Episode 05.

2970 Kata
Aku mengadahkan wajahku menatap langit berwarna jingga dengan senyum tipis di wajahku. Aku menyentuh kepalaku yang terasa sedikit pening dan berdenyut, aku rasa karena terlalu lama menangis dan mengingat memoriam pahit itu yang bahkan masih terasa jelas di ingatanku. Aku memeluk erat sebuah kotak musik kristal ini dan menggenggam sebuah surat dari Nathan yang belum sempat k*****a karena aku takut –aku takut tidak bisa membaca nya. Aku memutuskan untuk membacanya nanti saat aku sudah tenang "hah!" desahku merasa sedikit rileks ketika angin membelai lembut wajahku.   TTIIN... Aku sedikit tersentak saat mendengar sebuah klakson mobil yang sedikit memeka telingaku. Aku tersenyum saat mendapati pria berpakaian kasual yang keluar dari sebuah mobil Audi silver yang terparkir tak jauh dari tempatku duduk. Aku tersenyum padanya bangkit dari tempat ku, dan berjalan menghampirinya. Dia meraihku, memelukku dengan erat dan berakhir mengecup keningku lembut. "maaf, aku terlambat kau pasti menungguku lama"aku tersenyum menatapnya "tidak juga, aku senang aku bisa menikmati waktu ku di sini"dia membelai kepalaku lembut. "ayo kita pulang" ajaknya padaku. Aku mengangguk dia membun pintu mobilnya untukku, aku masuk ke dalamnya yang kemudian dia ikut masuk ke dalam mobil, ketika aku sudah berada di dalam. Mataku kembali beralih pada taman dan bangku kayu yang tadi aku tempati, rasanya aku tidak rela meninggalkan tempat ini. Mobil kami melaju dan meninggalkan tempat ini, tapi tidak membuatku berpaling dari sana, entah ada hal apa yang membuat pandanganku tidak teralihkan. "besok mam mengajak kita untuk fitting baju" aku terkejut dan menatap pria di samping ku ini dengan alisku yang bertautan. "kenapa secepat ini, bukankah pernikahan kita masih 5 bulan lagi" dia terkekeh dan mengelus kepalaku. "kau tahu, kita sama-sama sibuk dan semuanya harus di siapkan dari jauh-jauh hari. Lagi pula kita membuat baju pernikahan bukan membeli yang ada Ana, dan ukuran tubuh kita harus di ukur" Aku terdiam sambil menatap lurus ke arah jalan. Tanpa ada suara lagi kami saling berkutat dengan pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya mobil kami berhenti tepat di depan rumahku. "aku bisa sendiri" ucapku saat dia berusaha membuka pintu mobilnya untukku Aku berjalan ke arah rumahku dengan dia yang mengikutiku. Aku berhenti di depan pintu rumahku dia juga berdiri tepat di belakangku. Aku berbalik dan tersenyum padanya "aku harus kembali ke rumah sakit" "hmm... baiklah" dia tersenyum padaku. Perlahan wajahnya mendekat ke arahku, matanya beralih menatap bibirku hingga jarak kami tinggal beberapa centimeter lagi dari wajahku. Dia berhenti mendekat wajahnya berhenti saat aku memalingkan wajahku darinya "maaf" desahku sambil memejamkan mataku. Ada rasa bersalah di hatiku karena belum bisa sepenuhnya menerimanya masuk ke dalam kehidupanku, walaupun dia sudah menemaniku 3 tahun lamanya, namun hatiku belum sepenuhnya terbuka untuknya. Nathan masih menjadi bayang-bayang yang begitu melekat di hatiku. CHU! Dia mengecup keningku. Aku sedikit terkejut dan menatap ke arahnya yang sedang tersenyum manis padaku. "tidak apa.. aku bisa menunggumu dan akan selalu menunggumu, aku yakin hatimu pasti akan menjadi milikku" aku menduduk makin merasa bersalah atas ucapannya padaku "Maafkan aku" ucapku pelan, aku menduduk takut untuk menatapnya. PLETAK! "sakit" ringisku saat mendapat sebuah jitakan mulus di keningku dan melihat ke arahnya yang tersenyum sambil mengerut, seperti bocah berumur 5 tahun. "berhenti mengatakan kata maaf, maafkan aku,  aku bilang tidak apa-apa, sekarang istirahatlah semoga kau mimpi indah sayang, aku mencintaimu " "aku tahu" ucapku. Aku melihatnya tersenyum kecil. Aku rasa dia sadar kalau aku masih belum bisa membalas ucapannya, bahkan untuk mengatakan aku juga mencintaimu seakan bibirku begitu keluh, dan sangat sulit untuk di ucapkan Dia melambaikan tanganya dari dalam mobilnya dengan senyum manis di bibirnya "Hati, hati di jalan Aldrich" ***   Hari ini Ana dan Aldrich melakukan fitting baju pengantin seperti yang Aldrich katakan kemarin semuanya berjalan semestinya, Aldrich sangat terlihat bahagia tidak dengan Ana yang terlihat kurang menikmatinya, Ana hanya menampakan wajah datar, ketika di tanya pun Ana hanya menjawab dengan seadanya jawabannya hanya ya, tidak, baiklah tidak lebih dari itu. Saat ini keduanya tengah dalam perjalanan pulang, Ana maupun Aldrich sama-sama terdiam. Tenggelam dengan pikirannya masing-masing, Aldrich kerap kali melirik ke arah Ana yang terlihat memandang ke arah luar jendela tanpa menoleh atau pun melirik sedikit pun ke arahnya. Mobil Aldrich berhenti saat lampu bermata tiga itu menunjukan warna merah. Ana sedikit memicingkan matanya ketika melihat seorang pria yang sedang berdiri di halte bis, sosok yang sangat familiar baginya, sosok yang seharusnya sudah tidak ada di dunia ini. Ana mengedipkan matanya berkali-kali memastikan kalau hal ini tidak nyata dan meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak mempercayai hal ini "Nathan" Ana bergumam yang membuat Aldrich menoleh ke arah Ana. "ada apa sayang?" Aldrich menyentuh kepala Ana dan mengelusnya sayang. "kau tidak baik-baik saja?" tanpa mengubris pertanyaan Aldrich, Ana terus menatap objek yang ada di depan matanya itu dengan lamat. "apa benar itu Nathan? Aku mohon ini bukan mimpi, tapi.. akhhh"batin Ana Tiba-tiba Ana tersentak saat pria yang sedang di lihatnya itu membalas tatapannya, tanpa senyuman pria itu menatap Ana, datar dan terlihat dingin. Aldrich melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas itu menjadi hijau. "Apa yang kau lihat?"tanya Aldrich  yang membuat Ana tersadar dan menyandarkan dirinya dan menatap Aldrich. "Aku. eum.. bukan apa-apa" *** Tangan lentik itu tak kunjung berhenti mengaduk minuman favoritenya, secangkir cappucino yang baru dipesannya dengan ke-3 temannya saat ini. Ana sedang berada di sebuah Caffe Shop saat ini wajahnya terlihat sendu karena fikirannya yang terus bergelut di pikirannya "hei,, haloooo.... Ana" Ana tersadar saat sebuah telapak tangan yang melambai di hadapan wajahnya. "eoh"Ana menatap Grace sahabat karibnya yang tengah menatapnya sebal. "sejak tadi apa yang kau pikirkan? kau pasti tidak mendengarkan ku kan"Ana hanya tersenyum dengan cengiran di wajahnya. "Maafkan aku"Grace nampak kesal sambil bibirnya yang terbentuk mengerucut. "memang nya apa yang kau pikirkan, eoh. sejak tadi kau tidak mendengar kami yang memanggilmu, apa kau ada masalah dengan Aldrich? Apa kalian bertengkar? Apa Aldirch membuat mu kesal? Apa dia tidak berlaku baik padamu?"Ana terkekeh saat mendapati sederetan pertanyaan bertubi-tubi dari temannya "tidak, Aldrich berlaku sangat baik padaku" "lalu apa masalahnya, kenapa kau terdiam seperti ini?"Ana menghela nafasnya lalu menatap ketiga temannya yang terlihat gusar "Aku hanya merasa akhir-akhir ini aku begitu merindukan Nathan" "Aku pernah melihatnya di sebuah halte bus, menatapku datar, aku rasa aku bermimpi tapi itu terlalu jelas, karena seakan-akan itu sangat nyata" ketiga wanita di hadapan Ana hanya menghela nafas mereka, ketika mendengar nama pria yang selalu di pikiran salah satu sahabat mereka itu lagi-lagi terucap. "berhentilah mengingatnya –kau akan menikah, jadi cobalah untuk melupakan masa lalumu Ana"ucap Grace salah satu teman wanita Ana yang saat ini tengah duduk di hadapannya "benar.. pikirkan bagaimana perasaan Aldrich kalau sampai tahu calon istrinya masih memikirkan pria lain" ucap Lisa yang juga salah satu teman Ana yang tengah duduk di hadapan Aileen. "Ana"ucap Aileen dengan tangannya yang mengusap lembut pundak Ana. "aku bilang aku hanya merindukannya akhir-akhir ini, kenapa kalian seakan-akan menghakimiku"Ana mulai kesal dadanya berubah sesak –bukan ini yang di harapkannya saat menceritakan curahan hatinya pada sahabatnya itu "aku rasa kami hanya mengingatkanmu agar move on –kau akan menyakiti hati Aldrich, kalau kau bertingkah seperti ini"ucap Grace yang membuat Ana menatapnya tajam "lalu kenapa kalau aku menyakitinya –aku rasa dia tahu dan dia memaklumi bagaimana perasaanku yang belum bisa terlepas dari bayang-bayang Nathan"Ana naik pitam suaranya terdengar meninggi. "karena kau menyakitinya dan aku tidak suka" "Apa!! Apa kau menyukai Aldrich, apa kau menyukai calon suamiku itu –eoh "teriak Ana  “Iya" Degg!! Aileen, Lisa  menatap Grace terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Grace menyukai Aldrich calon suami sahabat mereka, bahkan sahabat Grace sendiri. Tidak dengan Ana yang hanya menatap Grace datar. PLAKK!! Ana menampar pipi Grace, wajahnya datar tapi matanya begitu menusuk menatap Grace yang tengah menyentuh pipinya yang terdapat bekas tamparan Ana di sana, Tringg!!! Suara bel pintu Coffee Shop yang tertutup saat Ana melewatinya meninggalkan kedua temannya begitu saja, yang kini menatapnya sendu dengan Grace yang masih tertunduk di tempatnya. "kau sungguh gila Grace, bagaimana bisa kau mencintai pria sahabatmu sendiri"ucap Aileen, Grace hanya bisa menundukan kepalanya tak berani menatap Aileen dan Lisa yang sedang menatapnya tajam. "kau benar-benar keterlaluan Grace. Aku benar-benar tidak percaya kau menyukai Aldrich. Jika kau menyukainya, seharusnya kau menyimpannya sendirian. Bukannya mengatakannya pada Ana tentang perasaanmu itu”ucap Lisa terbawa emosi. "Apa salah jika aku menyukai Aldrich –aku ini wanita aku rasa aku berhak menyukai siapapun"bela Grace, Aileen menatap Grace geram tangannya terkepal erat. Ini bagaikan suatu penghianatan baginya, Aileen sudah menganggap Ana sebagai adiknya sendiri bahkan mereka sangat dekat. "Hebat!! Dengan menyukai calon suami temanmu sendiri –aku rasa wajar kalau kau memendamnya, aku tidak menyangka kau mengatakan langsung ke calon istrinyanya"ucap Aileen yang membuat Grace memalingkan wajahnya "aku rasa kalaupun aku memacari Aldrich, Ana tidak akan peduli. Bukankah dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Aldrich"jelas Grace yang membuat Lisa menatapnya tidak percaya. "Jadi selama ini yang ku lihat itu benar, ketika kau pergi bersama dengan Aldrich di taman hiburan, apa itu sebuah kencan" *** "hiksss... hiksss.. hiksss.... Grace Thampson kau menyebalkannnnnnnnnnnnnn”teriak Ana sambil melempar kerikil yang di tangannya ke sebuah sungai di hadapannya. Ana sedang berada di pinngir jembatan, untuk menenangkan dirinya. Ana suka datang ke sini untuk menenangkan diri atau pun saat sedang merindukan Nathan "AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHH"Ana berteriak meluapkan segala emosinya saat ini "keterlaluan, beraninya kaliaaaaaaaannnnnnn" "menyebalkann" "AHHHHHHHHHHHHHHHHH" "HEI. KAU BERISIK SEKALI. SANA TERIAK DI TEMPAT LAIN JANGAN DI SINI" Ana menoleh dan mendapati seorang pria yang tengah berbaring di salah satu bangku yang ada di pinggir sungai yang tidak jauh darinya. Pria itu bangkit dan berjalan ke arah Ana. Ana terdiam, mulutnya sedikit terbuka bukan karena terpesona melainkan syok bahkan sangat terkejut. "kau cantik, tapi tidak bisahkah kau sedikit tenang –kau mengganggu tidur ku nona"ucap pria itu saat berdiri di hadapan Ana. Ana terdiam yang membuat pria itu menatap Ana bingung. Pria itu sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Ana. "apa kau baik, baik saja nona?"tanya pria itu. Air mata Ana menetes, matanya tak berhenti menatap ke arah pria yang sedang menatap aneh di hadapannya saat ini. “Nathan Breker"     "Nathan" Pria yang di tatapnya itu memandang dengan aneh. Kepalanya miring ke sisi kiri. "siapa itu Nathan Braker?" Ana terisak, tangannya kerap kali menyeka air matanya yang kelewat penuh menghiasi wajah cantiknya. "Nathan, hiks.. hiks.. hiks.. Nathan" Ana berjalan ke arah pria yang di panggil Nathan tersebut. "Aku Merindukan Mu" BRUKK! "HEI" pria itu menopang tubuh seorang wanita yang kerap kali memanggilnya dengan sebutan Nathan. "dia pingsan" gumam pria itu saat melihat wanita di rangkulannya ini tak sadarkan diri "hei nona... bangunlah, aishh yang benar saja!!"pria itu mengusap wajahnya kasar. Merasa frustasi. "aku harus bagaimana sekarang!!" *** "akhhh, kepalaku" Ana bangun, menyentuh kepalanya yang sedikit berdenyut dengan tangannya, memijitnya perlahan. I memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya di sana. "sampai kapan kau akan terus tidur di kasurku"Ana mendongakkan kepalanya menatap sesosok pria yang tidak asing baginya –bahkan sangat di rindukannya. Ana menggelengkan kepalanya, berusaha kembali sadar atas fatamorgana yang mungkin di alaminya. Ana menatap pria di hadapannya itu, matanya kerap kali terpejam lalu kembali menatap, bahkan tangannya kerap kali mengucek matanya yang mungkin terjadi kesalahan. Atau sedang tidak baik. "apa aku belum sadar –ini mimpi kan?"gumam Ana sambil mencubit tangannya "hei.. apa yang sedang kau lakukan?"pria itu menatap Ana aneh, kegiatan yang dilakukan Ana membuat pria di hadapannya itu terheran. Ana menelisik setiap tampilan pria di hadapannya ini, wajahnya memang sama tapi ada yang berbeda. Rambutnya. Rambut Nathan yang dicintainya itu berwarna hitam, bukan coklat seperti pria di hadapannya saat ini "Apa Nathan mengecat rambutnya?" batin Ana kembali menatap pria di hadapannya itu "siapa kau?kenapa kau di sini?" pria di hadapannya sedikit tersentak, tapi masih dengan pandangan yang sama. Datar. Pria itu memilih duduk di sofa kamar tidurnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap Ana. "harusnya aku yang bertanya padamu.. siapa kau? memanggilku Nathan dan sekarang kau tidak berencana keluar dari kamarku?"Ana menatap ke sekeliling "aisshhh..."Ana mengumpat karena kebodohannya –bahkan dia tidak sadar sedang berada di tempat lain, bukan kamarnya. "aku tanya siapa kau?"tanya Ana untuk yang kedua kalinya, pria itu terkekeh dengan smirk diwajahnya "Daniel, panggil saja aku Daniel" *** Daniel dan Ana turun dari sebuah bis di sebuah halte di kota. Daniel menoleh ke arah Ana, Ana membalas tatapan Daniel padanya. Mereka berdiri berhadapan. Kening Daniel mengerut, melihat tatapan Ana seolah-olah begitu intens padanya, membuatnya canggung. "ehem. Sekarang pulanglah sana"pria itu mengibaskan tangannya, menyuruh Ana pergi menjauh darinya. "Terima kasih sudah mengantar ku pulang"Ana membungkuk sopan, berterima kasih padanya. "Baiklah, aku akan pergi sekarang" Ana berjalan menjauhi Daniel, sesekali dirinya menoleh ke belakang dan melihat Daniel yang masih berdiri di sana dan menatapnya, hingga Ana berbelok. Daniel berbalik ke arah yang berlawanan dengan Ana, Daniel memasukan kedua tangannya di jaket hitam panjang miliknya. Berjalan dengan earphone putih yang bertengger manis di telinganya. Pada saat Daniel berjalan pergi, Ana kembali melongok dari balik gedung. Diam-diam Ana mengikuti Daniel, dengan bersembunyi di balik tembok bak seorang mata-mata handal. "aku akan mencari tahu siapa dia" batin Ana penasaran dengan sosok pria di hadapannya saat ini. Daniel berjalan ke sebuah halte bis antar kota, Ana terdiam saat menyaksikan Daniel membeli sebuah tiket ke daerah Bronx. "Bagaimana! Kalau aku mengikutinya, berarti aku akan meninggalkan New York, bagaimana ini"gumam Ana dengan menatap Daniel yang sedang mengantri tiket di sana. "aku akan mencari tahu siapa dia! Kenapa dia begitu mirip dengan Nathan?" Ana berlari, mengisi antrian panjang itu, mengikuti Daniel. Pria yang membuat nya mati penasaran. *** Di sini Ana duduk di bagian belakang bus dengan topi hitam miliknya yang baru saja dia beli ketika akan menaiki bus. Sesekali Ana melirik Daniel yang duduk di pinggir, dengan jarak 3 bangku darinya. "aku mungkin seperti orang gila, fans fanatik yang mengikuti idolanya –terserah. Dia membuat ku mati penasaran. DANIEL, sebenarnya kau ini siapa?" batin Ana Tidak lama mereka sampai di sebuah halte kawasan, Bronx. Daniel dan Ana kembali menaiki sebuah mini bus ke daerah Bronx yang sangat asing bagi Ana, ini pertama kalinya dia pergi ke daerah Bronx, Daniel turun dari bus menyusuri sebuah g**g dengan Ana yang mengekor di belakangnya, masih dengan aksi mata-matanya dengan merayap di pinggir tembok. Ana berhambur, bersembunyi di balik tembok saat melihat Daniel menghentikan langkahnya. "akh.. hampir saja aku ketahuan"gumam Ana sambil mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Dengan rasa penasaran, Ana melirik tempat dimana Daniel menghentikan langkahnya. "eohh... dimana?"Ana keluar dari persembunyian saat tidak mendapati Daniel di sana "dimana dia??"Ana menoleh ke setiap penjuru Kosong. Tidak ada Daniel di mana pun. "ahh.. bagaimana ini!" Ana terlihat gusar, tidak ada orang di Bronx yang dia kenal selain Daniel, dan sekarang dia malah kehilangan pria itu. "kau mencariku" Degg! Ana berbalik dan mendapati Daniel yang sedang berdiri di dekat sebuah pohon besar tak jauh darinya. Tubuh Ana tersentak kaget melihat Daniel. Sejak kapan dia berada di sana. "dasar penguntit, aku sudah memperingatkanmu untuk pulang, bukan menguntit ku seperti ini"Daniel berjalan mendekat ke arah Ana. Lalu berdiri di hadapannya. "aku penasaran denganmu"ucap Ana. Yang kemudian menunduk. Gugup. "kau mau memastikan, siapa aku ini? Sudah aku bilang aku bukan pria yang kau cari itu.berhenti mengikuti ku. Pulang sana!" "ta... ta.. tapii... tapi ini sudah gelap –aku takut pulang sendirian"Daniel menghembus kan nafasnya dan beralih menatap Ana lamat *** Ana berjalan mengikuti Daniel di belakangnya matanya terus menatap pria di hadapannya ini dengan sendu.jelas sekali pengaruh dirinya atas wajah itu benar-benar besar. Hyumi tidak bisa menepis jika mereka benar-benar mirip. "kalian mirip sekali, aku bahkan susah untuk membedakannya"batin Ana matanya terpejam dan sedikit tertunduk dengan kakinya yang terus melangkah mengikuti langkah Daniel "Haahh.... Aku Merindukanmu "batin Ana frustasi. "kita sudah sampai"Ana menatap Daniel yang sedang menatapnya "rumahku ada di atas, cepatlah"Ana mengangguk dan makin mempercepat langkahnya ke arah Daniel "ini rumahmu?" ucap Ana saat mendapati sebuah rumah loteng berkayu coklat di hadapannya. "bukan"Ana memandang Daniel terkejut. "Apa!!" "tentu saja ini rumahku, maaf ya tidak besar seperti rumahmu"Daniel menatap remeh ke arah Ana –yang membuat Ana menatapnya malas "kau tidak berkeinginan tinggal dengan orang tuamu"Daniel membuka lebar pintunya dan beralih menatap Ana. "ckk... aku tidak tahu siapa orang tuaku, aku hanya tinggal bersama seorang bibi di sini, dan dia sudah meninggal 10 tahun yang lalu, masuklah diluar dingin"Daniel berbalik dan masuk kedalam rumahnya. "aishh... Ana bodoh"batin Ana sambil memukul kepalanya dan mengikuti Daniel masuk. "hmm... maafkan aku"gumam Ana saat melihat Daniel yang tengah memukul sebuah sofa yang terlihat berdebu "Tidak apa apa, duduklah"Ana duduk di sebuah sofa coklat berbulu yang terlihat usang, matanya menelusuri setiap penjuru ruangan Bak apartemen hanya 1 ruangan di sini, tidak ada kamar di ruang utama ini hanya ada tv, tempat tidur, dan sofa yang Ana duduki menjadi 1 ruangan, tidak jauh ada dapur dengen meja makan yang menjadi pemisah antara dapur dan ruang tv nya, Ana bisa melihat sebuah pintu di pojok dapur yang di yakininya adalah sebuah kamar mandi. "kau lapar, aku akan buat roti lapis, tunggulah"Ana terus memperhatikan Nathan "aku suka dia, dia sangat baik"Ana tersenyum sambil memandang Daniel yang tengah sibuk di dapurnya. *** "kau pandai membuat roti lapis, jujur ini sangat enak"puji Ana yang di balas tatapan remeh oleh Daniel "kenapa? Aku tidak bohong"ucap Ana "roti lapis semuanya sama saja –kau saja yang makan dengan lapar, semuanya jadi terasa nikmat, aku yakin aku kasih racun pun kau akan memujinya enak"Ana mengerucutkan bibirnya kesal. "HEI~ seenaknya kau bicara"ucap Ana seraya menyipitkan matanya menatap Daniel. "kau tidak takut aku menaruhnya racun?"Ana menatap Daniel yang kini menatapnya dengan smirk di sudut bibirnya. "Tidak"jawab Ana seolah tidak peduli. Ana terus mengunyah makanannya. Tanpa sedikitpun curiga. "kau yakin?"Daniel menatap Ana dengan lamat "Yakin. Yakin sekali. Karena kau baik, aku rasa orang baik sepertimu tidak akan melakukan hal itu. Aku percaya itu"Daniel memandang Ana, matanya terlihat sendu. "percayalah, aku bukan orang baik"Ana menatap Daniel, yang dintatap hanya mengulas senyumnya. "aku yakin kau orang baik"batin Ana *** "tidurlah, aku akan tidur di sofa"Daniel mengambil selimutnya dan mulai membaringkan tubuhnya. "Daniel"panggil Ana sambil membaring kan tubuhnya yang sangat lelah. "hmm"Daniel berdehem dengan matanya yang terpejam "Terima Kasih"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN