Chap. 17|| Unexpected

1199 Kata
“Tumben gak baca-baca lagi.”             Ana menoleh, mendapati Bintang yang kini tengah membuka rangkuman Biologinya. Baru kali ini, selama enam hari mereka UAS, Bintang mengajaknya bicara basa-basi seperti sekarang. Karena selama UAS, baik Ana dan Bintang, tak bicara satu sama lain semenjak kejadian Ana yang ditanya oleh Beni. Sebangku tapi seperti tidak saling kenal.             Ana mengusap papan jalannya yang terlihat agak kotor. “Aku udah cukup menghafal kemarin.” Setelahnya Ana duduk tegak, menunggu pengawas ruangan masuk setelah sesi istirahat berakhir.             Bintang tidak menanggapi lebih lanjut karena dia fokus untuk memahami pelajaran yang diujiankan di sesi ke-dua di hari terakhir ini. Biologi. Pelajaran itu, sangat tidak disukai Bintang.             Diantara semua mata pelajaran eskak, hanya Biologi yang tidak dia suka. Padahal cita-citanya ingin jadi dokter. Tapi melihat Bintang yang masih tak suka pelajaran yang berhubungan makhluk hidup ini, Bintang mulai berpikir merubah cita-citanya yang sedari kecil dia inginkan. Arsitek mungkin?             Lalu semua anak bersorak gembira begitu melihat Bu Fitrianni memasuki ruang ujian mereka. Wali kelas XI IPA 1, sekaligus guru Biologi juga.             “Bu, pas ujian nanti kalau saya ada yang gak tau, boleh nanya?” Celetuk Anjani yang duduk di depan meja kesatu.             Bu Fitri mencebikkan bibir lucu. Selanjutnya beliau tertawa. “Nggak, lah.”             “Kalau kode, bu? Boleh kali, siapa tau kita yang gatau jadi ada pencerahan meski sedikit.” Kali ini Bobby ikut memanas-manasi situasi.             “Ibu adalah ibu kita yang baik, deh...” Citra, teman sekelas Ana malah ikut membujuk guru mereka yang baik hati itu.             “Nggak ya, anak-anak. Setelah ujian boleh deh, nanya buat memastikan, jawaban kalian itu bener apa nggak.”             Kelas sepuluh atau sebelas mendesah lesu yang bercampur kecewa. Fitri sebagai guru geleng-geleng kepala melihat kelakuan muridnya.             Bu Fitri mulai membagikan soal dan lembar ujian. Ketika Bu Fitri ada di samping meja Bintang dan Ana, Bu Fitri mengatakan, “Udah sama-sama pinter... sebangku lagi.” Setelah mengatakan itu, Bu Fitri kembali melakukan tugasnya ke meja-meja yang lain.             Sontak Bintang dan Ana saling lirik, tapi itu semua tidak bertahan lama.             Semua sudah mendapat soal dan lembar jawabannya. Waktu ujian dimulai.             Mata Bintang membelo tidak percaya melihat soal Biologi yang versinya, ini super-duper susah. Bahkan hanya sedikit materi yang sudah dia hafalkan, ada di soal ini. Intinya, soal ujiannya beda jauh dengan apa yang dia pelajari.             Ternyata tidak hanya Bintang yang berpikir begitu. Diliriknya teman satu kelasnya yang lain, dan banyak dari mereka yang menggaruk kepala pusing.             “Bu...” panggil Bobby dari dua meja di belakang Bintang.             “Hm, iya?” Sahut Bu Fitri yang sedang menulis nama peserta untuk tanda tangan nanti di pertengahan ujian.             “Bu, kenapa soal ujiannya susah?” tanya Anjani mengeluh frustrasi.             “Iya, bu.” Bobby setuju kata Anjani. “Niatnya bu, saya mau ngerjain soal ujian. Eh, malah soal ujian yang ngerjain saya. Jadi gimana, bu?”             Seluruh peserta tertawa mendengar celetukkan Bobby, kecuali Ana yang tengah luwes-luwesnya mengerjakan soal.             Bu Fitri menggelengkan kepala akibat ucapan muridnya itu. “Kerjain aja yang kamu bisa, Bi. Ibu tegas kalau kalian menyontek.”             Setelah tawa mereka reda, kembali hening. Bintang melihat Ana yang kini lembar jawaban pilihan gandanya hampir selesai.             ‘Gak main-main emang ini cewek.’             Waktu ujian bahkan belum berjalan tigapuluh menit, tapi jawaban pilihan ganda Ana hanya tinggal lima nomor lagi yang belum diisi.             Bintang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Padahal baginya, Fisika dan Kimia soal kemarin, tidak sesusah soal Biologi sekarang.             Dia bahkan baru mengerjakan sepuluh soal, dari empatpuluh soal pilihan ganda. Rasanya Bintang ingin merobek soal ujian ini. Andaikan soal ujian kali ini mudah, mungkin sedikit demi sedikit dia akan menyukai pelajaran Biologi.             Ketika melihat uraian, Bintang mengisi jawaban apa yang dingatnya dan sudah dihafalnya selama ini. Dia tidak yakin bisa mendapatkan nilai sempurna di UAS Biologi. Persetan, yang penting dia sudah belajar.             Setengah jam kemudian...             “Bintang...” Bisik Ana.             Bintang yang masih pusing dengan soal pilihan ganda hanya bergumam, “Hm?” Atensinya begitu fokus di soal. Berharap jika dia terus menatap soal itu, soalnya bisa berganti menjadi soal yang lebih mudah.             “Kamu bisa berdiri dulu, nggak? Aku mau ngumpulin, soalnya aku udah selesai ngerjainnya.”             Sontak Bintang menatap horor Ana. “Lo serius?”                  Dengan polosnya Ana mengangguk. Bintang jadi ingin mencekik gadis di sampingnya, sungguh. Kenapa selesainya secepat itu?             “Periksa lagi coba, jangan teledor. Lo cepet-cepet gataunya banyak salah, lo juga yang rugi.” Bisik Bintang terdengar frustrasi.             Ana melongo melihat wajah frustrasi dan kesal Bintang. Menuruti Bintang, dia kembali memeriksa lembar jawabannya, memeriksa apakah dia ada yang salah jawab atau tidak. Lagipula memang sayang juga kalau dia tidak teliti.             “Aku udah yakin sama jawaban aku.” Kata Ana setelah dia selesai meriksa jawabannya. Dia yakin tidak salah karena materi ini, materi yang dihafalnya.             Kali ini Bintang menatap Ana galak. “Ini baru satu jam ujian. Masih ada satu jam lagi sebelum lo ngumpulin jawaban lo. Jangan karena lo itu pengin cepet balik. Periksa lagi coba. Jangan gegabah.”             “Aku harus periksa berapa kali?” tanya Ana polos.             Bintang tidak bisa menahan diri untuk tidak berdesis, “Sampai waktu ujian ini bener-bener selesai.”             Ana bingung dengan Bintang sekarang. “Emang gak boleh kalau jawaban aku dikumpulin sekarang?”             “Nggak, gue belum kelar soalnya.”             Lalu apa masalahnya buat Ana kalau Bintang belum selesai dan masih saja kebingungan menjawab soal?             “Bintang, Arniana, kalian sedang apa?” intrupsi Bu Fitri membuat mereka kembali berkutat pada soal. “Ibu tadi liat kalian sedang mengobrol. Kalian diskusi untuk mengerjakan soal?” nada bicara Bu Fitri tidak seramah biasanya.             Ana menggeleng gugup. “Kami nggak diskusi jawab soal, bu.”             Untungnya Bu Fitri mengangguk, percaya pada Ana karena mereka tidak berdiskusi untuk menjawab soal.             Pasrah. Ana menghela nafas, bingung harus melakukan apa. Kalau misal Bintang memberi dia akses jalan, pasti Ana sudah pulang.             Lalu Ana melihat lembar jawaban Bintang. Ada limabelas soal PG, serta dua uraian yang belum Bintang isi. Masih banyak juga.                 “Coba aku liat soal kamu.” Kata Ana pelan.             Bintang menoleh, menatap aneh gadis di sampingnya. “Buat apa?”             Akhirnya tanpa izin si pemilik soal, Ana merebut soal ujian dari tangan si pemilik. Mulai mengerjakan soal PG yang belum Bintang isi di soalnya.              Bintang menatap Ana tidak percaya. “Lo isi soal gue?”             Masih sambil mengisi jawaban, Ana mengangguk.             “Kenapa?” tanya Bintang penasaran.             “Aku bosen gak ada kerjaan. Ya udah, aku bantuin kamu. Lagian yang tadi dibilangin temen kamu bener, ini soal penerapannya lumayan susah juga.”             “Terus lo bisa?” Ada sedikit nada meremehkan dari suara Bintang. Bilang susah tapi lagak sok bantuin. Pikirnya.             Ana diam tidak menanggapi. Setelah soal PG terisi semua, Ana menjawab juga soal uraiannya. Setelah selesai semuanya, Ana memberikan lagi soalnya ke Bintang. “Kebetulan materinya masih aku ingat.” Bintang melihat soal, dan melirik Ana bergantian dengan tatapan tidak percaya. “Serius lo isi soal gue? Semuanya?” “Pindahin aja ke lembar jawaban.” Ana mengalihkan topik. Kali ini Bintang ragu. “Gu-gue..” “Cepetan...” desak Ana. “Tinggal setengah jam lagi.”             Tanpa punya pilihan lain, akhirnya Bintang memindahkan jawaban Ana di soalnya, ke lembar jawabannya. Seumur hidup ia sekolah, baru kali ini dia begini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN