Lamat-lamat kudengar suara wajan bersenandung karena bergesekan dengan sutil, dari arah dapur aroma menguar ke penciumanku, beberapa bumbu yang dipadukan akan menghasilkan bau sedap dan membangkitkan selera makan serta membuat cacing di dalam perut berteriak dan bergoyang ingin segera diisi.
Harum percampuran berbagai bumbu dan santan membuat olahan daging sapi menjadi sedap dan empuk, semakin aku mempercepat langkahku untuk menuju kesana, mengingat terakhir makan adalah sepulang kuliah kemarin, dan itupun tak sampai habis.
Semalaman hujan deras mengguyur kota Jombang dan sekitarnya, otomatis hawa pagi ini sangat dingin, namun aku sudah mandi sejak subuh tadi, hanya saja aku enggan keluar kamar, aku keluar kamar dalam keadaan rapih ingin berangkat kuliah, cuaca dingin membuat perutku lapar lebih awal.
“Masak rendang ya Mbok?” seruku membuat Mbok Giyem kaget dan latah.
“Eh copot.. rendangnya copot,” teriak Mbok Giyem spontan ingin memukul aku.
“Eiit ga kena,” candaku meledek wanita tua yang sudah bertahun-tahun bekerja pada ummi.
“Haduuuh Ning Rara ngagetin Simbok aja,” omelnya.
“Iya masak rendang kesukaan Ning Rara, Ning Rara mau makan duluan? Udah mateng lho,” tawar Mbok Giyem sembari mengacungkan jempolnya.
“Boleh mbok, Rara laper sangat nih, kok sepi pada kemana Mbok?” kulongokkan kepalaku kesana kemari.
“Lho, Kyai sama Nyai kan pergi ke Malang, tadi diantar Sulis,” jawab Simbok.
Deg..!
“Ke Malang Mbok?”
“Iya Ning, katanya ada urusan sebentar.”
“Simbok tau ga, ada urusan apa?” selidiku.
“Embuh Ning, Simbok ora ngerti, perginya juga terburu-buru, takut kesiangan katanya,” Simbok mengambilkan semangkuk rendang makanan kesukaanku serta setengah centongn nasi, sudah menjadi kebiasaanku jika makan, nasi secukupnya tetapi lauknya yang selebihnya, hehehe. Makanya aku dijulukin Si Kurting alias kurus tinggi.
Seharusnya kunikmati rendang kegemaranku ini, namun entah kenapa rasa rendang hambar seketika, manakala teringat Abi dan Ummi yang sedang ke Malang.
“Ada apa mereka ke Malang? Ke tempat Kyai Soleh kah atau ketempat lain?” benakku terus bertanya-tanya.
“Suwun ya Mbok, ueenak tenan,” pujiku dan langsung bergegas kekamar menyambar tasku dan kunci motor yang tergantung didekat meja belajar.
“Sama-sama Ning, udah mau berangkat kuliah tho?” tanya Mbok Giyem, namun aku sudah menjauh dari ruang makan.
“Mbok, Rara jalan dulu ya, Assalamualaikum,” pamitku dan langsung ngacir.
“Wa’alaikumsalam Ning, hati-hati,” pesan Simbok.
Ketika aku sedang memanaskan kuda besiku, ada getaran serta yang berasal dari gawai didalam tas. Kurogoh tasku dan segera melihat siapakah yang memanggilku sepagi ini.
“Sopo iki, nomere tak dikenal,” ocehku seraya melirik jam ditangan.
Sengaja tak ku angkat, jika memang penting pasti dia akan menelpon kembali atau minimal mengirimkan pesan singkat melalui SMS. Tak berbunyi nada dering lagi, namun berubah menjadi nada beep menandakan pesan masuk, segera kubuka dan k****a.
“Assalamu’alaikum, aku sudah menunggu 1 jam didepan kampus, apa kamu tidak kuliah?” nomor tak dikenal itu mengirimkan pesan tanpa memberitahukan identitasnya.
“Maaf ini dengan siapa? Ada keperluan apa menunggu saya di kampus,” jawabku sarkas.
“Jawab dulu salamnya baru kamu jawab pesannya,” balas nomor itu.
“Iiiish sopo sih iki, wes kawanen ono-ono ae.” (siapa sih, udah kesiangan ada-ada aja)
“Waalaikumsalam,” aku membalasnya sambil ngomel.
Aku menyematkan baju kebesaranku yaitu jaket levis yang kedombrangan, celana jeans biru muda dengan tunik coklat, serta sepatu kets hitam yang membingkai kakiku, segera kupakai helm maron serta sarung tangan lalu langsung nangkring diatas kuda besi berwarna merah, Yamaha vixion keluaran terbaru. Dan gawaiku berbunyi lagi.
“Sudah jawab salamnya kenapa tak segera menjawab pesannya?”
“Errgh cerewet amat,” kucemplungkan gawaiku kedalam tas lagi, kuabaikan saja pesan terakhir darinya, segera kutancap gas motorku dengan cepat agar segera sampai dikampus.
Dari rumah menuju kampus memakan waktu sekitar 30 menit, tentu saja aku penasaran siapa yang pagi ini mengirim pesan dan berhasil membuatku kesal sekaligus penasaran, jalan yang basah membuatku tak bisa melarikan motorku dengan cepat seperti biasanya.
Kutepikan motor besarku dekat pintu gerbang, tanpa melepas helm dan tak turun dari atas motor, aku perhatikan di sekitaran kampus, apakah ada seseorang yang sedang menantiku? Kupindai seluruh sudut halaman kampus, taman, halte serta pos satpam, tak ada satu insan pun bercokol disudut manapun.
Gawai pun tak bergetar lagi, namun aku tetap penasaran, kurogoh lagi gawaiku dan melihat apakah ada pesan masuk, dan ternyata tidak ada, ketika hendak kumasukkan lagi, gawai itu berbunyi.
“Iiih ngerjain banget sih ni orang,” gerutuku.
“Kamu kuliah atau ga? lama sekali?”
Kuabaikan lagi pesannya dan kutancap gas masuk menuju parkiran, pintu gerbang menuju parkiran lumayan jauh, kampus yang luas dengan jalanan lebar pun membuatku leluasa menunggangi kendaran dengan satu tangan, karena tangan kiriku memegang gawai, namun tiba-tiba muncul mobil sedan berwarna putih dari arah kanan dan membuatku tersentak serta hilang kendali, tangan kiriku reflek memegang stang motor dan melupakan gawaiku, roda motorku berkelok-kelok dan..
Ngeuung..
Splash.. Byuur..
“Waaaaaaaa.. Astagfirullah, hampir aja nyungsep,” aku dapat menguasai stang motorku namun aku tak dapat menghindar cipratan dari kobangan air yang menggenang karena dihantam roda mobil yang melaju, kontan baju, celana serta sepatu kotor dan basah.
“Heiii berenti!” teriakku sia-sia, pasti si pengendara tak dapat mendengar teriakanku, sempat kulihat nopol mobilnya huruf N, angkanya samar tak terbaca dan huruf belakangnya A saja.
“Gawaiku!” pekikanku membuat mahasiswa yang sedang berjalan kaki menengok semua, aku langsung turun dan mengambil gawaiku yang retak dan kotor.
“Yaaah, tapi masih untung ga hancur, mobil siapa sih itu? ga liat ada kubangan air apa sih! udah tau habis hujan,” kuseka gawai dengan ujung kerudung.
“Sombong sekali orang itu, masa iya dia ga liat ada air,” gerutuku sambil menengok mobil sedan putih yang sudah jauh meninggalkanku.
Aku sempat berpikir, pasti benda tipis kecil ini mati, tapi ternyata tidak, karena setelah kubersihkan, benda itu bergetar dan bunyi, segera k****a pesan yang masuk.
“Aku tunggu di depan pintu gerbang,” isi pesan itu.
“Maaf aku ada kelas dan sudah terlambat,” aku balas demikian tentu karena aku kesal, memang sudah telat juga aku masuk kelas, kulihat kebagian bawah pakaianku, kotor dan basah, setelah membalas pesan entah dari siapa, aku matikan gawaiku.
Seluruh isi kelas terpana kearahku ketika aku sampai didepan kelas dan bersamaan pula dengan datangnya dosen, bukan terpana karena takjub atau terkesima, namun terpana heran padaku yang masuk kelas dengan celana kotor dan basah.
Berhubung aku mahasiswi yang cuek dan tak peduli pada komentar orang, aku langsung menundukkan kepalaku pada dosen, lalu seperti tak terjadi apa-apa aku duduk dengan tenang, padahal jujur sebenarnya, secuek-cueknya aku, masih punya rasa malu, malu sama dosen juga malu teman sekelas.
“Siapa kamu namanya? Euung..”
“Zahra pak!” jawabku diplomatis.
“Yak Zahra, kenapa baju kamu kotor seperti itu? apa kamu habis ngangon kerbau?” tanya dosen seraya menurunkan sedikit kacamatanya dan diiringi sorakan dan tawa teman-temanku.
“Anda benar sekali pak, saya dari sawah langsung kekampus,” sengalku sedikit kesal.
“Sudah-sudah kalian berhenti tertawa, bapak hanya guyon,” ucap pak dosen akhirnya. (bercanda)
Hampir 1 jam aku abiskan waktu didalam kelas, kini celana ku sudah kering dengan sendirinya, namun tetap terlihat kotor, terlebih warna celana panjangku yang berwarna biru muda, namun sepatuku yang masih tetap basah dan bau pastinya, aku teringat akan seseorang yang katanya sedang menunggu di depan pintu gerbang.
Kularikan sepeda motorku dengan pelan dan santai, belum sampai didepan pintu gerbang, aku menghentikan motorku, dari tempatku berhenti, jelas kulihat mobil sedan berwarna putih yang membuat celanaku kotor, kupacu lagi motorku dan berhenti tepat dibelakang mobil tersebut, cepar-cepat aku turun dan menghampiri sipemilik mobil yang sombong itu.
“Akan aku kasih pelajaran dia, semena-mena, mentang-mentang numpak mobil, SOMBONG!” aku ngoceh sendiri sambil berjalan menghampiri mobil putih itu. (naik mobil)
Tik.. tik.. tik.. ku ketuk kaca mobil itu dengan batu cincinku.
“Heh! Buka!” pekikku dari luar.
Tak lama kaca mobil itu diturunkan oleh pemiliknya, aku tak percaya begitu kaca mobilnya sudah dibuka, seketika tubuhku membeku seperti menelan bongkahan es batu, terggorokanku dingin dan kaku, aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun, aku sendiri heran, kenapa tiba-tiba diam mematung. Kemanakah kekuatanku tadi, kemana sumpah serapah yang sudah aku siapkan untuk memaki seseorang yang sudah membuat kotor pakaianku ini.
“Mas Hazar,” cicitku tiba-tiba saja mulut ini memanggil orang itu dengan embel-embel mas.
Dia hanya diam saja, menatapku datar seperti melihat orang asing, lagi! Pandangannya sulit diartikan, dia menatapku sekilas lalu ia alihkan tatapannya kearah cincin yang aku buat ngetuk kaca mobilnya tadi, kemudian pandangannya segera ia buang kedepan, dan membuat mukaku memanas.
“Ya Allah beri aku kesabaran,” sebutku dalam hati, aku mengatur nafasku yang tiba-tiba saja memburu, lalu kutarik nafas dalam-dalam dan..
“Selamat anda telah sukses membuat baju saya kotor, dan sukses membuat saya menjadi bahan tertawaan dosen dan teman sekelas,” dengusku seraya pergi meninggalkannya dengan wajah datar dan tak bersahabat itu.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, tak ada suara yang berusaha memanggil namaku atau mencegahku pergi, aku semakin mangkel saja dibuatnya, dengan kasar aku menaiki motorku dan menstarternya dengan kasar dan kencang, kulewati mobil itu dengan tidak menengok sama sekali.
“Jangan-jangan dia orang yang mengirim pesan dan menungguku, Astagfirullah, kenapa jadi begini sih,” desahku sambil mengurangi kecepatan motorku.
“Ya Allah Gusti, ternyata itu Mas Hazar, ada perlu apa dia ke kampus ingin menemuiku, dengan aku yang berpakaian seperti ini,” keluhku bermonolog.
“Maluu banget iih, ketemu Mas Hazar dalam keadaanku seperti ini,” jeritku dalam hati. Hei! Tunggu! Apa kataku tadi? Malu? Kemanakah rasa cuekku selama ini, bertahun-tahun aku nyaman dengan sikap cuek dan tomboiku ini, tapi kenapa hari ini, aku merasa malu sama orang yang sudah membuat hatiku porak poranda dan hari ini, dia membuatku kesal sekaligus membuatku salah tingkah.
Aku mencoba memperbaiki posisi spion sebelah kiri, kulirik dari dalam spion, ternyata dari kejauhan mobil sedan putih itu mengikuti. Jantungku semakin berdebar kencang.
“Maunya apa sih? dia menganggap aku tunangannya bukan sih? dasar patung es!” lagi aku memaki calon suamiku sendiri, Opps belum tentu jadi calon suami, kalo sikap dia ke aku masih sama.
Kulirik kaca spionku lagi, dan mobil itu semakin dekat berada tepat dibelakangku, tanpa membunyikan klakson sama sekali, aneh sekali pikirku, aku semakin kesal jika teringat ucapan Gus Mo dan Afifah malam tadi, semoga apa yang diucapkan itu tidak benar, buktinya mereka tak ada kabar sampai sekarang.
Apa mereka mencoba menghasut Hazar? supaya perjodohan ini batal, toh baru tunangan saja kan, tidak ada pihak yang merasa dirugikan, anggap saja ini belum rejeki dan bukan jodohku. Namun jika benar adanya cerita tersebut, aku harus tegas mempertanyakan, jangan ketularan seperti dia, diam membeku seperti tadi.
Jujur demi apapun aku sudah legowo menerima perjodohan ini, tapi dihari pertama pertemuanku dengannya yang membuat hatiku sedikit tak bisa menerima ucapan serta perlakuan dia.
Semakin kupercepat laju motorku, ia pun semakin cepat pula, sengaja kupermainkan laju kendaraanku, sebentar lambat sebentar kencang, 15 menit lagi sampai dirumah, apakah ummi dan abi sudah pulang? entahlah.
Tapi bagaimana jika Hazar mencegatku, dan memang ada sesuatu yang ia ingin sampaikan atau bicarakan ke aku, tapi dianya saja tidak berusaha mendahalui atau memberi kode agar aku berhenti dan menepi. Yo wes lah! (ya sudahlah). Aku sibuk dengan hati dan pikiranku, namun aku harus tetap focus dan konsentrasi jika ingin selamat sampai rumah.
“Loh kok mobilnya ga ada?” saat kulirik spionku, memang tak nampak mobil itu disana, lalu kemanakah mobil itu?
Aku terhenyak dan langsung menginjak rem kaki dan menarik rem tangan seketika, saat kuarahkan pandanganku kedepan, tiba-tiba saja mobil putih itu sudah ada didepanku dan hampir saja aku menabraknya jika aku tidak mengerem mendadak. Untung aku masih dapat menguasai emosiku, kali ini bukan salah dia, tapi salahku yang sedari tadi aku melamunkan banyak angan yang terpendam.
Pengendara mobik putih menepi dan berhenti pada simpang jalan yang agak luas dan sepi, dia keluar dengan sebuah paper bag bertuliskan logo merk produk baju ternama, ia cepat-cepat ke tengah jalan berusaha menghentikan laju kendaraanku dengan melambaikan tangannya agar aku menuruti perintahnya, menepi dan berhenti.
Sekilas kulihat dia tersenyum diujung bibirnya yang hanya sepersekian detik saja, dan itu walhasil mampu menentramkan hatiku yang sedari tadi kalut terbalut emosi, hatiku berteriak.. Masya Allah MENAWAN!
Aku menepikan motorku dan sengaja aku diam tak turun dari atas kuda besiku, ku tunggu reaksi dia, mau apa dengan benda yang ada ditangannya itu? dari atas tanah terlihat bayangan tubuh tinggi tegap itu semakin mendekat kearahku. Kenapa aku merasa bahagia ya? hhmm..
“Nih ada titipan dari Maryam buat kamu,” dia menyodorkan tas yang terbuat dari kertas tebal itu padaku, dari arah belakangku sehingga aku tak bisa melihat ekspresinya.
“Lain kali lebih berhati-hatilah jika berkendara, itu bisa membahayakan keselamatan orang lain,” imbuhnya lalu pergi begitu saja dan masuk kedalam mobil, tanpa menengok, lagi-lagi bayangan itu membantuku dari rasa ego yang menahan agar tidak menoleh kearahnya.
Teerrrr..
"Apa dia bilang? keselamatana orang lain, bukan keselamatan tunanganya yang cantik ini," aku ngedumel dalam hati.
Belum hilang rasa bahagiaku karena dia mendekat, tapi kini dia sudah merobek pita kebahagiaanku dengan sikapnya, aku menerima benda dari tangannya dengan malas, aku belum sempat mengucapkan terimakasih, tapi dia sudah pergi dengan mobilnya.
“Errgghh, dasar kaku! ga ada romantis-romantisnya,” omelku seraya menggantungkan tas kertas tadi pada stang kiri motorku, dan aku pun segera pergi dengan membawa benda yang menurut sipembawa tadi titipan dari adiknya. Segan aku menyebut namanya, apalagi kutuliskan, maaf ya Reader. Hihihi
Memasuki halaman pesantren, kulihat ada 2 santri berlari mendekat sambil meneriakkan namaku, kupelankan laju motorku dan kulepas helm lalu ku kalungkan pada lengan kiri.
“Ning Rara!”
“Ning!”
“Gendis, Lembayung! Ada apa?”
“Ini ada titipan dari Gus Mo, buat Ning Rara,” Gendis mengeluarkan amplop kecil dari sakunya dan diberikan kepadaku.
“Suwun yo, Ning balik dulu,” ucapku.
“Sama-sama Ning.”
“Opo sih iki? kaku isinya," aku membolak-balikkan kerta putih ber-lem itu.
Kurobek ujung amplop dengan hati-hati, khawatir isinya ikut koyak, kutarik perlahan kertas kaku bergambar dengan warna yang sudah lusuh karena dimakan usia, ada 2 lembar kertas bergambar dan didalamnya terdapat 2 anak remaja dengan orang yang sama namun berbeda tempat dan waktu.
"Foto?" aku menyipitkan irisku.
Deg..
"Foto ini?"