Chap. 30 || Degun-Degun?

1545 Kata
Kalau kebanyakan laki-laki gengsi ada di dapur, masak, bahkan memakai celemek, Bintang berbeda. Laki-laki itu bahkan terlihat sudah terbiasa dengan itu semua. Gerakannya dalam menyiapkan alat dan bahan juga tidak terlihat kagok.             Ana menggigit pipinya, menahan malu. Sebagai perempuan, dia tak luwes seperti Bintang jika ada di dapur. Dalam hati Ana juga kagum dengan keluwesan laki-laki itu. Adiknya Arie, bahkan hanya bisa masak air.             Bintang yang kelihatan sibuk tapi bawaannya santai itu, tiba-tiba mendekat ke arahnya yang berdiri di depan tempat pencucian. Memberikan bawang merah, bawang putih, bawang daun berserta pisau dan talenannya, yang buru-buru Ana ambil karena laki-laki itu tampak repot.             “Lo cuci dulu itu semua, terus potong tipis-tipis.” Setelah memberikannya intruksi, Bintang kembali ke dekat kompor, memberikan sedikit minyak tidak lupa menghidupkan kompor, dan mengatur apinya agar tidak terlalu besar.             Ana berjalan ke meja bar yang ada di dapur, untuk melakukan intruksi dari Bintang setelah mencuci semua bahan-bahan yang akan dipotongnya. Dia sedang mengingat bagaimana mamanya saat memotong bawang dalam benaknya.             “Kita mau buat apa?” tanya Ana.             “Nasi goreng spesial ala-ala nenek gue. Cepetan potong bawangnya.” Ujar Bintang yang kini ada di depan kulkas untuk mengambil telur. Laki-laki itu juga gesit karena langsung memecahkan telurnya, dan mengocoknya di mangkuk.             Menghela nafas, Ana mulai mengupas kulit bawang dengan tangannya. Di daging bawangnya, bahkan jadi jelek karena banyak kelupasnya. Mata Ana sudah terasa pedih padahal dia baru beberapa detik yang lalu mengupas bawang.             “Arniana, udah?” tanya Bintang.             Ana menggeleng. “Belum, Bin.”             “Cepetan ya, minyaknya mau panas.”             Sesekali Ana mengusap air matanya ke kaos yang ia pakai. Belum ada satu bawang yang berhasil dia bersihkan kulitnya, tapi Ana sudah menangis.             Minyak yang sedari tadi Bintang perhatikan sudah panas. “Arniana?” Dari posisinya, Bintang melongok ke Ana yang memang membelakanginya.             “Iya?”             “Udah selesai?”             Ana berhenti mengupas bawang. Dia mengusap kedua mataya dengan baju karena air matanya jadi tambah banyak. “Be-belum, Bin...”             “Hah?” Tak lama kemudian Bintang menghampiri Ana, aneh melihat Ana yang sudah bersimbah air mata. “Lo kenapa nangis?”             “Gak papa, kok.” Sahutnya sambil menggeleng. “Bawangnya perih banget mata.” Tambahnya masih sambil mengusap mata. Mata Ana bahkan sudah merah.             Bintang menepuk jidatnya frustasi. “Masa gara-gara bawang beginian aja lo udah nangis, Na?”             Ana tetap diam. “Nggak tau aku juga, Bin...”             Karena tidak tahan, Ana berlari ke tempat cucian piring untuk membasuh wajah terutama matanya. Setelah selesai, Ana kembali menghampiri Bintang yang kini menatapnya melongo.             “Serius lo nangis karena bawang?”             Malu-malu Ana mengangguk. Ini juga yang menjadi alasan kenapa dia tak mau bantu mamanya kalau masak di dapur. Bawang yang bikin nangis, cabe yang bikin batuk sampai kesedak, cuka yang baunya kecut, all item di dapur yang tidak Ana suka. Otomatis dia tidak bisa masak.             Bintang berdecak, “ Ck, ketauan banget sih, jarang ke dapur bantu mama.” Laki-laki itu mendekat ke kompor untuk mematikannya. Gimana mau langsung numis kalau bawangnya aja belum kekupas semua?             Ana diam. Sesekali dia mengerjapkan matanya yang masih terasa perih.             Tanpa aba-aba dan Ana sadari, Bintang sudah ada di belakangnya. Ia juga memegang tangan Ana, menuntun gadis itu untuk memegang pisau serta bawang daun. Memposisikan bagaimana caranya memotong bawang daun.             Entah kenapa Ana kembali mengingat kejadian waktu itu di perpustakaan. Kali ini Bintang seperti memeluknya, dari belakang.             “Gini cara motongin bawang daun.” Aba-aba Bintang. Dia menggerakkan tangan Ana untuk mengiris tipis bawang daun itu. Ah, entah kenapa jantung Ana berdegup lebih cepat dari biasanya.             Bintang sendiri sebenarnya gugup. Dia merutuki diri sendiri, kenapa harus dengan posisi seperti ini dia mengajari Ana. Tubuh Ana yang mungil, mau tidak mau membuat dagu Bintang berada di atas kepalanya.             Setelah selesai, atensi Bintang beralih ke bawang merah yang jelek karena banyak kelupasannya. Banyak bopengnya.             “Nangis iya, ngupas bawang gak bisa.” Sindir Bintang. Masih bertahan di posisinya, Bintang mengambil bawang yang belum dikupas. “Nih liat, bawang itu biar rapi tapi kulitnya lepas, harus pakai pisau bukan pake tangan. Kalau pakenya tangan, iyalah jadi jelek kayak yang udah lo lakuin.”             Rasanya Ana ingin berteriak saat Bintang mulai mengajarinya cara ngupas bawang dengan pisau. Bukan karena bawangnya yang buat Ana kembali perih.             Tapi karena posisinya dan Bintang saat ini. Orang lain yang melihat tentu akan menganggap mereka ngapa-ngapain.             Ana tahu kalau dagu Bintang ada di puncak kepalanya. Bintang tidak tahu apa, kalau Ana sangat gugup? Tetapi laki-laki itu dengan antengnya masih saja mengupas bawang. Tidak merasakan kalau posisi ini canggung.             Jikalau pun Bintang yang mengupas bawang, bisa kali tidak membuat Ana seakan-akan sedang dia dekap.             “Nih, gini nih, cara ngupas bawang!” Bintang mengatakan itu sambil dia dekatkan bawang yang sudah rapih dia kupas, di dekat mata Ana.             Kali ini Ana tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak, dan melepaskan diri dari Bintang yang masih bertahan dengan posisinya.             “Bintang mataku perih!” Lagi. Ana berlari ke tempat cucian piring untuk membasuh muka.             Awalnya Bintang terkejut. Tapi tak lama setelahnya, tawa Bintang keluar. Menyembur sampai dia terbahak-bahak melihat mata Ana serta wajahnya yang kini sudah memerah percis tomat.             “Ana... Ana.....” Gumam Bintang sambil geleng-geleng. “Kok bisa sih, lo lucu banget?” Lalu Bintang kembali terbahak.             Ana yang mendengarnya, hanya bisa mencebikkan bibir.   ***             Begitu drama mereka yang tadi selesai, Bintang menyuruh Ana duduk di kursi bar, melihatnya saja memasak. Karena suara Bintang yang tegas, tentu saja langsung Ana turuti tanpa bantahan.             Sekarang Bintang memunggunginya, sibuk mengayunkan spatula agar nasi goreng yang sudah dia beri kecap dan bumbu jadi merata. Di kursi bar, sedari tadi Ana terus menatap punggung tegap Bintang. Baru kali ini dalam seumur hidupnya dia melihat laki-laki memasak layaknya koki, seperti Bintang.             Agak tidak menyangka juga laki-laki keras seperti Bintang bisa masak.             Lama menatap punggung Bintang, Ana terkesiap saat Bintang berbalik dan menghampirinya sambil membawa dua piring nasi goreng yang diatasnya ditaburi telur dadar yang sudah dipotong-potong. Bahkan ada hiasan tomat dan mentimun juga. Tidak lupa sendok dan garpu.             “Nih.” Bintang menyodorkan piring berisi nasi goreng untuk Ana. “Kalau lo masih ngerasa laper, ambil aja di wajan masih banyak.”             Malu-malu Ana menerima piring itu. “Makasih, Bin...”             Bintang hanya bergumam, dan langsung memakan nasi goreng buatannya. Ana yang melihat Bintang mulai makan, mengikuti. Begitu dia mengunyah nasi goreng buatan laki-laki yang kini duduk di hadapannya...             “Kenapa lo natap gue kayak gitu?” Tanya Bintang di sela-sela kunyahan. “Makan, jangan ngelamun oit.”             ... Ana kepergok. Buru-buru dia menunduk dan melanjutkan makan.             “Makasih, Bin.” Ana mengatakan ini di sela-sela kunyahannya. “Ini enak banget.” Ya, Ana terang-terangan memuji laki-laki ini karena rasanya enak bukan main. Nasi goreng buatan mamnyaa saja kalah dengan buatan Bintang.             “Hm, ya...” gumam Bintang sebelum dia meneguk air mineralnya. “Lagian lo seharusnya makasih ke nenek gue, bukan ke gue. Itu resepnya nenek yang buat soalnya, dan gak dari siapapun nenek tau resepnya.”             “Ah iya...” Seakan baru teringat sesuatu Ana bertanya, “Nenek dan kakek kamu di mana, Bin?”             Berhubung nasi goreng Bintang sudah habis tandas, dia mejauhkan sedikit piringnya, tidak lupa membalikkan sendok dan garpunya.             “Nenek lagi ikut acara plant gathering, ngumpul sama komunitas nenek-nenek pencinta tanaman. Kalau kakek lagi ada acara keakraban sama rekannya di rumah sakit. Akhir minggu kakek sama para dokter lainnya suka makan bareng.”             Mulut Ana membentuk Ooo. “Kakek kamu dokter, Bin?”             Bintang mengangguk. “Yup. Dokter spesialis penyakit dalam.”             Kini Bintang melihat dengan jelas mata gadis itu yang berbinar saat tadi ia bilang kakeknya adalah seorang dokter.             “Wow... keren!” Decak kagum Ana.             Bintang tidak merespon apapun. Baginya, dokter memang keren apalagi itu kakeknya. Tapi tidak harus selebay Ana kan, meresponnya?             Selanjutnya hening. Ana diam karena mengunyah makanannya, sementara pikiran Bintang mengarah ke suatu hal. Kalau dipikir-pikir, baru kali ini dia dekat dengan perempuan sebagaimana dia dekat dengan Ana.             d**a Bintang tiba-tiba sesak karena dia tidak tahu kenapa. Ada banyak—sangat banyak pertanyaan dari benak Bintang tentang dirinya sendiri yang kenapa, tentang Ana serta segala sesuatunya, dan juga tentang, kenapa dia dan gadis itu bisa sedekat ini sampai makan bersama pula?             Dari awal juga Bintang merasa heran kenapa dengan Ana, dia tidak bisa cuek dan tidak peduli sebagaimana dia ke perempuan lain.             Sudah hampir setahun, dan rasanya juga sia-sia kalau dia spontan mundur. Karena kalau begitu, Bintang tidak akan bisa menemukan jawabannya, kan?             “Arniana...”             “Hm?” sahut Ana karena dia baru selesai minum. Nasi gorengnya tandas, dia benar-benar kenyang sekarang.              Bintang tetap diam. Pikirannya berkecamuk dan mengelana ke segala arah. Ana yang menunggu kelanjutan dari Bintang yang tadi memanggil namanya, agak heran karena kini Bintang menatapnya dengan pandangan yang tidak terartikan. Seperti ada sesuatu yang hendak dia katakan...             “Besok jalan-jalan bareng sama gue, mau?”             Ana membelalakan mata. Tak percaya, dan aneh tentunya. “Ke-kemana?”             “Gak tau.” Kata Bintang cuek sambil mengangkat bahu. “Besok gue bakal jemput ke rumah lo, send location aja.”             Rasanya Ana ingin bertanya kenapa Bintang mengajaknya jalan-jalan. Ana tidak berani tapi, hanya untuk sekedar bertanya.             Karena Ana tidak merespon perkataan Bintang dan masih sama, melongo, Bintang mengeluarkan ponsel di saku celananya. “Nomor w******p lo berapa?”               Eh?! Jadi Bintang serius?! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN