10. Samar Bayangan

2280 Kata
Malang, 2003. Ketika cinta datang pada persimpangan, tak mengenal pada siapa dia singgah, sampai akhirnya luka mengajarkan tuk bersabar, kegelapan membalut perih, mengingatmu membuatku lara tak bertepi, hingga hadir sinar mentari membuka mata dan hati tuk bisa menerima semua ini. Matahari menyeruak tanpa permisi membuat silau irisku, seketika pening dikepala tak mampu ku elakkan, sudah 3 hari aku terkapar dirumah sakit, sampai saat ini aku belum tahu mengenai kabar Tedi, beberapa kali kuucapkan kata maaf pada sahabatku itu, dan beberapa kali pula kutanyakan bagaimana keadaanya, namun tak ada yang memberitahuku. Tak terasa satu Minggu sudah aku menjadi pasien rumah sakit, setelah 3 hari tak sadarkan diri, akibat kecelakaan tersebut, ternyata Allah masih sayang dan masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa menikmati indahnya hidup di dunia. “Assalamualaikum Mas Hazar,” Maryam datang dengan membawa buah-buahan. “Wa’alaikumsalam,” sahutku dalam hati dan tersenyum simpul. “Mas Hazar itu nekat deh, ngapain coba pergi ke Jombang? make mobil ga izin dulu sama Buya,” omel Maryam ketika melihatku sedikit lebih segar daripada kemarin. “Dateng-dateng kok ngomel, sana-sana,” usirku dalam hati dengan memberi kode dengan tangan menyuruh keluar. “Iish kok ngusir sih? hhmm.. si kupluk abang iku? Demi dia, Mas Hazar sampe celaka seperti ini?” cerocos Maryam dengan sorot mata mencurigaiku. (hmm siapa topi merah itu?) Mataku hanya bisa mendelik, memelototi adikku yang memang benar atas ucapannya, demi si pemilik topi merah itu aku rela seperti ini, nekat pergi ke Jombang menyetir sendiri tanpa SIM dan tanpa izin orang tua, jadinya seperti ini deh, tanpa restu orang tua akan celaka. Aku masih tak mau membuka mulutku untuk berbicara, karena rasanya masih sakit dan pusing, sehingga aku memilih diam saja, sambil memperhatikan adikku satu-satunya itu mondar-mandir mencuci apel yang akan di blender untuk diriku. Tak sabar aku ingin segera sembuh, agar bisa mencari tahu keadaan Tedi serta dimana gadis yang sudah menolong aku dan mengaku sebagai pemilik topi merah, sebetulnya sih bukan dia yang mengaku, tapi aku yang bertanya, ingin rasanya saat ini juga aku melarikan diri dari rumah sakit ini. “Hhhmm hayoo bengong lagi kaannn, kata dokter kalo Mas Hazar udah ga pusing dan ga mual lagi, besok udah boleh pulang lho,” Maryam menyodorkan jus apel padaku lengkap dengan sedotannya. “Gara-gara denger Mas Hazar kecelakaan, Maryam maksa ikut pulang,” cemberut Maryam. Kuraih dan langsung kuhisap jus buatannya, mendengar kata pulang spontan tenagaku penuh kembali dan bersemangat. Aku bertekad, mulai hari ini aku harus terlihat sehat dan harus lebih segar dari kemarin. Benar yang dikatakan Maryam, bahwa keesokan harinya aku dibolehkan keluar dari rumah sakit ini, aku dijemput oleh kedua orang tuaku juga Maryam, ketika sampai di halaman rumah, mataku terpaku pada mobil sedan yang disudut halaman, lalu pindai lagi kearah yang lain, dan aku dikejutkan sosok perempuan muda dengan gamis panjang serta kerudung yang menjuntai sebatas lutut, Ia sedang membantu Mbok Tun merapihkan kembang diteras rumah. “Iku sopo dek?” bisikku pada Maryam ketika kami masih didalam mobil. “Moso Mas Hazar lali, iku lho Nana, konco cilik Mas Hazar, anak’e Simbok,” jelas Maryam sambil menuntunku turun. (Masa Mas Hazar lupa, itu si Nana, teman kecilmu, anaknya Simbok) “Teman kecil? Anak Simbok Mbok Tun?” cicitku, namun Maryam tak mendengarnya. Lalu kami berjalan mendekat dan masih menyisakan banyak tanya dibenakku, dari belakang aku perhatikan sosok itu, kudengar suaranya sedang berbicara sama Mbok Tun, penasaran sih, tapi tidak ada rasa yang aneh dan menggetarkan, biasa saja, manakala ia memandangku dan menyambut kami pulang. Sungguh aku tak dapat mengingat semua hal tentang masa kecilku dan dia, mendadak kepala ini pusing dan aku memejamkan mata sekejap guna mengingat sedikit saja masa kecilku, tapi hasinya zonk, aku tak berhasil. “Waaah selamat datang dirumah Mas Haz, maafin Simbok yang ga sempet jenguk ke rumah sakit,” sambut Mbok Tun, aku hanya manggut dan mengulas senyum. “Ohya, apa Mas Haz masih inget Nana, anak’e Simbok yang baru pulang dari mesantren di Az-Zikra,” tutur Mbok Tun sambil mengelus lengan anaknya. Gadis itu mengatupkan tangannya didada dan menunduk sopan seraya tersenyum simpul, aku pun mengatupkan tanganku sambil menganggukkan kepala. Aku tertegun sejenak dan.. Deg.. Jantungku serasa mau copot, gadis itu yang menolongku saat kecelakaan, nama panggilannya Nana, mungkinkah dia gadis pemilik topi merah itu? Aku tak dapat mengingat dengan jelas dan setelah kecelakaan itu otakku tak mampu bekerja keras, sehingga daya ingatku lemah. Mengingat topi merah aku segera berlari dan mendekati mobil sedan milik Abi yang rusak parah akibat terjun ke jurang, aku tergesa mencari penutup kepala berwarna merah itu. "Loh Le! Cah Bagus! arep nandi, ojo mlayu, iling sirahmu Leeee!" teriak Ummu, tapi tak ku hiraukan. Kususuri sampai kekolong kursi mobil, depan belakang tapi tak kutemukan, jantungku berpacu hebat, ada rasa deg-degan dan kecewa jika sampai topi itu sirna. Aku pasrah saja jika memang benda milik anak gadis yang sudah membuatku hampir gila untuk mengingat dan mencarinya, apakah hilang saat kecelakaan atau di ambil warga kampung yang menolongku, buktinya gawaiku saja raib, juga uang di kantong. "Ck.. Yo wes lah," decakku sambil menghembuskan nafas. Aku duduk santai di teras belakang sambil berjemur menikmati panasnya sinar matahari yang belum menyengat, sambil melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran, aku membuka kaosku agar badanku juga terjemur. Dibenakku masih terus memikirkan wajah gadis kecil itu, namun tak sejelas dulu ketika baru-baru bertemu, aku juga masih penasaran sama benda warna merah tersebut. "Sarapan sek Haz," Ummu datang dengan membawa nampan berisi sarapan pagiku lengkap dengan air putih dan s**u murni. "Nggeh Ummu," Aku berjalan perlahan menghampiri Ummu yang duduk di kursi rotan. "Gimana kepalanya, masih pusing ndak?" tanya Ummu seraya menuangkan air bayam pada nasi lunak untukku, kata dokter untuk sementara aku harus makan, makanan yang lunak dan berkuah, tidak boleh yang mengandung minyak dulu, serta perbanyak makan buah dan minum s**u, agar memar di perutku terutama bagian dalam cepat pulih. “Lalu perut kamu, udah ga sakit lagi?” imbuh Ummu. Aku lihat di mangkuk ada sayur bayam dan jagung, itu adalah makanan pavoritku, dari kecil aku suka sekali makan sayur bayam, kata Buya biar kuat seperti tokoh kartun yang tangannya bisa membesar setelah makan bayam. "Tidak terlalu Mu, hanya kepala dan tangan saja yang kadang masih terasa sakit, Ummu.. suapin.." jawabku lalu merengek minta disuapi oleh Ummu. "Iih wes gede kok manja," desis Ummu. “Engg, Ummu tau yang menolong Hazar siapa?” tanyaku setelah menerima suapa pertaman dari Ummu. “Nana kan? anaknya Mbok Tun, kamu ndak inget ya?” Ummu mengambilkan aku air putih. Lalu aku segera menggeleng, karena memang ingatanku masih samar. “Enak, nasinya pas tidak terlalu lembek, tidak seperti dirumah sakit, ga enak,” cerocosku sambil mengambil alih piring yang ada ditangan Ummu. “Sini biar Haz makan sendiri,” aku mempercepat tempo kunyahanku. “Haz ndak inget Mu, hanya samar saja, tau-tau udah di rumah sakit,” aku terus menikmati sarapan pagi itu dengan semangat. “Ummu, bagaimana keadaan Tedi? Apakah dia tidak apa-apa?” tanyaku mendadak jadi ingat sahabat yang menemaniku pergi ke Jombang. “Tedi sudah dibawa orang tua asuhnya, dia dipindahkan ke Gontor, agar bisa mengawasi dia dari dekat,” jawab Ummu dengan raut sedih. “Maafkan Hazar, Mu.” Ucapku setelah berhasil menghabiskan sarapanku sampai ludes. “Ya sudah, semuanya sudah terjadi Le.” “Kok sayur bayemnya beda? Siapa yang masak?” tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Nana!” sahut Ummu sambil berjalan meninggalkanku dan membawa piring serta mangkuk yang sudah tandas. “Nana? Gadis itu?” cicitku, jujur aku merasakan rasa sayurnya berbeda dari biasanya, yang aku makan tadi lebih segar dan lebih manis. Setelah minum susuu, aku berjemur lagi, masih dengan bertelanjang d**a, memperlihatkan bentuk badanku yang sudah mulai terbentuk, karena aku rajin berolahraga, tiba-tiba perutku melilit lagi, mungkin efek makan terlalu banyak dan cepat, padahal kata dokter, ngunyahnya harus benar-benar halus, dan bertahap, tidak boleh makan sekaligus banyak. “Arhhhgg Ummu, Maryaam,” erangku sambil memegangi perut, jangankan berjalan, berdiripun aku tak sanggup. Kulihat Nana yang melintas sedang membawa keranjang, lalu dia meletakkan keranjangnya dan berlari kearahku, aku spontan menutupi perutku dengan kaos yang sedari tadi aku letakkan dipangkuanku. “Arhhgg! kamu, sana, jangan mendekat! Aku tak pakai baju, aah,” usirku sambil membuang muka dan mengerang lalu ketutupi perutku dengan kaos yang sedari tadi ada dipangkuan. “Tapi Mas.. Mas Hazar sedang kesakitan, ndak apa-apa mari Nana bantu,” jawab Nana dengan tidak canggung memegang tangan dan badanku yang sedikit lengket karena peluh dan belum mandi pula. “Nyaiii! Mbookk! Toloong,” teriak Nana meminta bantuan. Aku terus mengerang sambil menuruti Nana memapahku hingga masuk kedalam rumah, tak ada satupun yang menyahuti teriakan Nana, akhirnya aku didudukkan disofa ruang keluarga, tak lama Maryam keluar dari kamarnya menuju dapur dengan headphone nyangkut ditelinganya sambil menyanyikan lagu Maher Zain. “Pantesan wong mberok-mberok ora krungu,” aku menggerutu dalam hati. (pantesan ada orang teriak-teriak ga dengar) “Mbak Maryam, iki lo Mas Hazar perutnya sakit, Nyai kemana?” Nana mencolek lengan Maryam yang sedang serius bernyanyi. “Hah! Mas Hazar, kenapa?” pekik Maryam seketika. “Wetengku sakit lagi,” aku meringis kesakitan sambil merebahkan diri di sofa. (perutku) “Ummu!” Maryam berlari kedepan rumah sambil berteriak. “Yaah Ummu wes budal karo Buya, yak opo iki, Mas Hazarr,” kudengar Maryam kecewa, karena sepertinya Ummu sudah berangkat bersama Abi, lalu ia berlari lagi masuk kedalam. (yaah ibu sudah berangkat sama ayah, bagaimana ini) Tapi mendadak sakit perutku hilang, Nana datang membawakan air hangat untukku, setelah ku minum sedikit aku memakai kaosku, dan mencoba menegakkan tubuhku, dan ternyata perutku sudah tidak sesakit tadi ketika ditegakkan. “Silahkan Mas,” Nana menyodorkan segelas air agar ku minum. “Iya,” kataku singkat, dan Nana langsung pergi ke belakang. “Mas, piye? Wes rapopo tho?” tanya Maryam khawatir. (mas, gimana? udah ga apa-apa?) “Iyo wes Alhamdulillah, Ummu kemana?” “Ummu ke yayasan ada tamu menunggu di kantor.” “Ooh ya sudah,” aku berjalan perlahan menuju kamarku. Setelah aku mandi, mataku tertuju ke belakang pintu, tak ada lagi topi merah disana, aku masih penasaran dengan benda itu, aku melangkah sedikit tergesa menuju garasi, kuihat sedan hijau teronggok tak berdaya disana, yahhh dia memang rusak parah. Kuulangi lagi caraku mencari benda itu, kulongok semua kolong kursi namun tetap saja tak menemukannya. Aku menghela nafas dalam-dalam, mencoba ihklas namun sulit. “Mas Hazar mencari benda ini?” tiba-tiba kudengar seorang perempuan dari arah belakangku. Aku menoleh dengan cepat dan mataku nanar menatap benda yang dipegang oleh Nana, ada perasaan lega dihatikku, kenapa benda yang kucari dalam beberapa hari ini ternyata ada ditangannya. “Kenapa topi itu bisa ada ditanganmu?” tanyaku sambil menyipitkan mataku. “Ketika kecelakaan itu terjadi, saya dalam perjalanan pulang dari pondok, bis yang saya tumpangi tepat dibelakang mobil Mas Hazar…” Ternyata Nana ada didalam bis yang ada dibelakang mobilku, kala itu Tedi sempat ketakutan karena ada bis dengan kecepatan tinggi di belakang, namun aku mencoba menenangkannya, ketika aku mencoba menghindari pohon tumbang itu dan membanting stir kekanan dan masuk jurang beruntung tidak ada mobil dari arah depan, tapi bis yang ada di belakang tidak dapat menghindarinya, akhirnya bis tersebut tertimpa batang pohon yang tumbang, bis berhenti dan penumpang berhamburan turun lalu segera menolong aku dan Tedi. Menurut Nana lukaku lebih parah dari Tedi, dia hanya luka akibat benturan dan goresan, sedangkan aku, kepalaku terbentur kaca hingga kacanya pecah dan mendapat jahitan, perutku terjepit antara kemudi dan kursi, juga tubuhku tertindih badan Tedi, karena memang posisi jatuhnya mobil terguling kesebelah kanan, tanganku sepertinya terkilir, karena kemarin tanganku sempat di gips. Sementara itu ada cerita selama Hazar tak sadarkan diri dan tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun kecuali diri Nana sendiri, Nana dengan sengaja mengakui bahwa dirinya adalah pemilik topi merah itu, Nana pikir Hazar saat itu bakal mengalami gegar otak mengingat kepalanya yang bocor, mengeluarkan darrah sangat banyak, dan Nana tahu persis bahwa Hazar datang ke Jombang untuk mencari anak pemilik pesantren tempat ia menuntut ilmu, dan topi itu, memang milik Zahra. Akan tetapi Nana tak menyadarinya jika Tedi mendengar ucapan Nana yang mengaku jika dia memang gadis pemilik topi merah. Dirumah sakit Nana bertemu dengah Hj. Syarifah dan Ibunya yaitu Mbok Tun, Nana menceritakan semua kejadian tersebut, Nana juga memergoki Hazar saat datang ke pondok pesantren milik Kyai Fathan, namun ia tak berani menegurnya. Ketika diperjalanan pulang dari pondok, tanpa sengaja Nana melihat mobil Hazar yang kecelakaan, Nana sudah tahu jika Hazar adalah anak dari majikannya, karena Nana dan Hazar sejak kecil sudah saling kenal, namun sejak kejadian dimana Hj. Syarifah mengetahui jika mereka menyimpan rasa, mereka pun dipisahkan. Nana dimasukkan ke pondok pesantren Az-Zikra, akan tetapi tidak terlalu dekat dengan anak pemilik pesanten yaitu Zahra. Nana yang sudah akrab dengan Hazar, dimana pun ada Hazar pasti ada Nana, Hj. Syarifah menganggap mereka masih kecil, biarlah mereka bermain bersama, toh keluarga Kyai Soleh tak memandang bahwa Nana adalah anak dari pembatunya, seiring berjalannya waktu, sepertinya Nana menaruh perhatian lebih pada Hazar, dan sebaliknya Hazar pun begitu. Baik Hj. Syarifah, Mbok Tun yang mengetahui hal itu, karena Nana sering mengatakan bahwa ia jika sudah besar ingin memiliki suami anak Kyai. Tentu saja membuat Mbok Tun dan suami merasa tidak enak dengan H. Soleh serta Hj. Syarifah, akhirnya mereka menuruti permintaan majikannya untuk.mengambil keputusan untuk memondokkan putrinya ke pesantren, karena akan berbahaya jika sampai Nana benar-benar jatuh cinta pada anak majikannya yang kaya raya itu. “Begitu ceritanya Mas,” Nana menceritakan kejadian secara runut. “Maaf jika saya lancang mengambil topi saya tanpa izin dari Mas,” imbuh Nana. Entahlah saat itu aku tak bisa berpikir secara jernih, ada rasa penolakan dalam hati kecilku, tapi tak ada kejelasan dan alasan kenapa hati kecilku menolak, akhirnya aku mempercayai saja apa yang diucapkan Nana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN