Tidurku terusik, bayangan itu dan wajah itu, aku menggeleng hebat dengan mata masih terpejam, suara santri mengaji di masjid pesantren terdengar sangat jelas, dengan peluh membasahi seluruh tubuh ini, kulirik jam weker diatas meja, ternyata masih pukul 2 dinihari, aku segera berdzikir ketika teringat mimpi yang baru saja menjadi bunga tidurku, agar terhindar dari kejahatan serta tipu muslihat.
“La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumitu, biyadihil khoir, wa huwa 'ala kulli syai'in qodir.”
”Tidak ada Tuhan selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Atasnya kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Tiba-tiba aku teringat Hazar, satu pekan sudah pemuda tampan, soleh dan kaku itu melamarku, kini statusku sudah menjadi milik orang, meskipun belum disahkan secara agama dan hukum, akan ku jaga kehormatanku serta nama baik keluarga besarku, hingga hari yang dinanti itu tiba.
“Tapi tak ada hubungannya mimpiku tadi dengan Hazar, dan tak ada hubungannya pula antara Hazar dan anak itu," kuseka peluhku dengan tangan.
"Huuf anak laki itu! kenapa dia hadir lagi dalam mimpiku, setelah sekian tahun tak pernah muncul,” desahku, lalu bangun dan meneguk air putih hingga tandas.
Semasa duduk di bangku Tsanawiyah (SMP), mimpi itu kerap hadir, remaja lelaki yang pernah kutemui secara tak sengaja ketika masih kecil itu, selalu membayang di mataku, remaja itu kira-kira sudah SMP dan aku masih duduk di bangku Ibtida'iyah (SD).
Aku berjalan menuju kamar mandi dan segera kuambil air wudhu meski terasa dingin, aku akan menjalankan kegiatan rutinku, bertahajud memohon Ridho Allah serta meminta petunjuk dalam segala hal, agar dimudahkan dan diarahkan kejalan yang lurus.
Pagi ini aku harus cepat sampai kelas, karena hari ini waktuku untuk mengajar para santriwati tentang akhlak terpuji serta kalimah Tayyibah dalam pelajaran Akidah Ahklak, tiba-tiba Gus Mo melambaikan tangannya seraya mendekat.
“Ning.. Ning Rara!” panggil Gus Mo.
“Iya Gus, ada apa” sahutku tanpa menatap wajahnya.
“Ono masalah opo tho, kamu sama Hazar?” selidik Gus Mo.
“Masalah opo tho?” tanyaku dengan heran, sebab tak ada hujan dan tak angin, ia menanyakan hal tersebut.
“Di hari mengkhitbah kamu, aku ga sengaja liat kalian ditaman, sepertinya Hazar tidak benar-benar menyukaimu Ning,” tukas Gus Mo dengan menatap tajam kearahku, sepertinya sedang mencari jawaban atas pertanyaanya.
“Gus Mo menilai dari sudut mana? kok bisa tau jika DIA memang tak menyukaiku?” kataku dengan ketus, terus terang aku tidak suka mendengarnya.
“Dari caranya Ning, dia dingin dan cuek, apalagi pas dia bilang, kamu bukan adiknya, kenapa kamu malah diam saja, harusnya kamu sahutin, wajar kamu manggil dia kak, toh dia lebih tua, dan sebentar lagi dia akan jadi suami kamu tho,” Gus Mo mencoba mengipasi bara dihatiku yang terpendam sekam.
“Semua bukan urusan Gus Mo, maaf! Rara sudah ditunggu, permisi,” kutinggalkan Gus Mo dengan senyum smirk-nya.
“Cih.. Hazar ra cocok karo kowe Ning,” masih terdengar decih Gus Mo walau dia mengucapkan dengan pelan. (Hazar tidak pantas sama kamu Ning)
Kini aku sudah berada di kampus, setelah tadi pagi mengajar para santriwati di pesantren, tadi di kelas saat mengajar pikiranku melayang jauh, mengingat ucapan Gus Mo tadi pagi, mendadak hilang konsentrasiku dalam mengajar.
Gus Mo adalah teman baik dari kakak sepupuku yaitu Cak Sulis, sekilas aku mendengar bahwa Gus Mo adalah masih sepupuan sama Hazar, namun sepupu jauh dan tidak terlalu akrab juga, Gus Mo tinggal dan menuntut ilmu di pesantren Az-Zikra milik abi ini sudah hampir 3 tahun, kini dia sudah diperbantukan untuk mengajar para santriwan, Cak Sulis dan Gus Mo berteman sejak masih sekolah Madrasah Tsanawiyah di Malang.
Aku tidak terlalu menyukai dia, karena dia memiliki sifat yang suka mencari muka dan mencari perhatian lebih pada abi, jika ada abi dan ummi, dia pura-pura sibuk dan banyak cakap, aku sangat tidak menyukai pria yang doyan ngoceh, kalau kata ummi, Gus Mo itu grapyak alias ramah tapi lebay.
“Apa maksud dari semua ucapan Gus Mo ya?” tanyaku dalam hati sambil membuka buku agar tak terlihat sedang melamun. Akhirnya kuputuskan pulang saja dan tidak mengikuti makul keduaku, karena tetiba kepala ini mendadak pusing juga malas untuk melanjutkan masuk kelas.
“Gimana Nduk, apakah nak Hazar sudah menghubungimu,” tanya ummi saat aku makan bersama abi dan ummi sepulang kuliah, aku hanya menggeleng.
“Loh kok geleng tok!” celetuk abi.
“Ya memang Bi, lagipula Rara belum pernah ngasih nomor ke dia,” jawabku dengan enggan.
“Ummi yang kasih nomor kamu ke nak Hazar, rapopo tho?” aku ummi sambil tersenyum, dan aku mengangguk pelan.
“Ummi.. Abi..” panggilku lirih, kupandangi wajah kedua orang tua yang kuhormati itu secara bergantian.
“Kenapa tho Nduk? Wajahmu kok mendung begitu?” seolah Ummi sudah paham dengan raut mukaku yang sendu.
“Sepurane Ummi Abi.. saget dibatalake mboten? perjodohan niki,” Ummi dan abi seketika memberhentikan kegiatan makannya, padahal suaraku sangat lirih saat mengutarakan isi hati ini, dan aku tak berani menatap iris mereka. (Maaf sebelumnya ummi, abi, bisa dibatalin tidak, perjodohan ini)
“Opo?!” Abi terhenyak, sepertinya sedang menatapku tajam, tapi aku tak kuasa mengangkat kepalaku yang sengaja kutundukkan.
“Opo Ummi ora salah krungu, Nduk?” suara Ummi bergetar. (apa Ummi ga salah dengar)
“Sekarang apapun alasannya, Abi sudah tidak mau mendengarnya,” bahana murka Abi membuat nyaliku ciut .
“Apalagi yang kamu cari tho Nduk? Inget umur kamu sudah berapa? Rong Puluh Telu, sebentar lagi nggelincir Rong Puluh Limo, Abi karo Ummi isin Nduk, Ummi emoh duwe anak siji dadi perawan tuwo, na’udzubillahimindzalik, amit-amit ora ono keturunane sing dadi perawan tuwo.. emoh Nduk.. emoh..” tutur Ummi dengan menahan tangisnya. (23 sebentar lagi 25 tahun, ayah dan ibu malu, ibu tidak mau punya anak satu-satunya jadi perawan tua, amit-amit, tidak ada keturunan yang jadi perawan tua)
“Abi dan Ummi sudah ingin segera menimang putu, Nduk,” tambah Abi lirih seperti ada rasa sakit yang beliau rasakan. (cucu)
“Astagfirullahaladzim,” sambat Abi dengan berat. Aku terpekur dan membeku.
“Nak Hazar kurang apa Nduk? Mapan, pintar, soleh, sudah bisa menggantikan posisi Kyai Soleh di Yayasannya, mau cari yang bagaimana lagi, tidak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya,” wejangan Ummi terus menyeruak kedalam telinga dan otakku.
“Nyuwun sewu, hiks, hiks,” aku menangis seraya pergi meninggalkan kedua orang tuaku.
“Ndukk!” panggik Ummi dan aku mengabaikannya.
“Ada apa dengan anak kita tho Bi?” tanya Ummi sedih.
Saat meninggalkan ruang makan tadi, kudengar abi menghela nafas sangat dalam dan berat, kuhempaskan tubuh ini dengan hati yang sesak dan sakit, entah kenapa badanku hari ini sangat letih dan terasa pegal-pegal, seolah turut prihatin atas hatiku yang sedang merana. Wejangan Ummi menari-nari dibenakku, serasa menarik gejolak jiwaku yang ingin berteriak.
“Abi.. Ummi.. coba kalian lihat, belum apa-apa lelaki pilihan kalian sudah mengoyak dan memporak porandakan hati emasku ini,” teriakku dalam kalbu.
Mungkin Allah sedang menghukumku, sudah berapa insan yang kutolak atas pinangannya, bisa saja penolakanku melukai hati mereka, kini jodoh itu sudah didepan mata, tapi sepertinya dia yang menolakku, entah ini hanya perasaanku saja atau memang pemuda itu ingin menolak tapi tak kuasa tuk menghindar, dan jika sudah seperti ini, aku bisa apa?
“Astagfirullah wa’atubu ilaih, kau memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepadaNya,” desahku dengan mata terpejam.
Toh penolakanku juga sangat halus dan sopan, tapi itu mungkin menurutku, beda lagi dengan mereka yang kutolak, bisa jadi lebih dari seribu pasak yang menghujam di hati dan mencacah jiwanya, kini aku hanya bisa menangis tergugu yang ditimpali bahana abi, sepertinya abi murka mendengar penuturan atas pembatalan tunangan ini.
Tuk.. tuk.. tuk..
Kudengar pelan seperti suara orang mengetuk jendelaku, kedekatkan telingaku kearah sumber suara itu, bunyi itu terdengar lagi, setelah kupastikan bawah memang jendelaku diketok oleh seseorang.
Tuk.. tuk.. tuk..
"Ning.. Ning Rara," suara dari luar jendelaku.
"Kok koyok suarane Afifah," gumamku seraya melangkah mendekati jendela yang terbuat dari kayu jati.
"Afifah? Gus Mo?" tanyaku sedikit kaget dan mengernyitkan dahi, ku tengok jam didinding, pukul 8 malam, aku terkejut untuk yang kedua kalinya, pasalnya, ternyata aku tadi tertidur tak sengaja selama 4 jam.
"Ya Allah aku melewatkan shalat Ashar dan Maghrib," keluhku dalam hati seraya membentangkan daun jendela dengan lebar.
"Ning, iso metu ora? sebentar aja," ucap Afifah yang dianggukkan oleh Gus Mo. (Ning, bisa keluar ga?)
Aku menengok lagi, namun kali ini kuarahkan pandanganku kepintu, aku berlari dan segera kuselot pintu kamar agar tidak yang masuk, kuseret kakiku mendekati Afifah yang sudah berdiri di ambang jendela, aku melompati jendelaku yang lebar dan rendah, lalu duduk sambil sesekali menoleh kebelakang.
"Ada apa, malem-malem gini," tanyaku penasaran.
"Begini, tapi Ning Rara jangan kaget ya," Afifah menjeda ucapannya.
"Wes Gus Mo ae seng ngomong," colek Afifah ditangan Gus Mo. (Dah Gus Mo saja yang bilang)
"Ck, cepetan ada apa sih kok serius gitu," tanyaku sambil menyipitkan mata.
"Gini Ning, ternyata Hazar itu tidak sungguh-sungguh mencintai kamu, sebab sudah ada orang lain dihatinya, jauh sebelum dijodohkan dengan kamu, tapi Ning Rara sabar dulu," ujar Gus Mo pelan dan hati-hati.
"Ohya, lalu kenapa dia mau dijodohkan denganku?" aku seolah masa bodoh, agar menutupi keterkejutan atas apa yang disampaikan Gus Mo.
"Kalian tau darimana? lalu apa ucapan kalian bisa dipercaya?" ucapku berusaha tenang, padahal hati ini sudah kembang kempis ingin meledak.
"Soal perjodohan itu, bisa saja ada udang dibalik batu," ujar Gus Mo kasak-kusuk.
"Gus Mo punya buktinya Ning, tapi ga di bawa, ketinggalan dipondok," timpal Afifah.
"Aku ga percaya, sampai kalian bisa membuktikan ucapan tadi, lagipula aku juga ingin segera membatalkan perjodohan ini, terlebih jika memang ada bukti konkritnya," kataku dengan menahan sekuat tenaga agar butiran hangat tak mengalir menjebol bendungannya. Untung cahaya depan jendela agak redup dan posisiku membelakangi lampu, sehingga Afifah dan Gus Mo tidak begitu jelas melihat irisku yang sudah memerah.
Aku bangkit dan meninggalkan sepupuku serta Gus Mo, kudorong jendela agar tertutup, tapi sebelum kurapatkan daun jendela, sekilas kutangkap wajah Gus Mo yang lagi-lagi mengulum senyum smirk-nya.
"Kalian pergi sana, sudah malam, aku mau shalat Isya," tutupku sembari menyelot jendela.
"Maafkan kami Ning, mungkin Ning Rara sedih mendengarnya, tapi harus segera diutarakan, sebelum terlambat," Afifah nyerocos seperti petasan banting dan aku sudah tidak tertarik mendengarnya.
Luruh sudah air mata ini tak mampu kubendung, sesak lagi dan lagi, tangisku pecah, rasanya kakiku tak memiliki tulang, tubuhku merosot ditepi ranjang, aku bersimpuh menangis dan mengemis pada Allah, agar menguatkan penyangga tubuh ini.
Aku merangkak mendekati ambal yang terhampar dilantai kamar, aku bersujud mempertanyakan pada Sang Pemilik Pena Kehidupan, suratan apalagi yang tertulis untuk diriku. Berteriak pun abi dan ummi tak akan pernah mengerti, aku pun heran, seambisius itu mereka mengingin aku agar berjodoh dengan Hazar, mungkin masih banyak pria baik diluaran sana, hanya saja akunya yang tak mau memperdulikan pendamping hidupku.
Aku masih ingin bermanja-manja dengan kedua orang tuaku, aku masih ingin bermain bersama teman serta keponakan, aku masih ingin belajar, belajar dan belajar, aku juga ingin sekali menempuh ilmu di negeri orang, begitu kembali ke tanah air, cita-citaku mengamalakan ilmu yang aku miliki untuk masyarakat yang membutuhkan tanpa dipungut biaya serupiah pun.
Sungguh muliakah?