Chap. 28 || His Fear

948 Kata
Sara menghampiri cucunya yang kini sedang duduk di kursi pantai depan kolam renang yang ada di halaman belakang rumahnya. Tatapan Bintang kosong, tentu Sara mengkhawatirkan hal itu. Bahkan cucunya itu tidak sadar jika kini dia sudah duduk di kursi pantai di sebelahnya.             “Nenek dapet sms dari wali kelas kamu, Bin.” Ucap neneknya pelan.             Bintang tetap bergeming, namun dia mendengarkan apa yang dibilang oleh neneknya tadi.             “Kamu kena skors karena udah buat senior kamu gegar otak.” Melihat jika belum ada tanggapan dari cucunya, buru-buru Sara menambahkan. “Senior kamu yang kemaren perkosa Ana, dia udah dikeluarin dari sekolah. Kamu cuma kena skors, baru masuk lagi saat tahun ajaran baru kelas sebelas nanti.”             Lama Bintang terdiam, sampai bibirnya mengucapkan, “Maafin Bintang.”             Sara menggeleng, khawatir melihat cucunya ini. “Nggak, kamu gak salah apapun, nak. Nenek justru bangga karena kamu nolongin Ana...”             Hening diantara mereka, sampai neneknya memecah hening itu. “Siang ini nenek akan ke sekolah. Kamu gak apa-apa di sini sendirian?”             Bintang hanya diam tidak menanggapi apapun.             Sara menghela nafas melihatnya. “Gimana keadaan kamu, Bin?” Baru kali ia melihat Bintang seperti ini semenjak yang terakhir, dua tahun lalu.             Bintang hanya diam.             “Apa kamu mau, nenek panggilin psikolog lagi kayak waktu itu...”             “Nggak, nek.” Sela Bintang buru-buru. “Kakek sama nenek tau betul kalau Bintang nggak suka ada psikolog. Seiring waktu berjalan, Bibin bakal balik lagi kayak dulu, nek. Toh, waktu itu Bibin juga gak pake psikolog meski nenek-kakek udah panggilin buat bantu Bintang.”            Sara diam. Memang, waktu itu Bintang menolak dengan hadirnya teman kakeknya yang memang psikolog itu. Sara bahkan ingat jika untuk menceritakan apa yang dia rasakan pun, Bintang enggan. Waktu itu Bintang seakan menutupi dirinya dari siapapun yang ada di dekatnya, padanya juga kakeknya sendiri. Maka dari itu, dia dan suaminya hanya memasrahkan pada waktu. Berharap waktu bisa mengembalikan sosok Bintang menjadi lebih baik.          “Kamu, baik-baik aja, Bin?” tanya neneknya sekali lagi. Diantara banyak harapan Sara, dia sangat berharap jika kali ini Bintang tidak menutupi dirinya.             Bintang yang awalnya berada di posisi tiduran, langsung memeluk lutut, seakan-akan itu bisa melindunginya dari kejamnya dunia. Hati Sara semakin dan makin miris melihatnya.          Bintang tidak bisa menjawab. Bagaimana pun, apa yang tidak diinginkan, terjadi tadi malam. Dia bermimpi, dan itu bukan suatu hal yang bagus untuknya.         Dia tak mau bermimpi dalam seumur hidupnya karena mimpi buruk masa lalunya itu, kembali mendatanginya di bunga tidur tadi malam.   ***             “Bintang! Mama gak pernah bilang sama kamu untuk dapat nilai dibawah seratus! Dan apa ini, nilai ulangan kamu sembilan lima!”             Bintang menuduk takut menatap mamanya yang kini marah besar. Tidak ada secuil keberanian yang dia punya untuk melihat mama-papanya.             “Kamu ini, belajar yang benar mangkanya!” Sentak papanya. “Kamu itu pewaris perusahaan papa nanti, Bintang!”             Si kecil Bintang, yang kala itu masih kelas lima SD tidak paham mengenai apa yang papanya katakan. ‘Pewaris perusahaan...?’ Dia tak tahu itu apa             Karena yang Bintang tahu hanya belajar supaya jadi dokter.             “Cita-cita Bintang, ingin jadi dokter pa, ma...” Katanya takut-takut.             “Apa?! Dokter? Kamu pengin menjadi seperti kakek kamu, iya? Kamu itu anak mama sama papa atau anak kakek, hah?!” Bentak ayahnya disertai toyoran di kepalanya sampai Bintang sendiri hampir terjatuh.             Mati-matian untuk tidak menangis, air mata Bintang luruh juga. Padahal dia tahu jika orang tuanya ini benci dan tidak suka dia menangis.             “Nangis dan nangis mulu!” Teriak mamanya sambil memegang kepalanya pusing. “Gini aja kamu nangis! Tapi di sekolah belagak preman nonjok temennya sampai temennya mimisan!”             “Kamu bilang apa barusan, ma?” Tanya papanya tidak percaya. “Anak ini nonjok temennya?!”             Mama Bintang mengangguk mengiyakan. “Aku lagi ada rapat di kantor, tiba-tiba ditelepon sama gurunya di suruh ke sekolah kemaren.”             Papanya kini menjewer putra tunggalnya, sehingga Bintang yang tengah menunduk, mau tak mau mendongak menatap muka murka papanya.             “Papa gak pernah ajarin kamu untuk jadi preman Bintang!”             “Ampun pah... Ampunin Bintang...”             Tidak lama kemudian papanya melepas jewerannya itu, lalu mendorong Bintang hingga jatuh terduduk di lantai. “Papa menyesal kamu ada di dunia ini. Kamu itu harus sempurna Bintang! Kamu itu pewaris perusahaan papa. Ngerti nggak, kamu?! Nilai itu harus seratus! Jangan berlagak preman! Mau ditaruh di mana muka papa kalau kamu masih kayak gini?!”             “Siapa temennya yang dia tonjok, ma? Anak dari kolega bisnisku?”             “Iya, anak dari kolega bisnis kamu di Singapura, mas.” Jawab mamanya.             Papanya menggeram marah. Dia menunjuk Bintang penuh emosi. “Kamu gak papa izinkan keluar rumah untuk main Bintang! Belajar yang benar lalu ubah sikap buruk kamu itu! Anak tidak tahu diri! Mau ditaruh dimana muka papa?!”             Bintang tidak menanggapi apapun karena dia mati-matian menahan diri untuk tidak terisak lebih kencang.             “Nangis mulu!” Sentak mamanya. Tidak lama orangtua Bintang keluar dari kamarnya, tidak lupa mengunci pintu kamarnya dari luar.             Meninggalkan Bintang sendirian dalam gelap. Bintang jauh merasa lebih baik daripada sebelumnya.   ***             Tangis Bintang kembali meluruh mengingat mimpinya semalam. Kali ini, dia tidak mau menunjukkan dia kuat, dan bisa menahannya. Bintang tidak peduli jika kini dia terisak keras, membiarkan dirinya meluapkan rasa sesak yang ia rasa.             Kenyataannya Bintang sedang tidak baik-baik saja.             Tahu cucunya terisak, nenek duduk berpindah kursi, langsung mendekap erat cucunya ke dalam dekapan. Kali ini dia bersyukur karena Bintang tidak lagi menyembunyikan apa yang dia rasakan, tidak menutup dirinya lagi.             Melihat cucunya menangis, Sara sendiri juga tidak bisa menahan air mata. Ia juga sedih melihat Bintang sekarang, dan jika mengingat keadaan Bintang dulu. Keadaan yang terjadi pada cucunya, memang buruk di masa lalu.               “Rasanya benar-benar perih, nek...”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN