2. Zahra Latifatul Zyva

1170 Kata
Bagaikan godam besar menghantam d**a ini, laksana duri melesak, menusuk relung yang sejak tadi menjerit dalam kepiluan, dia tak berpikir jika sabdanya meluluh lantakkan kalbuku, aku menelan semuanya dalam kebisuan, meski mulut ini sudah tak dapat menampung lisan yang berisi cacian agar semua tahu dan percaya jika benak ini terluka sejak pertemuan itu. Tak ingin berlama-lama dalam kesedihan dan kesepian hatiku, aku berupaya selalu menghabiskan waktuku hanya untuk para santriwati, namun tetap saja ada yang hampa di relung jiwaku terdalam. Benar apa yang dikatakan Abi dan Ummi, aku rasa di usiaku yang sudah ranum ini, tepat waktunya untuk dipetik oleh insan yang tertarik saat melihatku. Entah siapa yang akan terpikat olehku, jika keseharian aku habiskan waktuku untuk belajar dan belajar, mengajar dan mengajar, berlatih dan berlatih, buku lagi, para santri lagi, kuda lagi, busur dan panah lagi serta pencak silat lagi. Pernah seorang guru besar jauh-jauh datang dari Negeri Jiran bertandang ke pesantren menemui Abi dan selanjutnya bertamu ke rumah hanya untuk memintaku menjadi sembayan nya, padahal beliau sudah memiliki istri 2, itu artinya aku akan menjadi yang ke 3, sungguh aku bersumpah demi Tuhan dan Rasulku aku menolak mentah-mentah. Satu bulan setelahnya seorang Syekh berusia 50thn datang dari Seuramo Mekkah, aku pikir datang untuk melamarku buat putranya ternyata untuk diirnya sendiri yang kebetulan memang masih lajang, jangankan aku, Ummi saja langsung menolaknya dengan tegas namun halus. Yang benar saja diusiaku yang tergolong masih muda meskipun tak belia lagi ini nikah sama orang yang sepantasnya menjadi ayahku. Tentu saja BIG NO! Sudah tak terhitung lagi dari trah Abi dan ummi sendiri yang akan meminangku untuk menjadi istrinya, meskipun masih saudara tapi diperbolehkan menikah, karena tidak ada hubungan darah yang mengalir dalam diriku maupun diri lelaki itu, akan tetapi lagi-lagi aku dan Ummi tidak setuju, karena waktu itu aku baru lulus SMA, dan masih ingin mengeyam pendidikan yang lebih tinggi lagi. “Ning Rara kok malah bengong, memangnya kenapa kalo hari ini hari Jumat?” Tanya mbok Giyem dengan mengibaskan tangannya didepan mimikku dan membuyarkan anganku. “Ndak apa-apa mbok, Rara baru ingat kalo ini hari Jumat, mau ada tamunya Abi.” Jawabku mengalihkan kecurigaan di wajah mbok Giyem. Sekali lagi aku menyapukan arah pandangku ke seluruh ruangan, tatapanku berakhir pada sudut ruang keluarga dimana terdapat 2 setel gamis panjang berwarna emas dengan bahan brokat dibagian atasnya, tersemat pita di bagian perutnya, sedangkan satu lagi gamis panjang berwarna putih dengan bahan satin yang dipadu dengan pita warna biru muda serta selendang yang terjuntai di kiri dan kanan pundak. “Waah cantik sekali gaun itu," pikirku “Ning! Itu lho gaunnya mbok ya di cobain, pasti ning Rara uwayu tenan," lagi mbok Giyem membuyarkan lamunanku. “Eh memang itu buat Rara mbok?” Tanyaku ambigu. “Lha yo buat siapa lagi tho, kalo bukan buat ning Rara, moso buat simbok hehe," jawab mbok Giyem sambil menata meja makan. Aku melihat seperti ada rona suram pada warna gaun tersebut, rasa ingin tahu yang mendera membuatku mendekati busana yang anggun menawan seolah menantangku untuk memakainya, langkah menyeretku membawa keperaduan pakaian yang tergantung, alih-alih memakainya malah jemariku meremas kuat gaun cantik yang tak berdosa. “Astagfirullahal’adzim.” Gumamku dengan melepaskan cengkeramanku. Egoku mengalahkan rasa keinginanku tuk merasai gamis paripurna itu, bukannya aku ingin menyiksa diri atau melawan hasratku, kecewa yang sudah terlanjur ia sematkan dalam selipan hati ini memaksaku untuk tidak berbuat manis terhadap gaun yang lagi-lagi tak berdosa itu. “Cantik!” Hanya satu kata yang keluar dari lisanku, meski itu tidak singkron dengan hatiku, lalu ada sebuah paper bag yang menurutku itu sangat eksklusif mampu mencuri perhatianku, netraku menatap lekat benda tersebut. “Pasti iki larang regane," tanganku menjamah tas yang terbuat dari kertas berkualitas tinggi itu. . (Pasti ini mahal harganya) Lalu manikku terbentur pada goresan demi goresan yang sangat indah, sebelum membacanya aku melongokkan kepala melihat ada apalagi didalamnya, ternyata ada 2 buah kerudung yang senada dengan warna gamisnya lengkap dengan bros berbentuk miniatur ka’bah serta bunga melati. “Teruntuk Ning Rara – ZLZ putri Bpk. KH. Fathan Al Farabi. Alamat Ponpes Az-Zikra Jombang Jatim. 61415. Dari HKU – Malang," pelan dan mendadak kaku saat aku membaca nama pengirimnya. “Jadi baju ini.. kiriman dari si pemuda angkuh dan sombong itu?” Lirihku seraya meletakkan kembali paper bag tadi. “Ga mungkin dia, pasti Hajjah Syarifah yang memilihkannya untukku," gelengku tak ingin menerima kenyataan jika saja itu benar baju pilihannya. Sang surya memanjat hari semakin tinggi, jarum jam berputar sesuai dengan kodratnya, waktu yang terus bergulir tak dapat ditahan meski dengan mengerahkan segala daya dan upaya, tetap saja harus ditemui dan dilalui, seperti hariku saat ini, Jum’at yang tak dapat kuhindari walau aku berlari bahkan naik sajadah aladin sekalipun. Aku mendesah, mendengus, menghela nafas panjang dan dalam, menghembuskannya lagi dengan kasar dan cepat, entah apa yang ada dibenakku, tak seorang pun mengerti, bahkan seluruh organ tubuhku pun tak mengerti apa yang aku pikirkan, menolak pun rasanya sudah terlambat. Wajah pemuda tampan itu, tidak-tidak! Buat apa aku memujinya, toh belum tentu dia jodohku, selalu menghantui pikiranku, ia wara-wiri menorehkan luka yang membuat jantungku terluka pada pandangan pertama. Satu kata untuk hatiku, SAKIT. Ummi sudah datang dari pasar, dan semua sibuk dengan tugas masing-masing, hanya aku yang sedikit lamban dalam mengerjakan sesuatu. “Cepet nduk, kira harus segera sarapan, setelah itu meja makannya mau dikosongin dan di tata dengan hidangan menu special buat tamu kita, hayuk ndang," Ummi menepuk pundakku dari belakang. (ayo buruan) Tepat 5 hari setelah kedatangannya bersama kedua orangtuanya, aku harus segera bergegas membantu mbok Giyem membereskan meja makan daripada melamun yang tak berujung dan tak ada gunanya, lekas-lekas aku selesaikan pekerjaanku, setelah itu aku melarikan diri kekamarku bersiap-siap untuk mandi dan merias diri, demi siapa? Aaah sudahlah, diriku sudah tak bersemangat lagi untuk menyambutnya. Aku berharap mereka tak datang dan membatalkan perjodohan ini. Alangkah girangnya hatiku tak berperi jika itu sampai terjadi. Tok.. tok.. tok “Ra.. Rara, buka pintunya nduk," suara Ummi mengetuk pintu kamarku. “Enggeh mi," sahutku singkat, aku melihat ummi membawakan 2 gaun yang tadi menggantung di ruang keluarga. “Ini lho kok ndak di bawa masuk, AYU iki! Coba langsung dipake, mana yang kamu suka? Tole Hazar katanya pake jas warna emas, jadi lebih bak kamu pake yang ini nduk.” Ummi memberikan gaun gamis yang berwarna gold dengan pita di bagian perut. “Ummi, kalau boleh tau siapa yang memilihkan baju ini?” Tanyaku menatap ummi. “Kenopo tho nduk? ora pas tah?” Alih-alih menjawab malah Ummi mengkhawatirkan pertanyaanku. “Mboten ummi, ini pas dan Rara suka dengan warnanya," aku tak bisa berbohong, itu memang kanyataan pahitnya, aku suka dengan pemilihan warna serta modelnya. “Syukurlah kalo kamu suka, itu tole Hazar yang memesankan khusus buat kamu.” Sahut ummi mengelus pucuk kepalaku seraya berlalu dari kamar. Aku masih duduk diam tak bergeming didepan meja rias, haruskah aku bahagia mendengar ucapan Ummi bahwa dia yang memesankan gaun itu khusus buat aku. Rasanya bahagia itu tak terlihat nyata pada raut wajah yang tercetak pada cermin. Note :> Sembayan : Istri Muda / Madu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN