9. Hazar Khoiru Ummah

2364 Kata
Hazar Khoiru Ummah Itulah namaku, sejak kecil aku sudah di tempa dengan pendidikan agama yang kental, dan dalam lingkungan yang mengedepankan bahwa agama adalah segala-galanya, aku pernah mendengar ceramah Buya ketika aku masih kecil, Buya mengatakan kita lahir secara Islam, kita hidup dengan nafas Islam dan matipun dikebumikan secara Islam pula, jadi tak ada yang diragukan lagi akan kesolehan dan ketaatanku dalam beribadah. Aku hidup seperti anak-anak pada umumnya, meskipun aku terlahir dari keturunan yang menurut cerita turun menurun itu masih cicitnya cucu dari Wali, namun tak menjadikanku harus bergaul dengan kalanganku saja. Aku pun bermain dengan anak-anak kampung belakang rumahku yang megah dan luas. Rumah megah serta sebuah yayasan yatim piatu yang didirikan diatas tanah seluas 10 hektar itu, membuat warga sekitar sangat menyegani keluargaku, terlebih Buya adalah salah satu tokoh agama terkemuka dan terkenal didaerahku. Pada suatu hari Buya mengajakku serta beberapa anak yatim yang ada di yayasan untuk berpartisipasi dalam acara Milad sebuah pondok pesantren di Jombang, yang pemiliknya adalah murid Buya jaman sekolah dulu, akupun menyanggupi dan sudah menjadi pemimpin grup terbang. Sesampainya di pondok pesantren itu kami disambut dengan meriah oleh para santriwan dan santriwati, kami sebagia tamu kehormatan dan menjadi pusat perhatian, karena kami semua terdiri dari laki-laki yang bisa dikatakan soleh dan ganteng-ganteng, uhuk.. uhuk. Kini saatnya kami, aku dan teman-teman yang berjumlah 20 memainkan benda bundar yang di pegang oleh masing-masing pemain, kulihat ada gadis kecil berlari bersama teman-temannya, sekedar ingin melihat rombongan para santri yang lewat sambil memainkan terbang, termasuk aku diantaranya. Gadis itu terlihat berbeda dari teman-temannya, jumlah mereka ada 6 orang, jika yang lain mengenakan kerudung saja, tapi tidak dengannya, dia menambahkan topi berwarna merah diatas kerudungnya, mungkin maksud dia untuk menutupi mukanya dari sengatan sinar matahari, kulitnya hitam dan kurus, tapi dia selalu tersenyum sehingga menampilkan deretan giginya yang putih dan bersih. Tomboi dan berani itulah pertama kunillai dia saat berlari paling depan dan paling kencang, dari cara berpakaiannya pun terlihat berbeda, jika yang lain memakai rok panjang, dia mengenakan celana panjang berbahan tebal seperti getuk lindri, serta kaos lengan panjang, namun digulung hingga kesikut. Dia sangat antusias ketika ikut menyanyikan sholawat nabi yang kami bawaan dengan diiringi terbang, sekumpulan gadis kampung itu terlihat bisik-bisik dengan pandangan terus mengarah kepada kami sebagai remaja masjid yang ganteng dan sopan, hehehe yang datang dari kota Malang. Acara miladul pesantren Az-Zikra mengusung tema “Yang Muda Yang Beragama dan Berkarya” ini dimeriahkan dengan berbagai perlombaan, acara dilepas oleh KH. Fathan selaku pemilik pondok pesantern Az-Zikra, dengan penggutingan pita dan pemukulan gong serta penyambutan kepala dewan serta beberapa Kyai Jombang dengan terbang yang dipersembahkan Yayasan Yatim Piatu dari Malang yang dipimpin oleh diriku sendiri sebagai anak dari KH. Soleh pemilik yayasan. Adapun perlombaan yang diadakan dalam acara tersebut adalah hafalan juz 30 Al-quran untuk tingkat SD, mencari hafiz dan hafizah terbaik se-Jombang, lomba pidato dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, lomba melukis diatas kanvas, lomba membuat kreatifitas dari barang bekas, merangkai elektronik menjadi PC Board serta lomba mendesign baju muslim. Kebanyakan mereka yang mengikuti perlombaan dari santri pesantren yang ada di Kota Jombang dan sekitarnya, dari yayasan yang Buya pimpin saja mengirim 15 peserta, entah dari pesantren lain, yang pasti acara tersebut sangat ramai dan dipadati oleh tamu undangan, para peserta lomba serta, masyarakat sekitar pesantren. Acara itu sangat meriah, banyak stand-stand yang memenuhi lapangan pondok pesantren, mereka menawarkan berbagai jenis makanan, minuman, souvenir serta buah tangan, terutama oleh-oleh yang mencerminkan Kota Jombang serta ciri khas Provinsi Jawa Timur. Ketika rombongan terbang ku hendak menuju masjid untuk melaksanakan shalat Dhuhur, kami berpapasan dengan sekolompok gadis kecil itu, mereka berlarian sambil bersenda gurau, gadis bertopi itu berlari tidak melihat kami yang baru saja belok dan hampir saja dia menabrak rombonganku, namun dia terus berlari hingga tak menghiraukan jika topinya terjatuh dari atas kepalanya, akhirnya kuambil topi tersebut, karena aku yang berjalan paling belakangan. Ingin berteriak memanggilnya, tak tahu namanya, ingin mengejar tapi dia sudah jauh, ya sudah aku pegang dulu saja, mungkin nanti bisa bertemu lagi dengan gadis kecil itu, pikirku. “Loh Haz, kupluk’e sopo?” tanya Tedi temanku, setelah kami selesai shalat. (loh Haz, topinya siapa?) “Kupluk’e arek wedok cilik seng mlayu maeng iku lho,” jawabku sambil menunjuk jauh. (topinya anak perempuan kecil yang tadi lari itu lho) “Lapo koen cekel?” (ngapain kamu pegang) “Lha arep tak balekno, arek’e wes adoh,” sahutku datar. (lha mau aku balikin anaknya sudah jauh) “Yo wes, yuk lanjut,” ajak Tedi sambil melihat topi yang aku pegang. Rombonganku keluar dari masjid, ketika sampai di tikungan tadi kami bertemu lagi dengan anak-anak gadis kecil yang berlarian tadi, dan ada gadis menjatuhkan topinya, ia sedang berjalan sambil memeluk rukuh yang dibungkus dengan sajadah, rupanya dia tadi berlarian pulang untuk mengambil alat shalatnya. Ke enam gadis itu langsung berbisik-bisik lagi ketika melihat rombongan kami lewat, lagi-lagi aku berjalan paling belakang, dan gadis kecil itu juga berjalan belakangan, mata kami berpapasan, dia malu-malu dan menundukkan kepalanya sambil mengulum senyum, dan aku hanya diam tanpa ekspresi, namun melihat dengan jelas wajahnya yang hitam manis itu merona, mungkin menahan malu. Meski kulitnya terlihat hitam, tapi dia sangat manis dan bersih, hidungnya yang bangir, bibirnya yang tipis, dan dagunya sedikit belah, satu yang dia terlihat mencolok, dia lebih kurus dan lebih tinggi dari teman sebayanya. Kalau hitam, mungkin rata-rata anak seusia mereka memiliki kulit berwarna hitam, secara mereka hanya anak kampung yang hobinya bermain lari-larian dan panas-panasan, pikirku. “Manise rek,” cicitku sambil terus memperhatikan wajahnya yang sambil malu-malu. Kami sama-sama terdiam, matanya tertuju pada tanganku yang memegang topi merah, mungkin dia merasa kenal dengan benda yang ada dalam genggamanku, ketika aku akan mengembalikan benda milknya itu, dia ditarik oleh temannya dan aku ditarik oleh Tono karena sudah ketinggalan rombongan. Pendengaranku kurang jelas ketika temannya menarik tangan gadis itu sambil memanggil namanya, sekilas aku mendengar kata Na, Ra, Ya, atau Ta, entahlah. “Astagfirullah,” aku segera tersadar dari lamunanku yang hanya sepersekian detik seraya mengusap mukaku. “Eh dik, iki kupluk’e,” teriakku namun dia sudah berlari karena diseret oleh temannya. (eh dik, ini topinya) “Arek wedok kok senenge mlayu, ra no kalem-kaleme,” gerutuku sambil melihat topi merah yang masih aku pegang, akhirnya topi itu aku masukkan kedalam tasku. (anak perempuan kok hobinya lari, ga ada alim-alimnya) “Haz, ojo ngewasno ae dijodo motomu, isih cilik mambu kencur, hahaha,” bisik Tono persis ditelingaku. (Haz, jangan negliatin aja, jaga mata kamu, masih kecil bau kencur) “Ono opo Haz? tatapanmu ora koyok biasane, ojo kondo awakmu poling in lop, karo arek iku,” ledek Tedi dengan medok sambil melengkungkan tangannya membuat gambar love. (ada apa Haz? Pandanganmu tak seperti biasanya, jangan bilang kalo kamu jatuh cinta sama anak itu) “Opo sih, sih cilik jo pacaran, haram, gelem mbelu neraka?” kataku mencoba berdusta. (apaan sih. masih kecil gab oleh pacaran, mau masuk neraka?) “Ooh dadine lek wes gede oleh tha?” timbal Nano. (ooh jadi kalo udah gede boleh dong) “Lewih ra oleh, dosa! bahaya! Wes lah yuk!” ajakku sambil berjalan mendahului mereka. (lebih gab oleh lagi, bahaya!) “Hahaha, lha rungokno wejangan ngulama ceramah,” goda Tedi tergelak. (nah dengerkan tuh pak ustadz ceramah) “Moso iyo awakku seneng ro cah cilik manis iku?” tanyaku dalam hati. (masa iya aku suka pada anak kecil manis itu) Sampai menjelang Ashar, dan ke masjid pun, sampai mata ini jelalatan mencari sosok hitam manisaku tak lagi menemukan sekelompok gadis itu lagi, hingga kepulanganku ke kota Malang yang hanya berjarak 150 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam-an. Acara milad ponpes itu menyisakan kenanganku pada gadis bertopi merah, terlebih topi itu masih ada dalam tasku. Sepanjang perjalanan pulang, tanganku tak henti-hentinya merogoh tas dan menyentuh topi itu. “Kenapa tadi tak kuberikan saja pada pengurus ponpes Cak Sulis atau Gus Mo,” batinku. Aku mencoba memejamkan mataku dan beristirahat dimobil, namun sulit, wajah gadis hitam manis itu terus terbayang dalam ingatanku, bagaimana cara dia menatapku tadi, mencuri “Opo sih otakku iki, isih cilik wes ngerti wedok,” rutukku dalam hati. (apa sih otakku ini, masih kecil udah ngerti cewek) Sejak saat itu, wajah gadis hitam manis dan tomboy selalu terbayang dibenakku, terlebih topi yang tergantung dibalik pintu kamarku, memang sengaja aku letakkan topi tersebut disana. Sempat tercium olehku aroma topi tersebut, wangi sampo anak-anak, yaa maklumlah memang dia juga masih bocah, kalau boleh kutebak, dia kira-kira masih kelas 3 SD, banyak anak gadis kecil yang solehah, kalem, tapi kenapa yang nyangkut di otakku justru gadis hitam manis dan tomboy? Setiap Buya ingin berkunjung ke Jombang, aku selalu ingin ikut, dengan alasan agar aku tahu lebih banyak tentang pondok pesantren. Benar saja 6 bulan kemudian aku ikut Abu ke Jombang tepatnya mengunjungi ponpes milik KH. Fathan, untuk rapat pelaksaan Muktamar,namun tak kutemui gadis itu lagi, menurut teman-temanku, dia salah satu santriwati di pesantren tersebut. 3 tahun kemudian aku berkunjung ke pondok pesantren Az-Zikra lagi, telah banyak yang berubah, yang dulu hanya ada gedung pesantren, kini ada bangunan seperti kantor, lalu yang dulunya masjidnya tidak terlalu besar, kini masjid tersebut sudah dibangun menjadi masjid yang sangat megah, dengan kubah berwarna hijau mint serta lisnya berwarna kuning emas, konon lis yang mengelilingi kubah masjid tersebut dilapisi emas murni. Aku kembali ke Malang lagi dengan hati yang kecewa untuk kedua kalinya,Aku telah lama mencari gadis pemilik topi merah itu, sudah hampir 4 tahun tak berhasil menemukannya. 4 tahun sudah berlalu, aku kini duduk di bangku Madrasah Aliyah, sudah kubilang dari awal, meski aku tergolong alim dan pendiam, namun kadang jiwaku muda memberontak, diam-diam aku belajar menyetir mobil tanpa izin dari Buya dan Ummu, aku memaksa salah satu paklikku agar mau mengajariku menyetir. Ketika Buya dan Ummu sedang pergi keluar kota, itulah kesempatan untukku untuk belajar menyetir, karena aku anak yang cerdas, hanya 3 kali saja, aku langsung sudah lancar menyetir, hatiku girang bukan kepalang. Dan paklik bangga padaku, karena tidak perlu berlama-lama untuk mengajariku. Pada suatu kesempatan aku nekad mengajak Tedi, Nano dan Tono agar menemaniku pergi ke Jombang untuk mencari gadis pemilik topi merah tersebut. “Angel Haz.. Haz.. wes suwe, rek iku wes lali Haz,” sahut Tedi ketika aku menceritakan niatku pergi ke Jombang. (Susah Haz, sudah lama, anak itu sudah lupa) “Tulung temenin aku yo, sekali ini ae, penasaran aku,” tandasku, itulah aku, sedikit keras kepala, A ya A, B ya B, susah melupakan sesuatu dan jika sudah jatuh dan terluka susah bangkit. “Emoh aku haz, wedi karo Pak Kyai,” tolak Tono. (gam au aku Haz, takut sama pak Kyai) “Aku yo wedi Haz,” Nano pun menolak dengan alasan takut sama Buya. Akhirnya aku berangkat hanya berdua dengan Tedi, aku nekad meskipun belum punya SIM, namun aku sudah lancar menyetir, Buya dan Ummu juga senang ketika aku sudah bisa membawa mobil, tak jarang mereka menyuruhku atau menemani Ummu berbelanja ke kota. Mumpung Buya dan Ummu sedang ke pesantren Gontor untuk menjenguk adik semata wayangku yaitu Maryam, kebetulan Buya memakai mobil yang satu lagi, tinggallah mobil sedan tua warna hijau army yang waktu itu buat latihan, sehingga aku sudah menyatu sekali dengan mobil tersebut. Sesampainya di Jombang, tak ada satupun yang mengenal gadis dengan ciri-ciri yang aku sebutkan tadi, bahkan aku sudah membawa kesana kemari topi tersebut, tapi tak ada yang tahu tentang gadis topi merah itu, satu-satunya sumber informasiku adalah Cak Sulis dan Gus Mo, menurut santri yang aku tanya, mereka berdua ikut keluarga Kyai Fathan takziah ke Blitar. Lagi aku harus kecewa dan sia-sia sudah waktuku untuk mencari si pemilik topi itu, akhirnya topi merah itu ku gantung pada spion dalam mobilnku, hari masih siang, pukul 13.00 waktu Jombang, namun seperti sudah mau Maghrib, gelap, awan kelabu menyelimuti langit Jombang, hawa dingin menembus tulang. Hari itu hujan sangat deras dan jalanan licin, banyak truk pembawa tanah dari bukit guna menguruk jembatan yang runtuh terkena longsor, akibatnya jalanan di penuhi dengan tanah merah, kupacu laju kendaraan agar segera sampai di rumah, curah hujan yang cukup deras, mengakibatkan pandanganku buram oleh air hujan yang bercampur kabut, berkali-kali Tedi mengingatkan agar aku berhati-hati dan tidak ngebut. “Haz, ALON-ALON!” pekik Tedi seraya berpegangan dengan kencang. “Tenang ae Ted,” jawabku dengan focus kedepan. “Astagfirullahal’adzim, Allahu Akbar, Allahumma Salli’ala Sayidina Muhammad, alon-alon Haz,” tak henti-hentinya Tedi menyebut Asma Allah agar kami berdua selamat dan di jauhkan dari mara bahaya. Jalanan yang berkelok, landai dan licin itu membuat aku sedikit lebih berhati-hati untuk mengendalikan kemudiku. Kulirik muka Tedi sudah pucat serta mulut yang terus berkomat-kamit. Sebentar Tedi menengok ke belakang sebentar dia melihat ke depan, dia ketakutan karena dibelakang mobil Hazar ada bis yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, ati-ati Hazzzz!” teriak Tedi. Tiba-tiba ada pohon tumbang yang hendak menimpa mobilku, aku mencoba menghindarinya, namun untung tak dapat diraih malang tak ada dapat ditolak, mobil yang aku kendarai tergelincir dan masuk jurang, dan masih untung itu bukan jurang curam, hanya jurang tegal yang dalamnya sekitar 6 meter. Dihari naas itu, tiba-tiba datang seorang gadis hitam manis dengan mengenakan kerudung putih, dia menolong diriku dan Tedi dari kecelakaan maut tersebut, aku menatapnya antara sadar dan tidak, tiba-tiba aku teringat topi merah yang tergantung didalam mobil, hujan sudah berhenti, banyak orang serta suara-suara yang berteriak agar memanggil ambulan dan minta bantuan. "Apa kamu gadis bertopi merah itu?" tanyaku dengan memaksakan diri. "Iyaa akulah gadis itu," akunya seraya menundukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Namun aku sangsi dengan wajah itu, antara benar dan tidaknya, aku tak mampu mengingat lagi wajah aslinya seperti apa, tiba-tiba pandanganku kabur dan setelah itu aku tak sadarkan diri. Ketika aku tersadar, sudah berada di rumah sakit dengan selang dimana-mana, aku terheran dengan keadaanku seperti ini, menurut Buya aku mengalami kecelakaan tunggal, luka terparah itu di bagian kepala dan tangan, beruntung aku tidak mengalami gegar otak dan amnesia, karena aku masih bisa mengingat Buya, Ummu juga Maryam adikku. Aku juga masih ingat jika hari itu aku pergi berdua dengan Tedi, bagaimana dengan nasib Tedi, tiba-tiba kepalaku pusing, kata dokter aku tidak boleh berpikir yang berat-berat dulu. aku juga masih mengingat terakhir aku sadar ada gadis berkerudung putih yang mengaku sebagai gadis bertopi merah. Terbang = Rebana Kupluk = Topi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN