Tak ada satupun orang tua yang mau menjerumuskan anaknya, itulah kalimat yang sering ku dengar diluaran sana, termasuk abi dan ummi ku saat ini, kedua orang tuaku telah memilihkan jodoh terbaik versi mereka, akupun sebagai anak tak ingin durhaka hanya karena menolak permintaan mereka yaitu untuk menerima khitbah dari anak sahabatnya itu, Hazar Khoiru Ummah.
Aku sadar bahwa garis hidup telah ditetapkan jauh sebelum kehidupan ini sendiri ada, semuanya telah tercatat pada Lauhul Mahfudz, sehingga skenario sebaik apapun tak luput dari editor Sang Pengedali kehidupan ini. Meskipun aku percaya tuhan akan memberikan pilihan terbaik untukku, begitu juga dengan kedua orang tuaku.
Detik berganti menit, menit telah berganti jam, setelah ummi meninggalkan kamarku, aku mandi dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat sunat Dhuha, setelahnya aku lanjutkan dengan shalat Taubat agar Sang Khaliq selalu memaafkan segala perbuatanku entah lisan maupun batin, karena aku telah membenci sosok yang akan menjadi imamku.
Dalam sujudku aku memohon agar di berikan petunjuk mana yang baik bagiku dan mana yang tidak baik bagiku, dalam sujudku aku memohon agar selamat dunia akhirat, hidupku, agamaku, kedua orangku serta calon imamku yang Allah berikan kelak, terus kuendus aroma sajadah tebal nan empuk ini sambil terus memanjatkan doa agar sampai ke langit, tak terasa pipiku menghangat oleh air iris yang menitik.
Tok.. tok.. tok.. terdengar suara pintu diketuk, jantungku memacu pesat, berdebar hebat tak bertempo.
“Ning.. Ning Rara, sudah ditunggu nyai.” Aku hafal itu betul itu suara cemprengnya keponakanku Afifah.
“Iyo sabar.” Sahutku dengan melipat rukuh dan membungkusnya dalam sajadah.
Aku segera memoles wajahku tipis-tipis agar tidak terlalu pucat dan terlihat sembab karena habis menangis ketika bersujud tadi, pertama kucobai gaun yang putih, sedikit kebesaran dengan tubuhku yang kurus semampai ini, ku intip ukurannya di belakang leher ternyata L, segera aku lepas dan mencoba gaun gamis yang berwarna gold dengan pita di perut.
“Sungguh pas baju ini, ayu koyok Cinderella.” Lagi-lagi mulutku tak bisa mengerti akan hatiku yang sudah terkoyak. Karena jujur sejak awal aku memang menyukai hal-hal yang simpel dan sederhana, untuk pemilihan warna pun aku suka yang warna-warna teduh dan soft.
Kubalutkan kain segi empat dengan merk ternama yang tersemat pada ujung kain di leherku yang jenjang, lalu kusematkan bros berbentuk ka’bah kecil pada pundak sebelah kiri. Kusemprotkan sedikit wewangian di pergelangan tangan dan kugosok dengan lembut lalu kuusapkan sekilas pada gamis, tak lupa ku bingkai kakiku dengan mojah berwarna kulit.
Bismillah, kata itulah yang pertama kali kusebut saat melangkah keluar kamar, dengan sedikit ragu kutapakkan kaki ini perlahan karena beban gaun gold ini lumayan agak berat, ku jumput bagian tengah gamis agar sedikit terangkat supaya memudahkan aku tuk berjalan. Tak henti-hentinya aku melafazkan basmalah, jarak dari kamar menuju ruang tamu sekitar 4 meter namun terasa sangat dekat dan cepat, tepat di ambang tirai penghubung ruang tengah dan ruang makan mendadak kakiku terasa berat tuk melangkah, aku berhenti sejenak, mulutku komat-kamit membaca ayat Kursi serta ayat ke 10 surat Al-Kahfi agar senantiasa dimudahkan selama acara khitbah berlangsung.
Tirai kusibak perlahan, nampak seluruh keluarga besar abi dan ummi berkumpul termasuk para pekerja di pesantren, semuanya dikerahkan demi acara hari ini, ada bulik War sedang merangkai bunga hidup, ada bunga mawar putih serta kuning yang dirangkai menjadi 1 yang dipinggirnya dikelilingi daun serat bunga pikok segar, yang nantinya akan diletakkan ditengah-tengah meja sebagai centerpiece. Ada bulik Win menyusun bunga sedap malam, harum mendominasi seluruh ruangan. Guci-guci serta peralatan makan yang mengkilau dan mewah nampak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Disudut area masuk keruang makan kulihat cak Sulis menatapku dengan sinis. Ada apa gerangan dengan cacakku yang 1 itu?
Mbok Giyem dibantu mbok Pam menghidangkan makanan untuk jamuan makan siang nanti, ciri khas sejak dulu yang tak pernah hilang adalah menyajikan hidangan khas timur tengah, ada nasi kebuli kambing, nasi goreng, nasi putih, satay, kalkun panggang, gulai, kebab plus salad sayur, roti Maryam, 7 jenis kurma, kacang arab dan dilengkapi dengan Air Zam-Zam, masih ditambah kue-kue kering lainnya, tak ketinggalan krupuk khas Jombang yaitu krupuk gendar yang terbuat dari adonan nasi yang ditumbuk hingga halus lalu kemudian diberi bumbu dan rempah-rempah. Krupuk gendar sendiri adalah hasil dari buatan para santri dan santriwati.
Ketika aku berdeham kontan seluruh netra yang berada di ruang makan menoleh kearahku, kutangkap semua tatapan itu, seperti TAKJUB itulah yang bisa aku definisikan dari tilikan mereka, benakku kian hebat berdegup, keringat dingin membasahi kedua tapak tanganku. Aku berusaha tersenyum menyambut pandangan orang-orang terkasihku.
“Ning Rara, masyaAllah jamila.” Pekik Qiya dan Qina serentak.
“Bidadari surganya mas Hazar, mmpptt.” Kekeh Afifah dengan menutup mulutnya seperti meledek, netraku terbelak kearahnya.
“Ngger Hazar ora salah pilih, wes klop, seng siji ayu seng siji ganteng.” Mbok Giyem menimpali dengan netra berbinar. (Hazar tidak salah pilih, sudah cocok yang satu cantik yang satu tampan)
“Opo tho mbok.” Rajukku cemberut.
“Ponakan bulik ayu tenan, koyo cilik’ane bulik biyen, hihihi.” Kikik bulik Win. (Ponakan tante cantik sekali, seperti tante waktu kecil) aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan bulik.
“Oalaah nduk, kamu cantik banget ummi sampe pangling, ummi kiro Cinderella seng teko hehehe.” Puji ummi seraya berjalan mendekatiku dan mencium pipiku. (ibu kira cinderella yang datang)
“Ummi ih.” Manjaku dengan merebahkan kepalaku dibahu ummi.
“Wes.. wes yuk kamu duduk dulu yang manis, tamunya sudah tiba, tapi tidak kesini dulu, melainkan langsung kemasjid menunaikan sholat Jum’at bersama, baru setelah itu acara makan siang dan acara mengikat kamu.” Tutur ummi dengan logat jawanya seraya menggenggam kedua tanganku. Hangat dan mampu mengurangi kegundahanku yang semenjak tadi terus berpacu.
Aku duduk terdiam dengan sedikit peluh dikening, kulirik jam yang tertempel didinding, ia terus bergulir semakin mendekatkanku dengan sesuatu yang belum pernah terlintas sedikitpun di benakku, KHITBAH!
Tak terbayang sedikitpun nanti seperti apa acaranya, dan bagaimana aku harus bersikap, haruskah aku diam? Alias jaga image mengingat jangan sampai kejadian dihari pertama perkenalanku dengannya sudah meninggalkan jejak buruk. Atau aku cuek seperti adanya diriku? Alias berkelakuan sedikit tomboy, atau berlagak alim layaknya wanita-wanita solehah dan baik yang diam saja saat teraniaya? TIDAK! batinku meronta.
Kupejamkan iris ini memikirkan sikap apa yang harus ku ambil nanti, jika dia.. si pemuda itu, tiba-tiba saja membatalkan perjodohan ini, atau dia menerima saja namun dengan wajah dingin dan sikap arogannya.
“Bismillah ya Allah.” Gumamku bersamaan dengan peluh yang terjun dari pelipis dan mengenai punggung tanganku.
Note :>
Jamila = Cantik
Mojah = Kaos Kaki