun? Tentu saja, masuklah."
Ryou duduk di samping Rin yang terlihat sedang termenung. Sepertinya gadis itu kecewa pada dirinya sendiri. Apalagi, Ryou tau kalau Rin memang sedikit sensitif. Dikritik pedas terus-menerus oleh penata gaya bukanlah hal yang bisa dia hadapi. Sekarang, Rin pasti ragu dengan kemampuannya sendiri. Apa pun yang dia lakukan pasti selalu salah.
Jangan salah, Ryou juga pernah mengalami hal seperti ini di awal karirnya dalam beradu akting. Aktingnya sampai dinilai sangat buruk oleh sang sutradara. Beruntunglah Rin karena dia tidak sampai dilontarkan kata-k********r seperti Ryou dulu.
"Holy s**t! Hanya segitu saja yang bisa kau lakukan? f**k, belajarlah lagi anak muda. Kalau aktingmu terus-terusan seperti itu, umurmu tidak akan panjang di dunia entertain ini. Kami tidak membutuhkan aktor amatir dengan kualitas akting yang sangat buruk sepertimu, so stupid. Seperti tidak ada aktor lain yang lebih baik saja. Banyak bibit-bibit unggul yang menginginkan posisi ini. Buang-buang waktu! Kalau kau tidak bisa memainkan peran dengan baik, mati saja kau sana! Hanya adegan sederhana seperti ini saja kau tidak bisa."
Kata-kata itu masih sangat membekas di ingatannya. Kritik yang sangat menusuk ke dalam hati. Membuatnya hampir berhenti menjadi aktor. Ya, hampir saja jika tidak ada Aika yang mendampinginya.
"Seseorang itu berproses. Dunia entertainment memang kejam. Tapi, memang inilah dunia kerja seorang pekerja seni yang sebenarnya. Banyak orang yang iri karena seorang bintang bisa mendapatkan banyak uang dan popularitas sekaligus, padahal mereka tidak tau tekanan dan konsekuensi yang ada di balik semua itu. Tanpa perlu aku jelaskan, seharusnya kau sudah tau kalau mental benar-benar berperan penting di sini. Aku tidak memaksamu untuk terus maju. Tapi, kalau dunia entertainment ini memang impianmu, maka kejarlah itu. Kalau entertainment memang impianmu, harusnya kerikil kecil seperti ini bisa kau lewati. Sejak kau memutuskan untuk membulatkan tekadmu, di situlah kau menanamkan sebuah tujuan. Kalau aku bisa percaya padamu, kenapa kau tidak bisa percaya pada dirimu sendiri? Sekarang, terserah padamu. Tugasku hanyalah memberikan saran dan mengingatkanmu. Selebihnya, semua itu kembali lagi pada keputusanmu sendiri."
Memang tampak acuh tak acuh, tapi Aikalah yang menjadi penyebab Ryou bisa bertahan di dunia entertainment sampai sekarang. Aika menjadi saksi hidup bagaimana kemampuan aktingnya berkembang pesat. Kuncinya hanya satu. Belajar, belajar, dan belajar. Kalau Aika tidak berbicara seperti itu, mungkin tidak ada Ryou Shinjirou yang sangat terkenal seperti saat ini. Tanpa disadari, sedikit reminder dari Aika berhasil memotivasi Ryou untuk menghadapi rintangan di depannya demi mencapai mimpi.
"Apa kau kecewa?" tanya Ryou.
"Hm? Kecewa untuk apa?" balas Rin bingung.
"Kecewa pada dirimu sendiri karena kau merasa sudah melakukan yang terbaik, padahal hasil mengatakan hal yang sebaliknya. Meragukan kemampuanmu sendiri hanya karena kau selalu disalahkan. Apa aku benar?"
Rin mengedipkan kedua matanya, mendengar penuturan Ryou. Bagaimana Ryou bisa tahu semua itu tanpa dia jelaskan? Yang benar saja! Bahkan, Rin belum berbicara sepatah kata pun tentang masalahnya sejak tadi.
"B-bagaimana kau bisa mengetahuinya? Apa kau bisa membaca pikiranku?"
Rin menatap takut pada Ryou. Apa Ryou bisa mengetahui semua yang dia pikirkan saat ini? Tidak! Rin tidak mau Ryou tau soal perasaannya.
"Tentu saja, tidak. Hei, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" kekeh Ryou.
Rin menelan ludahnya kasar. Dia harus memeriksa apakah Ryou memang bisa membaca pikirannya.
"Aku tidak apa-apa. Tapi, sekarang, coba kau sebutkan angka yang sedang aku pikirkan. Di jam ini, menit ini, dan detik ini juga."
"Mana bisa aku melakukannya? Aku bukan cenayang."
"Ck, lakukan saja."
"15?"
"Hahaha, salah besar! Perkiraanmu jauh meleset, Tuan. Dari mana kau dapatkan angka 15 itu? Asal kau tau saja, tadi aku sedang memikirkan angka 9999."
Rin baru bisa bernapas lega. Rin merasa senang karena Ryou tidak bisa membaca pikirannya.
"Sudah kukatakan, bukan? Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Jangan overthinking padaku, Rin."
"Hehe, maafkan aku. Tadi aku sedikit panik."
"Ya, sudah. Lupakan saja. Satu hal yang perlu kau tau, Rin. Aku juga artis sepertimu. Aku pernah mengalami hal yang seperti itu."
"K-kau juga pernah mengalaminya? Bagaimana bisa? M-maksudku, aktingmu sangat sempurna. Banyak orang yang selalu menginginkanmu jadi pemeran utama. Ryou-kun sangat didambakan banyak orang, berbeda denganku."
"Apakah itu artinya kau juga termasuk salah satu di antara mereka? Kau juga termasuk salah satu orang yang mendambakanku?" goda Ryou.
"B-bukan begitu. Aku 'kan hanya mengeluarkan pendapatku saja."
"Iya, iya, aku mengerti," kekeh Ryou.
"Ehemm, jadi begini. Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku juga pernah mengalami hal sepertimu. Merasa tidak pantas menjadi selebriti hanya karena banyak orang yang mengkritik kemampuan aktingku. Tapi, ternyata semua itu bagian dari proses. Saat kau membulatkan tekad untuk terjun di dunia entertainment ini, maka kau pasti punya tujuan, kan? Mungkin, ada baiknya kau mengingat kembali tujuan awalmu masuk ke sini. Tujuanmu bersusah payah untuk bisa tampil sebagai selebriti yang bukan hanya modal fisik, tapi juga penuh bakat dan kualitas. Pikirkan kerja kerasmu untuk sampai di titik ini. Bukankah masih terlalu awal untuk menyerah? Aku percaya kau pasti bisa melakukannya, jadi kenapa kau tidak bisa percaya pada dirimu sendiri?"
Deg
'Ryou-kun percaya padaku?' batin Rin.
"Setiap orang punya kelebihannya masing-masing dan aku adalah salah satu orang yang mengakui kelebihanmu. Teruslah belajar dari kesalahan karena seseorang memang tidak akan pernah lepas dari proses. Kau hebat, Rin."
Mata Rin berkaca-kaca. Itu adalah kata-kata termanis yang pernah dia dengar dari Ryou.
"Terima kasih, Ryou-kun!" pekik Rin sambil menerjang tubuh Ryou.
Ryou pun mengusap punggung Rin, berusaha menenangkannya. Dan setelah suasana hatinya membaik, Ryou dan Rin kembali ke lokasi pemotretan.
Cekrek
Cekrek
"Nice! So gorgeous. Ryou, Rin, you guys did a great job," puji penata gaya itu.
"Terima kasih," ucap Rin dengan senyumannya sambil melihat ke arah Ryou yang terlihat akan menghampiri sang manajer.
"Kerja bagus, Ryou. Kau dan gadis itu melakukannya dengan baik," ujar Aika.
"Berkat dirimu," balas Ryou sambil tersenyum.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Kau sangat cantik hari ini."
"Huhh, selalu saja seperti ini. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan. Jawabanmu itu tidak nyambung."
"Kenapa kau jadi serius begitu? Apa kau sudah lelah?" kekeh Ryou.
"Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Sebentar lagi akan ada pembuatan konten untuk channel youtube Neoz. Jadi, selesaikan semuanya dengan cepat."
"Tentu saja, Sayang. Apa pun demi dirimu. Tunggulah sebentar lagi. Setelah pembuatan teaser, maka shooting iklannya akan selesai."
Apakah ada tempat sampah di sekitar sini? Rasanya Aika ingin muntah sekarang juga! Untung saja, Ryou sudah dipanggil untuk melakukan pembuatan teaser. Setidaknya, Aika jadi mengurungkan niatnya untuk menghantam Ryou.