“Bin, lo mau ke mana?” tanya Raffa menahan tangan Bintang yang hendak keluar kelas.
Mereka sudah menyelesaikan tugas mereka. Baru saja mereka berfoto satu kelas. Dilihatnya Raffa, lalu teman-temannya yang sudah mulai rusuh minta cepat dikirimkan foto-foto tadi, yang memang fotonya di kamera Anjani.
“Gue mau ke luar bentar, terus panggil Bu Winda.” Bintang ke luar kelas, Raffa juga tidak menahannya lebih lanjut.
Begitu keluar kelas, Bintang tak peduli meski banyak perempuan, tiba-tiba memanggil namanya berulang kali. Mungkin anak kelas lain. Jika dia tidak ingat kalau mereka perempuan, mungkin Bintang sudah menonjok mulut mereka satu-satu agar diam. Dia tidak suka digoda-goda seperti itu.
Sebenarnya Bintang juga tidak tahu akan ke mana. Tapi kakinya, sudah membawanya ke perpustakaan sekolah. Selama MOS kemarin, ia sudah ke semua tempat di sekolah kecuali di sini, perpustakaan.
Dia berjalan ke rak yang berisi novel. Bintang cukup terkesan karena rak novel itu, berisikan novel-novel dari yang lama sampai yang baru. Bahkan novel dari w*****d yang pernah dibacanya lalu akhirnya naik cetak pun, ada di rak ini.
Ah, Bintang akan betah di sini.
Saat mau mengambil novel yang dianggapnya menarik, Bintang dengar di belakangnya, di bagian terpojok perpustakaan, ada suara isakan tangis. Awalnya khayalan Bintang malah merambat kalau perpustakaan ini angker, terlebih di perpustakaan ini tak ada siapapun kecuali dia. Namun saat Bintang berbalik untuk memastikan siapa yang menangis itu...
Ada seorang gadis berambut pendek sebahu, duduk memeluk lutut.
Tidak jadi diambilnya novel itu, Bintang lebih memilih menghampirinya.
Suara isakan tangisnya mengganggu.
“Hei,” sahut Bintang dingin. Dia tidak peduli kalau cewek di depannya ini adalah kakak kelas atau seangkatan.
Gadis itu mendongak. Baik Bintang dan gadis itu—Ana, sama-sama kaget.
“Bintang...” panggil Ana. Buru-buru dia menghapus air matanya. “Kenapa kamu bisa ada di sini? Gak belajar?” tanyanya serak, sehabis menangis.
Laki-laki itu memasukkan tangan ke saku celana abunya. “Kelas sepuluh belum belajar, kebetulan tugas kelas gue udah kelar.”
Ana mangut-mangut mengerti. Gadis itu kembali memeluk lutut. Tak lama kemudian, isakan tangisnya malah terdengar lagi. Membuatnya mendesis, jengah.
“Lo kenapa sih, nangis? Cengeng banget tau, gak?” Sarkas Bintang.
Lagi-lagi Ana mendongak, melihat Bintang yang masih berdiri menjulang di hadapannya, kemudian kembali ke posisinya semula. “Ng-gak, bukan apa-apa, kok. Aku gak apa-apa.”
“Cih.” Cibirnya. “Anak kecil aja tau kalau nangis, tandanya ada apa-apa. Lo jangan bego deh, bilang gak ada apa-apa tapi lo nya malah nangis. Bullshit. Cewek dengan dramanya.”
Bintang jongkok untuk menyejajarkan posisinya dengan Ana. Bertepatan dengan itu pula, Ana mendongak sehingga mata mereka kini saling menatap. Ana bahkan hampir bergidik begitu melihat Bintang yang menatapnya tajam.
“Kenapa nangis? Ini sekolah kalau lo gak sadar. Jangan cari sensasi.”
Tangan Ana mengepal. Dia kesal dengan apa yang Bintang bilang barusan.
“Aku ke sini karena perpustakaan selalu sepi tau,” ketus Ana. “Aku nggak niat cari sensasi seperti yang kamu bilang.”
Bintang menghela nafas sejenak. “And then, lo kenapa nangis? Gue nanya ini udah tiga kali...” Diliriknya bagian atas tubuh Ana, untuk melihat pin nama di seragamnya. Karena dengan begitu Bintang tahu namanya.
Ana yang sadar di mata tatapan Bintang, buru-buru langsung menutupi tubuh bagian atasnya. “Ka-kamu...! Kamu kenapa—“
“Arniana...” Sela Bintang memanggil nama gadis itu. “Lo kenapa nangis?” tanyanya lagi. Lama-lama Bintang kesal. “Lo jangan salah paham! Gue cuma mau liat pin nama lo, cewek bego.”
“A-apa?! Bego? Kamu udah beberapa kali bilang aku bego!” Ana benar-benar tidak terima.
Terlebih dia memang benar-benar merasa bego.
Bintang diam, masih bertahan dengan posisinya. Ia melihat mata Ana kini berkaca-kaca, gadis itu nangis lagi. Ana memang baru sadar betapa begonya dia. Terlebih Bintang yang terus mengatakannya bego, membuatnya tertohok.
“Jiah, lo nangis lagi.” Bintang entah kenapa merasa frustrasi sampai harus mengacak rambutnya yang emang selalu dibiarkan berantakan.
Ana kembali memeluk lututnya. “A-aku, aku, diusir dari kelas...”
Pegal terus jongkok, Bintang duduk bersila di depan Ana. “Kenapa? Gak ngerjain PR? Telat masuk kelas abis istirahat?”
Ana menggeleng. “Aku gak telat masuk, aku ngerjain PR, aku...” Ana tak melanjutkan ucapannya karena dia terisak.
“Terus?” tanya Bintang sabar.
“Teman aku nyontek, teman sekelas aku yang lain pengin juga. Temen aku akhirnya fotoin jawaban di buku aku buat di kirim ke grup kelas. Yang aku nggak nyangkanya itu... Bu Arumi, beliau sadar kalau...”
“Jawaban sekelas lo sama?” pancing Bintang.
Ana mengangguk mengiyakan. “Temen aku yang bilang kalau dia fotoin itu dari buku aku. Bu Arumi, beliau, marah besar, dan aku diusir...” Ana menutup ceritanya dengan dia yang tidak bisa menyembunyikan isakannya.
Entah ada berapa banyak umpatan yang Bintang sebut dalam hati sekarang karena dia benar-benar ingin tahu, apa sih, yang ada di pikiran cewek itu sampai begini? Kenapa dia selalu dibodoh-bodohi, dimanfaatkan.
“Bu Arumi bener sih, salah lo yang terlalu bego.”
Ana mendongak, menatap Bintang tak percaya. “Kamu terus ngatain bego dan bego terus...”
“Emang bener!” Sentak Bintang. “Lo jadi cewek jangan polos napa. Bego lo kurangin lah, jangan mau dimanfaatin gitu aja. Keras dikit jadi orang.”
Cukup. Omongan Bintang lumayan keterlaluan, jujur dia merasa sakit hati.
Didorongnya bahu Bintang sampai laki-laki itu terhuyung. Ana buru-buru bangkit berdiri, berlari keluar dari perpustakaan meninggalkan Bintang sendirian, yang kini menatap kepergian gadis itu sambil melongo.
Jalan pikiran Arniana lumayan aneh, bagi Bintang.