Apa yang Ana perkirakan benar terjadi. Sehabis apel tadi, kepala sekolah langsung memanggilnya ke ruangannya diam-diam tanpa mengundang rasa curiga dari murid lainnya. Ana hanya diminta menjelaskan apa yang terjadi kemarin, apa orangtuanya tahu masalah ini atau tidak, dan inginnya bagaimana.
Bagi Ana, tidak perlu membuat Jordhy mati. Toh, kata kepala sekolah tadi, Jordhy sudah pasti dikeluarkan dari sekolah. Terlebih keadaannya juga sudah ada di rumah sakit sekarang. Setidaknya ini sudah impas.
Ngomong-ngomong dia jadi teringat Bintang...
Di jam istirahat, Ana seperti biasa ke kantin untuk membeli roti dan juga sebotol air mineral. Kantin yang ramai membuat Ana merasa beruntung karena di salah satu pojok kantin, ada meja yang kosong.
Berasa menemukan berlian di tumpukan jerami.
Di sisi lain, 2R dan Bobby yang baru saja masuk kantin, langsung melihat keberadaan Ana di sana karena terlihat kontras dibanding yang lain. Karena saat orang lain makan bersama temannya, Ana hanya makan sendiri di sana.
Tanpa ba bi bu, mereka duduk di meja Ana, membuat Ana yang memakan rotinya hampir tersedak jika tidak buru-buru ditelan.
“Hai Kak Ana...” Sapa Raffa yang duduk di sebelah Ana, sementara Raka dan Bobby duduk dihadapan mereka. “Sendirian aja, kak?”
Ana melihat mereka satu persatu. “Iya...” jawabnya lalu menunduk.
“Kakak nggak bareng temen ke sini?” tanya Raka yang dihadiahi pelototan dari Raffa dan Bobby karena berpikir pasti itu akan menyinggung Ana. Mereka agak kesal kenapa pertanyaan Raka tidak disaring dulu.
Alih-alih tersinggung, Ana tersenyum. Pertanyaan dari Raka sama sekali tidak menyinggungnya. “Nggak, udah biasa sendirian.”
Karena dipelototi temannya, Raka balas mempelototi mereka. “Yah, bagus kalau gak ada temen, kak. Kita mau ikut makan bareng gitu...”
‘Emang lo pikir gue mau bahas apaan?’ itulah arti tatapan Raka pada dua teman di hadapannya saat ini. Baik Raffa dan Bobby mengusap tengkuk karena sudah berpikir yang tidak-tidak.
“Oh, iya. Gapapa kalau mau makan di sini juga.”
Raka terkekeh. “Thanks ya, kak.”
“Hu’um.” Sahut Ana karena kali ini dia sedang mengunyah rotinya.
Tidak lama kemudian, ibu penjual mie ayam membawa pesanan ke meja mereka setelah Raffa tadi melambaikan tangan memberi kode. Keseringan jajan mie ayam membuat Mak Noni, sapaan akrab penjual mie ayam, tahu apa pesanan mereka tanpa dibilang lagi.
“Kak Ana, mau mie ayam?” tawar Bobby. Ana menggeleng karena sudah cukup untuk mengganjal perut dengan roti. Selanjutnya, mereka hanya fokus pada makanan mereka
“Kalian, aku mau berterima kasih atas yang kemarin.” Kata Ana setelah ia menghabiskan rotinya. “Aku gak tau aku bakal jadi apa kalau kemarin kalian gak ada. Aku bener-bener berterima kasih.”
Tiga laki-laki ini, kini melihat Ana dengan mulut penuh dengan mie ayam. Mereka menatap Ana tanpa berkedip.
“Sama-sama, kak.” Jawab Raffa karena kunyahannya sudah tertelan. “Kita juga sebenernya ngerasa gagal banget karena Kak Ana...” Raffa tidak berani untuk melanjutkan ucapannya.
Bobby mengangguk. “Kita gak nyangka Kak Ana bakal sekolah. Tadi pas pak kepsek bahas kejadian kemaren, kita deg-degan. Tadi kakak dipanggil ke pak kepsek? Gimana kalau iya ke sana?”
Pertama Ana menanggapi ucapan Raka dulu. “Nggak, bagi aku kalian itu kemarin gak terlambat.” Selanjutnya dia menjawab pertanyaan Bobby. “Iya, tadi aku dipanggil ke ruangan pak kepsek. Jelasin kronologi, orang tua tau apa nggak masalah ini. Terus selanjutnya mau
“Aku juga berterima kasih karena kemarin kalian mau bohong ke adik aku. Makasih banget.” Ana menghela nafas sebelum melanjutkan, “Kalau dibilang apa masih sakit sama malu, iya jawabannya. Tapi aku juga gamau buat adikku sama ortuku di Jawa curiga. Toh, itu udah terjadi. Aku malu dan mengasingkan diri dari dunia pun, nggak akan merubah apa yang udah terjadi sama aku, kan?”
Tiga laki-laki itu mematung. Jawaban Ana benar.
“Adik kak Ana curiga, gak?” tanya Raka pelan. “Terus keputusan kakak atas kejadian kemarin apa?”
“Aku nggak tau.” Jawab Ana sambil mengangkat bahu. “Aku harap nggak. Keluargaku gak perlu tau apa yang terjadi sama aku kemarin. Toh, kalian itu gak terlambat sama sekali. Dan keputusan kepala sekolah, aku rasa impas. Jordhy ada di rumah sakit dan dia udah dikeluarin dari sekolah.”
Selanjutnya hening. Mereka tidak melanjutkan makan mereka, tapi sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka memikirkan kejadian kemarin, Ana, dan juga keadaannya Bintang...
Seakan baru tersadar akan suatu hal, Ana memberanikan diri bertanya ke mereka. “Ngomong-ngomong, Bintang ke mana? Kenapa dia gak barengan sama kalian ke kantinnya?”
Spontan mereka bertiga saling lirik. Pikiran mereka sama.
Raka berdeham canggung. “Bintang... dia di skors.”
“Dan baru masuk pas awal kelas sebelas nanti.” Timpal Raffa.
Bobby mengusap pelipisnya. “Tadi Bu Winda, wali kelas kita ngomong itu di kelas. Berhubung Bintang ketua kelas kita, Bu Winda juga ngalihin amanat ini ke temen kita yang lain. Pas kita tanya personal ke Bu Winda, katanya karena dia, kemaren udah nonjok Kak Jordhy sampai kepalanya ada gegar otak ringan.”
Ana menutup mulutnya. Dia baru tahu karena kepala sekolah tidak bilang apapun tadi. Karena menyelamatkannya, Bintang jadi kena skors.
Rasa bersalah Ana jadi semakin besar sekarang.