Diantara semua pelajaran yang Ana tidak suka selain Seni Budaya, Bahasa Sunda, dan Prakarya, adalah pelajaran Olahraga. Beruntungnya pelajaran olahraga di kelas sebelas, diadakan di jam pertama. Saat kelas sepuluh, olahraga ada di jam ketiga pelajaran, lumayan agak siang sehingga membuatnya tambah malas.
Ana berbeda dengan adiknya, Arie. Arie sangat suka semua jenis olahraga. Terkadang adiknya itu suka menggoda Ana yang pendek akibat tak suka olahraga. Sekedar informasi, Ana dan Arie berbeda dua tahun. Tapi Arie sudah ada di kelas 10 karena masuk lebih awal saat sekolah dasar.
Anak kelas XI IPA 1 masih berada di kelas. Ada yang tertidur di mejanya, ada yang sedang sarapan, bahkan ada juga yang bergosip ria.
“Eh, olahraga hari ini apa, sih?” Tanya Riska ke anak kelas.
Andre menyeletuk, “Senam lantai kalau gak salah,” membuat semua anak di kelas membelalak menatap Andre sekarang.
“Serius lo, ndre?” tanya Jeni yang paling kaget.
“Lo jangan sok tau deh, ndre...” Begitulah celetukkan anak sekelas.
“Yee... ngapain juga gue bohong. Lo pada kali, yang gak denger Pak Anto ngomong apa minggu kemaren.” Andre, tidak mau disalahkan.
Ana yang sedari tadi duduk, menghela nafas. Dua jam ke depan akan jadi sesuatu yang berat. Terlebih senam lantai yang akan menjadi olahraga mereka.
***
Bintang dan teman sekelasnya sudah berada di lapangan. Bobby selaku sie olahraga, sudah memimpin pemanasan sebelum dimulainya materi Olahraga hari ini. Di depan lapangan, Bobby malah terlihat berlebihan mengintruksikan gerakan senam. Bahkan beberapa perempuan, tertawa melihat kelakuan Bobby.
“Bi... lo jangan lebay amat, lah,” sindir Raffa.
Raka yang setuju dengan Raffa balas meneriaki laki-laki itu. “Mundur aja lo jadi sie olahraga. Gerakan lo kayak nenek girang!”
Anak kelas makin tertawa. Untungnya Bobby punya wajah yang ganteng, sehingga segila apapun apa yang dia lakukan tetap saja buat perempuan bukan merasa risih, malah gemas.
Merasa situasi makin tidak kondusif, Bintang berdeham. Teman-temannya kini diam, melihat Bintang yang kebetulan ada di barisan paling belakang di sisi kiri barisan. Mereka menatap si ketua kelas dengan pandangan bertanya.
“Pak Adi diem-diem liatin.”
Anak X IPA 1, berbarengan melihat ke sudut kiri lapangan dimana Pak Adi, guru olahraga mereka berada. Pak Adi berdiri tegak dengan raut wajah tegas yang membuat mereka cengengesan sebelum kembali fokus pada senam.
Setelah selesai senam, Pak Adi berdiri di samping Bobby. Bobby merasa gemetar luar biasa saat guru yang terkenal tegas ini malah berdiri di sampingnya. Kayak gak ada tempat lain dia harus berdiri aja, pikirnya.
“Olahraga hari ini, bola basket. Saya minta dua orang untuk ambil bola di ruang olahraga.” Dari suaranya, siapapun akan tahu Pak Adi tipikal guru killer. Ia juga mempunyai aura tegas yang sangat mendominasi.
Raffa dan Raka yang mengambil bola itu. Aura mereka semua masih saja tegang padahal pelajaran Olahraga sudah beberapa kali pertemuan.
Mereka mendapatkan satu bola untuk satu tim. Satu tim terdiri dari empat orang, dan semuanya ada sembilan tim.
“Saya akan ajarkan kalian beberapa teknik bermain basket temasuk teknik melakukan lay up. Saya harap kalian memperhatikan karena test teknik permainan basket ini, akan masuk ke dalam nilai praktek semesteran.”
X IPA 1 mengeluh tidak terima kecuali Raffa, Raka, Bobby, dan Bintang.
“Tidak ada yang mengeluh!” Semuanya langsung dibuat kicep karena Pak Adi tadi membentak mereka.
Kebetulan kelompok Bintang, Raffa, Raka, dan Bobby, ada di urutan yang ke-sembilan. Sehingga giliran mereka mencoba pun yang paling terakhir.
Bintang duduk menekuk salah satu kakinya. Dia memperhatikan temannya yang mendapat giliran mencoba lebih dulu. Sesekali meringis karena Pak Adi tak pernah berhenti membentak mereka karena salah posisi, salah gerakan.
Saat matanya melihat ke arah lain, Bintang agak terkejut melihat Ana yang masuk ke lapangan bersama teman sekelasnya. Bahkan, Bintang baru tahu jadwal Olahraga mereka sama. Kelas Ana, sebenarnya jika Olahraga sering di lapangan upacara, berbeda dengan kelas Bintang yang selalu di lapangan utama. Karena itu juga Bintang tidak tahu karena tidak pernah selapangan.
“Bin, Pak Adi kenapa sensian amat ya, kayak cewek PMS.” Bisik Raffa.
“Iya kali,” jawab Bintang asal karena tidak begitu mendengarkan. Ia masih melihat Ana. Entah kenapa, gadis itu bahkan kelihatan sekali begonya karena dia malah terlihat asing di antara teman sekelasnya yang lain. Begitu pikir Bintang.
Ana masih belum menyadari kalau dia berada di satu lapangan yang sama dengan Bintang. Pikirannya acak-acakan karena materi olahraga hari ini, terlebih akan di test juga setelah semuanya mencoba.
Dua anak laki-laki yang ditugaskan membawa matras, sudah menaruh apa yang disuruh guru mereka di lapangan. Jantung Ana makin berdegup kencang. Ia benar-benar tidak siap.
“Yang akan di test adalah roll depan, roll belakang, kayang, dan juga sikap lilin, itu untuk perempuan. Untuk laki-laki, bagian kayang diganti dengan lompat harimau. Bapak ingin kalian mencoba gerakan yang akan di test, setelah semua mencoba, baru bapak test.” Pak Anto duduk di kursi yang tersedia di lapangan. Ia memilin kumis baplangnya, menatap tegas para muridnya.
Horor. Ana dibuat makin gugup. Tanpa sadar tangannya berkeringat. Ini masih pagi padahal.
“Adrian Triatmadja.” Pak Anto memanggil absen pertama.
Dari posisinya, Bintang bisa melihat dengan jelas jika Ana tampak gusar. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah, tapi Bintang tidak tahu apa.
Saat masih melihat Ana, fokus Bintang teralih karena namanya dipanggil.
“I-iya, pak?” Bintang spontan berdiri, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Agak malu juga, kepergok.
“Bintang Arkananta Mahardika, kamu jangan melamun. Giliran kamu.” Pak Adi melempar bola basket, yang untungnya bisa ditangkap Bintang. Teman-temannya, apalagi yang perempuan, malah sudah histeris takut kena bola.
Bintang berlari sambil men-drible bolanya, shoot, bola langsung masuk ke ring. Perempuan seketika histeris. Bagi mereka, Bintang sangat keren. Sementara teman laki-lakinya, hanya bertepuk tangan.
“Anak basket mah beda sih, ya,” Raka pura-pura iri. Pasalnya meski Raka termasuk laki-laki tinggi, dia gagal memasukkan bola ke ring tadi.
Bobby mengangguk mengiyakan. “Yang katanya gak akan ikut eskul, tapi sekalinya ikut eskul basket, gaya mainnya gak kalah keren dari gue.”
Bintang tersenyum tipis akan reaksi teman-temannya.
Saat mendengar suara histeris di salah satu sisi lapangan, Ana terkejut. Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Tapi saat melihat ke sumber suara, mau tidak mau dia harus membalikkan badan karena ternyata ada Bintang yang sedang main basket, lalu disoraki teman sekelasnya.
“Kok bisa ada dia, sih?” tanya Ana tidak habis pikir. Setelahnya,
“Arniana Prameswari.” Namanya dipanggil Pak Anto.
Ana kembali membalikkan badan. “I-iya, pak?”
“Sini kamu! Giliran kamu yang coba sebelum di test!”
Ragu-ragu Ana mendekat ke arah matras. Begitu di depan matras, Ana tak henti-hentinya mengatur nafas, untuk mengurangi gugup.
Dan begitu saja, Ana langsung berguling di atas matras. Ana bahkan tidak sadar kalau baju olahraganya kini agak tersingkap. Sehingga saat berguling tadi, sedikit bagian dari punggungnya agak terlihat.
Karena itulah teman sekelasnya menertawakannya. Terlebih roll depannya Ana yang gagal parah karena miring.
Mendengar suara tawa yang berasal dari kelas Ana, Bintang jadi melihat ke sumber suara. Tapi dia tidak begitu tahu karena peluit Pak Adi berbunyi, yang tentu berhasil menarik atensinya agar kembali fokus pada materi.
“Bapak rasa, materi lay up ada di pertemuan selanjutnya karena waktunya juga tidak akan cukup. Kalian yang masih teknik dasar saja banyak yang gak bisa memasukkan bola ke ring, gimana mau lay up?”
Murid X IPA 1 diam. Tidak ada atupun dari mereka yang berani menatap gurunya. Tidak ada juga yang mau buat ulah sama guru galak.
“Oleh karena itulah bapak ingin putra, karena beberapa dari mereka sudah tahu teknik dan melakukannya dengan sempurna, untuk bermain basket agar bisa diperhatikan oleh teman kalian yang masih gagal.”
Sepuluh orang putra yang tadi bisa dengan baik memainkan basket, maju untuk bermain. Termasuk Bintang, Bobby, dan Raffa.
“Ka, liatin gue main, ya. Siapa tau lo jadi bisa.” Ledek Raffa. Raka hanya memberikan kepalan tangan pada teman sebangkunya.
Sebelum peluit tanda dimulai permainan berbunyi, Bintang juga tidak tahu kenapa harus repot-repot melihat Ana yang kini sedang menunduk. Dan sialannya, Bintang sebenarnya tidak mau mengakui, kalau dia penasaran dengan eskpresi si cewek yang suka dibilangnya bego itu. Ekspresi risihnya, gugupnya, bahkan dia yang kini sedang menunduk seperti sedih, Bintang penasaran. Ekspresi Ana tidak ada yang terlewat dari atensi Bintang.
Kenapa? Bintang juga tidak mengerti dengan dirinya saat ini.