Ana melihat ke sisi lapangan di mana kelas Bintang sedang olahraga. Dia penasaran karena teriakan para perempuan, terdengar lebih keras dibanding yang tadi. Seperti namanya, Bintang, laki-laki itu memang terlihat paling kontras layak Bintang yang sedang bersinar di malam hari. Ternyata laki-laki itu tengah bermain basket, bersama teman sekelasnya.
“Bintang...!” Diantara banyak teriakan perempuan, Ana bisa mendengar teriakan yang satu ini dengan jelas.
“Eh, lo liat, deh. Itu cowok jangkung yang lagi dribble bola ganteng, ya...” Cinthya, teman sekelas Ana, seperti biasa sedang bergosip.
“Oh, iya. Iya bener banget, Cin...” Rita, temang sebangku Cinthya setuju.
Ana juga tahu yang mereka maksud itu Bintang. Ana sendiri mengakui di hatinya, kalau permainan Bintang lumayan keren.
“Arniana Prameswari!”
Gadis itu berjengit kaget karena Pak Anto, memanggil namanya seperti teriakan. “I-iya, pak?”
“Giliran kamu di test. Cepat! Perawan melamun mulu!”
Ana berjalan ke matras. Produksi salivanya meningkat, efek gugup yang berlebihan. Dia khawatir kalau dia akan salah posisi sampai miring seperti tadi.
Setelah Pak Anto memberikan aba-aba, Ana langsung berguling tidak jauh beda seperti tadi. Teman sekelasnya menertawakannya kembali bukan karena roll depan Ana miring, tapi karena baju olahraganya tersingkap, sehingga punggung Ana terlihat. Seperti tadi.
Pak Anto bahkan ikut tertawa. “Bagus, Arniana. Sekarang roll belakang.”
Di tengah permainan, Bintang mendengar suara tawaan dari kelas Ana. Ia melihat gadis itu mendapat giliran di test, materi senam lantai. Bintang penasaran kenapa Ana malah mendapat tawaan yang terdengar seperti ejekan.
“Bintang!” Panggil Raffa memberi kode agar bola yang masih di-dribble Bintang, dilemparkan padanya.
Namun Bintang masih bergeming sampai matanya melihat kaus olahraga Ana yang tersingkap, ketika roll belakang. Selanjutnya, tawa ejekan itu terdengar lagi. Ternyata... entah kenapa Bintang benar-benar marah sekarang.
Sementara Ana sendiri, tidak mengerti mengapa teman-temannya malah tertawa. Bahkan tidak ada yang lucu pikir Ana.
“Sekarang kayang, Na.” Kata Pak Anto sambil senyum-senyum.
Untuk melakukan posisi kayang, Ana memang lebih mudah berdiri, lalu ia melengkungkan badannya ke belakang dan bertumpu pada telapak tangan. Saat ia sudah berhasil kayang, teman cowok di kelasnya malah bersorak, “Wow, wow..” yang membuat Ana tambah bingung.
“Bintang! Fokus Bin!” Teriak Bobby. Temannya yang tidak dapat giliran main, bahkan heran melihat Bintang yang seperti orang linglung sekarang. Raka cukup peka sebenarnya ada yang tidak beres pada temannya itu.
Untuk membuat Bintang tidak seperti orang linglung lagi, Bobby kembali melemparkan bolanya ke Bintang. Untungnya, laki-laki itu dengan cekatan bisa menangkapnya.
Entah apa yang merasuki Bintang, saat dia sedang men-dribble bola, dan di depannya ada Gio yang beberapa kali agak menubruknya untuk merebut bola, Bintang menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan diri.
Permainan sontak berhenti. Teman sekelas mereka bahkan terkesiap saat melihat Bintang jatuh, dan lengannya terluka sampai berdarah.
Gio menunduk untuk melihat keadaan Bintang. “Bin, maafin gue, gue gak sengaja. Maaf udah buat lo jatuh.” Ringis Gio menyesal.
Para pemain tadi, kini mengerubungi Bintang, menanyakan keadaannya. Ia agak pusing sebenarnya. Raffa yang terus bicara, dan Bobby yang tampak panik heboh sendiri karena luka Bintang yang lumayan. Bahkan teman satu kelas kini sudah menghampiri Bintang.
“Gio, lo ngedorong Bintang sampai dia jatuh?” tanya Bobby sengit.
Gio menatap Bobby sekilas, lalu kembali melihat Bintang. “Gu-gue, nggak sengaja, Bi. Suer...”
Raka menepuk bahu Raffa. “Lo sama Bobby bawa dulu deh, dia ke UKS.”
Bintang makin pusing. Teman sekelasnya berlebihan. Gio yang tidak salah pun, masih saja terus-terusan minta maaf. Bukannya melerai, Pak Adi juga malah ikut ke kerubungan tanpa melakukan apapun.
Tanpa mengatakan apapun, Bintang berdiri. Dia berjalan cepat keluar dari kerumunan, menuju ke sisi lapangan kelas Ana olahraga, di mana gadis itu mau di test sikap lilin. Dia tidak peduli akan teriakan teman-temannya, dan guru olahraga Ana yang menatapnya aneh.
Ana yang tidak sadar dengan kehadiran Bintang karena sedang melakukan sikap Lilin, tiba-tiba kakinya didorong sehingga dia langsung terduduk.
Pak Anto menunjuk Bintang dengan buku nilainya. “Kamu kelas apa sih?! Murid saya sedang di test dan kamu malah menganggunya!”
Tak bilang apapun, Bintang memperlihatkan tangannya yang luka ke Pak Anto. “Saya luka, dan dia anak PMR.” Selanjutnya Bintang menarik tangan Ana sampai gadis itu berdiri, lalu menyeretnya keluar dari lapangan.
Ana belum sepenuhnya sadar dengan situasi ini. Dia membelalak melihat punggung tegap laki-laki yang menyeretnya, sambil berusaha mengikuti ritmenya Bintang berjalan karena langkah laki-laki ini besar-besar.
Raffa, Raka, dan Bobby tercengang melihat kelakuan Bintang. Tak hanya itu, bahkan teman sekelasnya dan Pak Adi pun sama.
“Itu ceweknya Bintang bukan, sih? Jadi tuh anak udah punya cewek?”
Raffa dan Raka saling menatap sebentar sebelum Raka yang menjawab pertanyaan Bobby. “Bukan, itu bukan ceweknya Bintang, kok.” Untungnya anak yang serba kepo ini, alias Bobby, tidak bertanya lebih lanjut.
Karena mereka sendiri tahu kalau cewek itu adalah anak PMR yang waktu itu pernah dimarahi oleh ibu penjual siomay. Tapi mereka tidak mengerti kenapa Bintang tiba-tiba saja seperti tadi. Dan cewek itu siapanya Bintang?
***
Bintang membawa Ana ke UKS. Beruntungnya di UKS tak ada siapapun, dan pintunya juga tidak dikunci. Bintang melepaskan cengkramannya di tangan kecil Ana. Dia berkacak pinggang untuk menetralkan deru nafasnya.
Ana mundur beberapa langkah. Dia meringis karena cengkraman Bintang tadi lumayan kencang sehingga meninggalkan perih. “Ka-kamu, kenapa sih, bawa aku ke UKS? Aku tadi lagi di test, dan kamu—“
“Lo bego atau polos, sih?!” Bentak Bintang sambil berbalik menatap gadis itu marah. Ana sampai terkesiap melihatnya. Pancaran emosi di matanya itu, yang melihatnya pasti tahu kalau laki-laki itu benar-benar tengah emosi hebat.
Tiba-tiba dia takut melihat Bintang. Ana memilih menunduk dan matanya tidak sengaja melihat tangan Bintang yang luka sampai berdarah.
“Bin, tangan kamu berdarah—“
“Gue nggak peduli!” Lagi-lagi Bintang memotong ucapannya. Ia memilih berjalan mendekat ke Ana. “Gue udah bilang kan, jadi cewek jangan bego! Jangan polos banget, lah. Peka sama sekitar lo, Arniana! Keras jadi cewek tuh!”
Lagi dan lagi, Bintang mengatakannya bego. Ana tidak suka.
“Saat waktu itu gue bentak lo di perpus, lo harusnya udah mulai berubah! Ternyata bener ya, lo benar-benar bego—“
“Maksud lo apa?” tanya Ana dingin. Jika Bintang memintanya untuk jadi cewek keras, sekarang Ana sedang berusaha.
Ana yang lo-lo-an, membuat Bintang tidak bisa menyembunyikan senyum miringnya. “Maksud gue bukan lo yang malah sok lo-lo-an tapi lo nya, tetep aja bego.” Sengit Bintang.
Mata Ana mulai perih. Ia sedih tapi tak berani untuk dilampiaskan karena dia tidak bisa. Dia ingin menangis, tapi tidak sekarang saat masih ada laki-laki ini dihadapannya yang masih menatapnya marah.
“Lo sadar gak sih, kalau lo tuh udah dilecehin secara gak langsung sama temen bahkan guru lo!”
Ana mendongak menatap Bintang tidak percaya. Dia tidak peduli jika kini Bintang sedikit menunduk, dan menatapnya dengan tatapan intimidasi.
“Saat lo di test senam lantai, baju olahraga lo kesingkap—bahkan mereka sampai ngetawain lo gara-gara itu! Makanya, lo itu jangan bego-bego amat! Sadar sama sekitar lo Arniana!”
Air mata menggenang di matanya. Tanpa dia mau, Ana sudah menangis.
Pantas saja mereka menertawakannya. Pantas saja Pak Anto jadi senyum-senyum setelah dia roll depan. Pantas saja teman cowoknya menyoraki, wow...
Bintang melihatnya. Ia lebih memilih memalingkan wajah, lalu keluar dari UKS dengan suara debaman keras pintu yang tertutup. Bintang memilih pergi saat Ana kini sudah menangis dan jatuh terduduk. Ana merasa sakit sekaligus juga, malu. Sangat malu.
Ternyata Bintang benar, Ana memang semakin bego sekarang.