Saat teman sekelasnya sibuk berselfie karena sudah pakai seragam SMA, Bintang duduk dibangkunya. Tatapannya kosong. Sama sekali tidak berminat ikut ke dalam foto meski teman sekelasnya sudah mengajak beberapa kali.
Dia duduk di tengah-tengah kelas, sebangku dengan Bobby. Di belakang mereka, ada Raffa dan Raka yang jadi teman sebangku.
Bintang sama sekali tidak antusias memakai seragam ini, sungguh.
Robert, salah satu teman sekelasnya, menghampirinya. “Bin, tadi gue kan, ngelewat ke ruang guru. Tau-taunya gue dipanggil Bu Winda yang bakal jadi wali kelas kita. Dia ngomong sesuatu ke gue.”
Atensi Bintang tidak lagi kosong. “Terus?” tanyanya sabar. Kata Raffa dan Raka, bahkan kata teman sekelasnya, Robert ini anaknya bertele-tele. Sekarang Bintang mengakui jika ini benar. Robert sendiri pernah mengakui dirinya begitu.
“Sebagai ketua kelas, lo diamanatin Bu Winda untuk organizir kelas. Hari ini gak ada pembelajaran. Kita harus bentuk pengurus kelas, daftar piket dan terus buat juga kelompok belajar. Nanti setelah semua itu selesai, panggil Bu Winda ke kelas. Beliau bakal ngomong sesuatu sama bagiin jadwal pelajaran.”
“Udah?”
Robert mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya udah, Bin. Sori ya, kalau gue agak bertele-tele gitu, hehe...”
Bintang tersenyum tipis, menepuk bahu temannya. “Selow aja kali...”
Melihat Bintang maju ke depan kelas, Aulya dan Anjani langsung berhenti melakukan selfie. “Bibin, lo akhirnya mau ikut foto juga, ya?” tanya Aulya.
“Sini Bibin ikut foto sama kita-kita,” ajak Anjani.
Bintang menggeleng. “Kalian bisa tunda dulu gak, selfie-nya? Ada hal-hal yang mau gue sampain. Setelah tugas kita selesai, boleh deh, selfie-selfie lagi.”
Wajah antusias Anjani tidak bisa disembuyikan. “Serius?! Lo ikut tapi ya.”
Raffa ikut menimpali. “Iya sih, Bin. Ikut foto sekelas di hari pertama kita jadi anak SMA. Biar terkenang gitu, lho.”
Bintang menghela nafas. “Hm, oke.” Meski kelihatan sekali tidak niat ikut foto, teman-temannya malah bersorak heboh. Pasalnya, sedari tadi mereka sudah selfie satu kelas tanpa Bintang. Robert saja, ikut foto meski di pertengahan harus ke luar kelas karena kebelet pipis.
***
Ibu Arumi, selaku guru Matematika Peminatan, merasa janggal. Pasalnya setiap dia berganti buku tugas siswa, jawaban semua siswa itu sama. Dia bahkan sudah mengelap kacamata bacanya berkali-kali karena berpikir salah lihat.
Apa karena aku udah makin tua jadi semuanya sama di mata aku?
“Ibu, kenapa dari tadi elap kacamata terus?” intrupsi Rizka, ketua kelas di XI IPA 1. Dia yang duduk tepat di depan meja guru, merasa agak kasihan juga melihat gurunya terus-terusan mengelap kacamata.
Bu Arumi berdeham, sebelum menjawab, “Ini mata ibu yang makin tua, atau kalian yang nyontek ngerjainnya bareng-bareng?”
Semua anak kelas XI IPA 1 membatu kecuali Ana.
“Ibu merasa janggal. Jawaban kalian, sama semua. Rumus, cara, sampai di tata letaknya pun sama.” Suara tegas Bu Arumi membuat mereka semua tegang.
Bu Arumi bangkit dari kursinya, berdiri di depan kelas melihat wajah nan tegang muridnya satu persatu. “Padahal, rumus yang digunakan bisa tiga atau lima cara. Dari dugaan ini ibu tau kalau kalian nyontek. Entah nyontek ke kelas lain—“
“Kami gak nyontek ke kelas lain, bu.” Potong Rizka cepat.
“Lantas?” Bu Arumi mendelik menatap Rizka. “Teman sekelas kalian ada yang jadi tumbal biar kerjaannya dicontekin kalian, gitu?!”
Kelas kembali hening. Tidak ada satu pun yang mau buka suara.
“Kalau salah satu dari kalian tidak ada yang mau ngaku, saya tidak segan-segan akan melaporkan ini ke wali kelas kalian.” Bu Arumi bersiap akan keluar kelas sebelum suara Diana mengintrupsi.
“Saya...” Diana menatap takut Ana di sebelahnya.
Bu Arumi mengangkat sebelah alisnya, menunggu keterusan ucapan Diana yang gugup. “Kamu kenapa Diana?”
“Sa-saya...” Diana masih gugup ditambah gemetar. Pasalnya tatapan Guru Matematika ini begitu mengintimidasinya. “Saya yang bagikan jawaban tugas ke grup kelas, bu.” Cicit Diana mengakui.
“Kenapa? Itu kamu yang mengerjakannya sendiri?!”
Diana menggeleng. “Saya motoin dari buku Ana, bu...” Setelahnya Diana hanya bisa menunduk. Pasrah dengan nasibnya.
Tatapan tajam Bu Arumi kini mengarah pada Ana. “Benar itu, Arniana?”
Ana melirik Diana sekilas. “I-iya, bu...”
“Kenapa? Mau jadi pahlawan kamu, iya?!” Bentak Bu Arumi.
“Ng-nggak, bu. Saya gak bermaksud gitu.”
Bu Arumi berkacak pinggang seraya membuang nafas kasar. Tidak habis pikir dengan pola pikir Ana. Kenapa pula anak itu mau-maunya saja dicontek?
“Arniana, kamu keluar dari kelas ibu sekarang!” Putus Bu Arumi final.
Ana tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Ke-kenapa, bu?”
“Kamu tahu kalau tiga pelajaran eskak, termasuk Matematika Peminatan, ada tugas untuk pemahaman materi di kelas sebelas. Dan kamu, mau-maunya saja diconteki oleh teman sekelas kamu?” Bu Arumi mendecih. “Padahal ibu berharap kalian tidak menyontek karena ibu ingin tahu kemampuan kalian sampai di mana, bagaimana daya serap otak kalian sehabis liburan. Jadi jikalau banyak dari kalian yang tidak paham, ibu akan bahas ulang materi itu!”
Ana tetap diam. Dia memainkan jari-jarinya gugup.
“Keluar dari kelas sekarang. Jangan ikut pelajaran saya hari ini!”
Mau tidak mau Ana keluar kelas. Tanpa sadar, dia menangis. Baru kali ini, seumur hidupnya selama sekolah, dia diusir guru. Terlebih Bu Arumi adalah salah satu guru favoritnya. Matematika Peminatan pelajaran favoritnya.
Meskipun mereka yang untung, mereka bahkan tak peduli Ana sudah ada di luar kelas karena diusir. Mereka tidak merasa bersalah sedikit pun. Bahkan si teman sebangku Diana, dia malah merasa bahagia bukan dialah yang diusir.