5. Khitbah

1918 Kata
Acara yang membuatku cemas hingga berpeluh dingin ini akhirnya tiba, setelah jamuan makan siang selesai, mbok Giyem dibantu mbok Pam, mengangkati piring serta gelas kotor, agar meja makan terlihat bersih. Aku sudah kembali dan duduk manis pada tempatku tadi, sorot mata tajam kadang menatapku secara diam-diam, tapi tadi kan aku sudah berjanji, menganggap dia.. si pemuda sombong itu tidak ada. “Seperti yang sudah dibicarakan Minggu lalu, bahwa hari ini kami, khususnya putra kami Hazar akan meng-khitbah nduk Rara,” suara H. Soleh membuka pembicaraan lebih dulu. “Sebelum acara dilanjutkan, buya mau tanya apakah nduk Rara bersedia di khitbah oleh Hazar?” tanya H. Soleh. Degg! Hatiku mencelos mendengar pertanyaan yang dilemparkan oleh H. Soleh padaku, kenapa harus ditanya lagi, kan sudah jelas semuanya, apakah aku boleh menolak dan berkata belum siap atau sejenisnya? “Nduk.. itu lho ditanyain oleh pak kyai?” colek ummi pada lenganku demi membuyarkan lamunan yang tidak masuk akal. “N-njih,” anggukku malas dan tak bertenaga, sepintas lalu aku memberanikan diri menatap pemuda yang duduk di sebrangku. “Astagfirullah,” batinku ketika aku mendapati iris tajam itu seperti berkata bodoh! Kenapa ga kau tolak saja, atau bisa saja Cepet jawab IYA. Sungguh sulit diartikan. “Kenapa harus aku yang menolak, kan kamu yang akan melamarku,” tegasku dalam hati, sengaja kutatap irisnya tak kalah tajam, meski akhirnya aku yang kalah dengan membuang muka kesamping. “Sekarang bagaimana dengan nak Hazar sendiri? Apakah akan serius melamar nduk Rara dan menjaganya?” cetus abi memecah keheningan sesaat. “Saya serius kyai,” jawabnya diplomatis, aku menundukkan kepala dan tak berani menatapnya lagi. “Alhamdulillaaaah,” kudengar semua orang mengucap syukur, kecuali aku. Kulihat Maryam berdiri dan mengeluarkan sebuah benda kotak kecil berwarna kuning emas bagian atasnya tersemat pita berwarna merah jambu dan bermanik 2 mutiara. “Baiklah kalo begitu kita mulai saja meng-khitbah nduk Rara dengan penyematan cincin ini,” H. Soleh bangkit dari duduknya, lalu menggeser kursinya memberi ruang padaku dan Hazar agar berdiri diujung meja makan. Aku dan pemuda itu berdiri bersamaan, lalu beringsut hanya 2 langkah dan berdiri bersandingan dengan dia, ternyata postur tubuhku setinggi telinganya. Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau. Tanpa sepatah kata ia meraih tangan kananku dan mengangkatnya sebatas d**a, aku terhenyak dan tak bisa menolak. Dingin dan halus itulah yang pertama kali aku rasakan ketika ia menyentuhku. “Bismillahirrahmanirrahiim,” ucapnya dengan mantab. “Allahumma soli’ala Muhammad,” dia bersholawat terlebih dahulu. "Allahumma innaka taqdiru wa lâ aqdiru wa lâ a’lamu wa anta ‘allâmul ghuyûbi. Fa in ra`aita lî fî ( Zahra Latifatul Zyva) khairan fî dînî wa âkhiratî faqdirhâ lî," “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Men-takdir-kan, dan bukanlah aku yang men-takdir-kan. Dan (Engkau) Maha Mengetahui apa yang tidak kuketahui. Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan Zahra Latifatul Zyva, untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya," dilanjutkan membaca doa untuk melamarku, baru kemudian menyematkan sebuah cincin berlian putih dengan 1 mata ditengahnya pada jari manis kananku. “Alhamdulillaaah,” kata hamdalah yang kedua kudengar dari seluruh anggota keluargaku. Sungguh aku tak memiliki nyali untuk menatap wajahnya, meskipun aku tahu, sepertinya dia sedang tersenyum, terdengar dari hembusan nafas serta dehamnya, aku fokus menatap kedepan, kearah kamera dimana ada Aqis yang sedari tadi mengabadikan moment acara lamaran ini. Sungguh aku tak sabar ingin melihat wajahnya ketika tersenyum, tuuuh kan penasaran, eheh! Aku terus mengangkat tangan dengan memamerkan cincin yang melingkar dijari manisku. Jepretan demi jepretan diarahkan kepada kami, oppss, kepada aku dan dia. “Kak Hazar lebih dekat doong, merapat gitu!” teriak Aqis sambil menganyun-ayunkan tangannya, memberi kode agar dia lebih mendekat. Aku mendadak gugup dan terasa membeku manakala lengannya bersentuhan, NO! bukan bersentuhan melainkan sudah menempel, yaa kita, haduuh maksudnya aku dan dia benar-benar menempel dan itu terasa sampai lenganku terdorong kesampingm sangking kencangnya dia mendekat. Lalu kulihat Maryam setengah berlari kearah kami, KAMI? yaaa sudahlah kami aja, hhmm. “Mas Hazar tangannya gini loh, yang luwes jangan kaku gitu, mosok koyok patung,” kata Maryam dengan manja. Maryam mengangkat tangan Hazar dan diarahkan ke pinggangku dengan maksud agar merangkul pinggangku, sepintas aku melihat Hazar menolak dengan mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan. “Iiih ayook buruan,” paksa Maryam dengan melingkarkan tangan Hazar di pinggangku. “Dek please ini kan baru lamaran!” gumamnya pada Maryam. “Wes tha lah menengo ae,” Maryam ngotot agar Hazar merengkuh pinggang rampingku. (udahlah mas diam aja) Kaku dan canggung itulah yang aku rasakan ketika tangannya sudah melingkar, ada desiran aneh yang merambat pelan dalam aliran darahku, jantungku berpacu lebih cepet dari sebelumnya, peluh mendadak luruh dipelipisku tanpa dikomando, padahal pendingin ruangan yang berdiri disudut ruang juga yang tertempel didinding sudah cukup maksimal suhunya. Semua orang yang mendengar ucapan Maryam tergelak seraya mengiyakan, aku masih belum berani menatapnya, jangankan memiringkan kepalaku, meliriknya saja aku enggan. “Lebih rapat lagi!” seru Aqis. “Sekarang saling memandang,” timpal Maryam. “Ada-ada aja nih permintaan Maryam,” kudengar dia bergumam demikian. “Aduuh aku harus natap dia? Gusti paringi kekuatan,” batinku seraya menggigit bibir bawahku. (Tuhan beri kekuatan) Sebelum aku menatap irisnya, kulayangkan tatapanku ke seluruh anggota keluarga, mereka nampak bahagia, jelas terpancar dari iris mereka mengharapkan kami berdua bahagia sampai hari pernikahan tiba. mereka sibuk sendiri-sendiri, para sepupu dan keponakan saling bercengkrama dengan sesekali tatapan mereka tertuju kepada Hazar, lalu mereka tertawa. Sesi mengabadikan moment lamaran telah usai, kami berdua duduk kembali dikursi masing-masing. Irisku masih menekuri benda berkilau yang menglingkar dijari manis ini. Ummi, Abi kulihat sangat bahagia, begitu juga dengan ummu dan abunya Hazar. “Alhamdulillah, ali-ali sudah melingkar di jari ning Rara, marilah kita mengucapkan Hamdalah, bukti kita mensyukuri rahmat Allah SWT karena telah memberikan kelancaran pada hari ini,” ucap H. Soleh seperti mengomando kami agar tidak sibuk masing-masing. (Cincin) “Alhamdulillahirabbil’aalamiin,” ucap kami semua untuk yang kedua kalinya dengan serentak seraya mengusap muka dengan kedua tangan. Acara selanjutnya yaitu ramah tamah, agar lebih mempererat jalinan tali silaturahmi 2 keluarga ini, bulik, paklik, bude, pakde, sepupu, keponakan sudah beringsut dari tempat duduknya, begitu juga Maryam gadis ceria dan supel itu kini telah membaur dan akrab dengan para sepupuku yang kira-kira usianya sebaya. Tinggallah abi dan H. Soleh, aku serta Hazar, juga ummi dan Hj. Syaripah, obrolan abi tak jauh seputar perjuangan para santrinya di Kairo yang sukses dan besar membawa bendera pesantren serta bangsa Indonesia, ummi membahas pengajian jaman sekarang sudah tidak seperti jaman ummi muda dulu, pengajian ibu-ibu muda jaman sekarang sudah ditunggangi dengan acara arisan serta menjadi ajang pamer baju serta perhiasan atau riya, na’udzubillahimindzalik. Dia dan aku hanya jadi pendengar setia, dan sesekali ikut tersenyum dengan apa yang di bicarakan oleh kedua calon besan. Aku pun sesekali mencuri pandang pada pria yang ada didepanku, begitupun dengan dia, terkadang dia diam-diam memperhatikan aku walau dengan tatapan aneh dan sulit dijelaskan. Ketika iris kami bertemu, aku spontan melempar senyum padanya, sungguh aku mengutuk bibir ini, yang sangat mudah sekali tersenyum, sedangkan dia hanya menarik ujung bibirnya dengan kaku. “Sumpah demi apapun, aku nyesel melempar senyum padanya, timbang senyum aja kok medit,” sungutku dalam hati. Setelah acara ramah tamah selesai dan sudah puas saling bertukar pikiran, kami semua menunaikan sholat Ashar berjamaah, menjelang pukul 4 sore, mbok Giyem terlihat sibuk menyajikan kopi panas dan teh hangat serta beberapa cemilan sebagai pelengkap minuman. Aku masuk kedalam kamarku, duduk didepan cermin seraya memulas sedikit bedak yang sudah pudar akibat tersapu air wudhu tadi, tipis-tipis kuoleskan lagi bibir merah muda, lalu kulepas perlahan kerudungku yang basah, lalu segera kuganti dengan yang baru namun beda warna. "Ah acarane wes rampung, aku pake warna navy aja deh, cakep juga, gold dipaduin dengan kerudung biru dongker, hhmm, AYU!," pujiku pada wajah yang ada dicermin. (ah acaranya sudah selesai) Setelah rapih aku kembali keluar dari kamar, kulihat diruang makan hanya ada mbok Giyem dan mbok Pam yang sedang beres-beres perabotan serta membersihkan sampah kulit kacang serta gelas plastik bekas, ku seret kaki ini menuju teras samping, dimana terdengar para sepupuku yang tertawa dan saling becanda, benar saja semua sepupu serta keponkaan berkumpul disana, mereka sedang bermain tebak-tebakkan, yang kalah atau yang tidak bisa menjawab, mukanya akan ditaburi bedak. Aku berdiri diambang pintu, tanpa ku sadari ternyata ada Hazar juga yang sedang duduk sambil senyum-senyum memperhatikan para bocah yang sedang bermain, diam-diam kunikmati wajah tampan nan angkuh itu, jujur baru kali ini aku benar-benar melihat raut wajahnya dengan jelas, dia tertawa lepas, tersenyum. "Sepertinya aku pernah liat muka ituuu, tapi dimana yaa," gumamku sambil menikmati senyumnya yang.. "Yaaah bisa dibilang manis pake banget, hhmm." "Lho ada ning Rara tho, sini ning kita main tebakan bareng seru tauk," panggil Qiya melambaikan tangan. aku hanya tersenyum simpul sambil mendekati mereka. "Sini kak, sekarang giliran kak Rara yang coba jawab tebakan aku yaa," Maryam juga memanggilku. Aku menggelengkan kepala sambil tertawa dengan menutup mulutku dengan telapak tangan. "Udaah ga apa-apa cuma bedak doang kok, sini buruan," imbuh Maryam ngotot ngajak aku bermain, sekilas ku lihat wajahnya berubah menjadi menunduk sambil memainkan gawainya. Aku berjalan lalu duduk dibelakang Afifah. "Piring.. piring opo seng iso ndelok bulan," pekik Maryam dengan semangat melempar pertanyaan agar ku tebak. (piring, piring apa yang bisa liat bulan) "Mana ada piring seperti itu?" tanyaku sambil tergelak. "Ada kak, coba tebak," teriak Maryam cengar-cengir. "Kalo ga piring ajaib, piring yang dikasih air dalamnya atooo piring yang terbuat dari kaca," jawabku ragu sambil menutup mukaku, karena aku ga mau mukaku ditaburi bedak nantinya karena salah menjawab, terlebih didepan Hazar, bisa rusak reputasiku hahaha, bukan itu maksudnya bisa malu lah aku, mosok ayu gini belepotan bedak. "Hahaha salaah!" gelak Maryam sambil bergeser kearahku dan membubuhi mukaku dengan bedak. "Aahhh ga mau!" gelengku berteriak sambil terus menutupi muka dengan tangan sambil bergeleng-geleng. "Maaf ya kakakku yang cantik, pakai bedak ini biar tambah cuantiiik," Maryam membubuhi mukaku dengan bedak tabur. Sontak aku jadi bahan tertawaan seluruh keponakan dan sepupuku, ku intip pemuda yang duduk disudut dari celah jariku, ternyata dia tak peduli, dia sangat acuh dan mengabaikanku dalam permainan tebak-tebakan bersama Maryam adiknya. "Yuk ah udah sore, bubar-bubar! mbok Giyem jam segini waktunya beres-beres," ajak si kembar. Satu persatu bangun dan pergi meninggalkanku seorang diri yang duduk dibawah, eh.. ternyata masih ada hazar deh yang duduk di kursi sudut teras, aku bangkit dan memberanikan diri untuk mendekatinya, meski aku deg-degan dan tak tahu harus berbuat apa, karena aku tipe orang yang tidak bisa basa-basi, lebih baik diam, dan membiarkan suasana yang mencairkan kebekuan ini. "Ehhem," dehamku memberi kode agar dia tak asyik dengan gawainya. Tapi dia tidak terusik, malah dia makin asyik dengan bacaannya pada layar gawai, entah apa yang dia baca, jujur aku bingung harus memanggil dia dengan sebutan apa, Mas, Akhi, Kakak, atau nama saja? tapi ga mungkin kalau aku memanggil dia nama saja, umurnya saja diatasku 4 tahun, pasti ummi dan abi juga melarangku jika aku memanggil nama saja tanpa embel-embel mas atau kak, itu namanya ngoko. (ngelunjak pada orang yang lebih tua umurnya) "Kak! eiium makasih gaunnya dan kerudungnya," kataku mencoba memecah keheningan. Dia melirikku lalu memperhatikan dari atas sampai bawah, lagi! tatapannya itu lho, sungguh susah dideskripsikan oleh ku, lalu ia melihat lagi keatas dan.. "Itu bukan kerudung dari aku, dan maaf jangan panggil aku kak, aku bukan kakakmu!" ujarnya sambil mengantongi gawainya lalu pergi begitu saja. Duuarrr! Bagai terkena bom molotov untuk yang kedua kalinya, kenapa wajah tampan, soleh serta ber-etitude tinggi itu dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati tunanganya? mukaku panas serasa sedang berdiri didepan tungku raksasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN