Episode 04.

1605 Kata
Ana berlari di sebuah lorong-lorong ber cat putih dengan nafasnya yang tersengal-senggal, tidak peduli dengan suara ibunya yang berteriak memohon untuk menunggunya, hingga langkahnya berhenti di sebuah pintu dengan angka 205. Tangannya terkepal, sedikit bergetar bahkan matanya mulai memanas. "Ana sedang apa di luar cepat masuk"ibunya Ana membuka pintu tersebut dengan perlahan, pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Jantungnya berdegup seirama dengan gerakan pintu itu jantung Ana benar-benar bergemuruh. Ibu nya Ana masuk meninggalkan Ana yang masih mematung di depan pintu, seolah-olah kakinya di lem dengan perekat yang luar biasa banyak hingga ia tidak bisa bergerak. Dia menarik nafasnya kasar, hingga akhirnya dengan perlahan langkah kakinya bergerak maju memasuki ruangan tersebut. Kaki Ana bergetar saat melihat nenek tertunduk dengan mom di sampingnya, laki-laki berjas putih yang membelakangi Ana berbalik melihat ke arah Ana dengan mimik wajah sendu. Ana terus melangkah tanpa mengalihkan pandangannya pada seseorang di kasur itu dengan selimut tebal menutupinya, hingga akhirnya Ana mendapati kekasihnya di sana dengan masker oksigen di wajahnya, selang infus dan monitor detak jantung yang membuat Ana terpaku. Ana terdiam, lagi-lagi tubuhnya terasa kaku matanya membulat sempurna, benar-benar terkejut. Entah bagaimana pikirannya saat ini, Ana terlihat gelisah, matanya mulai memerah "Ana"panggil nyonya Houten lirih Ana limbung, tubuhnya terasa sangat ringan saat ini. Ana mengedarkan pandangannya ke arah ruangan semuanya menjadi kuning dan.. Brukk!! "Ana" *** "eunghh"erang Ana kepalanya terasa pening. Aku menyetuh keningku. "ini bukan mimpi kan?"batinnya, ini semua bagaikan mimpi, Ana tidak pernah membayangkan jika hal ini bisa terjadi di hidupnya. Ana bangkit mendudukan dirinya dengan tangan yang memijat pelan keningnya yang terasa berdenyut. Tubuhnya beringsut bangun dan mengubah posisinya menjadi terduduk.  "kau sudah sadar"Ana menoleh dan mendapati pria berjas itu berdiri di sampingnya. Ana menatapnya lemah. "dimana Nathan"tanyanya lemah "di ruangnnya, dia........koma"ucap dokter itu pada Ana. "haahhh"desah Ana frustas. Hatinya hancur terntu saja, entah apa yang harus Ana lakukan. ini benar-benar mengejutkannya. kejutan yang tak ia harapkan ada. tak pernah sama sekali. "kau dokter kan, jelaskan padaku apa yang terjadi pada Nathan?"dokter itu menarik nafasnya perlahan, sebelum membalas tatapan Ana yang begitu nanar. "Nathan mengalami kecelakaan –dia di temukan menabrak sebuah pohon besar di samping trotoar" "APA!!"Ana terkejut bukan main –setahu Ana mereka tidak bertengkar saat Nathan pulang semalam, kalau misal Nathan menabrakan dirinya ke pohon itu. "tidak mungkin"batin Ana tercekat. "hanya kecelakaan apa begitu parah –dia akan sembuh kan?"Ana menatap dokter itu lekat menunggu jawaban positif dari dokter. "semoga saja"dokter itu menghela nafas panjangnya dan kembali menatap Ana. "apa maksudmu? Nathan  harusnya sadar dia hanya menabrak pohon –kekasihku itu sangat kuat"jelas Ana frustasi terlihat jelas matanya yang terlihat kalut "bukan karena kecelakaannya melainkan karena hal lain –"ucap dokter itu kemudian terdiam "apa maksudmu dengan hal lain?"jantung Ana berdegup kencang mendengarnya –perasaan cemas mulai bergelayut di otaknya padahal sejak tadi dia berusaha menepis segala macam pikiran bodoh itu "dia –" *** BRAKK!! Ana mendorong kasar pintu ruangan kekasihnya, dan berlari ke hadapannya yang tengah memejamkan mata. "NATHAN CEPAT BANGUNNNNNNN –"   *** "NATHAN CEPAT BANGUNNNNNNN" Ana berteriak tepat di hadapan Nathan yang masih terpejam. Kenyataan pedih mengetahui pria yang sedang berbaring di sana hidupnya sudah tidak akan lama lagi, membuat sesuatu di dalam sana hancur berkeping-keping. Ana pov "hikksss... hiksss... hiksss...." Apa aku bermimpi, aku mohon –aku mohon ini semua hanyalah mimpi. Aku memejamkan mataku berkali-kali, berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi. Dan ketika aku membuka mataku. Semua ini akan kembali normal. Nathan sehat dan dia sedang tersenyum padaku. Senyuman yang membuatku tenang. Aku mohon. Nath an aku mohon bangun jangan tidur. "Ana, bangunlah" mommy menghampiriku yang terduduk di lantai, menyeka air mataku berkali-kali, dan berkata jika semuanya akan baik-baik saja. Seolah berusaha membuatku tenang. "Ana, jangan seperti ini" "mam... mam sudah tahu tentang hal ini?" aku menatap mam dengan marah. Jika ya. Aku akan benar-benar marah. Bagaimana bisa mereka semua menutupi hal ini dari ku. Mam menggelengkan kepalanya. “mammy baru tahu hal ini, bahkan semuanya juga baru mengetahuinya ketika dokter Aldrich yang mengatakannya. Kami semua tidak ada yang tahu Ana” “aku takut” ucap Ana dengan suara yang begitu lemah. "aku tidak mau Nathan tertidur. Aku mau dia bangun, aku mau dia bangun hiks… hiksss.." gumamku dengan suara berbisik membuat mam meneteskan air mata. “dia akan bangun. Percayalah” Mom membantuku berdiri, lalu mengambil kursi untukku duduk di samping Nathan. Di saat itulah air mataku kembali menetes, terlalu sakit melihat orang yang ku cintai terbaring lemah seperti ini. Aku mendekatkan wajahku padanya. Untuk membisikan sesuatu. “aku mencintaimu Nathan Breker” *** Aku berdiri memandang luasnya kota New York dari Roof Garden Rumah Sakit. Tidak ada yang bisa ku lakukan untuk membuat Nathan bangun. Berkali-kali aku memukul dadaku. Rasanya seperti ada lubang besar di sana. "kenapa rasanya begitu sesak di sini" Aku menyeka air mataku menggunakan punggung tanganku. Berapa kali aku mencoba menghilangkan nya. Air mata itu terus saja datang dan membuatku lemah. Rasa sesak ini membuatku frustasi. Rasanya aku ingin berteriak dengan sangat kencang saat ini "hhhaaaaahh!!!" Aku mendongakan kepalaku menatap langit sore New York begitu kuning. Mataku menyipit saat sinar matahari itu terasa menusuk mataku. Hembusan angin menabrakku dengan kencangnya rambut ku menari dengan angin kencang itu. Mataku terpejam menikmati angin sore yang membuat ku sedikit tenang. Dengan perlahan aku merentangkan tanganku selebar mungkin. "aku merasa pusing di kepalaku terasa ringan sedikit demi sedikit"Aku menghirup oksigen dengan perlahan menikmati sore hari dengan hembusan angin yang bertiup. "haahhh... Nathan" ingatanku lagi, lagi untuknya pikiranku saat ini hanya kepadanya "hah!!" *** "kau tahu Nathan, banyak yang mengatakan saat kau koma kau tidak pernah berada jauh dari orang yang kau sayangi, apa itu benar, apa kau berada di sekitar ku saat i... ni, bisakah kau merasakan betapa sedihnya aku melihatmu terbaring seperti itu" "aku mohon sadarlah untukku Nathan... aku mohon. Bukankah kita akan segera menikah, bukankah kita akan berjanji di hadapan tuhan untuk menjalin ikatan di antara kita, bukankah kau akan menyematkan cincin pernikahan itu dijariku –kenapa semuanya sepeti ini kau sudah berjanji, aku mohon sadarlah Nathan tepati janjimu padaku" Aku membuka perlahan mataku Tess Setetes air mata lolos di pipiku "sedang apa kau di sini?" *** Ana pov "sedang apa kau di sini" aku menoleh mendapati pria berjas putih itu menatapku. Aku menyeka air mataku dan berbalik membelakanginya. Aku tidak mau melihanya, bahkan terganggu karena kehadirannya. "berhentilah bersedih seakan-akan kau sudah di tinggal mati oleh kekasihmu" Aku mendengar suara langkah kakinya mendekat. Dia berdiri di sampingku dengan kedua tangannya di saku celananya. Aku berjalan menjauhinya, aku sedang ingin sendiri saat ini. "kau tahu keajaiban itu nyata di dunia ini" aku menghentikan langkahku tanpa menoleh ke arahnya. "cobalah membuat permohonan dan berdoalah agar keajaiban itu muncul padamu, karena... mungkin hanya itu yang dapat kau lakukan saat ini" aku menoleh cepat ke arahnya. Menatapnya bungung sekaligus bertanya-tanya.   "apa maksudmu?" dia tertunduk. Wajahnya terlihat muram saat kembali menatap ke arahku. "kondisinya tidak memungkinkan baginya untuk kembali sadar, dia terlalu lemah ..kau tahu. mungkin dia tidak akan pernah sadar, mungkin dia...-“ "Berhentilah bicara"tanganku mengepal erat, rahangku mengeras. Aku menyeka air mataku yang sudah menutupi wajahku. Tubuhku berbalik dan aku menatapnya tajam dengan wajahku yang di penuhi cairan bening yang berasal dari air mataku. Ana pov end Auhtor pov Ana berbalik menatap pria itu dengan tajam, pria itu sedikit tersentak saat mendapati Ana yang sedikit menyeramkan di hadapannya. Wajah Ana terlihat memerah dengan cairan bening di wajahnya, juga isakan kecil yang lolos dari bibir mungilnya. "Kau kira kau siapa, eoh" "kau bukanlah tuhan yang seenaknya saja menentukan bagaimana kondisi seseorang. Kau dengan seenaknya berbicara bagaimana kondisi kekasih ku, tahu apa kau? Kau hanyalah seorang dokter, kau hanya menilai dari tanda-tanda psikis kondisi manusia!" "kau menyuruhku untuk bersikap tegar karena kekasihku belum mati, dan kau menyuruhku untuk membuat permohonan agar keajaiban datang padaku.Tapi apa yang kau lakukan barusan-huh.. berbicara seakan-akan kekasihku tidak punya harapan lagi, kalau dia akan mati" "JANGAN SEENAKNYA BICARAA!!!" "bisa-bisanya kau melakukan hal ini padaku. Seakan-akan kau mencoba menerbangkan seekor merpati lalu setelah itu kau menembaknya hingga mati" "seharusnya kau tidak berbicara seperti itu pada seorang keluarga yang sedang berduka, kau menyebalkan" Ana berlari meninggalkan pria itu dengan amarah. Pupus sudah, rasa kesalnya, amarah. harapan ini begitu besar, tapi pria itu seolah mematahkannya hingga menjadi debu. Ana pergi meninggalkan pria itu begitu saja. Ia membalikan tubuhnya, melihat kepergian Ana dengan tatapnya yang sendu. "kau, ckk" "Aldrich. Namaku Aldirch, kau lupa padaku Ana" gumam pria itu lirih sambil tersenyum kecut "sesak sekali di sini" Aldrich pria berstatus dokter itu menepuk dadanya pelan seraya tersenyum kecut sambil menatap langit sore yang berwarna jingga terang itu *** Ana memasuki ruangan tempat Nathan di rawat, dia mendudukan dirinya di kursi samping tempat tidur Nathan. Diraihnya tangan pria putih pucat itu dan menaruhnya di pipinya, mata Ana terpejam seraya mencium lembut tangan kekasihnya itu. "aku mohon bangunlah Nathan, setidaknya berikan senyumanmu itu padaku..." "aku mohon" *** "hah" Ana tersentak saat tangan yang digenggamnya itu sedikit bergerak mengelus pipinya lembut. "NATHAN  KAU SADAR?!" teriak Ana terkejut sekaligus senang "doa ku terkabul, aku yakin kau pasti sadar, kau pasti akan membuka matamu, aku senang sekali"Nathan tersenyum masih mengelus pipi Ana. Ana menatap Nathan yang terlihat menggerakan bibirnya dengan susah payah, hingga akhirnya Ana mendekatkan telinganya di bibir Nathan "Aku... mencin... taimu ... Ana" "sa... ngat... men.. cin...tai....        mu" TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT............. Ana melihat cepat ke arah monitor yang menampakan 1 garis panjang di sana. "NATHAN" Ana beralih menatap Nathan di hadapannya yang masih tersenyum padanya hingga mata nya mulai terpejam, dan benar-benar terpejam membuat Ana ketakutan. "TIDAKKKKK NATHANNNN"teriak Ana di raihnya dipencetnya sebuah tombol putih pada dinding rumah sakit tepat di atas headboard ranjang tempat Nathan berbaring. "aku mohon dokter cepat datang" "NATHANIII"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN