Tidak lama kepergian Ana, mood Bintang membaca novel pun sudah jadi bubur. Dia kepalang malas. Akhirnya dia keluar dari perpustakaan dan memanggil Bu Winda di ruang guru.
“Lo manggil Bu Winda lama amat, lah.” Bisik Bobby di sampingnya. Kini seluruh anak di X IPA 1 sudah duduk di bangku mereka masing-masing.
“Tadi makan dulu.” Bintang berbohong. Dia malas ditanya-tanya lagi.
Sebagai wali kelas, Bu Winda cukup bangga baru di hari pertama masuk, anak didiknya ini teratur. Terlihat saat dia dan Bintang memasuki kelas, mereka langsung duduk di bangku masing-masing lalu memasang senyum manis.
“Sudah ditentukan semuanya?” tanya Bu Winda antusias.
“Sudah, bu...” jawab mereka serempak.
Bu Winda mengangguk senang. “Besok program belajar sudah dimulai ya, jadi kalian mulai bawa buku sesuai jadwal. “
Jujur, Bintang bukannya tidak suka belajar. Dimulainya KBM besok, arti jika masa sekolahnya di SMA akan benar-benar dimulai. Entah kenapa dia tidak antusias seperti yang lainnya.
Tapi, dia takut. Padahal tidak ada yang harus dia takuti.
Bu Winda menyampaikan apa yang biasa diucapkan wali kelas di ajaran baru. Selanjutnya, ada sesi memperkenalkan diri dari satu-persatu murid. Bintang hanya memperkenalkan dirinya seadanya, tidak seperti temannya yang lain. Raffa bahkan mengenalkan dirinya jika dia sudah punya mantan lima selama dia hidup hingga saat ini, sementara Raka mempromosikan sosial medianya. Bobby juga pamer kalau dia lagi naksir cewek kelas sebelah.
“Hallo, nama saya Bintang Arkananta Mahardika. Kalian boleh manggil saya apapun, like, Bintang, Arka or, Dika. Tapi kebanyakan manggil saya Bintang atau Bibin. Terima kasih.”
Begitulah perkenalan diri Bintang. Sontak mendapat koor dari perempuan, terutama Aulya dan Anjani. “Bibin aja udah...!” seru mereka.
“Bintang banyak fans ya, di kelasnya sendiri,” celetuk Bu Winda. Bintang yang celetuki begitu, hanya mengangkat bahunya.
Setelah sesi perkenalan selesai, bel sekolah waktunya pulang berbunyi. Bu Winda pamit setelah mengatakan hati-hati pada anak didiknya.
“Bin, lo ke sekolah naik apa?” tanya Raffa.
“Motor,” jawab Bintang singkat sambil menyampirkan tasnya.
Raka terkekeh singkat. “Gue kira lo bawa mobil, Bin.”
Bintang menggeleng. “Nggak, emang boleh bawa mobil gitu?”
Bobby yang menjawab. “Boleh, si Gio sama si Robert aja bawa. Awalnya kita mikir, lo juga bawa.”
“Oh, nggak.”
Mereka berempat kini berjalan beriringan ke parkiran motor, bagikan F4 di Drama Asia Meteor Garden. Kebetulan, motor mereka yang sama jenis namun beda warna itu, terparkir beriringan juga. Dari motor ninja Raffa yang berwarna merah, disusul motor Raka berwarna hijau, motor Bintang warna hitam, dan motornya Bobby warna putih.
Bobby tertawa karena pertama kali tersadar. “Kita kek anak geng aja ya, motor dah samaan cuma beda warnanya.”
Raka juga ikut tertawa. “Iya eh, kuy lah, siapa tau lebih keren dari sinetron di tipi yang lagi beken itu.”
“Makin populer dong, kita?” Raffa tertawa sebelum mengatakan sesuatu dengan pedenya. “Duh, kalau cewek-cewek tau kita buat geng, fans kita—“
“Kita bukan artist, berhenti ngayal.” Potong Bintang sarkas yang sontak disambut tawaan keras dari Raka dan Bobby.
Mereka sudah menaiki motornya masing-masing, lalu meninggalkan Raffa yang masih menekuk bibirnya sebal, mirip seperti orang yang ber-aegyo. Cewek-cewek yang melihatnya, malah histeris.
“Raffa ganteng banget ya, aegyo kayak gitu, kyaaa...!”
Begitulah teriakan histeris mereka.
Kekesalan Raffa karena tiga temannya, langsung pudar karena jeritan yang sangat histeris dari para cewek.
Lalu Raffa membalas mereka dengan mengedipkan matanya, membuat para cewek itu makin histeris. “Kalian semua, tersimpan dalam hatiku!”
***
Bintang tidak mungkin salah lihat. Saat melewati Halte Damri, dia melihat Ana tampak melamun, duduk seraya menggoyangkan kakinya.
Di halte, Ana sebenarnya bosan. Sudah lumayan lama menunggu di sini, mengingat kelasnya dibubarkan lebih awal.
Ngomong-ngomong soal kimia dan fisika, masing-masing guru tersebut tidak berkomentar begitu tahu jawaban mereka satu kelas sama. Mungkin sudah diberi tahu juga oleh Bu Arumi.
Mengingat itu, membuat Ana kembali ingin menangis. Terlebih omongan Bintang tadi pagi...
Sementara itu sekitar seratus meter dari halte, Bintang malah memarkirkan motornya di sisi jalan. Entah mengapa. Dia membuka helm-nya, menengok ke belakang. Ana bahkan tidak terlihat dari di mana Bintang berada.
“Kenapa gue berhenti?” tanyanya bermonolog. “Kenapa gue berhentiin motor gue cuma buat liat dia?” Bintang tidak menyangka akan hal ini.
Bintang berdecak. “Gue gila kali, ya...” Setelahnya buru-buru dia memakai lagi helm-nya, mengemudikan motornya kembali ke rumah.
Tidak lama setelah itu pun, Damri yang Ana tunggu sedari tadi datang.
Sebenarnya...