“Kak Ana!”
Ana mengurungkan niatnya membuka pintu rumah. Dia berbalik, ada Arie yang menyusulnya. Adiknya itu belum mandi dan berseragam karena acara pensi di sekolahnya baru dimulai siang hari. “Arie anter ke sekolah ya, kak?” tawar Arie penuh harap. “Daripada Kak Ana naik ojek...”
Selama Arie jadi anak SMA, mereka selalu berangkat bersama. Arie yang mengendarai motor, mengantar Ana lebih dulu. Tapi untuk kali ini, mereka tidak bisa berangkat bareng.
“Gak usah, kakak naik ojek..” Tolak Ana halus. “Yaudah, kakak berangkat dulu. Kamu hati-hati jangan lupa kunci pintu.”
“Kalau kakak pulang telat lagi...” Arie menatap kakaknya serius. “Tolong kabarin Arie ya, kak?”
Selama beberapa detik, Ana sempat mematung. Dia tidak mau adiknya ini tau, dia tidak mau adiknya ini curiga. Buru-buru Ana tersenyum dan mengangguk. “Kakak bakal minta jemput kamu bahkan, kalau kakak pulang telat.”
Arie mendesah lega. “Bagus, lebih bagus begitu. Kemarin gue itu khawatir Kak Ana belum pulang sampe malem. Untung mama sama papa lagi ke rumahnya nenek seminggu ini. Aku juga belum nekat hubungin mama sama papa.”
Untuk yang satu ini, Ana merasa bersyukur.
“Yakin nih kak, gamau Arie anter?” Arie memastikan.
Dengan mantap Ana tersenyum. “Iya, gapapa kok. Mang ojeknya juga ada di depan rumah sekarang. Kakak udah pesen.”
“Oke, sip. Hati-hati, Kak.” Arie melambaikan tangan sampai Ana menutup pintu rumah mereka.
Sebenarnya Arie curiga kenapa Ana pulang ke rumah malam hari terlebih, kakaknya juga memakai kaos laki-laki. Muka kakaknya kemaren juga berantakan dan ada luka sobekan di bibirnya. Adik mana yang tidak berpikir kalau kakaknya tidak kenapa-napa saat melihat keadaan Ana kemarin?
Tapi teman kakaknya yang bernama Raffa dan Raka meyakinkannya, jika Ana tidak apa-apa dan hanya ada kecelakaan kecil saat perumusan pensi.
Baiklah, mau tidak mau Arie harus percaya. Toh, kalau ada apa-apa, pasti Ana sudah bercerita padanya.
Ya, Arie hanya harus berpikir positif.
***
Seluruh murid SMAN 01 Cakrawiguna sudah berkumpul di lapangan. Di sini mereka harus dijemur, mendengarkan berbagai sambutan dari kepala sekolah sampai perwakilan kelas. Hampir semua anak mengeluh dengan adanya sambutan yang tidak begitu penting bagi mereka. Apalagi pagi ini matahari bersinar sangat terik, tentu saja membuat mereka uring-uringan.
Ana yang baris paling belakang di kolom kelasnya, diam saja. Memang ia juga merasakan panas, tapi jika mengeluh pun sepertinya tidak akan berpengaruh. Sambutan ini mugkin bakal berakhir kalau hujan, tapi tak mungkin juga.
“Dan bapak ingin mengatakan pada kalian, kalau kemarin ada berita yang amat sangat memalukan sekolah ini.” Kata kepala sekolah tegas.
Mereka yang daritadi mengeluh panas, langsung bisik-bisik penasaran atas apa berita yang memalukan sekolah itu. Rasa panas yang mereka rasakan kali ini tidak mereka gubris.
Pak kepala sekolah berdeham sebelum melanjutkan. “Ada teman kalian, kakak kalian, yang diperkosa oleh temannya sendiri.”
Tubuh Ana menegang. Terlebih terdengar desas-desus orang yang bicara mengenai berita ini.
“Siapa yang diperkosa?”
“Eh, anjir bisa banget ya, ambil kesempatan pas diskusi masalah pensi?”
“Kok, gue jadi ngeri? Kelas sebelas kan, berarti? Kelas duabelas memang udah gak ke sekolah. UN aja udah, kan...”
Ana ingin sekali rasanya keluar dari lapangan. Rasa malu itu kembali ada dalam dirinya. Padahal sebelum berangkat tadi, dia yakin rasa malu itu akan dia tutupi meski masih ada. Sebisa mungkin dia berlagak bukan dia korbannya.
Intinya Ana takut kepala sekolah menyebut namanya. Ana juga bingung kenapa kepala sekolah bisa mengetahui masalah ini.
“Si pelaku, akan saya keluarkan dari sekolah ini. Untuk nama pelaku dan korban, gak akan saya kasih tau siapa. Intinya saya mohon, kejadian ini tidak akan pernah ada dan terulangi lagi. Jaga harkat dan martabat kalian sebagai murid!”
Koor bisik-bisik makin terdengar jelas.
“Diam!” sentak kepala sekolah, membuat suasana hening seketika. Mereka kini memfokuskan atensi mereka ke kepala sekolah, termasuk Ana.
Kepala sekolah menunjuk seluruh muridnya. “Jika kalian pikir sekolah ini bebas dari pantauan, kalian salah besar. Hampir di seluruh sudut sekolah ini, kami sudah memasangkan CCTV kecuali kamar mandi. Jadi, segala tindak-tanduk dari kalian, kami pihak sekolah akan mengetahuinya.”
Dalam hati Ana bersyukur, setidaknya pihak sekolah tidak mengucapkan namanya di apel pagi sebelum pensi ini. Meski nanti akan dipanggil oleh kepala sekolah, Ana juga siap asal namanya tidak diucapkan sekarang.
Dan pantas tidak, Ana merasa bahagia karena Jordhy sudah dikeluarkan di sekolah ini?