Kubuang sejauh mungkin pikiran yang membuatku tersiksa, berusaha ber-Husnudzon dan menerima serta menjalani apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Suara-suara penyeruMu terdengar sangat jelas dari speaker masjid, itu artinya akan segera dilaksanakannya sholat Jum’at, dan setelah itu tibalah waktunya bahwa aku akan dilamar oleh pemuda itu, harus bahagia atau sedihkah aku? lagi pertanyaan itu hadir di benakku.
“Ning, jare nyai sembahyang sek, yuk bareng kita," ajak Qiya dan Qina mengingatkan untuk shalat Dhuhur dahulu sebelum menyambut tamu.
Aku hanya menoleh lalu mengikuti 2 keponakan kembarku menuju mushola yang ada didalam rumah, sudah kesekian kali kupanjatkan doa tuk diriku sendiri agar berusaha tenang, namun tetap saja jantung ini selalu berdebar tak menentu.
Setelah selesai menunaikan ibadah shalat Zuhur aku dan si kembar kembali ke ruang keluarga, aku sedikit merapihkan tatanan kerudungku didepan meja konsol, ku dengar suara bulik Win memberitahu Ummi jika selepas shalat Jum’at akan ada 1 acara dulu. Aku sedikit memiringkan kepalaku melihat kearah bulik Win.
“Acara opo tho Win?” tanya Ummi seraya melongokkan kepalanya dari kamar dan masih memakai rukuh, ternyata Ummi shalat di kamarnya.
“Acara santunan yu, Hazar memberi santunan anak yatim yang ada di ponpes ini, katanya setiap hari Jum’at memang dia selalu melakukan kegiatan itu," papar bulik Win sambil menirukan orang yang sedang membagi-bagikan amplop.
“Ooh Alhamdulillah, Jumat berkah, Barakallah cah soleh, calon menantu idaman, hehehe," kini Ummi sudah keluar dari kamarnya.
“Ayo ndang buru-buru diselesaikan dan dirapihkan, sebentar lagi dayohe teko, Abi pasti lapar, ini sudah mau jam 2 lho ya," titah Ummi.
"Enggeh Nyai!" serentak saudaraku menyauti Ummi.
Setelah beres semuanya, kami bersiap-siap untuk menyambut tamu agung keluarga H. Soleh, dulu di era Abi masih muda, H. Soleh adalah gurunya Abi, maka dari itu wajar saja jika Abi dan Ummi sangat menghormati beliau, dan mungkin saja menurut kedua orang tuaku suatu kehormatan bisa berbesanan dengan mereka. Tapi lain lagi jika itu menurut aku, mengorbankan anak semata wayangnya demi bisa mempererat tali silaturahim mereka, tanpa tahu isi hatiku, mukul dhuwur mendhem jero, demi menjunjung derajatnya orang tua meski merelakan hati menyimpan luka, Astagfirullah betapa jahatnya aku ini ber-ucap demikian.
Ramai cakap dan gelak berjenis bariton kudengar dari pelataran rumah, hati ini semakin gugup, tangan yang sedari tadi turut merasakan kecemasanku pun mengeluarkan peluh dingin tak terbendung.
“Assalamu’alaikum warahmatullah," salam takzim menggema laksana paduan suara.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah," balas kami dengan berjajar seperti menyambut tamu besan, dan aku berada di ujung barisan, bukankah ini acara besanan juga ya? heem entahlah.
Semua menyambut keluarga H. Soleh dengan suka cita dan bahagia, mengurai senyuman palsu tak luput dari bibirku, berusaha ramah walau hati sedikit marah, kini giliran pemuda itu yang menyalami kami semua, kudongakkan kepalaku yang sedari tertunduk lesu dengan senyuman palsu, netraku mencelos saat melihat ada Batari yang mengenakan pakaian senada dengan pemuda yang digamitnya itu, aku mengalihkan pandang ke gamis yang kupakai, ternyata serupa tapi tak sama, hanya warnanya saja yang seragam. One word for that girl, CANTIK.
Siapakah gadis itu, kenapa ia begitu mesra menggandeng calon imamku, oopss no no no, tidak, tidak! Belum tentu dia menjadi calon imamku, karena aku tak sudi untuk dijadikan yang kedua, ketiga atau sebagainya. Hei, kenapa dengan diriku, CEMBURU?
Ooh sorry, tentu tidak. Tapi tunggu dulu, sungguh mereka pasangan yang serasi bukan? wanita itu cantik, tidak terlalu tinggi karena dia hanya sebatas pundak pemuda yang digandengnya dengan mesra dan badannya lebih berisi, itu terlihat dari gamisnya yang tidak terlalu longgar, beda dengan diriku yang semampai alias kerempeng. Sembarangan kerempeng! lebih tepatnya tubuhku proporsional.
“Assalamu’alaikum kak Rara, aku Maryam.. MasyaAllah cantik sekali, gamisnya juga pas, pantesan mas Hazar kesemseng, katanya minta di temenin nyari kado cantik buat seseorang yang, eeuim cantik juga,” sapa dan goda gadis itu dengan menyikut perut pemuda disampingnya.
“Wa’alaikumsalam," sambutku dengan mengulas senyum malu-malu, ada perasaan bahagia yang mengalir perlahan dalam tubuhku. Kulihat pemuda itu hanya diam saja, alih-alih mengucapkan salam malah gadis yang ada disebelahnya, dan dia pun menatap kearah lain, lagi! Enggan menatapku. Tak apa! mungkin memang begitu pembawaannya, tapi nyatanya dia romantis kok, buktinya tadi gadis yang disampingnya bilang minta ditemenin nyari kado cantik buat seseorang yang cantik juga, hihihi pikirku konyol.
"Ning!" colek Afifah yang ada disampingku.
"Ssttt, opo?!" kataku setengah berbisik.
"MasyaAllah Ning, gantenge ga ketulungan, aku yo gelem le' dijodohin sama orang yang kayak dia, ck,ck,ck," ujar Afifah berdecak kekaguman.
"Ya udah ambil aja dia, aku sebel!" bisikku sebal, pasalnya pemuda itu tak ada ramah-ramahnya, atau lebih tepatnya, asem, datar dan angkuh.
"Beneran niiih? engko tak pek lho yo," kata Afifah meledekku.
"Beneran, aku bilang sama Nyai yo, kalo jodohnya buat kamu," dengan serius aku mengancam Afifah, mataku membola dan tajm menatapnya.
"Ojo Ning, cuma bercanda aja kok, iku lho wong e wes cedek!" seru Afifah dengan suara ditahan, agar tidak kedengeran orang.
“Apakah itu adiknya? Atau sepupunya? Yang pasti bukan istrinya, sebab dia memanggilku kakak," legaku dalam hati.
“Ayo monggo silahkan duduk," Ummi mempersilahkan tamunya, agar menduduki kursi yang sudah di sediakan, yaitu di ruang makan, meja makan itu berubah menjadi panjang setelah menggabungkan 2 meja serta menambah beberapa kursi.
Acara dibuka dengan sambutan Abi yang isinya tak jauh dari makna pertemuan 2 keluarga besar ini, selanjutnya acara makan siang dengan pembacaan doa terlebih dahulu, yang dipimpin oleh calon.. hmm.. pemuda yang duduk di sebrangku. Acara makan siang pun dimulai, kedua orang tua yang akan menjadi besan itu terlihat sangat bahagia.
Kunikmati apa yang ada diatas piringku, walaupun terlihat nikmat di netraku tapi itu tak mampu membuat hasratku ingin melahapnya hingga tandas, sesekali netra kami.. iya netranya dan netraku bersitubruk, entah apa yang ada dipikirannya, karena sulit sekali k*****a, sepintas lalu ia menatapku lalu segera beralih ketempat lain, begitu aku memergokinya, namun tatapannya sungguh dingin dan kaku.
Untung saja ada wanita cantik yang mengaku bernama Maryam, dia selalu ceria mampu membuat suasana jadi bertambah hangat, senyuman selalu menghiasi di bibirnya, beda sekali dengan pemuda yang ada disampingnya itu, dan satu yang membuatku penasaran sama sosok pemuda itu yaitu senyumnya, karena sudah 2 kali bertemu aku belum pernah melihat bibirnya ditarik kesamping, bahkan giginya pun, dia selalu merapatkan mulutnya, apakah giginya rumpang dibagian depan?
Aku tersenyum sendiri, ketika membayangkan saat dia tertawa lalu menampilkan gigi depannya yang rumpang, hingga aku tersedak. Spontan pria yang duduk dihadapanku itu mengangkat kepalanya dan dengan tatapan aneh dia melihatku yang sedang tersedak.
“Permisi.” Aku menundukkan wajahku sembari batuk-batuk dan berlari ke belakang.
Kulepaskan tawaku dalam kamar, sampai-sampai perutku sakit, didepan cermin aku cekikikan sendiri jika membayangkan seorang Hazar, cowok setampan itu giginya ompong dibagian depan. Hahaha..
Secepatnya aku rapihkan letak kerudungku, lalu kupoles lagi bibir dengan pelembap bibir berwarna merah jambu, kutambahkan juga bedakku, akibat tadi sempat berkeringat saat makan. Setelah dirasa sudah makin cantik, aku segera bergegas kembali keruang makan untuk bergabung dengan tamuku.
Sekembalinya aku dari kamar dan akan kembali duduk, kulihat pemuda itu tidak ada ditempatnya, kupindai seluruh ruang makan ini, tapi terlihat batang hidungnya.
"Kemana dia?" batinku.
"Ah bukan urusanku, kenapa harus mencari dia, atau jangan-jangan dia kabur, dan membatalkan pertunangan ini?" tanya batinku lagi, akhirnya aku berjalan menuju dapur dan ingin mencuci tangan.
"Syukurlah kalo dia kabur, dasar angkuh!" gerutuku sambil sesekali menengok kearah tempat duduknya dan tanpa memperhatikan arah depan.
Bughh!
"Aaaaaa.." jeritku.
Tubuhku menabrak seseorang, tubuhnya keras dan gempal, hingga aku mental, beruntung dia menangkap tubuhku, dia memegang kedua bahuku, wajahku dan wajahnya berjarak dua puluh centi saja. Sepersekian detik kami saling menatap, ada sesuatu yang mengalir aneh dalam diriku.
"Astagfirullah.." ucapnya, lalu buru-buru melepasku hingga aku benar-benar hampir jatuh, untung tak jauh dari tembok, jadi aku bisa pegangan.
"M..maafkan aku!" kataku sambil mengurai senyum dan mengusap bahuku.
Tampangnya datar dan kaku itu tak mengucap sepatah katapun, tatapannya tajam dan angkuh, lalu dia pergi meninggalkanku sendiri didepan dapur.