Chap. 14 || Help & Play

1161 Kata
Sekarang sudah jam pulang sekolah. Hari ini, rabu, adalah jadwal Bintang piket. Tugas piketnya minggu ini adalah mengepel, bersama Gio. Tiga temannya yang lain, kebetulan tidak ada di jadwal piket yang sama sehingga tadi mereka sudah pulang lebih dulu.             Berhubung ngepel adalah kegiatan piket yang dilakukan paling terakhir, Bintang dan Gio memutuskan ke kantin untuk membeli camilan. Sambil nunggu temannya untuk selesai menyapu, mengelap kaca, dan sebagainya.             Mereka duduk berhadapan, memilih memakan camilan mereka di salah satu meja pojokkan kantin. Gio memesan teh kotak dan snack, sementara kopi dan chiki berbentuk bola adalah pilihan Bintang.             “Bin, gue minta maaf, ya?” Gio membuka percakapan pertama mereka.             Bintang yang sedang menyesap kopi mokanya, mengangkat sebelah alis, menunggu kelanjutan ucapan Gio.             “Pas basket, beberapa hari lalu gue gak sengaja dorong lo, sampai lo jatuh dan berdarah... gue minta maaf.”             “Bosen gue denger lo minta maaf setiap hari, setiap waktu.”             Memang, semenjak kejadian itu sampai hari ini, Gio terus-terusan minta maaf seperti tidak kenal bosan. Bintang juga merasa jengah tentu saja.             Kunyahan snack di mulutnya Gio berhenti. Lalu dia menjawab, “Gue gak enak sama lo, Bin. Gue mungkin gak sadar karena ambis banget pengin rebut bola dari lo sampai akhirnya gak sengaja gue dorong lo, dan lo sampai jatoh.”             Bintang membuka snacknya dan menyeletuk, “Emang lo dorong gue, ya?”             “Eh?” Hampir saja Gio tersedak teh kotaknya sendiri.             Sambil mengunyah snack-nya, Bintang menjawab, “Gue yang luka nggak ngerasa gue didorong padahal.”             “Kok? Jadi?”             “Intinya gue nggak didorong siapapun. Jadi, berhenti minta maaf karena di sini lo gak salah apapun.”             Gio melongo, menatap tidak percaya pada Bintang. “Be-berarti, lo...”             “Yep. Gue menjatohkan diri gue gitu, aja.”             Sontak Gio menggebrak meja kantin. Untung saja kantin sudah sepi, jadi tidak mengundang atensi dari banyak orang. “Lo gila ya, Bin?! Lo menjatohkan diri gitu aja, sampai tangan lo berdarah? Lo gila!”             Tidak suka dibilang gila, mata Bintang memicing. “Gue begitu juga punya alasan, Gi.”             Buru-buru Gio menyesap teh kotaknya. “Apa alasan lo sampai bertindak segila itu?” Seakan teringat sesuatu, Gio kembali bicara. “Oh ya, pas abis jatuh itu lo, lo ke kelas sebelas ipa satu, nyeret seorang cewek... itu cewek lo?”             Bintang tersenyum tipis. “Lo orang keempat yang nanyain hal itu.”             “Jadi?”             “Bukan, itu bukan cewek gue, bukan juga orang yang gue taksir.”             Gio mangut-mangut mengerti. “Keluarga lo? Sepupu?”             Bintang memilih memakan snack-nya lagi, menjawabnya dengan gelengan yang artinya bukan.             “Terus?” Gio benar-benar penasaran. “Itu cewek bukan cewek lo, gebetan bukan, sepupu bukan, keluarga juga bukan. Jadi, siapa lo?”             “Lo punya cewek kan, Gi?” tanya Bintang di sela kunyahannya. Gio tentu mengangguk sambil tersenyum karena teringat rupa wajah pacarnya.             Bintang menegakkan duduknya. “Nah, kalau misal cewek lo, dia tuh udah ngelakuin tindakan bodoh, lo nggak suka sampai lo emosi sendiri, terus si cewek lo itu nggak sadar sama tindakan bodohnya, dan lo pasti akan ngelakuin semuanya kan? Semua cara biar cewek lo keluar dari tindakan bodohnya. Iya, kan?”             Gio tertawa. “Iyalah, gue gak rela cewek gue ngelakuin hal bodoh bahkan sampai dia dirugikan atau gimana.”             “Begitu pun dengan gue. Dia bukan cewek gue, tapi gue gak suka aja dia ngelakuin itu.”             Tentu Gio paham tapi... “Tunggu, gue baru menyadari satu hal di sini. Bin, itu artinya lo demen sama cewek itu!” seru Gio antusias.             “Nggak.” Sahut Bintang dengan suara datar.             Muka Gio sudah mesem-mesem. “Kalau nggak demen, nggak akan gitu.”             “Nggak, gue emang gak suka.” Bintang menegaskan. “Orang bawaannya gue emosi mulu kalau di deket dia. Gue juga gak deg-degan atau gimana...”             “Halah, ala-ala lo aja, Bin.” Cibir Gio. Bintang hanya diam, malas sekedar meladeni cibirannya Gio. Kenyataannya, dia emang gak suka sama Ana, kan? Gio berdeham sebelum menanyakan, “Jadi alasan lo yang secara suka rela mau menjatohkan diri lo sampai luka itu, apa Bin?” Bintang diam sejenak. Sibuk menyusun kata-kata di dalam pikirannya. Dia menatap Gio serius. “Jangan bilang ini ke siapapun, Gi.” Gio tersenyum tipis. “Hal ini bakal aman, Bin. Tenang aja...” Akhirnya Bintang menjawab, “Ada seorang cewek super bego yang harus gue tolongin. Gue sendiri juga belum tau kenapa gue mau aja repot-repot nolongin dia. Yang jelas, ada sesuatu alasan yang nggak bisa gue bilang ke siapapun.” Sebenarnya, karena...   *** Hiruk pikuk klub malam sudah biasa bagi mereka. Bau gairah, bau alkohol serta minuman keras lainnya, dan bau rokok, sudah tidak asing lagi. Empat orang itu, sedang duduk ditemani oleh para wanita malam yang sedang memeluk mereka dengan manja. Masing-masing dari mereka pun, memegang botol bir. “Bos, gue ada mainan baru buat lo.” Jordhy, yang oleh ketiga temannya dipanggil bos itu, melihat Budi, teman satu kelasnya. “Apa mainan baru gue, Bud?” “Kata Andhika, ada cewek polos yang bisa lo mainin gimana aja. Dia aja sebenarnya pengin main-main sama tuh cewek, tapi ternyata dia baik juga sama lo karena dia pengin lo yang ngerasain tuh cewek lebih dulu. Dia bilang nggak jadi masalah buat dia dapet bekas lo juga.” Mereka berempat adalah teman satu kelas, yang ikut OSIS di sekolah, dan bahkan jadi anak berpengaruh di sekolah. Tapi kita tidak tahu kan, apa yang ada di luar akan sama juga dalamnya? Bima tertawa. “Si Andhika itu takut sama lo, bos. Makanya dia rela-rela aja dapet bekasan lo.” “Secara gengnya dia, juga bakal kalah sama gengnya kita.” Imbuh Rio. Jordhy tertawa sambil merangkul erat wanita sewaannya. “Siapa namanya emang, Bud? Kelas apa?” “Anak PMR juga kok, kayak si Andhika.” Rio yang menjawab. “Ditambah tuh cewek seangkatan sama kita.” Bima ikut menambahkan. Budi mencium wanita sewaannya sebelum menjawab. “Arni—apa gitu ya, gue lupa. Nama itu cewek agak ribet emang.” “Arniana, maksud lo?” Kebetulan Bima ingat. “Itu kan, cewek yang suka disuruhin si Aldo buat balikin piring kalau mereka jajan, dan kampretnya si Aldo dan gengnya itu langsung kabur sebelum mereka bayar.” Mereka langsung tertawa bersamaan. “Lah, bego parah dong, tuh cewek?” Rio bertanya di sela-sela tawanya. Budi mengangguk setuju. “Memang. Makanya si Andhika bilang, Arniana itu pas jadi mainan. Si Andhika bahkan pernah bilang ke gue kalau dia penginnya nidurin tuh cewek di kasur UKS.” “Bego memang, mentang-mentang dia ketua PMR, dan mau lengser bentar lagi. Sebelum lengser mau buat kenangan indah dulu.”  Rio semakin tertawa keras yang diikuti tiga temannya. “Udah bos, cepet mainin dia.” Bima sudah berhenti tertawa. “Kasian kan, si Andhika keburu lulus padahal belum mainin tuh cewek.” Jordhy tersenyum miring. “Tunggu aja, nggak lama lagi, kok.” Tiga temannya kembali tertawa dan menyemagati bosnya itu.   “Kalian liatin aja permainan gue...”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN