Kini aku tenggelam dalam palung sunyi tak bertuan, hanya berteman karang tak bernyawa, ombak membawaku kedalam arus yang harus kulalui.
Mengingat setiap jengkal langkahku menentukan arti kehidupanku sendiri, menyentak kesadaranku bahwa aku harus berenang bukan melangkah. Demi sebuah sampan yang ada diujung harapan.
Aku ingin berontak dan berteriak, namun tak kuasa, tak ada yang menghormati keputusanku, aku sedih, aku merana, dan tak seorangpun menyapa, rapuh dalam kesenduan.
“Mo, opo koe iso mempertanggung jawabke omonganmu?” hardik Abi.
“Insha Allah saget Paklik, enten saksine,” Gus Mo berusaha meyakinkan Abi dan Ummi. (Insha Allah bisa om, ada saksinya)
“Mo.. Mo.. ojo sekecap-kecap Mo, lha piye kalo keluarga H. Soleh sampek krungu,” terdengar suara Ummi mengkhawatirkan ucapan Gus Mo. (Mo, jangan asal bicara, bagaimana kalo keluarga H. Soleh sampai dengar)
“Katmo mboten ngada-ngada Bulik,” sahut Gus Mo. (Katmo tidak mengada-ngada tante)
“Sopo saksine?” tanya Abi. (siapa saksinya)
“Afifah kaleh Sulis.” (Afifah sama Sulis)
“Afifah karo Sulis?” ulang Abi tak percaya.
“Enjih Paklik.”
“Kurang ajar, cah loro kuwi, kok ora kondo ket wingi,” suara Ummi bergetar. (kurang aja, kenapa anak 2 itu ga bilang dari kemarin-marin)
Aku menguping pembicaraan antara Abi, Ummi dan Gus Mo sambil menitikkan air mata dibalik tirai ruang keluarga, Gus Mo mengatakan, bahwa Hazar itu tidak sebaik yang mereka kira, tak se-alim dengan kelakuannya, dia sudah memiliki pacar sejak duduk di bangku SMP, dan dia sulit melupakan gadis yang bertahun-tahun ada dalam hidupnya, Gus Mo juga mengatakan bahwa pernikahan tanpa cinta takkan berlangsung lama.
Kuperhatikan wajah Gus Mo yang penuh kebencian ketika menyebut nama Hazar itu terus meracuni Abi dan Ummi dengan ucapannya, aku tak kuasa menahan tangis, akhirnya pecahlah tangisku, aku berlari menuju kamar, kudengar Ummi terkejut melihat aku dan berteriak memanggilku.
“Rara! Nduuk!” panggil Ummi.
“Wes.. wes.. jar no sek,” larang Abi. (sudah.. sudah.. biarkan saja dulu)
Kuhempaskan tubuh ini diatas ranjang, aku harus segera menemui pemuda yang membuat hidupku jadi seperti ini, tak bisa bebas seperti dulu, tapi aku tak bisa, tak mungkin aku mendatangi dia lalu melabraknya.
Aku mengurut kepalaku yang sedikit pening, tapi aku tak bisa jika begini terus, aku tidak boleh bertindak gegabah, aku akan sabar dan menunggu, seraya mengumpulkan bukti-bukti, ku usap pipiku dengan kasar, aku bangkit dan berlari menghampiri Abi dan Ummi juga Gus Mo.
“Rara!”
“Nduk!”
“Ning!”
Ketiganya terkejut ketika aku tiba-tiba berdiri didekat mereka, dengan berlinang air mata, aku mencoba memberanikan diri dan menguatkan untuk melawan Gus Mo di depan kedua orangku.
“Gus Mo! Kalo Gus Mo memang tidak suka terhadap Mas Hazar, jangan coba meracuni otak kami,” semburku dengan suara sengau karena sambil menangis.
“Nduuuk!” Ummi bangkit dan segera memegang pundakku dan mengajak duduk.
“Ning aku bukan bermaksud meracuni kalian, tapine iki kenyataan lho, kan Ning Rara sudah membuktikan sendiri, bagaimana sikap Hazar terhadap Ning Rara,” Gus Mo menatapku dengan mengangkat alisnya, dan aku benci itu.
“Maksud e sikap Hazar ke Rara piye?” sela Abi memandangku dan Gus Mo bergantian.
“Dihari pertunangannya itu, waktu ditaman, Hazar sudah menunjukkan sikap tidak sukanya terhadap Ning Rara, dan saya kebetulan sedang lewat, Hazar mengatakan bahwa Rara bukan adiknya, jadi jangan panggil kak, begitu Paklik,” Gus Mo berenti sejenak.
“Kan seharusnya dia tidak berkata seperti itu, disitu saja saya sudah bisa menilai,” lanjut Gus Mo.
“Betul apa yang dikatakan Katmo?” desak Abi seraya memandangku dan aku menundukkan kepala.
“Nduk, jawab!” hardik Abi dengan suara ditahan.
“Dan Afifah juga sudah memberikan bukti foto Hazar dan gadis itu Paklik.”
Deg! Aku langsung mengangkat wajahku dan menatap tajam Gus Mo, pria yang sudah memasuki usia 35 tahun mungkin seharusnya sudah menikah, tapi kenyataannya dia membujang itu memalingkan wajahnya, tak berani membalas tatapanku.
“Endi fotone Nduk! Abi arep ndelok!” pinta Abi dengan tegas. (mana fotonya, ayah mau lihat)
“Nduuk, mana fotonya? Abi dan Ummi mau liat,” timpal Ummi seraya mengelus pinggangku.
“Sopo gadis iku Mo, koe kenal?” cecar Ummi. (siapa gadis itu Mo, kamu kenal)
“Anak’e Mbok Tun, Bulik,” sahut lelaki setengah baya itu.
“Tuni-jah?” tanya Abi seperti tercekat tenggorokannya.
“Abi kenal sama dia?” tanya Ummi heran.
“Paklik jelas kenal sama Mbok Tun,” celetuk Gus Mo dengan senyum sarkasnya.
“Iyo kenal,” jawab Abi singkat dengan membuang muka.
“Sopo Mbok Tun? Sepertinya Abi menyembunyikan sesuatu,” batinku mengatakan.
Ummi hanya manggut-manggut sambil menepuk tanganku yang masih bergetar karena terisak, seakan menyuruhku segera mengambil foto yang dikatakan Gus Mo, aku bangkit perlahan dan berjalan menuju kamarku dengan malas.
Sesampainya dikamar, aku segera mencari benda yang kubenci itu, karena tiba-tiba saja aku lupa menyimpannya dimana, semua sudah kubuka, laci meja rias, meja belajar, lemari baju, bahkan sampai dibawah bantal juga kolong tempat tidur, sia-sia pencarianku, aku benar-benar tidak ingat dimana benda tidak penting itu kusimpan.
“Rara lupa menyimpannya Bi,” aku menghampiri mereka dengan tangan kosong.
Gus Mo menatapku dengan tajam seolah, dia berkata bahwa aku berbohong dan tak ingin menunjukkan foto itu kepada kedua orang tuaku.
“Nanti Rara cari lagi, kalo sudah ketemu Rara kasih tau Abi dan Ummi,” kataku duduk kembali disamping Ummi.
Suasan hening seketika, Abi yang termenung dengan pikirannya, Ummi sibuk menenangkan aku, dan Gus Mo, sepertinya sedang mencari kalimat lagi, kalimat yang akan dilontarkan untuk memanasi kedua orang tuaku.
“Jadi, saran saya, mumpung belum terlambat sebaiknya segera di putuskan, apa mau dilanjut ato dibatalkan perjodohan tersebut,” benar kan dugaanku, Gus Mo mulai melancarkan aksi meracuni lagi Abi dan Ummi.
“Iyo Paklik, akan segera pikirkan, kalo tau kenyatannya seperti ini, dari dulu takkan aku terima permintaan Kang Soleh untuk meminta Rara menjadi menantunya,” ucap Abi seakan sudah termakan ucapan Gus Mo.
“Katmo kan sudah bilang sama Paklik dan Bulik, jangan tergesa menerima perjodohan itu.”
“Dari awal justru saya dan Sulis menolak perjodohan itu, tapi tidak berani menentang Paklik, terutama Sulis,” ucap Gus Mo yang ternyata sudah tahu dari awal.
“Kenapa kamu dan Sulis ga bilang dari dulu, sekarang kalian datang dengan seenak jidat kalian akan membatalkan semuanya, mau ditaruh dimana mukaku Katmoo, Abii,” Ummi merasa kesal dengan ucapan Gus Mo.
“Sepurane Bulik, kami tak punya kekuatan dan keberanian, terlebih belum punya bukti, lagipula saya pikir, Ning Rara anak jaman sekarang, mana mau dijodohkan-jodohkan, seperti jaman Siti Nurbaya saja,” sarkas Gus Mo.
Aku berdiri dan menyeret langkahku menuju teras samping, aku sudah tak mau mendengarkan semua yang dikatakana oleh orang kepercayaan Abi itu, semakin aku disana, semakin sakit hati dan panas telingaku.
Aku merenungi nasib diri, takdir apalagi yang sudah Allah tetapkan padaku, setelah tiba-tiba aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku, yang pada kenyataannya aku tak bisa menolaknya, kini mendengar kabar dari Gus Mo, yang aku sendiri tak mengerti, apakah itu benar atau tidak, dan lagi-lagi kenyataannya memang sikap Hazar, si pemuda itu sangat dingin dan tidak baik terhadapku.
Setiap malam tak henti-hentinya aku berdoa dan membaca Surah Ar-Rahman seperti apa yang Ummi ucapkan padaku. Dan terus mendekatkan diri pada Pemilik Kasih Sayang yang tak pernah ingkar pada umat-Nya, yang tak pernah melupakan hamba-Nya walau kadang hamba-Nya melupakan dan meninggalkan-Nya.