1. Assalamualaikum ya Habibi
"Maaf aku butuh waktu," tiba-tiba pemuda itu berucap demikian.
"Apa maksudnya?" Tanyaku ambigu.
"Jangan kamu pikir aku bisa menerima mu dengan mudah! Permisi Wassalamu'alaikum!" Ucapnya dengan angkuh ketika hendak memasuki mobilnya dan meninggalkanku.
Duaaar!! MasyaAllah hatiku hancur berkeping-keping bagai terkena serangan bom molotov.
"Wa'alaikumsalam."
"Hei akhy tunggu! jika memang kamu keberatan dengan perjodohan ini, kenapa tak kau tolak saja waktu acara tadi." Teriakku dengan sesak di d**a.
Percuma aku teriak toh dia sudah pergi dengan mobilnya, tak ku sangka pertemuan tadi membuat goresan pertama pada hatiku.
Kenapa tadi dia sangat manis, sopan dan lembut memperlakukan aku di depan keluarga besar kami berdua, masalah apa yang di miliki nya, hingga ia bisa berubah 360 derajat ketika kami sedang berdua saja. Otakku kembali menjelajahi waktu ketika pertemuan tadi, dan aku masih belum bisa menerima semua ini.
“Apa aku tadi melakukan kesalahan? Atau dia sudah ill feel duluan melihat tingkahku yang diam-diam mengintip seperti anak kecil? Aargghh," lagi aku menarik nafas dalam-dalam.
Diamku karena lelah, diamku sudah berusaha sabar, diamku bukan karena salah, diamku juga bukan karena mengalah, buat apa mengalah jika hanya di injak-injak dan tidak dihargai. Aku sudah malas berdebat, makin kesini lebih baik diam karena yang aku butuhkan hanya ketenangan semata. Allah Maha Tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Allah tak akan membiarkan kedzoliman selalu menang, ada saat nya nanti siapa yang menabur suatu saat dia akan menuainya. Semua ada takarannya, ada hukumnya, yang salah mendapatkan hukuman serta dosa pastinya, dan yang benar akan mendapatkan pahala serta kemuliaan.
Mesti cinta memang tak bisa dipaksakan namun seiring jalan dia akan tumbuh jika disirami dengan kasih sayang serta di pupuk dengan keyakinan. Aku yakin Tuhan memberikan pasangan hidupku melalui perjodohan antara aku dan dia.
Aku Zahra Latifatul Zyva, 23 tahun biasa di sapa Rara, anak tunggal dari pasangan Abi KH. Fathan AL Farabi, 58 tahun dan Ummi Hj. Halimah Nur Kholidi 55 tahun pemilik pondok pesantren Az-Zikra di Jombang. Meski aku anak semata wayang tapi aku tidak pernah merasa kesepian, karena keluarga besar ummi dan abi sebagian besar tinggal di lingkungan pesantren ini. Sepupuku banyak meskipun tidak sebaya, mereka rata-rata masih sekolah SD dan SMP. Aku selalu terhibur dengan adanya mereka. Terlebih di pondok pesantren ini semua santriwan dan santriwati sangat akrab dan dekat denganku, mereka semua telah menganggap aku kakak mereka. Disamping itu aku sangat banyak sekali kegiatan dari mulai kuliah, aku juga diperbantukan mengajar mengaji para santriwati, walaupun sudah tersedia ustadz dan ustadzah yang mengajar, aku juga mengajari anak-anak pencak silat, berkuda tiap 2 hari sekali, memanah dan masih banyak lagi kegiatan yang positif dan merujuk bahwa aku.. TOMBOY!.
Dengan aktifitasku yang segudang, tentu tak akan pernah kesepian bukan? namun bukan itu yang di anggap sepi oleh abi dan ummi. Subhanallah sepi dalam hal apakah itu?
Menurut abi dan umi usiaku sudah pantas berumah tangga, mengingat kami tinggal dikampung, sehingga usia yang sudah di atas 20thn sudah matang dan tak baik kelamaan hidup menyendiri. Oleh karena itu aku dijodohkan dengan anak teman Abi pemilik Yayasan Yatim Piatu di Malang. Dia bernama Hazar Khoiru Ummah, 27 tahun. Dia lulusan Kairo dan sekarang mengajar di pondok pesantren serta di sekolah Islam terkemuka di Jawa Timur serta memimpin beberapa pengajian di daerahnya, sungguh pemuda yang super sibuk dengan kegiatan rohis, katanya! itu menurut cerita Abi dan Ummi tentang jati diri pemuda yang akan di jodohkan denganku.
"Nak Hazar itu ngganteng lho nduk, pinter, soleh, kurang opo?" Kata Ummi di waktu makan malam keluarga besarku.
"Iyo cah ayu, supaya kamu ndak kesepian lagi, biar ada yang menemani hidupmu." Timpal Abi seraya meraih gelas berisi air putih yang disodorkan Ummi.
"Nuwun sewu Ummi, abi, Rara nggak pernah kesepian kok.. dipesantren ini kan banyak sekali para santri yang sudah Rara anggap teman bahkan sudah seperti adik sendiri, bagaimana mungkin Rara kesepian Bi?" Sahutku dengan suara pelan.
"Bedo Nduk, maksud Abi, teman hidup, suami, imam kamu, ngono maksute, betul kan bi?” Ummi memperjelas semuanya.
Tanpa di perjelas juga aku sebenarnya sudah mengerti apa maksud mereka, hanya saja aku masih belum bisa menerima perjodohan ini, karena aku juga memang belum pernah melihat sosok pemuda yang dimaksud, alih-alih melihat, mendengar saja baru kemarin sore saat bercengkrama dengan abi dan ummi di ruang keluarga, awalnya bercanda tapi lama-lama candaannya berubah menjadi serius.
"Ingat ayat ke 36 isi dari surah Yasin, itu bisa kamu jadikan sebagai doa mahabbah Nduk, mohon dan mintalah pada Rabb-mu." Pesan Abi.
"Iyo nduk, Ummi setuju sama Abi, di coba saja dulu, dipikirkan matang-matang," ucap Ummi.
"Tapi Ummi, jodoh itu bukan untuk coba-coba." Aku berusaha menampik kata coba yang di sampaikan Ummi, memangnya makan tiwul suruh di coba dulu.
“Ya setidak dicoba dulu, ndak langsung dikhitbah kok nduk, pertemuan dulu untuk berkenalan.” Jelas Ummi lagi.
“Enggeh mi.” Jawabku singkat.
*
*
*
"Shadaqallahul adzim." Aku menyudahi mengajiku dan menyimpan Al-Quran di atas meja belajar.
Aku berjalan menuju ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, jendela kamarku ini sangat lebar, sehingga bisa keluar masuk melalui jendela tanpa harus memanjat. Aku menatap rembulan yang meremang karena tertutup awan hitam yang berarak-arak, perlahan tapi pasti awan itu menutupi rembulan yang cantik.
Kenapa aku terus memikirkan ucapan abi dan ummi tentang perjodohan ku dengan pemuda yang bernama Hazar, meskipun aku belum pernah melihat apalagi bertemu, namun yang aku pikirkan saat ini adalah dia pasti pemuda yang tampan dan soleh, mengingat foto ayahnya yaitu H. Soleh Muhaysim yang bekas garis-garis ketampanannya di waktu muda masih jelas terlihat, begitu juga dengan sang istri yaitu Hj. Syarifah Hanum yang masih sangat cantik di usia senjanya.
"Pasti anaknya juga ganteng," batinku seraya memandang rembulan yang redup.
"Astagfirullahal'azdim." Aku mengusap kasar wajahku hingga kerudunganku ketarik ke depan.
Aku masih merenung dan termangu diambang jendela, benar kata umi, aku harus memikirkan matang-matang dan tidak boleh terburu-buru, karena ini menyangkut masa depan hidupku, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak, karena dia akan menjadi imamku, dia yang akan menuntunku serta mengarahkanku ke jalan benar, karena baik dan buruknya seorang istri adalah bagaimana ia diperlakukan oleh suaminya kelak.
Terlebih anak perempuan jika sudah menikah, akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya suaminya, netra ku mengembun, bisakah aku menerimanya kelak dan bahkan sebaliknya, apakah dia bisa menerimaku juga?
Angin malam mulai merasuki kamarku, nyesss dingin dan membuatku sedikit menggigil, aku bergegas masuk dan segera menutup jendela serta merapatkan hordengnya. Aku merebahkan tubuhku di atas tilam, mataku sulit terpejam, daripada memikirkan yang tidak-tidak lebih baik aku habiskan waktuku untuk mengerjakan tugas kuliahku yang belum selesai. Ternyata aku pun sulit untuk konsentrasi, aku menarik nafas dalam-dalam, kuraih gawaiku yang ada diatas meja belajar lalu kunyalakan Qur’an Mp3 dan langsung terdengar suara merdu dari Syeikh Saad al-Ghamidi.
Lamat-lamat kudengar suara orang yang sedang mengaji dari speaker masjid pesantren, kuraba gawai yang ada semalam aku letakkan di samping bantal. Aku tekan-tekan tombolnya ternyata mati, akibat semalaman aku mendengarkan Qur’an Mp3 hingga aku ketiduran.
Kupaksakan mataku terbuka untuk melihat kearah jam weker diatas meja, ternyata masih jam setengah 4 pagi, setelah membaca doa bangun tidur aku langsung bangun dan duduk sebentar di pinggiran ranjangku. Ku regangkan tubuhku sampai pada gemeretek. Aaahh nikmat sekali rasanya.
Sudah menjadi kebiasaanku bangun sekitar jam setengah 3 untuk menjalankan sholat tahajud, namun sekarang bangun agak siang gegara semalam tidak bisa tidur, dan jam wekerku kenapa tiba-tiba tidak berdering.
“Tumben Ummi atau Mbok Yem ga bangunin aku.” Batinku, lalu aku bergegas menuju kamar mandi yang ada disamping kamar, begitu mau masuk Ummi menyapaku. Mbok Giyem adalah Mbok Emban yang mengatur semua keperluanku sejak aku masih bayi, namun setelah aku beranjak dewasa, akupun sudah bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, meski aku anak tunggal tapi telah diajarkan hidup mandiri oleh Abi dan Ummi.
“Wes tangi tho nduk?” Tegurnya. (Sudah bangun?)
“Sampun ummi.. wau kesiangan hehe," sahutku lalu segera masuk untuk cuci muka dan buang air kecil. Setelah itu aku mengambil air wudhu dan langsung menunaikan kewajibanku. (Sudah Ummi, tadi kesiangan)
“Ya sudah kalo gitu buruan sholatnya, lalu bantuin mbok Yem siapin sarapan.. Ummi mau ke pasar sama Aqis di antar Sulis.” Kata Ummi seraya berlalu menuju dapur.
“Enggeh mi.” Sahutku singkat.
“Sepagi ini ummi mau kepasar?” Gumamku.
Setelah menunaikan kewajibanku dan membaca Al-Quran beberapa halaman aku segera menuju dapur, menuruti pesan ummi tadi, katanya harus membantu mbok Yem di dapur. Netra ku menatap sekeliling ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga dan hanya dipisahkan oleh buffet panjang yang terbuat dari kayu jati dan di atasnya banyak pajangan keramik-keramik. Harum semerbak menusuk indra penciumanku, piring serta gelas lengkap dengan serbet putihnya masih berantakan ada di atas meja dan belum di tata.
“Mau ada tamu kah? kok hordeng serta taplaknya seragaman?” Batinku, sudah tidak heran jika aku menebak akan ada tamu besar yang datang ke rumah, sebab itu sudah menjadi kebiasaan di rumah atau di pesantren jika ada ulama atau teman sejawat abi datang, pasti semuanya harus di ganti yang bersih dan serasi. Jika hari-hari biasa hordeng bisa warna hijau atau kuning dengan meja tanpa taplak kini semuanya serba putih dan bersih, yang lebih mencolok adalah ada bunga sedap malam dengan jumlah lebih dari 20 tangkai di tengah-tengah meja makan, wanginya memenuhi seluruh ruangan.
“Mbok, mau ada tamu sopo tho?” Tanyaku begitu aku sudah sampai dapur.
“Lhoh! Ning Rara belum tau tho? kata Nyai mau ada tamu agung dari Malang nanti jam 11 sekalian sholat Jumat dan di teruskan dengan makan siang bersama, ngono ning.” Jelas mbok Yem, tapi aku masih belum paham, siapa kah tamunya itu?
“Tamune sopo tho mbok?” Heranku penasaran. (Tamunya siapa sih mbok)
“Anu ning, sopo yo? aduh simbok lali ning, hehe.” Sahut mbok Yem dengan menepuk jidatnya yang sudah setengah botak karena rontok rambutnya. (itu siapa ya, aduh mbok lupa)
“Ooo.” Aku meng-O saja, dan santai seraya menata makanan buat sarapan, tapi tak sampai semenit aku teringat akan sesuatu yang sukses membuatku sulit memejamkan mata.
“Hah! opo mbok? Tamu agung dari Malang?” Pekikku, padahal mbok Giyem sedang berada di kamar mandi.
“Astagfirullah ini kan Jumat!” Sebutku mendadak panik. Aku jadi ingat pada pertemuanku pertama kali dengan sang tamu yang mungkin hari ini datang lagi.
Flashback On
"Assalamu'alaikum warohmatullah ya Habibi," Salam takzim tamu yang datang yaitu keluarga H. Soleh.
"Waalaikumsalam wahai guruku, ahlan wa sahlan kaifa haaluka?" Sambut abi sumringah. (Wa'alaikumsalam wahai guruku, selamat datang, apa kabar)
"Alhamdulillah ana bhikairin." Sahut H. Soleh dengan binar bahagia di matanya. (Alhamdulillah saya baik)
"Yayaya.. Arjuu an takuuna bikhairin." Kekeh Abi yang di dampingi Ummi. (Saya harap kamu memang baik-baik saja). Mereka saling berjabat, peluk, cium serta mencium punggung tangan secara bergantian, itulah tradisi para ulama besar, para haji serta ustad.
Pandanganku focus tertuju pada sosok pemuda tinggi di belakang H. Soleh dan istrinya, ia mengenakan baju kemeja koko biru muda lengan pendek serta celana jeans navy, kaki yang putih dengan di tumbuhi sedikit bulu halus membuat kaki itu nampak sangat bersih terlebih dibingkai sandal gunung warna hitam. Kepalanya tertunduk dengan pandangan lurus ke bawah, rambutnya disisir rapih dan mengkilau, hitam dan legam, terdapat cambang halus disisi kanan dan kiri pipi bagian dalam, hidungnya bangir, alisnya nyaris bertaut, matanya dalam dan tajam, satu kata dalam benakku.. TAMPAN!.
Tak ada niatan aku untuk bergabung dengan mereka, dari balik tembok dan tirai yang terbuat dari kain perca tebal aku dan keponakanku Afifah hanya bisa mengintip dan, menguping perbincangan mereka, mendadak jantung ku berdebar hebat, dag dug dag dug, sampai-sampai Afifah membekap mulutnya dengan tangan menahan tawa sambil menunjuk-nunjuk dadaku. Wajahku sontak memerah karena malu, dengan sedikit melotot ke arah Afifah dan meletakkan jari telunjukku di bibir, menandakan seolah aku sedang marah dan jangan berisik nanti terdengar mereka.
Yang tadinya kami berdua, kenapa tiba-tiba menjadi berlima, ketika aku menoleh ternyata sudah ada Arka, serta si kembar Qiya dan Qina. Mereka adalah keponakan yang paling dekat denganku. Kami berlima saling tumpu dan bergantian untuk bisa melihat wajah pemuda itu, sekali lagi aku melotot dan melarang mereka berkasak-kusuk. Tapi namanya juga anak-anak, tetap saja berbisik tapi suaranya terdengar jelas. Aneh! Itu bukan berbisik.
"Waah Ning gantenge," pekik Qiya dengan suara di tahan, saat pertama kali melihat pemuda itu.
"Iyo duwur, putih." Timpal Qina berbisik. (Iya tinggi, putih)
"Ono cambange, kalah Cagatay Ulusoy," seloroh Afifah menyamakan pemuda itu dengan artis tampan negara Turki. (Ada cambangnya)
"Sstttt iso meneng ora?" Hardikku lirih. (Sstt bisa diam tidak)
Karena sebal dengan kegaduhan mereka akhirnya aku berniat pergi dari tempat pengintipanku, namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat kuhindari, aku tersandung kaki Arka dan berniat mencari pegangan, tapi apa yang terjadi? Aku tanpa sengaja menarik tirai hordeng, dan...
Bruukkk..!
Aku terjatuh dan tertimpa tirai yang terlepas dari hanger nya. Sontak seluruh mata menghujam kepadaku, diiringi oleh tawa para keponakan yang terkutuk dan bengal-bengal itu.
"Lho nduk, ngapain disitu? Ini lho ada tamu jauh,"panggil Ummi sambil geleng-geleng kepala.
Aku tak dapat menahan malu, wajahku mendadak panas saking merahnya, terutama mendapat tatapan tak menyenangkan dari pemuda yang digadang-gadang akan di jodohkan denganku.
"Puaach! tatapannya ga bersahabat banget," batinku seraya mencoba untuk bangun.
"Hihi enggeh Ummi, nuwun sewu." Aku mengibaskan gamisku yang longgar lalu berjalan menghampiri Ummi serta menangkupkan kedua tanganku di bawah dagu dan menundukkan kepala.
"Ini lho putri kami satu-satunya, namanya Zahra Latifatul Zyva biasa di panggil Rara, dia masih kuliah semester 8." Suara ummi memperkenalkan aku pada tamunya. Ku angkat wajahku sambil tersenyum pada H. Soleh juga istri, kini giliran ku menatap pemuda yang ada di sebrang meja tepat di depanku, niat ku untuk memberikan senyum yang sangat spesial, namun aku mengurungkan niat ku ketika kulihat wajah pemuda itu sepertinya enggan menatap ku, jadilah aku urung tersenyum manis dan hanya bisa menundukkan kepala saja memandangi ujung kaos kakiku.
“Ayune yo buya, sopo maeng celunae nduk?” Celetuk H. Syarifah menatap suaminya lalu bertanya padaku. (Cantiknya ya pak, siapa tadi panggilannya?)
“Rara nyai.” Sahutku yang menunduk.
“Ooh Rara, ini perkenalkan anak buya dan ummu namanya Hazar Khoiru Ummah, dia lulusan Kairo dan sekarang sudah mengajar di Unversitas Islam di Malang, juga sudah belajar memimpin menggantikan buya nya," promosi Hj. Syarifah pada kami.
Aku hanya manggut-manggut saja sembar tersenyum, sedangkan sosok pemuda yang dikenalkan padaku tampak angkuh dan diam membisu. Satu lagi kata dariku untuknya SOMBONG!
“Sek.. sek.. koyo’e ummu pernah petok kowe, ing ngendi yo cah ayu?” Tanya Hj. Syarifah menunjukku sambil mengingat-ingat. (Sebentar, sepertinya ibu pernah ketemu kamu, dimana ya cantik?)
“Enggeh ummu, ingkang supermarket.” ( Iya ibu, di supermarket)
“Owalaaah iyo, masyaAllah buya.. cah ayu iki lho seng nolongin ummu waktu kecopetan, dilalah e putrine pak kyai tho.” Ucap Hj. Syarifah sumringah. Beliau menceritakan bagaimana aku melawan pencopet seorang diri, sedangkan copet itu berdua, dengan tendangan serta pukulan telak di lehernya, aku mampu mengalahkan 2 copet hingga lari tunggang langgang.
Abi, Ummi, Buya terkekeh mendengar cerita Hj. Syarifah, aku? jangan ditanya deh, aku tersipu malu plus bangga karena sudah menolong bakal calon ibu mertuaku, hanya ada satu orang di dalam ruangan ini yang diam mematung tanpa ekspresi ketika ibu kandungnya sedang bercerita, apakah memang bawaan lahir sudah seperti itu atau ketika jalan menuju kemari kesambet sama setan eretan pohon bambu? makanya tampangnya dingin dan kaku.
Perkenalan pertamaku sepertinya gagal, jangankan untuk mengatupkan tangan santun, melirik ku sedikitpun tidak, apakah dia tidak suka padaku? Fix aku yakin memang aku bukan perempuan type dia. Secara perempuan di Kairo pasti lebih cantik dan pengetahuan agamanya lebih tinggi dariku. Tak masalah bagiku, toh ini baru perkenalan saja, belum kenal saja sudah menampilkan tampang yang tidak bersahabat.
“Nggak mau sama aku pun tidak masalah, emangnya lekaki hanya dia saja di bumi Jombang ini.” Rutukku dalam lamunan.
“Nduk, Rara!” Panggil Abi dua kali dan itu telah membuyarkan lamunanku.
“Eng-geh b-bi.” Sahutku gugup dan singkat.
“Apakah makan siangnya sudah siap?” Tanya abi.
“Sampun Abi.” Jawabku menganggukkan kepala. (Sudah pak)
“Mari silakan Kyai kita makan siang dulu sambil bincang-bincang di ruang makan, kebetulan umminya tadi masak nasi kebuli, lalu Rara di bantu Giyem masak ayam kalkun panggang, monggo, monggo.” Abi mengajak kehormatannya pindah menuju ruang makan, dan tentu saja pemuda yang bernama Hazar itu turut serta.
Dimeja ruang makan aku duduk bersebrangan dengan pemuda itu, lagi-lagi dia tak sedikitpun melirik kepadaku, tampan sih memang tapi dingin dan angkuh. Akupun berjanji pada diriku sendiri mulai saat ini tak menganggap dia ada di depan ku, anggap aja kursi didepanku kosong tidak ada orang, sungguh menyebalkan, pikirku.
“Jadi begini Ngger Hazar dan Nduk Rara, saat ini kalian dipertemukan untuk perkenalan dulu saja, Buya beri waktu 5 hari, kemudian Jumat pekan depan kami datang lagi untuk meng-khitbah nduk Rara.” Suara H. Soleh membuka percakapan terlebih dulu. Dan bersamaan H. Soleh berhenti bicara tiba-tiba anaknya tersedak. Iyaa si Hazar itu anaknya H. Soleh.
“Astagfirullah, sedemikian tidak sukanya dia terhadapku, sampai-sampai mendengar kata khitbah, dia langsung tersedak.” Lagi-lagi aku harus mengucap istigfar dalam hati.
“Sabar Ra, sabar.” Gumamku seraya menatap sebal pemuda itu, sungguh aku sangat enggan menyebut namanya.
“Nopo tho ngger, alon-alon lek mangan, mentang-mentang ayam kalkun panggangnya enak kamu makan sampe tersedak gitu.” Tegur Ummunya. (Kenapa nak, pelan-pelan kalo makan)
“Kamu ndak kenapa-napa tho le?” Tanya ummi merasa khawatir. (Kamu ga kenapa-napa nak)
“Nggeh nyai, kulo mboten nopo-nopo.” Jawab pemuda itu setelah minum air putih dan menyeka mulutnya, lalu ia berdiri. (Iya bu, saya tidak kenapa-napa)
“MasyaAllah suaranya sangat merdu, pantas irit ngomong.” Tuturku di hati.
“Wait! Apa? merdu? ooh tidak, tak sedikitpun aku mengagumi suaranya.” Dustaku menampik bahwa memang suaranya sugguh teramat merdu.
“Maaf Kyai, Nyai, Buya dan Ummu, saya permisi dulu karena ba’da ashar saya harus mengisi tausiah di Masjid Agung di Bapang," pamit pemuda itu seraya berdiri dan mencium tangan kedua orang tua kami, namun tidak denganku, maksudnya dia tak berpamitan padaku, tambah satu kata lagi ya buat dia.. ANGKUH!
“Nduk Rara, antarlah tole Hazar sampai keparkiran," perintah H.Soleh. Tanpa menyahut aku langsung berjalan di belakang Hazar, oops salah pemuda itu, rasanya aku sangat rugi menyebut namanya.
Aku mengikuti langkahnya dalam diam, jenjang panjang kakinya membuat langkahnya lebar-lebar dan akibatnya aku tertinggal di belakang, aku pun sedikit berlari untuk bisa mengimbanginya. Namun tiba-tiba dia berhenti dan menengok ke belakang, tentu saja aku mendadak mengerem langkahku, tapi aku tak berhasil menghentikan langkahku agar berhenti dan..
Bleghh! aku menabrak tubuh gempalnya, sampai-sampai aku terpental mundur 2 langkah, dan anehnya dia tak bergeming sama sekali, tatapannya tajam dan dingin, membuat aku jadi salah tingkah, aku rasanya ingin mencari cermin agar tahu warna apa saja yang di wajahku.
“Afwan akhi, aku tidak hati-hati.” Cetusku seraya menundukkan kepala. (maaf kak say tidak hati-hti)
"Maaf aku butuh waktu," tba-tiba pemuda itu berucap demikian, dan kali ini dia menatapku kosong, sungguh sulit untuk di deskripsikan.
"Apa maksudnya?" Tanyaku ambigu. Dia terus berjalan menuju mobilnya.
"Jangan pikir aku bisa menerima mu dengan mudah! Permisi wassalamu'alaikum!" Ucapnya dengan angkuh ketika hendak memasuki mobilnya dan meninggalkan ku.
Duaaar!! MasyaAllah hatiku hancur berkeping-keping bagai terkena serangan bom molotov.
"Hei akhi tunggu! jika memang kamu keberatan dengan perjodohan ini, kenapa tak kau tolak saja waktu acara tadi." Teriakku dengan sesak di d**a.
Tenggorokanku tercekat, susah sekali rasanya menelan saliva ini, seperti mimpi di siang bolong, tak percaya.
Flashback Off
Note :>
Kyai = Gelar untuk tokoh agama atau pemimpin pondok pesantren
Nyai = Panggilan untuk istri pak kyai
Ning = Panggilan kehormatan untuk anak perempuan
Gus = Sebutan atau gelar yang ditujukan anak laki-laki keturunan kyai
Cak = Panggilan untuk laki-laki dewasa / mas / kak
Buya = Abi / ayah / bapak
Ummah = Ummi / ibu / mama
Nduk = Panggilan untuk anak perempuan kesayangan yang masih kecil
Ngger = Panggilan anak laki-laki kesayangan yang masih kecil / Tole / Le