Chap. 18 || Start Play

924 Kata
Yang tadi itu, baru pertama kalinya bagi Bintang. Secara tidak langsung dia menyontek, menerima jawaban dari orang lain bahkan.             Sekarang sesi ujian sudah berakhir. Ana dan Bintang, memasukkan barang mereka ke tas masing-masing. Mereka juga sudah mengumpulkan soal dan lembar jawabannya. Beberapa murid sudah keluar kelas untuk pulang.             “Thanks...” gumam Bintang pelan. Bintang sudah memakai ranselnya, dan keluar dari bangku mereka untuk memberikan akses Ana untuk keluar.             Ana yang mendengar gumaman Bintang, hanya tersenyum tipis. Lalu Ana berjalan keluar kelas.             “Bin, balik bareng gak?” tanya Bobby yang masih sibuk memasukkan alat tempur habis ujian tadi ke tasnya.             “Hmm...” Gumam Bintang sambil mengangguk, mengiyakan.             Setelah selesai, Bobby merangkul teman sebangkunya itu. “Kita ke ruang sebelah dulu. Nyampe dua R.”             “Ana...” Panggil seseorang membuat Ana yang baru saja keluar ruangan menoleh ke sumber suara. Ada Jordhy yang tengah berdiri bersandar di dinding pilar di depan ruang ujiannya saat ini.              Ana menatap Jordhy bingung. “Ini...”             Dengan cepat Jordhy mengulurkan tangan, mengajak Ana berjabat tangan. “Gue Jordhy kelas sebelas IPA tiga, salam kenal.” Jordhy memperkenalkan diri dengan memasang senyum manis sehingga matanya yang sipit itu, menjadi tidak terlihat dan membentuk garis lurus.             “Arniana atau Ana, kelas sebelas IPA satu.” Balas Ana sambil menjabat tangan Jordhy juga.             Jordhy terkekeh. “Gue tahu, kok.”             Alhasil reaksinya Jordhy, membuat Ana menggaruk pelipisnya canggung. “Ada apa ya, sampai kamu cari aku?” tanya Ana tanpa basa-basi.             Laki-laki ini terlihat berpikir sejenak. “Mau ngajak pulang bareng, waktu luang lo kosong, kan? Abis ujian lho, ini.”             “Eh?” tanya Ana bingung.             Masih di dalam kelas, Bobby menyikut perut Bintang begitu melihat Ana bicara dengan Jordhy. Memberitahu temannya siapa tahu dia tidak sadar kalau si cewek yang pernah dia seret sehingga bikin heboh itu, kini bicara dengan laki-laki yang terkenal akan kepopulerannya di sekolah. Anak OSIS pula.             “Bin, itu cewek lo ada apa sama Kak Jordhy?” tanya Bobby agak aneh.             Pertanyaan Bobby membuat Bintang mendesis. “Dia bukan cewek gue, Bi. Bukan urusan gue, lah.”             Di depan kelas, Jordhy masih membujuk Ana untuk mau pulang bersama.             “Gimana? Mau kan, Na? Gue anter lo sampai depan pager rumah lo, deh. Suer. Lo juga nggak akan gue mintain ongkos bensin kalau itu yang lo pikirin.”             Karena Jordhy sudah tiga kali menawarinya, Ana tidak punya pilihan lain selain mengiyakan tawaran laki-laki itu. Mereka kini berjalan bersisian menjauh dari ruang ujian Ana, pergi ke parkiran motor.             Masih berada di tempatnya, Bintang melihat mereka sudah di parkiraan. Bintang bahkan baru tahu kalau Ana, sepertinya, dekat dengan Jordhy sampai dia menawarinya pulang bersama.             Sepertinya...             “Hayu Bin, ngelamun aja lo. Galau gara-gara cewek itu dibawa sama Kak Jordhy balik, iya?” ujar Bobby berusaha memanas-manasi situasi.             Bintang berdecak. “Galau apaan elah. Ayo ke ruang sebelah.”   ***             Sepanjang perjalanan ke parkiran, Ana sadar jika ada banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan bertanya, atau tidak suka. Ana tidak tahu kenapa, tapi sebisa mungkin dia mengabaikan itu. Toh, tidak ada yang salah juga dengan dirinya. Ana juga tidak membuat masalah dengan mereka.             “Abain aja tatapan mereka, Na.” Ucap Jordhy begitu mereka sudah ada di parkiran motor. “Nih, pakai helm-nya, Na.” Kata Jordhy sambil memberikan helm khusus perempuan yang memang sudah niat dibawanya.             Ana menerima helm itu lalu memakainya. Sebersit rasa penasaran ada di benaknya. “Kamu bawa helm dua?”             Jordhy naik ke atas motornya, dan menyalakan motor ninjanya. “Iya, lah. Kan, buat balik bareng lo. Masa lo gak pake helm?”             Gadis itu tidak tahu harus merespon apa.             Melihat Ana yang tak ada respon, membuat senyuman miring dibalik helm yang sudah dipakai Jordhy tersungging. Teman-temannya dan Andhika ternyata benar. Gadis ini benar-benar polos, dan bego. Di saat perempuan lain ingin ada di posisi seperti Ana sekarang, gadis yang sedang dia perlakukan manis meski semua ini cuma mainan, Ana malah tidak menanggapi apapun.             Jujur, Jordhy jadi semakin tertantang.             “Naik, Na. Langit udah agak mendung, hujan nanti.”             Ana spontan mendongak menatap langit yang memang mulai kelabu. Lalu dia naik ke atas motor ninjanya Jordhy, dan mereka keluar dari sekolah.             “Na, rumah lo di mana?” tanya Jordhy sedikit keras, karena mereka ada di jalan besar. Terlebih suasana mendukung Jordhy untuk mengebut.             “Perumahan Sunrise, blok empat nomor lima!” Balas Ana berteriak.             Sempat hening sebentar sebelum Jordhy mengatakan, “Peluk gue, Na. Gue mau ngebut takut keburu hujan!”             Ana yang tidak begitu mendengar, spontan menjerit saat kecepatan motor Jordhy bertambah cepat. “Jangan ngebut-ngebut...!”             Jordhy sebenarnya mendegar teriakan panik Ana. Tetapi dia mengabaikan seakan dia tidak mendengarnya. Lagi-lagi Jordhy tersenyum miring saat tangan kecil Ana, sudah memeluk pinggangnya sekarang.             Menjadikan gadis ini mainan sepertinya pilihan yang bagus.   ***             Jordhy memberhentikan motornya di depan Rumah Ana yang minimalis. Tidak terlalu besar, tidak kecil juga. Ana turun dari motornya, lalu memberikan helm itu ke Jordhy yang langsung laki-laki itu kalungkan di lengan kirinya.             “Makasih ya, udah anter aku pulang.”             “Sama-sama.” Balas Jordhy seraya tersenyum. Dia melihat ke perkarangan rumah Ana, berserta rumahnya. “Ini bener kan, rumah lo?”             Ana mengangguk mengiyakan. “Iya, kamu gak nyasar kok.”             Jordhy mengangguk mantap. “Okay. See you...” Laki-laki itu langsung menyalakan motor, melajukan motornya dengan cepat. Cara Jordhy membawa motor membuat Ana berdecak.             “Cepet banget kayak besok mau kiamat aja bawa motornya.”               Setelahnya, Ana masuk ke rumahnya. Seperti biasa tanpa ada sesuatu hal spesial yang dia rasakan. Tidak seperti dugaan Jordhy juga.             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN