Chap. 15 || Short Attack

1231 Kata
Kelas X IPA 1 sedang mencatat materi Biologi di papan tulis. Bu Fitrianni selaku guru Biologi, mulai membereskan barang-barangnya karena sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi.             “Wali kelas kalian sudah bilang belum, kalau minggu depan sudah masuk UAS?” tanya Bu Fitri, yang sontak membuat semua anak menegakkan duduknya sambil menatap guru mereka horor.             “UAS? Kok, cepet banget ya, bu? Saya baru kemarin perasaan pake baju putih-abu. Eh, udah main UAS lagi...” Celetuk Raffa.             Wali kelas mereka Bu Winda belum pernah bilang. Ini baru hari senin, dan pelajaran Bu Winda, Bahasa Inggris, baru diadakan besok. Mungkin baru besok wali kelas mereka menyampaikan berita ini.             Bu Fitri yang memang tak kalah ramah dengan wali kelas mereka, hanya bisa terkekeh melihat muridnya yang tidak menyangka sudah beberapa bulan jadi anak SMA. Memang waktu berjalan cepat.             “Saya kira bulan depan lho, bu.” Kata Robert.             “Nggak, lah. Bulan depan kalian udah semester dua.” Bu Fitri bangkit dari duduknya seraya menyampirkan tas gendongnya. “Habis ini kalian boleh istirahat, tapi setelah materi di papan tulis kecatat semua, ya?”             Tahu jika pikiran mereka sama, mereka malah berkata serempak, “Okeee, bu. Siaapp...” sambil senyum-senyum.             Setelah Bu Fitri keluar dari kelas, mereka juga berdiri dari duduk mereka kecuali Bintang yang catatannya memang bentar lagi selesai.             “Kalian gak lakuin amanat dari Bu Fitri, ya? Kelarin dulu tuh catatan...” Bintang memperingatkan teman mereka masih sambil menulis.             Raffa menghampiri meja Bintang. “Santai aja, Bin. Kita-kita pasti bakal catat, kok. Udah difoto juga sama Gio, pubdok kelas. Nanti dibagiin ke grup.”             Bobby menepuk bahu Bintang. “Kuy lah, ngantin dulu.”             “Iya, sih. Gak kuat, laper gue.” Timpal Raka.             Bintang menghela nafas. Untungnya, catatan dia sudah selesai. “Ayo.” Dia ikut berdiri, lalu menyusul tiga temannya ke kantin.   ***             “Bin, lo mau jajan apa?” tanya Bobby. Mereka berempat sudah ada di stan mie bakso. Beruntungnya stan mie bakso tidak terlalu ramai..             “Gue samain aja sama kalian, mie bakso juga, kan?” tanya Bintang. “Nitip dulu ya, gue ada urusan bentar.”             Raka menepuk bahu Bintang. “Mau ke mana? Urusan apa, Bin?”             “Perpus, minjem buku paket.” Setelah mengatakan itu, Bintang menjauh dari mereka, keluar dari kantin.             Samar-samar sebelum terlalu jauh dari mereka, Bintang bisa dengar Raffa mencibirnya. “Tuh anak belajar nggak belajar buat UAS juga kayaknya bakal jadi ranking satu.” Tapi Bintang tidak peduli.             Begitu ada di perpustakaan, Bintang langsung melesat menuju rak di mana buku yang dia butuhkan berada. Dia sedang mencari referensi lain dari buku paket Biologi kelas 10 untuk tambahan materi UAS.             Rak buku di perpustakaan sekolahnya disusun sesuai mata pelajaran dan jenis buku, sehingga memudahkannya mencari. Tapi begitu sampai di tujuan yang dia maksud, Bintang sama sekali tidak menduga jika dilorong yang sama, tepat di sebelah rak buku yang dia mau, ada Ana di sana, sedang membaca buku Biologi khusus kelas 11.             Menyadari kalau di lorong rak buku Biologi dia tidak sendirian, Ana tentu mengalihkan pandangan, dan menemukan Bintang di sana.             Tentu dia juga tak kalah terkejut, sama seperti Bintang.             Terlebih semenjak insiden di UKS, setiap ada kesempatan berpapasan atau bertemu seperti ini mereka tidak pernah bicara.             Ana kembali membaca buku yang dia pegang. Beberapa menit tadi, jujur dia merasakan suasana yang canggung.             Melihat Ana yang bersikap biasa saja, maka Bintang juga akan melakukan hal yang sama. Dia berjalan melewati Ana, dan mulai mencari referensinya.             Rak buku kelas 10 memang letaknya paling ujung pojok. Dalam hati Ana merutuki kenapa diantara banyaknya waktu menjelang UAS, laki-laki ini malah di perpustakaan bukannya makan di kantin.             Ana sendiri sama seperti Bintang. Tapi sedari tadi, meski lebih awal sudah ada di perpustakaan, dia belum menemukan jenis buku paket yang sekiranya bisa melengkapi rangkuman materinya untuk persiapan UAS.             Matanya tanpa sadar mendongak. Di rak paling atas dan tinggi, Ana lihat ada satu buku rangkuman super Biologi kelas 11.             Tentu saja buku itu bisa melengkapi rangkuman Ana!             Gadis itu sadar diri kalau dia pendek. Diam-diam diliriknya Bintang yang tengah sibuk membolak-balikan halaman buku paket. Ana gengsi untuk sekedar minta tolong pada Bintang untuk diambilkan buku itu. Tubuh Bintang yang tinggi seperti tiang itu, pasti dengan mudah bisa mengambil bukunya.             Tanpa ada pilihan lain, Ana malah melompat-lompat, berusaha untuk bisa menggapai buku itu.             Sebenarnya, Bintang juga tidak sepenuhnya membaca. Sesekali dia melirik Ana, memastikan gadis itu sedang apa. Bintang mendesis begitu melihat Ana kini sedang melompat-lompat untuk mengambil buku yang dia mau tapi letaknya ada di rak yang paling tinggi.             Kelakuan Ana, membuatnya tanpa sadar teringat dengan kelakuan ibunya gadis itu waktu di supermarket. Bintang tersenyum tipis melihatnya.             Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.             “Lo mau ngambil buku apa, sih?” tanya Bintang risih.               Ana berhenti melompat dan menengok ke belakang. Dia terkejut melihat Bintang sudah berada tepat di belakangnya.             “Hm, buku rangkuman super Biologi kelas 11.” Ana kini malah mengusap tengkuknya, merasa gugup tiba-tiba.             Tanpa beralih posisi, Bintang mengulurkan tangannya untuk mengambil buku yang Ana maksud. Alhasil posisi mereka semakin dekat, dan jika ada orang lain yang melihat, kesannya seperti Bintang yang mengurung Ana.             Kenapa Ana merasa berdebar?             “Nih.” Bintang memberikan bukunya, yang diterima Ana dengan tangan gemetar. “Sadar diri kek, kalau lo itu pendek. Apa susahnya sih, minta tolong buat diambilin. Punya mulut, kan?”             Debaran yang Ana rasakan langsung lenyap, digantikan rasa kesal. “Kamu ngehina mulu, ya?”             Bintang memasukkan tangannya ke saku celana. “Emang bener, kok.”             Ana menggeram yang masih bisa Bintang dengar. “Aku senior yang satu tingkat di atas kamu. Harusnya kamu bisa sopan sama kakak kelas.”             “Tapi gue merasa lo bukan kakak kelas yang harus gue sopanin.”             Sebelah tangan Ana yang tidak memegang buku bahkan sudah mengepal saking kesalnya. “Kamu...!”             “Kakak kelas tuh, gak bego-bego parah kayak lo.”             Cukup. Lagi-lagi Bintang mengatakannya bego. Ana sebisa mungkin agar bisa menahan diri supaya tidak menangis.             Tanpa mengatakan terima kasih pada Bintang, Ana berlalu pergi dari sana. Setelah mengurus perizinannya meminjam buku, Ana keluar dari perpustakaan.             Bintang melongo melihat kepergian Ana. Beberapa detik selanjutnya, dia malah tertawa. Bintang tertawa karena teringat ekspresi marah Ana, geraman dia karena kesal, bahkan ekspresi penuh emosi gadis itu yang entah kenapa lucu saja di mata Bintang.             Terlebih gadis dengam rambut model bob sebahu itu berjalan cepat, amat kelihatan sekali ingin menjauh darinya.             “Bahkan lo orang terbego yang pernah gue tau karena lo mau-maunya aja ditindas, dimanfaatin, Arniana.”   ***             Habis dari perpustakaan, Ana pergi ke ruang tata usaha untuk mengambil kartu ujiannya. Tadi dia sedikit menguping, beberapa teman sekelasnya termasuk Diana sudah mengambil kartu UAS. Bahkan teman sebangkunya itu tidak ajak-ajak saat hendak mengambil kartu ujian. Jangankan mengajak, memberi tahunya kalau kartu ujian sudah ada saja tidak.             “Permisi.” Ana merasa lega saat melihat wali kelasnya, Bu Fitri, sedang menikmati makan siang di mejanya. Sebelah tangannya melambai, memberi kode agar Ana mendekat.             “Bu, maaf ganggu waktunya. Saya mau mengambil kartu ujian saya.”             Bu Fitri mengangguk, memberikan kartu UAS yang bertuliskan namanya. “Belajar yang rajin ya, Na. Ibu denger selama kelas sepuluh, kamu juara satu. Ya, semoga aja semester ini dan selanjutnya juga sama karena nilai-nilai kamu selalu bagus banget. Memuaskan.”             Ana tersenyum mengamini. “Ya, bu. Makasih.”               Setelah mengambil kartu UAS, Ia keluar dari ruang guru tanpa merasakan suatu firasat apapun. Ana bahkan tidak menduga-duga mengenai apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN