Aku tak baik-baik saja. Jika Ummi dan Abi menanyakan keadaanku, itulah jawaban yang tepat. Lagi! aku menganggap ini adalah hukuman dari Tuhan, apa yang telah kita tanam, itulah yang akan kita tuai, begitulah satu pepatah mengatakan.
Dulu aku banyak menolak lamaran lelaki yang datang kerumah, dan kini setelah aku mulai menerima apa yang dipilihkan oleh kedua orang tuaku, namun dia tak sesuai dengan harapanku, sifatnya tak setampan wajahnya, sikapnya tak semanis senyumnya, ucapannya tak seindah suara mengajinya.
Aku terlalu berharap banyak dan lebih, namun tak sesuai dengan ekspektasiku, kini aku bagai sampan yang kehilangan arah tujuan, tanpa angin dan tanpa dayung yang bisa membawaku sampai ke tepi. Akankah aku meneruskan perjodohan ini ataukah berhenti sampai disini?
Takkan kuajukan lagi pertanyaan yang sama pada Ummi dan Abi mengenai pembatalan rencana yang sudah mengikatku dan membawaku pada orang lain.
Mimpi buruk masa lalu kerap hadir menjadi bunga tidurku, masih jelas dalam ingatanku wajah remaja itu, dia mengambil topiku yang di kira milik temannya, dan sampai sekarang entah dimana rimbanya topi tersebut.
“Foto ini!” irisku nanar menatapnya.
Seorang remaja laki-laki dan perempuan sedang duduk berdua mengenakan seragam SMP, dan foto yang 1 lagi, orang yang sama sedang bersenda gurau sambil bermain dakon. (congklak)
“Apa untungnya foto ini buat aku?” kulempar foto tersebut ke sembarang arah.
Lalu kuarahkan pandangan ke atas meja belajar, disana ada paper bag yang diberikan oleh Hazar dari Maryam untukku, kudekati dan kuraih lalu kubuka.
“Untuk Zahra,” k****a tulisan yang ada didepan tas itu.
“Ga ada embel-embel kak, aneh!” ternyata didalamnya ada sebuah buku tidak terlalu tebal, buku tersebut adalah buku kumpulan cerpen hasil tulisan dari Maryam dan sebuah kerudung berwarna macarone blue. Buku bercover warna pink itu dibalut dengan pita biru, sedangkan kerudung biru itu dililit pita berwarna pink.
“Waah hebat masih kelas 2 SMA udah bisa nerbitin cerpen karya sendiri,” kagumku pada gadis ramah itu.
“Wanita Solehah, Gadis Pemilik Topi Merah, Antara Dia dan Busur Panah, Gadis Penunggang Kuda, Jodohku, Jamila, Kairo I’m Coming, Ana Uhibbuki Fillah, Pembohong Abadi,” k****a setiap judul cerpen yang ditulis oleh Maryam, semuanya menceritakan tentang seorang wanita.
Aku tertarik untuk membaca cerpen-cerpen tersebut, ada 10 judul yang berhasil Maryam bukukan, setelah k****a hampir setengahnya, aku menyipitkan irisku dan berpikir.
“Kalo dilihat-lihat semua ceritanya dari sudut pandang penulisnya sih laki-laki, tapi bener ah, ini yang nulis Maryam?” aku bermonolog.
Dan memang benar adanya, bahwa buku tersebut tercantum nama Maryam sebagai penulisnya, lantas kenapa 5 dari ceritanya hampir mirip dengan kisah kehidupanku ya?
“Diih gede rasa banget aku hihihi, terutama kisah Gadis Pemilik Topi Merah,” kikikku seraya meneruskan membaca, dan aku merasa ada yang aneh dalam cerita buku tersebut, tapi apa yaaa? ah sudahlah, mungkin itu hanya kebetulan saja, aku tak mau dengan cepat menilai sesuatu hal dan mengambil kesimpulan.
“Ning Rara!,” kudengar suara Mbok Giyem memanggilku.
“Iya Mbok!” sahutku sambil berteriak namun aku tak membukakan pintu.
“Di tunggu Kyai dimeja makan.”
Aku segera memunguti 2 foto yang aku lempar tadi, serta membereskan buku juga kerudung, semua kumasukkan kedalam paper bag lagi, dan aku simpan diatas meja belajar.
“Iya Mbok, Rara ganti baju dulu, Simbok duluan aja, ga usah nunggu Rara,” perintahku, lantas aku segera menutup pintu lagi dan mengganti bajuku yang sedari pulang kuliah belum kuganti.
“Gimana Nduk keadaanmu? dari kemarin malam Ummi baru liat kamu,” tanya Ummi sambil mengambilkan sedikit nasi untukku.
“Anakmu ini tak baik-baik saja Ummi,” tapi itu hanya berani kuucapkan dalam benak saja.
“Alhamdulillah baik Mi,” sahutku tanpa berani menatap Ummi, terlebih pada Abi, karena kulihat sedari tadi Abi hanya memandangi lauk pauk yang ada dimeja makan dengan wajah antara serius dan termenung. Mulut dan hatiku selalu berbeda.
“Ono opo tho iki, kok aku dadi deg-degan,” batinku dengan sedikit takut. (ada apa ini, kok aku jadi berdebar-debar)
“Yo wes Syukurlah kalo apik, tadi Ummi sama Abimu ke Malang, ke tempat Kyai Soleh, ada rapat dadakan mengenai perayaan hari besar Maulid Nabi, lalu ketemu nak Hazar, katanya mau menemuimu di kampus, apakah sudah ketemu Nduk?” tanya Ummi dengan
“Oooh rapat, aku kira ada apa,” legaku dalam hati.
“Eeiim, sudah Ummi, dia membawakan titipan dari Maryam buat Rara.”
“Loh kok Dia tho Nduk, kamu harus menyebut Mas.. Mas Hazar, sebab dia lebih tua 4 tahun dari kamu, dan sebentar lagi akan jadi suami kamu,” timpal Abi mengajariku agar memanggil Hazar dengan sebutan Mas.
“Enggeh Bi.”
“Dari Maryam? Lho! Bukannya itu dari nak Hazar sendiri?” Ummi menatapku heran.
“Bukan Ummi, Mas Hazar sendiri yang bilang, kalo itu titipan dari Maryam,” aku mencoba membela diri.
“Lho lho lho.. aneh.. lha wong Hj. Syarifah seng kondo, ono Pak Pos ngeterke kiriman paket teko Jakarta, jare kanggo Ning Rara, ngono Nduk,” Ummi pun tak mau kalah. (Lho, aneh, orang Hj. Syarifah yang bilang, ada pak pos nganter paket dari Jakarta katanya buat Rara)
“Wes Mi, judule Hazar isih isin-isin, hehehe,” imbuh Abi sambil terkekeh. (masih malu-malu)
“Hahaha iyo Bi, maklum Hazar itu anaknya pendiam dan pemalu, sopan, baik, soleh tentunya, dan ndak banyak omong,” pujian pada Hazar itu sungguh berlebihan.
“Siapa bilang dia sopan? Buktinya dia seenak udelnya aja ke Rara,” celetukku tanpa sadar.
“Hah!” Ummi dan Abi melongo.
“Hah! m-maksud Rara itu Gus Mo Mi.. Bi.. hehe,” sahutku gugup dan langsung menelan nasi yang belum sempat kukunyah, spontan mataku mendelik. (melotot)
“Nduk.. Nduk.. sama orang tua itu ndak boleh mendelik-mendelik, kualat tauk,” kata Ummi sambil mengambilkan air buat aku.
“Sepurane Ummi, Rara keseretan, aaah,” kusambar gelas dari tangan Ummi dengan tak sabar, dan kutenggak isinya, lalu meminta maaf. (maaf ibu, Rara keselek)
Ummi dan Abi menertawakan aku sambil geleng-geleng, kulihat raut wajah mereka biasa saja, tak ada sorot curiga mengenai ucapanku yang lepas kontrol tadi. Aku tadi memang tak sadar dan spontan, kuhela nafas lega dan melanjutkan mengisi amunisi pada kantung perutku.
“Jadi sebenarnya titipan itu dari dia sendiri? Aneh!” kata hatiku masih menerka-nerka, apakah itu benar dari Maryam atau dari kakaknya.
Kami melaksanakan shalat Mahgrib berjamaah di masjid, karena setiap malam rabu di masjid pesantren diadakan pengajian Mingguan yang dipimpin oleh Abi dan Cak Sulis, jika Cak Sulis tidak bisa hadir karena ada kegiatan di luar pesantren, maka digantikan oleh Gus Mo. Malam ini jatah Abi memberikan tausiyah pada jama’ahnya.
“Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim, Innal hamdalillah, nahmaduhu wa nasta’i nuhu, wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusina wa min sayyiati a’malina, mayahdillahu fala haadiyalah, asyhadu alla ilaaha illaullah, wahdahu laa syarikalaah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh, la nabiya wala rasuula ba’dah.”
“Segala Puji bagi Allah, sholawat dan salam-Nya semoga tetap tercurahkan keharibaan Nabi Agung Muhammad Saw beserta keluarganya serta para sahabat dan pengikutya hingga akhir jaman.”
Para jamaah sekalian, mencari Ilmu Demi Menggapai Ridho Allah, Ma’aasirol Muslimin Rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan ketaatan serta ibadah kepada Allah SWT. agar senantiasa dirahmati Allah.
Adapun untuk meningkatkan ketaqwaan, maka tentu saja kita harus mau belajar, mau mengaji dan mau menimba ilmu. Seluruh ilmu yang dapat menjadikan kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah. Baik itu berupa ilmu-ilmu ibadah mahdoh, seperti tata cara sholat, membaca Al-Qur’an, berpuasa dan berhaji, serta ilmu pengetahuan tentang pendidikan umum juga tehnologi canggih saat ini yang sedang terndi dikalangan anak muda yaitu alat komunikasi.
Kata “Ilmu” itu berasal dari Bahasa Arab ‘Alima, Ya’lamu, ‘Ilman, yang berarti “mengerti sesuatu”, atau juga berasal dari kala ‘allama yang berarti “memberi tanda atau petunjuk” yang berarti pengetahuan. Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Setiap orang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu, hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw :
طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.”
Dengan semakin sering kita menuntut ilmu, maka kita akan lebih banyak tahu tentang banyak hal. Meski benar bahwa prioritas dalam menuntut ilmu adalah mempelajari ilmu agama, khususnya ilmu iman dan islam serta ilmu mengenal Allah.
Namun umat Islam tidaklah boleh begitu saja mengabaikan ilmu-ilmu lainnya. Karena tanpa ilmu, umat Islam hanya akan menjadi terbelakang dibandingkan dengan umat-umat lain di muka bumi ini.
Hadirin yang saya cintai, dengan ilmu kebahagiaan dunia akan kita rasakan,d engan ilmu juga kebahagiaan alam akhirat pun dapat kita raih sebagaimana termakhtub dalam hadis nabi yang artinya:
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu”
Bahkan ayat pertama yang diturunkan pada Rasulullah adalah perintah membaca (Iqra! Bacalah!). Aktifitas membaca ini dapat dilihat sebagai salah satu cara uuntuk memperoleh ilmu, orang yang menuntut ilmu dianggap sederajat dengan pasukan yang sedang berjihad.
Demikianlah siraman rohani malam ini, semoga bermanfaat, billahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warohmatullahhi wa barakatuh.
Abi mengakhiri tausiyah singkatnya, karena akan dilanjutkan dengan bedah tafsir hadist yang dikhususkan para santri dan jamaah lelaki saja, aku beserta Ummi dan Simbok juga semua sepupuku kembali kerumah masing-masing yang masih dalam lingkungan pesantren.
Sambil menunggu Abi kembali dari masjid Aku dan Umii duduk di beranda samping sambil ngobrol-ngobrol dan hanya berdua saja, mbok Giyem sedang menyiapkan makan malam untuk kami.
“Ummi, besok tolong buatkan bekal untuk Rara ya, besokkan hari Rabu,” pintaku pada Ummi seraya merebahkan kepalaku pada pangkuannya.
“Iya, biar Simbok yang siapkan, di kulkas sudah ada tempe bacem dan empal daging tinggal di goreng saja, besok pagi Ummi ba’da subuh akan ke Blitar memenuhi undangan H. Guntur yang sedang mengkhitankan cucunya, sekalian menemani Abimu silaturahmi,” jawab Ummi sambil mengelus pucuk rambutku.
“Hah empal! Asyiik sekalian lalap dan sambelnya Mi, kalo gitu bawa lebihan aja, biar Si Kembar bisa makan juga,” ucapku senang.
“Loh ada Qiya dan Qina? Memang mau kemana tho?” tanya Ummi menatap irisku.
“Kan besok Rabu Ummi, jadwal Rara mengajar mereka dan santri lain untuk berkuda, sorenya langsung kelas memanah, biar Rara ga bolak-balik pulang kerumah, jadi dari kampus langsung ke lokasi aja,” paparku.
“Ndak sebaiknya kegiatan itu dikurangi saja tho Nduk, lebih baik waktu kamu dihabiskan mengajar dikelas tertutup saja, kamu sudah punya tunangan, biar kulit kamu mulus, dan mulailah merawat diri biar tambah cantik, lebih ke feminim, ngono Nduk,” Ummi menoel pipiku sambil tersenyum.
“Emangnya Rara sekarang ga cantik ya Mi?” tanyaku dengan memonyongkan bibirku.
“Dari dulu sampai sekarang dan sampai nanti-nanti, Ning Rara-nya Ummi dan Abi akan selalu cantik, apalagi kalo penampilan kamu dirubah lebih feminim lagi, pasti terlihat lebih cuantik, dan Nak Hazar makin kesemsem sama kamu,” Ummi mencubit dagunya sambil digoyang-goyang.
“Iiih Ummi, dikit-dikit Hazar,” cemberutku.
“Eh eh Mas.. Mas Hazar, kalo kedengeran keluar Kyai Soleh ndak enak Nduk, disangka Ummi dan Abi tidak mengajari kamu sopan terhadap calon suami.”
“Tuuh kan dia lagi,” Aku memiringkan tubuhku membelakangi Ummi.
"Berkuda dan memanah kan udah ga bisa dipisahkan dari Rara Mi, dan lagipula Rara ga mau ninggalin kegiatan itu," kata sambil memberengut.
"Kalo dia, eeiim m-maksudnya Mas Hazar tidak mau sama Rara ya sudah, lagipula Mas Hazar juga belum tentu mencintai Rara," ucapku lagi dan kali ini dengan nada pasrah.
“Memang ada masalah apa tho Nduk? kenapa kamu tiba-tiba ingin membatalkan tunangannya, mumpung tidak ada Abi, kamu bisa leluasa cerita pada Ummi,” tanya Ummi serius.
“Dia sepertinya tidak mencintai Rara Mi, dia sudah punya kekasih jauh sebelum dijodohkan sama Rara,” ucapku dengan manja.
“Lhoh! Kamu tau darimana kalo nak Hazar tidak mencintai kamu dan sudah punya yang lain?”
“Dari sikapnya Ummi, tidak sehangat yang Rara kira, dia cuek dan agak kasar,” cemberutku lagi.
“Apa? kasar! Kasar bagaimana? Ummi ndak ngerti, memang kamu sering bertemu?” sepertinya Ummi kaget mendengar ceritaku.
“Kasar dalam arti ucapannya Ummi, dia tuh ga sopan, dia memperlakukan rara seperti teman biasa, bukan tunangannya, aduuh gimana ngejelasinnya, aaah sulit dijelaskan Ummi, hanya Rara yang bisa merasakan, Rara ga mau nikah sama orang yang tidak sama sekali mencintai Rara, buat apa mengarungi biduk rumah tangga tanpa cinta dan kasih sayang, Rara ingin seperti Ummi dan Abi yang saling menyanyangi serta saling melengkapi,” tak terasa pipiku basah oleh air mata.
Perlahan Ummi mengusap air mataku yang luruh, kudengar nafasnya ditarik dengan berat, sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini pada Ummi, karena tak tega melihat Ummi kecewa, terlebih pada Abi, lantas aku akan curhat kesiapa lagi jika bukan kepada Ummi.
“Yang sabar yo Nduk, witing tresno jalaran soko kulino, kejarlah dengan Sholawat, tangkap dia perlahan-lahan dengan Ar-Rahman serta yakinlah bahwa Nak Hazar adalah yang imam yang baik kamu Nduk,” Ummi berusaha meyakinkan. (cinta tumbuh karena terbiasa)
“Tapi Ummi, masalahnya dia udah punya yang lain sebelum perjodohan ini,” rengekku.
“Wes Nduk ojo nangis, nanti Abi curiga.”
“Tapi Ummi, masalahnya dia..” Ummi memotong ucapanku.
“Sek.. sek Nduk, kamu tau darimana tho? kalo nak Hazar sudah ada yang lain, kenapa dia mau dijodohkan dan tidak menolaknya, ono-ono wae cah saiki,” selidik Ummi.
“Gus Mo, Ummi, dia yang bilang, dan Afifah juga tau,” jelasku.
“Sukatmo kok digugu, lambe memel,” decak Ummi sambil meletakkan kepalaku dikursi. (Sukatmo kok dipercaya, bibir bawel)
“Tapi Ummi, nyatanya seperti itu,” aku merajuk menarik daster Ummi supaya tidak meninggalkanku.
“Wes tho Nduk, pasrahno karo Ummi, Sukatmo wes ra genah,” gerundel Ummi sambill berjalan masuk. (sudahlah semua serahkan pada Ummi, Sukatmo tidak beres)
“Nduk, jujur sama Ummi, apakah kamu mencintai Nak Hazar?” tiba-tiba Ummi kembali lagi dan bertanya demikian yang sontak membuatku pucat.
“Jawab saja dengan jujur Nduk, ndah ada saiap-siapa disini,” desak Ummi.
Aku tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahku, dan sepertinya Ummi sudah paham apa maksudnya. Jujur sejak pertama melihatnya aku sudah ada rasa, namun yang membuatku membenci dia adalah ucapannya serta sikapnya yang dingin dan kaku.