Ana dan nenek duduk berdampingan di sebuah taman bangku kayu pinus tempat favorite Ana dan Nathan dahulu. Ana tidak merasa canggung, dia sudah menganggap nenek Nathan seperti neneknya sendiri.
"Sudah lama kita tidak bertemu, sudah kuduga kau akan ke sini" ucapannya membuat Ana tersenyum pedih. Ia berada di New York selama ini. Menghindari Chicago karena terlalu banyak kenangan di sini yang membuatnya ingin menangis.
"tentu saja aku akan ke sini" nenek tersenyum memikirkan perkataan calon menantunya ini, tentu saja Ana akan menjenguk mantan calon suaminya itu.
"sudah 5 tahun dan kau masih rajin mengunjunginya, kau benar-benar mencintai cucuku ya" Ana tersenyum sedikit mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan, matanya mulai berair. Tentu saja Ana masih mencintainya, bahkan sangat. Ana masih belum bisa melupakan Nathan. Sangat-sangat tidak bisa melupakannya. Nathan adalah pria yang sangat berharga baginya. Sangat berarti.
"aku merindukannya grandma, aku sangat merindukannya" Ana menatap nenek dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku merindukannya" ucap Ana lagi dengan suaranya yang berubah serak dan isakan mulai keluar dari mulutnya.
"aku merindukan Nathan ... hiksss...hiksss...hikksss..." air mata yang berusaha di tahan olehnya lolos begitu saja, dadanya sesak kenyataan yang masih belum bisa dia terima hingga saat ini
"aku mencintanya Grandma, aku sangat mencintainya. Kenapa dia pergi tanpa mengatakan nya dari awal. Kenapa dia menutupi semuanya dariku, bahkan di saat terakhirnya dia tidak menceritakan apapun padaku,... hikss.. hikss... hikss" Ana menangis badannya bergetar hebat bahkan untuk mengepalkan tangannya saja susah untuknya,
"hikssss.....hiksss....hikkssss..." tangis Ana pecah, hatinya sesak bahkan semakin sesak kerinduan akan Nathan begitu besar dia rasakan..... nenek meraih pundak Ana mengelusnya sayang berusaha untuk menenangkannya bahkan nenek ikut menumpahkan air matanya yang berusaha dia tahan mati-matian di depan Ana agar membuatnya tegar, nenek menyeka air matanya tidak mau menambah kalut untuk Ana .
"aku tahu. Dia bahkan tidak mengatakan apapun pada ku, sama sepertimu dia tidak mengatakan apapun.... Ana, ahhh" nenek meraih tangan Ana yang bergetar hebat
Menyeka air matanya yang kelewat deras membasahi pipinya
"cobalah untuk melupakannya sedikit demi sedikit, bangkitlah untuk Nathan aku yakin dia juga mau kau bahagia bukan terpuruk seperti ini, sudah bertahun-tahun kalian bersama sangat egois tiba-tiba aku memintamu untuk melupakan semuanya, aku harap kau bahagia Ana, aku sudah menganggapmu seperti cucuku sendiri dan aku ingin cucuku hidup bahagia" ucapnya dan kembali menyeka air mata Ana.
"sebentar lagi kau akan menikah, walaupun bukan dengan Nathan. Aku ingin kau bahagia, dan Nathan pasti juga begitu" Ana terisak. Hatinya sesak. Sakit sekali.
"Kalaupun kalian jadi menikah kalian pasti sudah punya anak yang tampan dan lucu dan aku sudah menjadi buyut ckckckckck" tawa nenek yang membuat Ana tersenyum samar
"Nathan menyuruhku untuk memberikanmu ini kalau kau menikah"nenek menyerahkan sebuah kardus berbentuk kotak coklat dengan pita coklat tua, Ana menatap nenek seakan bertanya. Apa ini.
"untukmu dari Nathan sebelum dia meninggal. Dia bilang aku harus menyerahkan ini padamu saat kau akan menikah" Air mata Ana kembali menangis. Bagaimana bisa Nathan melakukan hal ini padanya. Ana mengambilnya dari tangan grandma. Mendekapnya dan menangis.
***
"aku pergi dulu. Pulanglah cepat jangan terlalu malam" ucap grandma. Ana melirik jam tangan di lingkaran tangannya. Ini memang sudah begitu sore.
"dia akan menjemputku" grandma mengangguk, ia mendekati Ana dan menyentuh pipi Ana lembut.
“jaga dirimu. Dan berbahagialah untukku dan Nathan”Ana mengangguk dengan wajah menahan tangis. Nenek tersenyum lalu berjalan meninggalkan Ana yang masih terduduk di taman itu sendirian.
Saat mendekati mobil nenek berbalik. Melambaikan tangannya tersenyum pada Ana. Ana menoleh ke arah sebelahnya tidak ada siapa-siapa tapi kenapa grandma seakan tersenyum ke arah sebelahnya.
***
Ana pov.
Hari mulai menjelang sore tidak membuat ku bergeming. Aku melirik jam tangan biru dongker warna kesukaanku. Waktu menunjukan pukul 15.00 pm. Angin berhembus begitu kencang menerpa tubuhku. Aku masih setia duduk di tempat aku dan grandma bicara dan juga tempat dimana aku dan Nathan sering bersama sambil menunggu seseorang menjemputku.
Tadinya aku tidak mau membukanya, tapi rasa penasaran ini menggerogotiku terus-menerus. Aku melirik ke sebuat kotak coklat persegi berpita coklat ini dengan penasaran. Meraihnya dan meletakan nya di atas pangkuanku dengan perlahan membuka kotak ini dan menemukan sebuah amplop biru, lagi-lagi dengan pita yang melingkarinya.
Semuanya serba pita, di bungkus dengan manis oleh Nathan membuatku sangat tersentuh. Lalu aku mendapati sebuah kain, aku menariknya dan mendapati sebuah barang yang aku ingat ini adalah barang yang akau inginkan waktu itu. Bukankah Nathan tidak mau membelikannya dan saat itu sedang hujan deras.
Ini….
***
Ana pov
Ini sebuah kotak musik pororo dengan 5 sahabat pororo lengkap.
"hiksss....hikssss.... hiksssss...... Nathan aaaaaa" aku memukul dadaku yang kembali terasa sesak bagaimana bisa di melakukan ini padakku Lagi-lagi air mataku kembali menetes, kepalaku terasa pening mengingat hari ini berkali-kali aku menangis.
>>> Flashback On
22.00 pm waktu Amerika
"Hei.. Nathan dimana kau memarkirkan mobilmu?" tanyaku dia mengedarkan kepalanya, mencari-cari keberadaan mobilnya.
"di ujung toko ada tempat parkir. Aku memarkirkannya di sana" ucapnya kembali mengajakku berjalan menghindari hujan hingga kami akhirnya sampai ke tempat parkir, dan aku langsung memasuki mobil dan mulai beranjak meniggalkan tempat parkiran tepat saat di lampu merah. Aku memandang ke luar jendela mendapati sebuah toko karakter kartun dengan beragam bentuk hiasan.
Mataku tertuju pada suatu bola kristal bening yang terdapat pororo dengan teman-temannya lengkap. Aku memang seorang maniak segala jenis macam tentang pororo, bahkan Nathan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kalau masuk ke kamarku mendapati berbagai aneka pororo di sana.
"Nathan. Ayo kita berhenti dulu, aku mau membeli itu. Aku mohon" ucapku sambil menunjuk sebuah toko yang menarik perhatianku itu. Nathan menoleh dan melihat ke arah benda yang menarik minatku itu.
"besok saja –eoh. Kita sudah kena basah. Nanti kalau kau sakit bagaimana" bujuknya padakku.
"yahh... bagaimana bisa besok. Besok kau akan kembali kerja kau lupa. Aku juga harus kembali fokus kita hanya punya libur di hari minggu, dan aku butuh 1 minggu untuk mendapatkannya, nanti keburu sold" rengekku padanya.
Lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau. Tanpa peduli rengekan Ana, Nathan menancapkan mobilnya pulang.
***
Di jalan pulang aku terus mendiamkannya. Nathan kerap kali melirikku, berdehem ataupun berbicara sendiri. Tiba-tiba mobil Nathan berhenti, ternyata kami sudah sampai di rumahku. Nathan keluar dari mobil membun pintu untukku dan menarikku ke dalam pelukannya dengan jaket kulit Nathan yang menutupi kepala kami karena hujan masih juga turun.
Kami sudah sampai di teras rumahku, aku melepaskan pelukannya dariku membuka pintu rumahku dan bermaksud untuk masuk, hingga tangan Nathan menahanku. Dia menutup pintu rumahku dan menarikku mendekat. Mengunci tubuhku dengan tangannya yang membuatku bersandar pada pintu rumahku
"kau masih marah nyonya Hounten?" tanyanya dengan menatap langsung mataku, aku menoleh ke samping berusaha menghindari tatapannya padaku.
"aku mohon berhenti bersikap seperti ini, aku janji akan membelikannya untukmu, tapi tidak sekarang, ini hujan. Aku tidak mau kau sakit"ucapnya dengan tangannya yang mengusap pipiku lembut. Aku menoleh padanya, rasa bersalah merayap masuk menyelimutiku.
"aku tidak suka kau mendiamiku seperti tadi, menyebalkan"ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
"maafkan aku" aku menunduk merasa malu dengan sifat kekanak-kanakanku
"tidak apa-apa, wanitaku ini sangat jelek bila cemberut"ucapnya
"Hei"protesku
"awwh" rintihnya akibat cubitanku di pinggangnya. Dia terdiam kembali menatap mataku, aku membalas tatapan matanya sangat teduh hingga membuatku selalu nyaman dan merasa aman saat bersamanya, hingga Nathan mulai mendekatkan wajahnya padaku menempelkan bibirnya, aku terpejam sama dengan Nathan.
Hingga akhirnya dia melepaskannya dan mengakhirinya dengan mencium keningku. "masuklah, tidur yang nyenyak Ana, aku mencintaimu"ucapnya dengan senyuman manis yang menjadi favoriteku
"aku juga mencintaimu Nathan, cepatlah pulang"dia pergi menuju mobilnya, aku terus menatap kepergiannya hingga akhirnya mobil itu menghilang dari pandanganku.
***
Aku membersihkan diriku lalu beranjak ke kasur empukku, entah kenapa jantungku terasa berdegup bukan berdegup senang, melainkan sebaliknya gelisah.
JEDERRRR!!!
"akhh"teriakku reflek.
Mataku tertuju pada luar jendelaku entah kenapa aku merasa cemas dengan Nathan. "apa dia sudah pulang, atau sedang apa dia sekarang?"hal itu terus terpikirkan olehku hingga akhirnya aku mengambil ponselku mencari nama Nathan di sana dan mulai menelponnya.
"......."
"aishhh, kenapa dia tidak menjawab teleponnya"decakku frustasi. Aku terus berusaha menelponnya dan meracau tidak jelas memaki Nathan yang tidak juga mengangkat telponnya.
"hingga akhirnya aku tertidur"
***
Aku menatap makananku tidak berselera. "hei kau ini kenapa?"Ibu menegurku.
"tidak apa-apa"ucapku sedikit ketus.bercampur marah dan khawatir pada Nathan. Entah kenapa mood ku jelek sekali saat ini.
"Benarkah apa kau sedang berantem dengan Nathan"tanya ibu melirikku.
"tidak! hanya sedang kesal"ucapku. Membuat ibuku tertawa, menyebalkan ini semua karena Nathan yang tidak juga memberiku kabar. Apa dia tidak mengecek ponselnya, ini sudah sampai 30 kali aku menelponnya dan belasan sms lainnya, tapi dia tidak juga membalasnya.
Kriiingggg>>>>>>>
Telepon ku berbunyi, mom beranjak dari duduknya untuk mengangkat telepon kami.
"halo"
"........"
"iya"
"........."
"APA!!" aku terlonjak kaget saat mommyku sedikit berteriak, aku menoleh pada mom dengan cepat. Menatap mom dengan penasaran. Mendadak jantungku berdegup gelisah. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku bisa merasakannya.
Nathan tidak pernah seperti ini. sesibuk-sibuknya dia, dia akan tetap mengabariku sesuatu. bertanya padaku, atau sekedar omong kosong. Nathan selalu menjaga hubungan kami dengan komunikasi yang baik. maka jika dia tanpa kabar seperti. sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. dan itu membuatku gelisah bukan main.
"baiklah, kami akan segera ke sana" setelah menelpon mom, dia menghampiriku panik dan Nampak tergesa-gesa, terlihat rautan kecemasan di wajahnya.
"Ana cepat bersiap, Nathan masuk rumah sakit"
“APA!!!!"