“Bibin...!” “Bintang! You are comeback!” “Akhirnya Bintang datang...” Sapaan-sapaan itu menyambut Bintang begitu dia memasuki kelas. Saking kerasnya teriakan itu, Bintang sampai menutup sebelah kuping karena telinganya sampai berdenging ngilu. ‘Kenapa mereka semua harus selebay ini?’ Bobby melambaikan tangan padanya. “Bin, sini elah! Kita sebangku lagi.” Bahkan meja yang ditempati Bobby pun, tidak berubah seperti kelas sepuluh. Saat Bintang melihat ke sekeliling, posisi meja dan teman sebangku mereka juga tidak berubah. Yang berubah dari mereka hanya kelasnya saja. Bintang menaruh tasnya di atas meja, sebelah Bobby. “Ini kelas kita nggak ada yang berubah?” tanyanya ke teman sekelasnya. Robert menggeleng. “Ngga

