Chap. 19 || Your Smile

1519 Kata
Waktu berjalan cepat. Setelah liburan pergantian tahun, masa belajar baru pun dimulai. Semester baru ini adalah waktu di mana semua murid harus belajar dengan sungguh-sungguh demi kenaikkan kelas mereka. Untuk kelas tiga, UN dan serentetan test masuk perguruan tinggi negeri yang menjadi fokus mereka.             Kini kelas X IPA 1 sudah selesai belajar Bahasa Inggris yang diajar oleh wali kelas mereka sendiri, Bu Winda. Setelah sesi pelajaran berakhir, Bu Winda kembali mengingatkan agar kelompok belajar lebih aktif belajar bersama karena sekarang sudah masuk semester dua.             “Bintang, kamu dipanggil Bu Sinta di Ruang BK.” Setelah bilang itu, Bu Winda keluar kelas karena pergantian pelajaran akan dimulai lima menit lagi.           Bobby menyikut teman satu bangkunya itu. “Lo kenapa dipanggil Bu Sin? Lo ada kasus sampai harus ke BK?”             Bintang mengangkat bahu tidak tahu. Mengabaikan pertanyaan kepo para temannya, Bintang keluar kelas pergi ke ruang BK.             Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan permisi, Bintang disuruh masuk dan mendapatkan senyum cerah dari Bu Sinta selaku guru BK-nya.             “Ada apa ya, ibu manggil saya?” Tanya Bintang setelah dia duduk di sofa panjang yang memang tersedia di ruang BK. Di hadapan Bu Sinta yang terpisah oleh meja panjang di antara mereka.             Senyum Bu Sinta luntur karena dia teringat sesuatu. “Bin, ibu boleh minta tolong nggak, sama kamu?”             “Minta tolong apa?”             “Ke kelas sebelas IPA satu, panggil Ana. Arniana Prameswari.”             Bintang tergugu. “Ana?” tanyanya memastikan. Kalau dipikir-pikir, sudah semester dua, tapi Bintang belum melihat Ana lagi semenjak UAS selesai.             “Oke, bu.”   ***             Situasi yang biasa.             Di kelas Ana sedang ada jam kosong. Banyak dari mereka yang nobar film di laptop yang dibawa teman-temannya. Beberapa dari mereka ada yang tidur, di pojok belakang kelas sibuk bergosip, dan membaca novel. Tidak masuknya Bu Arumi hari ini karena sakit alhasil tak bisa mengajar, tentu saja disambut bahagia oleh teman sekelasnya.             Berbeda dari temannya yang lain, Ana malah hanyut ke dalam bacaannya, buku ensiklopedia sains yang membahas tentang evolusi. Buku yang sangat Ana suka sampai tidak bosan meski dibaca sekali. Terlebih, buku ini juga hadiah ulang tahunnya yang ke-15 dari Arie.             Suara ketukan pintu, membuat atensi semua anak mengarah ke pintu yang memang sengaja ditutup agar tidak menimbulkan kecurigaan.             Sebagai ketua kelas, Riska membuka pintu. Dia terkesiap begitu melihat kalau laki-laki jangkung, berambut menutupi dahi, bermata indah, dan berhidung mancung di depannya ini, yang mengetuk pintu kelasnya.             “Eh, siapa, ya? Dari kelas mana?” tanya Riska tiba-tiba salting. Dia jadi merasa kuper karena baru tahu ada cogan seperti cowok di depannya.             “Ana ada? Arniana?” tanya Bintang tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak sudi sekedar menjawab pertanyaan kakak kelas di depannya.             Meski begitu, Riska masih memasang senyum manis. “Ada, ada. Kenapa ya, emang?” nada suaranya bahkan dibuat lembut yang membuat Bintang merasa jijik. Dia tidak suka perempuan yang cari perhatian laki-laki.             Bintang kesal sampai-sampai dia tidak bisa menahan decakannya. “Cepet panggilin aja.” Kalau tidak ingat dia perempuan, sudah Bintang tonjok.             Riska cemberut karena respon Bintang. Dia melongokkan kepalanya ke dalam kelas. “Ana...! Lo dipanggil, tuh!” Teriak Riska.             Ana terperanjat karena teriakan Riska. Dia menyembulkan kepalanya dari balik buku yang dibacanya. “Iya?” tanyanya memastikan.             Masih di depan pintu, Riska berkacak pinggang. “Gue udah teriak, lo tetep aja ya, budek. Cepet ke sini, lo dicariin.”             Mau tidak mau, Ana menaruh bukunya ke dalam tas dan keluar kelas. Dia bertanya-tanya juga siapa orang yang mencarinya.             Begitu Ana keluar, pintu kelasnya langsung Riska tutup sampai debaman keras tanda pintu dibanting terdengar. Ana lagi-lagi terperanjat, dan tambah horor karena ada Bintang yang sedang berdiri bersandar pada pilar di depan kelasnya.             “Kamu ngapain ke sini?”             Bintang berjalan lebih dulu, tidak menanggapi pertanyaan Ana. Saat sadar jika Ana tidak berjalan di sebelahnya, barulah Bintang berhenti dan menoleh. Ana masih di belakangnya, berdiri menatap Bintang bingung.             “Cepetan.”             Tapi Ana tidak bergerak. “Kenapa kamu manggil aku?” tanyanya lagi. Dia penasaran apa tujuan laki-laki ini ke kelasnya.             Bintang sampai merotasikan mata jengah. “Lo dipanggil Bu Sinta, di BK, dan gue diminta manggil lo.”             Butuh waktu tiga detik buat Ana sadar. Selanjutnya dia menyusul Bintang, berjalan di sebelah laki-laki itu.             “Aku kenapa dipanggil BK?” tanya Ana sambil mendongak, menatap laki-laki di sebelahnya ini. Karena baru kali pertama dia dipanggil BK.             Tidak dengan kata-kata, Bintang menjawabnya hanya dengan mengangkat bahu tanda dia juga tidak tahu. Bintang juga tidak tahu kenapa dia dipanggil Bu Sinta di ruang BK.             Selanjutnya hening. Mereka merasakan canggung yang sama. Tidak tahan dengan situasi seperti ini, Bintang berdeham memilih lebih dulu membuka bahan obrolan di antara mereka.             “Nilai raport lo, gimana? Bagus?”             Ana menoleh sekilas, lalu mengangguk mengiyakan.             “Ranking, gak?” tanya Bintang lagi. Agak kesal Ana menjawabnya hanya dengan anggukan.             “Iya.” Terlihat sekali Ana tidak antusias mengobrol dengannya.             Oh, kadang Bintang berpikir kenapa cewek di sebelahnya ini tidak peka. Ia berharap Ana menjawabnya dengan spesifik.             “Ranking berapa?”             “Satu.”             Selanjutnya mereka diam lagi, canggung lagi. Ana seperti tak niat sekedar basa-basi dengannya, membuat Bintang juga malas membuka topik obrolan. Dia juga bahkan malas menanggapi Ana yang ranking satu, padahal dalam hati sedikit tidak menyangka juga.             “Kalau kamu, gimana? Nilai raport kamu bagus?”             Bintang menoleh, tidak menyangka kalau Ana yang mulai membuka topik obrolan setelah tadi mereka sempat terdiam kembali.                     “Ya, gue ranking satu.” Bintang menjawab sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.             Kini mereka sudah di depan ruang BK. Bintang mengetuk pintu, sambil  mengucapkan permisi. Setelah terdengar suara Bu Sinta yang menyuruh masuk, mereka masuk ke dalam, duduk menghadap guru mereka.             “Hai, Ana. Kebetulan kelas kamu jam kosong, kan?” tanya Bu Sinta.             Ana mengangguk. “Iya, bu.” Sebenarnya dia ingin bertanya kenapa harus dipanggil ke BK. Tapi dia tahan, berpikir takut Bu Sinta nanti tersinggung.             Bu Sinta tersenyum. Atensinya kini beralih ke Bintang. “Bin, sekarang kan udah masuk semester baru. Ibu minta rekap kelas kamu, isi di buku agenda ini.” Tutur Bu Sinta sambil memberikan bukunya. “Kamu isi di sini, ya? Pengamatan kamu sebagai ketua kelas, bagaimana dengan kelas kamu.”             Bintang menerima buku itu, dan mulai mendeksripsikan bagaimana kelas X IPA 1 semester kemarin.             Atensi Bu Sinta beralih ke Ana. “Na, sebentar lagi kan, kamu naik kelas ke kelas duabelas. Ibu pengin kamu dan teman-teman, mulai menyiapkan jurusan ke kuliah nanti mau ambil apa.”                      Ana mengangguk paham. “Ah, iya bu. Nanti Ana sampaikan.”             “Terlebih, nilai kamu selalu bagus. Banyak guru yang bangga sama kamu. Apa kamu udah tau, jurusan apa yang mau kamu ambil di kuliah nanti?”             Sambil menulis, Bintang juga mendengar percakapan mereka. Dalam hati, dia bahkan menantikan jawaban Ana ingin mengambil jurusan apa ketika kuliah nanti. Penasaran, itu lebih tepatnya.             Bintang melirik Ana yang kini malah memainkan jari-jarinya, gugup.             “Kalau Ana ambil jurusan kedokteran, apa ada peluangnya, bu?”             Kegiatan Bintang menulis berhenti. Dilihatnya Ana yang tengah menatap Bu Sinta dengan mata berbinar penuh harapan. Gadis di sebelahnya ini, ternyata punya cita-cita yang sama dengannya.             Senyum Bu Sinta merekah. “Tentu, terlebih nilai kamu yang selalu bagus. Ibu yakin kamu ada peluang ke kedokteran lewat jalur undangan, mengingat kamu selalu ada di lima besar ranking seangakatan.”             Dan pertama kalinya juga bagi Bintang melihat cewek yang suka ia bilang bego ini, tersenyum cerah. “Beneran, bu?” Tanya Ana. Bintang merasa senyum Ana itu terlihat...             Manis?             Bu Sinta mengangguk mengiyakan. “Tentu. Tapi nanti kita diskusikan lagi saat kamu kelas tiga, saat nilai semester lima kamu keluar.”             Dengan antusias, Ana mengangguk. Dia benar-benar senang sekali.   ***             Mereka keluar ruang BK barengan karena kebutulan urusan Bintang sudah selesai, berbarengan dengan diskusi Ana dengan Bu Sinta yang juga selesai.             Bintang masih melihat binar bahagia dari wajah Ana karena ada peluang baginya masuk ke jurusan kedokteran. Tanpa sadar Bintang berdecak, “Lo pengin banget ya, masuk kedokteran? Lo serius?”             Masih dengan binar bahagia dari wajahnya, Ana mendongak menatap laki-laki jangkung yang masih di sampingnya ini. “Iya. Dari kecil cita-citaku memang jadi dokter. Aku seneng banget kalau aku ada peluang lewat jalur undangan.”             “Belajar yang bener mangkanya.”             Diceketuki begitu, Ana tertawa. “Pastinya. Kamu juga belajar yang bener, cita-cita kamu jadi apa?”             Bintang termangu. Apa reaksi Ana kalau Bintang ingin ambil jurusan yang sama dengannya? Bintang masih punya ambisi untuk ambil kedokteran meskipun dia tidak menyukai pelajaran Biologi. Tapi kalau memang kitanya berusaha, sulit ataupun banyak rintangan pasti bisa dilewati, kan?             “Arsitek. Tapi gak tau juga, nanti gue pikir-pikir lagi.”             Ana mengangguk. Ditepuknya bahu Bintang akrab, membuat Bintang lagi-lagi tidak menyangka. Sebisa mungkin Bintang berkespresi biasa saja.             “Semangat belajarnya. Semoga kamu bisa jadi arsitek.” Setelah bilang itu, Ana berbalik, berlari menuju di mana kelasnya berada.             Bintang masih melongo. Diusapnya bekas tepukan Ana di bahunya. Tidak keras, tapi tidak pelan juga. Bintang suka tepukan gadis itu di bahunya. Terbayang lagi wajah Ana yang tadi tersenyum, sedang menyemangatinya.             Tanpa sadar senyum Bintang merekah. Namun beberapa detik kemudian, dia menyadari reaksi apa yang tadi dilakukannya.                         “Kenapa gue senyam-senyum?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN