“Bin, alat tulis, papan jalan, udah ada di tas?” Neneknya bertanya di sela-sela kegiatan sarapan mereka bertiga.
Bintang yang sedang mengunyah roti seraya membaca rangkuman, hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan neneknya.
“Mau berangkat bareng kakek, atau kamu sendiri pake motor?” Kini kakek Bintang menawari. Dari kemarin, kakek dan neneknya tersenyum bahagia karena cucunya bisa bertahan juga di sekolah. Bahkan hari ini sudah UAS lagi.
Bintang memang pintar dan rajin belajar. Hal itu jugalah yang bisa tambah membuat mereka bangga pada Bintang. Terlebih nilai cucunya yang selalu bagus serta memuaskan. Tidak sia-sia Sara, neneknya Bintang, diam-diam mendaftarkan cucunya ke SMAN tanpa sepengetahuan Bintang sendiri.
“Pake motor aja, kek.” Seakan tersadar sesuatu, Bintang melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. “Kek, nek, Bintang telat.”
Buru-buru Bintang berdiri, menenggak susunya sekali tandas. “Bintang berangkat dulu ya nek, kek. Doain...” Laki-laki itu berlari sambil membawa ransel ke luar rumah menuju garasi.
“Bintang...” neneknya memanggil namun terlambat karena gerungan dari motor ninja Bintang sudah berbunyi meninggalkan rumah.
Sara melihat suaminya dengan helaan nafas. Dipegangnya buku cucunya. “Buku rangkuman cucu kita ketinggalan.”
Soni, kakek Bintang, baru saja menghabiskan s**u lansianya. “Gak kepake sama Bintang mungkin, jadi gak langsung dimasukkin ke tas tadi.”
“Iya kali.” Sara berusaha berpikir positif. Lalu dia kembali tersenyum pada suaminya. “Yaudah, ayo. Kamu belum pakai dasi, kan? Aku bantuin.”
***
Bintang hampir saja telat. Beruntungnya dia memasuki gerbang sekolah di detik-detik terakhir, lima menit pagar mau ditutup. Bayangkan jika dia sudah tak bisa masuk dan akhirnya tidak bisa ikut ujian. Sia-sia saja hafalannya selama ini.
Bintang mencari ruang ujiannya. Bintang tahu ruang ujiannya nomor 22, letaknya di kelas 12 IPA 1. Untungnya tidak begitu jauh dari lapangan parkir di mana motornya berada sehingga tidak memakan waktu banyak.
Begitu memasuki ruangan Bintang harus menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena sudah ada Bu Arumi, selaku pengawas, mulai membagikan lembar soal dan lembar jawaban. Dia juga sadar kalau beberapa perempuan di ruangan ini mencicit begitu dia memasuki ruangan.
“Terlambat?” tanya Bu Arumi tajam.
“Iya, bu.” Jawab Bintang. Dalam hati dia mengumpat lantaran di hari satu UAS, pengawasnya sudah yang galak.
Masih sambil membagikan soal, Bu Arumi mengedikkan kepala ke satu-satunya kursi yang masih kosong. “Cepat duduk.”
Bintang mengikuti pandangan kedikkan kepala guru galak itu. Lagi-lagi ia dibuat terkejut karena sebangku dengan Arniana. Selama seminggu UAS ternyata dia sebangku dengan Arniana.
Arniana sendiri terkejut saat Bintang masuk ke ruangan. Dia sama sekali tahu jika laki-laki itu terlambat, dan tentu saja menjadi teman sebangkunya selama UAS karena hanya kursi di sebelahnya yang kosong.
Kebetulan macam apa ini? Di saat Arniana sebisa mungkin untuk menjauh dari Bintang, tapi kenapa diantara 20 anak X IPA 1 di ruangan ini, harus Bintang yang jadi teman sebangkunya?
Bintang mendekat, lalu begitu saja duduk di sebelahnya.
Canggung, benar-benar canggung. Mereka sama-sama tidak nyaman pada situasi ini.
Mereka duduk di meja ketiga diantara lima meja, sebelah jendela di bagian kiri. Posisi kelas sebelas di sebelah kiri, sementara kelas sepuluh di sebelah kanan. Situasi tidak menguntungkan bagi Ana karena dia duduk di pojok.
Saat lembar soal dan lembar jawaban sudah ada, baik Ana dan Bintang, langsung mengerjakan soal ujian itu dengan serius.
***
Di tengah-tengah mengerjakan soal, Ana tahu kalau Beni, teman satu kelas yang duduk di belakangnya, sedari tadi terus mendorong-dorong kursinya. Jujur Ana merasa terganggu karena dia yang tengah mengisi soal uraian, harus bersikap sabar karena lembar jawabannya tercoret lagi, tercoret lagi.
Bintang sesekali melirik Ana di tengah pengerjaan soalnya. Dia sadar jika gadis di sebelahnya ini terusik, tapi tetap saja bego karena diam.
Tangan kiri Bintang memukul depan meja belakang dari bawah sehingga terdengar bunyi, ‘duk’. Sontak atensi para siswa yang sedang mengerjakan, juga Bu Arumi yang hampir ketiduran, melihat ke sumber suara.
“Jangan menanyakan soal ke teman!” Aksi Bintang, malah disalah pahami dengan dia yang disangkanya mau menyontek oleh Bu Arumi. Bintang diam saja, karena dia memang tidak berniat menyontek.
“Bin, lo kenapa pukul meja gue?” Biselsha yang tepat duduk di belakang Bintang berbisik.
Laki-laki itu hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Ana diam-diam melihat teman sebangkunya. Penasaran kenapa tadi cowok di sebelahnya ini memukul meja. Tapi tidak penting juga buat Ana. Karena saat ini Bintang tampak serius sekali mengerjakan soal.
Beberapa menit kemudian, Beni kembali mendorong kursi Ana disertai juga dengan bisikkan, “Ana! Na! Nomor dua-dua apa?”
Ana mendengarnya. Dia sedikit melirik ke belakang untuk menjawab soal yang Beni maksud. “Nomor dua-dua itu...”
“Ekhem...” Suara dehaman dari Bintang yang awalnya dia kira Bu Arumi, membuat dia urung melirik ke belakang. Alhasil Ana tidak jadi menjawab.
Entah kenapa Bintang malah merasa puas melihatnya.
Tapi tak berselang lama, kursi Ana di dorong lagi. “Na! Dua-dua sampe no tigapuluh, dong...” bisik Beni lagi.
Saat Ana hendak melirik ke belakang lagi, Bintang berbisik,
“Jangan jadi tambah bego lagi napa. Cuek aja.”
Ana membatu. Diliriknya Bintang yang kini kembali mengerjakan soalnya dengan serius seakan sebelumnya tidak mengatakan apapun.
Tapi, Bintang benar. Jika Ana memberitahu Beni, maka dia akan tertampar sekaligus merasa tertohok lagi. Ana yang begitu, justru akan jadi makin bego dan bego saja. Belum lagi kalau dia juga terpergok lalu diusir dari kelas lagi seperti di waktu itu. Rasanya masih sakit untuk Ana.
Menuruti kata Bintang, akhirnya Ana kembali berkutat pada soal yang dia belum selesaikan. Gangguan dari Beni, sebisa mungkin dia abaikan. Ketika Beni mendorong kursinya lagi, Ana memilih memajukan kursinya.
Tanpa sadar Bintang tersenyum tipis melihat Ana yang menurutinya.
***
Sehabis selesai ujian pertama, Bobby yang seruangan dengan Bintang, kini sudah duduk di bangku Biselsha karena cewek itu ke kantin. Sekarang sedang jam istirahat, lima belas menit kemudian akan dilanjut dengan ujian mata pelajaran ke-dua, Sejarah Wajib.
“Lo tadi kenapa mukul meja, Bin? Lo kerjasama ke Biselsha yang duduk di belakang lo, apa Aulya yang depan lo?” tanya Bobby menuduh sekaligus tidak menyangka teman sebangkunya yang pintar ini kerja sama saat UAS.
“Sok tau lo!” Sarkas Bintang, tapi Bobby sudah biasa.
Bobby menopang dagunya. “Lah, terus? Gue yang lagi ada inspirasi buat puisi di soal no limapuluh uraian, langsung buyar pas lo mukul meja.”
Bintang berbalik ke belakang dengan memiringkan duduknya. Membuka lembaran demi lembaran rangkuman sejarahnya. “Bi, jangan lebay, deh.”
Jari tanda peace Bobby teracung. “Serius! Tapi langsung ada inspirasi lagi sih, lebih bagus dari ide yang sebelumnya malah.”
“Makasih lo ke gue harusnya.”
Bobby hanya menanggapinya dengan tawa.
Setelah tawanya berhenti, tatapan Bobby beralih ke punggung Ana. Dari waktu ujian selesai, bukannya keluar kelas, Ana langsung mengeluarkan bukunya dan mulai menghafal Sejarah Wajib.
“Bin, itu cewek yang lo tarik dari lapangan...”
“Ssstt..” Bintang memotong sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.
Bintang menoleh melihat Ana. Ternyata dia sedang menghafal, tapi kedua telinganya disumpal earphone. Metode gaya belajar audio-visual.
Bobby menunjuk Ana dengan dagunya. “Sebangku lo sama dia?”
Sambil membaca, Bintang mengangguk. Tiba-tiba Bobby tertawa pelan.
Tawa kecil dari Bobby, membuat Bintang menatap aneh temannya itu. “Lo apaan sih, tiba-tiba ketawa.”
“Seminggu sebangku, yang kemaren bilangnya gak naksir, bisa-bisa nanti berubah jadi naksir.”
Decakan Bintang menambah tawa Bobby. “Apaan elah, nggak kali. Baper amat gue kalau gitu.”
Bobby tersenyum miring. “Liat aja sih, Bin. Ikuti alurnya...”
Bintang kembali berkutat pada rangkumannya. Memilih mengabaikan apa kata teman sebangkunya itu.
Suka sama cewek bego di sebelahnya benar-benar mustahil. Bintang harus bersikap begitu ke Ana juga karena dia punya alasan.
Sebenarnya, Ana tidak punya pilihan lain selain tetap diam di bangkunya. Dia enggan untuk sekedar bilang permisi ke Bintang karena dia ingin keluar kelas. Terlebih daripada kelayapan keluar kelas, waktunya lumayan untuk mengulang materi menjelang ujiannya.
Ana juga samar-sama mendengar perbincangan Bintang dan temannya. Mereka menyebut naksir yang Ana tidak tahu itu apa.
Memang naksir itu apa?