Raka yang berdiri di sebelah Ana, menepuk bahu gadis itu. “Tuh, Kak. Si Bintang udah sadar dan gapapa. Cuma demam dikit. Jangan nangis lagi.”
Kakek-nenek Bintang yang melihat perhatian Ana ke cucunya itu, sempat saling menatap dan tersenyum tipis. Mereka tahu kalau isi pikiran mereka saat ini sama. Apa yang mereka katakan di pikiran mereka sejalan.
Tapi intinya, mereka bangga jika sekarang cucunya memiliki teman yang sangat peduli padanya.
“Bin, cepet sembuh lo. Besok pensi gimana dah, lo nya suckit.” Lebaynya, Bobby kini malah berlagak pura-pura menangis. Kalau tubuhnya tak lemas seperti sekarang, ingin sekali Bintang menyodok perut teman sebangkunya itu.
“Ada Robert. Gue yakin dia bisa handle, dan gue percaya banget sepuluh Ipa satu. Kalian kan, the best.”
Bintang merasa jijik karena Raffa kini ber-aegyo. “Duh, aku terharu, Bin.” Sontak semuanya tertawa kecuali Bintang yang tersenyum tipis. Bahkan Ana yang katanya tadi menangis terus, kini tertawa.
Setelah tawa mereka berhenti, Raka sadar satu hal. “Eh, udah malem nih. Jam berapa, Bi?” Raka menengok ke Bobby.
“Jam sembilan, Ka.” Bobby juga ikutan panik. Lalu dia menatap kakek-nenek, dan Bintang dengan tatapan tak enak. “Kek, nek, Bin, kita pulang dulu ya. Besok abis pensi selesai, kita ke sini lagi, deh.”
Raffa, dan Raka juga ikutan pamit. Tidak kerasa ini udah malem dan pasti mama mereka yang memang bawel itu, nyari mereka. Ana juga diam-diam agak gelisah. Apa yang harus dijawabnya kalau Arie bertanya.
“Arniana gimana?” tanya Bintang pada tiga temannya.
Buru-buru Raffa merangkul Raka. “Gue bawa mobil hari ini. Gue sama si Raka kan, tetanggan. Kita bakal anter Kak Ana ke rumahnya dulu.”
Bintang mangut-mangut mengerti. “Oke...”
Ana yang merasa tak enak ke Raffa dan Raka, melambaikan tangan tanda dia menolak. “Gak usah, aku bisa naik angkot. Jam segini masih ada angkot kok, di jalan besar sana. Aku gak apa-apa...”
“Bahaya Arniana. Meski banyak angkot, belum tentu aman.” Sahut kakek Bintang bijak.
Neneknya Bintang mengangguk setuju. “Takut kamu ada apa-apa sayang.”
“Dengerin kata kakek sama nenek gue.” Tandas Bintang. “Udah. Apa sih, susahnya nurut? Raffa sama Raka aja mau anter kok.”
Raka mengangguk. “Iya Kak Ana, kita malah khawatir kalau lo baliknya gak bareng sama kita. “
“Yup... yup....” sahut Raffa sambil mengembungkan pipi.
Ana mendesah pasrah. “Oke, makasih semuanya.” Katanya canggung.
Ketika tiga teman Bintang yang lain sudah keluar dari kamar Bintang, Ana yang hendak keluar kamar mengurungkan niatnya. Dia berbalik menatap Bintang yang kini balas menatapnya heran. Nenek serta kakek Bintang sudah keluar untuk mengantar kepulangan mereka sampai pintu depan.
“Nenek kamu minjemin baju kamu tadi.” Ana menggaruk pelipisnya. Dia entah kenapa merasa canggung karena baru kali ini dia pakai kaos laki-laki. Kaos Arie pun bahkan dia tidak pernah pakai.
“Terus?”
Ana berdeham dulu sebelum mengatakan, “Makasih banyak. Nanti bakal aku balikin setelah kaosnya aku cuci.” Selanjutnya, Ana benar-benar keluar dari kamarnya Bintang untuk pulang.
***
Kakek dan neneknya kembali ke kamar Bintang setelah mereka mengantar kepulangan teman-temannya tadi. Bintang yang memang tahu sorot mata kedua orang yang sudah dia anggap orangtua ini, tahu apa yang akan mereka tanyakan. Mereka ingin tahu segalanya dari mulut Bintang.
“Tadi kami udah tau dari temenmu yang cowok mengenai apa yang terjadi sama kamu tadi. Termasuk pelecehan temenmu yang cewek, Ana.” Sara membuka perbincangan serius mereka.
Dahi Bintang mengernyit. “Siapa yang ngasih tau nenek tentang pelecehan Ana?” tanya Bintang. Ia tidak tahu kenapa aib Ana harus mereka kasih tau juga ke kakek-neneknya. Padahal kan, tidak usah.
Soni yang merasa ada pancaran emosi dalam diri Bintang, mengusap bahu cucunya. “Kamu gak usah khawatir mengenai itu. Ana juga ngizinin, kok.”
Barulah emosi Bintang agak mereda.
Nenek mengangguk setuju. “Ana juga ada di sana pas mereka cerita. Kami juga harus tau dia kenapa karena keadaan dia kacau banget, Bin.”
Bintang diam saja, belum ada niatan menanggapi.
“Kata mereka kamu pingsan setelah mereka nyadari kamu untuk tahan diri buat ngehajar laki-laki yang perkosa Ana. Kenapa kamu pingsan, Bin? Nenek tau kamu gak sakit karena paginya kamu baik-baik aja...”
Bintang masih saja diam, tapi batinnya kini mulai bergemuruh. Dia takut. Dia kembali merasa dunia seperti tidak berpihak padanya ketika tadi bayangan di masa lalunya kembali hadir tanpa dia mau.
“Nenek ngasih tau ke mereka tentang Bintang?” Suaranya terdengar serak. Bintang ingin menangis rasanya.
Kakek dan neneknya saling tatap sebentar. “Kami gak kasih tau apapun ke mereka tentang kamu...” lalu suara kakek memelan saat mengucap kata, “dulu.” Kakek Bintang mewakili jawaban istrinya juga.
Dalam hati dia bersyukur. Cukup. Dia tidak mau orang lain tahu mengenai rahasia kelamnya dulu. Dia tidak ingin orang lain tahu, untuk saat ini.
Mata neneknya membulat sempurna. Dia menatap cucunya panik.
“Apa karena itu kamu pingsan, Bin?” tanya neneknya tidak percaya. Dan Bintang hanya diam, menandakan iya atas pertanyaan neneknya.
Sara terisak seraya menutup mulutnya. Buru-buru Soni merangkul hangat istrinya. “Nak, kapan mimpi buruk itu hadir lagi di diri kamu? Kenapa kamu gak bilang sebelumnya sama kami?”
“Bintang ngantuk. Bintang pengin tidur.” Tidak. Tidak untuk sekarang. Ia tidak mau membahas tentang ini dulu, setidaknya hanya malam ini.
Karena cepat atau lambat, ternyata dia akan menghadapinya lagi, kan?
Kakek dan neneknya mengerti. Mereka keluar dari kamar cucunya, tidak lupa juga mematikan lampu kamar karena mereka tahu Bintang suka tidur dalam kegelapan. Bintang punya alasan tersendiri untuk itu.
Karena dengan gelap masa lalunya juga jadi ikut tak terlihat.
Dan malam ini pun, masa lalu itu akan bertamu dalam bunga tidurnya.