Di hari Sabtu yang cerah ini, tidak seperti Arie yang menghabiskan waktu di akhir minggu dengan bermain basket di lapangan kompleks bersama temannya, Ana malah mengurung diri di kamar, baru selesai belajar pelajaran kelas 12. Ana memang selalu curi start. Belum bagi raport tapi sudah belajar lebih awal.
Setelah dua jam belajar, Ana mulai jenuh. Dia meregangkan otot badannya untuk merilekskan diri. Pegal juga terus menulis tanpa berhenti.
Rumahnya sepi. Kedua orangtuanya juga belum pulang dari rumah nenek di Banyuwangi. Orang tua Ana sudah empat hari di sana, karena neneknya sakit.
Saat melihat ranjangnya Ana terhenyak, ada kaos bintang yang sudah dia cuci tapi belum dia kembalikan. Kaos itu sudah dia setrika dan dilipat rapi.
Mungkin hari ini saja Ana mengembalikannya ke Rumah Bintang. Toh, ia tidak akan bertemu lagi laki-laki itu di sekolah sampai tahun ajaran baru nanti. Terlebih aneh rasanya ada barang orang lain di ruang pribadinya.
***
Waktu kali pertama Ana ke rumah Bintang untuk mengantar laki-laki itu ke rumahnya karena pingsan, Ana tidak begitu sadar kalau rumah Bintang sangat besar sekali. Bahkan rumahnya pun ada di kawasan elite. Saat itu dia khawatir ke Bintang karena laki-laki itu tidak kunjung sadar, serta keadaannya yang tentunya masih down parah akibat kejadian buruk itu, sehingga tak begitu memperhatikan.
Rumah Bintang, benar-benar rumah idaman Ana di masa depan.
Dalam hati dia berdecak kagum. Untung dia ke sini pake ojek online. Ana tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia naik angkot. Dari jalan besar untuk masuk ke kawasan perumahan ini bahkan sangat jauh.
“Neng siapa?” tanya pak satpam yang dari bordiran namanya bernama Ian.
“Temennya Den Bintang, bukan?”
Ana menggaruk tengkuknya, bingung. Sebenarnya dia dan Bintang tidak bisa disebut berteman, kan? Atau iya?
Sebelum Ana menjawab, pak satpam itu sudah membukakan gerbang.
“Masuk neng, Den Bibin ada di rumah, kok.” Pak Ian tersenyum ramah, lalu menuntun Ana ke pintu utama.
“Makasih, pak.” Yang disambut senyuman ramah Pak Ian. Setelahnya Pak Ian kembali ke tempatnya, di pos dekat gerbang.
Entah kenapa Ana jadi gugup. Baru kali ini dalam seumur hidupnya, Ana ke rumah teman di sekolahnya bukan dengan tujuan diskusi, kerja kelompok atau belajar bersama. Ya, waktu dua hari yang lalu juga.
Akhirnya meski ragu, Ana memberanikan diri menekan bel dan mengetuk pintu besar itu beberapa kali. Sangsi juga kalau ketukannya terdengar si pemilik rumah karena besar dan luasnya rumah ini.
“Iya bentar...” sahutan dari dalam, sampai akhirnya pintu itu terbuka.
Bintang yang membuka pintu, terkejut karena mendapati Ana yang datang ke rumahnya. Meski begitu, sebisa mungkin dia menahan ekspresinya agar tetap biasa saja. Meskipun dalam hati bertanya-tanya...
‘Ini cewek kenapa ke rumah gue?’
Ana yang sedari tadi menunduk, kini mendongak. Di hadapannya, Bintang memakai pakaian kasual. Kaos putih bertuliskan supreme, dan celana karo pendek model army warna hijau.
“Ada apa?” Bintang tidak tahan sehingga dia memecah keheningan itu. Ia penasaran saja karena gadis mungil di depannya ini tetap diam.
Gelagapan, buru-buru Ana memberikan tas kertas berisi kaos Bintang pada pemiliknya. “I-ini, aku mau ke-kembaliin kaos kamu...”
“Oohh...” hanya itu respon Bintang lalu menerimanya. “Dikembaliin nanti juga gak masalah, sih.”
Ana menggeleng kuat. “Ng-nggak. Bagaimana pun itu kaos kamu.”
Bintang hanya mengangguk-angguk saja. “Mau masuk dulu?” tawarnya.
“Ng-nggak usah. Aku mau langsung pulang, kok.” Sshh, Kenapa Ana jadi gugup begini? Ayolah, dia itu Bintang, adik kelasnya bahkan.
Sebelum Bintang bicara lagi, buru-buru Ana mengatakan, “Kalau gitu, aku pulang dulu...”
Krebek... krebek...
Muka Ana memerah. Benar-benar memalukan, perutnya bunyi tanpa ada konfirmasi. Ana jadi malu sendiri untuk melanjutkan niatnya untuk pamit.
Bintang tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. “Belum sarapan, ya?”
Ana tak mau menjawab. Dia masih terus menunduk, ingin rasanya dia lari menjauh dari laki-laki ini. Rasanya tentu hampir sama saat dia kentut diam-diam diantara banyak orang, well, meski Ana tidak pernah begitu.
“Masuk dulu yuk, kita masak. Gue juga belum makan dari pagi.”
Dia melongo. Ketika mendongak, Ana melihat Bintang yang sudah masuk ke rumahnya. Sadar karena Ana tidak mengikutinya Bintang berbalik, dia kembali ke pintu, memegang tangan Ana membawa gadis itu masuk.
“Bintang...” panggil Ana membuat yang dipanggil berhenti lalu berbalik.
“Hm?”
Ana berusaha melepaskan pegangan Bintang ke tangannya. “Aku, pulang aja deh. Aku bisa makan di rumah...”
“Gue gamau ada penolakan, ya.” Tegasnya. Lalu dia kembali jalan, masuk lebih dalam ke rumahnya menuju dapur.
Masih di tempatnya, Ana mendesah lesu. Punggung tegap Bintang sudah tak terlihat lagi. Dia juga jadi bingung bagaimana caranya menolak.
“Aku gak bisa masak Bintang...”