Di hari minggu siang, sudah menjadi rutinitas Ana menemani mamanya ke supermarket utuk belanja mingguan. Biasanya mereka akan membeli camilan dan beberapa bahan makanan.
“Na, kata kamu, minggu ini spageti atau pasta?” tanya Mama Ana. Kini mereka ada di stan makanan instan.
Ana mengambil salah satu merek spageti dan pasta, memasukkan dua pilihan mamanya ke trolly. “Bagi Ana itu bukan pilihan, ambil aja dua-duanya.”
Mama Ana berdecak. “Gak akan habis kalau dua-duanya, Na. Lagian, gak begitu bagus makan spageti, makan pasta juga. Jatahnya seminggu sekali.”
Ana cemberut. Dengan berat hati, dia memasukkan pasta ke trolly. Melihat itu, Mama Ana tersenyum seraya mengacak rambut sebahu putri sulungnya.
“Dasar anak mama...”
“Anak papa juga, ma...” kata Ana manja.
Mama Ana mengangguk setuju. “Jangan lupa kalau keseluruhan badannya kamu itu mama, ya. Tinggi juga kayak mama. Papa kamu tuh, cuma ngewarisin aja sifatnya buat kamu.” Ana setuju dengan apa kata mamanya.
Ana mendorong trolly sambil tersenyum senang. Ia mendorong trolly-nya sambil bersandar di bahu mamanya.
“Ana, jangan sender-sender gini ah, kalau nabrak terus barang-barangnya jatoh gimana? Jalan yang bener, kepala kamu tuh berat.”
Dia tidak mengindahkan kata mamanya. Sampai saat akan keluar dari stan makanan instan, tubuh Ana harus menegak karena di luar stan makanan instan...
Ada Bintang yang tengah tertawa dengan seorang nenek-nenek.
“Ma-mah...” panggil Ana gugup.
Di sebrangnya, Mama Ana tengah memilih-milih mie instan. “Na, Arie itu suka mie goreng rasa apa? Adek kamu ngeroweng pengin bekel sama mie goreng yang katanya udah satu bulan nggak makan.”
“Rasa ayam bawang,” celetuk Ana asal. “Ma-ma...” Di pikirannya banyak sekali pemisalan bagaimana kalau laki-laki itu melihatnya.
Nada bicara putrinya aneh. “Apa? Kamu dari tadi manggil Ma, Ma, nggak ngomong apa-apa lagi.” Kini Mama Ana memperhatikan atensinya ke Ana. Mama selalu tahu segala sesuatu tentang anaknya, dan Mama Ana cukup peka kalau ada sesuatu bagi Ana. Seperti menghindari sesuatu.
“A-aku, ke stan perempuan, ya? Pencuci muka aku habis, dah ma...” Ana mendorong trolly-nya sambil berlari ke stan perempuan, yang letaknya di sebelah stan makanan instan. Tapi karena stan ini selalu ramai setidaknya Ana berharap, di antara keramaian ini Bintang tidak melihatnya.
Entah kenapa Ana merasa beruntung menjadi orang pendek sekarang.
Mama Ana berdecak melihat kelakuan putrinya. “Aneh, ada yang lagi dia hindarin kayaknya.” Selanjutnya Mama Ana kembali mencari mie instan yang kata Ana adalah varian rasa kesukaan adiknya, Arie.
“Mana ya...” Mama Ana masih mencari-cari.
“Nek, jangan makan makanan instan kayak gini, Bintang aja. Perut nenek gak akan kuat. Nanti perutnya kembung kayak waktu itu.”
Nenek-nenek itu mengusap bahu cucunya. “Sekali-kali, nenek juga pengin aja makan pasta setiap kali kamu makan.”
Atensi Mama Ana sekarang beralih melihat laki-laki di sebelahnya, yang berbakti sekali mau menemani neneknya belanja.
“Uh, kapan ya, Arie mau nemenin aku belanja,” gumam Mama Ana.
Dia kembali mencari mie instan yang dimaksud, sampai matanya melihat kalau mie instan yang Ana bilang, ada di rak yang paling tinggi sementara Mama Ana tidak melihat tangga di sana.
Bodohnya, Mama Ana malah meloncat-loncat dengan harapan siapa tahu, mie instannya bisa terambil olehnya.
Bintang yang melihat itu, berdeham dan mendekat ke ibu-ibu yang sedang meloncat-loncat itu.
“Permisi, bu...” sapa Bintang.
Mama Ana yang melihat laki-laki yang tadi membuatnya iri kini sedang tersenyum padanya, membuatnya tidak bisa juga untuk tidak membalas senyum.
“I-iya?” tanya Mama Ana agak gugup.
“Tante mau ambil mie instan yang mana? Biar saya bantu ambilin,” ucap Bintang sopan.
Mama Ana menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Mie goreng rasa ayam bawang,” jawabnya agak malu-malu.
“Berapa banyak tante?”
Mama Ana terkesiap karena tadi dia sempat memandangi laki-laki ini agak lama. “Lima aja, nak...”
Bintang mengambil mie instan yang tadi dibilang, lalu memberikannya ke Mama Ana. “Ini tante, tante gak bawa trolly?”
Laki-laki ini sangat tinggi sama seperti Arie, putra satu-satunya. Tapi yang membedakan, Arie tidak mungkin bisa serespek seperti laki-laki di depannya ini. Bisa dibilang, putranya itu sangat cuek dan agak dingin.
“Tante?” panggil Bintang karena melihat ibu-ibu di depannya ini tampak sedang melamun.
Mama Ana berjengit kaget. “Oh, tante bawa, tapi trolly-nya dibawa sama anak tante, dia lagi ke stan sebelah.” Mama Ana menatap Bintang dan neneknya. “Makasih lho, udah bantuin tante.” Katanya, sambil menatap Bintang, lalu beralih menatap neneknya. “Bu, cucunya baik sekali, terima kasih.” Nenek Bintang hanya menanggapi dengan senyuman hangatnya.
Bintang kembali mendekat ke neneknya, dan disambut rangkulan hangat dari sang nenek. “Iya, sama-sama tante,” jawab Bintang sambil tersenyum sopan.
“Kalau gitu, kita lanjut belanja lagi ya tante, mari.” Pamit Bintang.
“Makasih ya, sekali lagi...” Kata Mama Ana. Bintang hanya mengangguk.
Mama Ana tersenyum mengingat kebaikan laki-laki itu. “Kalau sekarang aku seumur Arie atau Ana, pasti aku jatuh cinta sama laki-laki tadi...”
***
“Nenek gak nyangka kamu bisa sebaik itu, nenek bangga sama kamu, Bin. Cucu nenek tumbuh jadi laki-laki yang peduli.” Kata neneknya, yang masih saja merangkul cucunya dengan sayang.
Bintang diam-diam meringis. “Bintang kasian aja liat ibu itu.”
Kini mereka sedang di stan minuman ringan. Entah kenapa melihat wajah ibu-ibu yang tadi ditolongnya, Bintang seperti merasa familier melihat wajah ibu tadi. Tapi siapa, dan dimana?
Melihat dahi cucunya mengerut, nenek mengusap bahunya. “Bintang, ada yang lagi kamu pikirin? Kamu ada masalah?”
Bintang menggeleng. “Ng-nggak, nek. Tadi Bintang kayak ngerasa nggak begitu asing aja pas liat wajah ibu-ibu yang tadi Bintang tolong. Kayak pernah liat di suatu tempat, tapi siapa, ya?”
“Mungkin halusinasi kamu aja,” sahut neneknya. “Ayo, pilih yoghurt yang kamu suka. Nenek ingat minuman favorit kamu itu habis di kulkas.”
Dan mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka.
***
Masih dengan senyuman, Mama Ana ke stan sebelah untuk mencari Ana yang katanya mau beli pembersih muka. Beberapa orang bahkan menatap Mama Ana aneh, karena tampak kerepotan bawa lima mie tapi gak bawa trolly.
Mama Ana bisa langsung melihat putrinya di antara keramaian orang. Ana tak begitu sadar akan kehadiran mamanya karena dia masih membaca satu-persatu dari komposisi pembersih muka dari berbagai merek.
“Kamu tuh ya, bukannya samperin mama ke sebelah. Mama kerepotan bawa mie lima. Ah, untung aja tadi ada yang nolongin mama buat ambil mie. Mie yang dimau Arie itu, letaknya di rak paling atas tau!” Sungut mama Ana, sambil meletakkan mie yang daritadi dipegangnya ke trolly mereka.
Ana masih sok sibuk melihat pembersih muka. “Aku masih liat pembersih muka, ma. Maaf...”
Sebenarnya Ana merasa sangat bersalah pada mamanya. Tapi cuma begini cara satu-satunya biar tidak bertemu Bintang.
“Halah, pembersih muka apaan? Mama ingat pembersih muka kamu, baru beli minggu kemaren. Jadi nggak mungkin habis.”
Ana hanya nyegir. Dia mengangkat jari tanda damai pada mamanya.
Mama Ana hanya mencebik, pura-pura kesal pada putrinya.
***
Bintang dan neneknya masih belanja. Mereka hanya tinggal ke stan khusus oat, lalu pergi ke kasir untuk membayar. Kebetulan untuk ke stan oat, tentu harus melewati stan khusus perempuan dulu.
Masih mengekor di belakang neneknya, langkah Bintang berhenti begitu melihat ibu yang ditolongnya tadi. Tanpa sadar dia tersenyum.
Dia hendak mendorong trolly-nya lagi, sampai dia tersadar kalau ibu yang tadi ditolongnya, meskipun awet muda, tapi dia bisa melihat ada keriput akibat dari faktor usia di wajahnya.
Sementara perempuan yang tadi dilihatnya, berwajah mulus dan tampak lebih muda juga.
Butuh tiga detik bagi Bintang untuk sadar kalau itu,
“Arniana?”
“Bintang?” Neneknya menengok ke belakang untuk melihat cucunya. Dia tadi mendengar kalau cucunya menggumamkan suatu nama namun dia tak begitu jelas mendengarkannya. “Kamu kenapa diam begitu? Ayo kita beli oat buat kakek kamu. Kakek kamu lagi suka makan oat akhir-akhir ini.”
Bintang tergagap. “I-iya nek.” Sebelum menyusul neneknya, Bintang lihat Arniana barang sebentar.
“Pantesan gue merasa gak asing, ternyata ibunya...”