12. Tentang Rasa

2085 Kata
“Assalamu’alaikum.. eiumm dengan Mas Hazar?” kuberanikan diri untuk menghubunginya. “Wa’alaikumsalam, maaf dengan siapa?” suaranya terdengar sangat khas, ngebass dan merdu. “Dia tanya dengan siapa? Apa nomerku ga disimpen sama dia?” kataku dalam hati. “Eium ini.. deng-an Rara Mas,” sahutku dengan menggigit bibir bawahku. “Rara? Rara sopo?” tanyanya, sepertinya dia sedang sibuk. “Anu Mas, Zahra,” aku masih berusaha sopan dan deg-degan. “Ooo Zahra, iya ada apa Dek? Engg, eh iya Zahra,” ucapnya gugup karena keceplosan memanggilku Dek. “Maaf Mas, kita bisa ketemu ga, nanti sore sebentar aja Mas,” lagi, aku memberanikan diri tuk memulainya lebih dulu, mengajak bertemu yang aku sendiri belum tahu dimana tempatnya. “Ketemu? maaf saya, sedang sibuk, ga bisa dibicarakan lewat telpon saja?” “Ga bisa Mas, ini sangat penting, aku mau ketemu sama Mas, kalo Mas kejauhan harus ke Jombang, kita bisa ketemu dijalan atau aku yang ke Malang,” kataku dengan lancar dan tanpa deg-degan seperti tadi. “Bu-bukan maksud saya begitu, baiklah kita ketemu, tapi besok pagi, saya sore ini sudah ada jadwal ngajar pengajian ba’da Ashar,” jawabnya dengan suara seperti tidak enak hati, karena tadi aku bilang bahwa aku yang datang ke Malang. “Baiklah Mas, Rara tunggu besok pagi, kita ketemunya di kampus saja, jam 11.30 Rara baru selesai kelas, Assalamu’alikum,” aku mengakhiri pesanku tanpa menunggu menjawab salam dariku. Ada sedikit rasa lega dalam hatiku setelah memberanikan diri untuk mengajak ketemuan di kampus esok hari, dan tentu saja aku tak sabar menunggu besok, irisku tertuju pada paper bag yang Minggu lalu ia berikan, kuseret kakiku mendekatinya. “Ya Allah, ini fotonya ternyata aku cemplungin kesini tho,” aku langsung menyelipkan foto itu kedalam almanak meja, dantentu saja aku malas melihatnya. “Ohya sebaiknya foto itu besok aku bawa sekalian aja yo, supaya sekalian jelas masalae,” monologku. “Astagfirullah, lali, mene aku ngajar kelas berkuda dan diterusin kelas memanah,” sambil mengambil gawaiku dan ingin menghubungi Hazar lagi, tapi urung, aku ragu. Akhirnya aku memutuskan menghubungi Cak Sulis saja, agar bisa menggantikanku mengajar kelas berkuda dan memanah selepas shalat Dhuhur. Segera ku hubungi kakak sepupuku, tapi gawainya tidak aktif, jadi aku teringat saat bertemu dengan Cak Sulis dua hari yang lalu ketika bertemu dengan Cak Sulis selepas mengajar mengaji para santri, dan aku pulang dari mengecek kamar para santri putri. “Cak!” panggilku ketika melihat Cak Sulis keluar dari halaman masjid. “Rara?” “Dari mana malam-malam begini Ning,” tanya Cak Sulis seraya menyipitkan matanya. “Rara dari ngecek kamar putri Cak, katanya ada santri yang kehilangan dompet,” aku menjawab sambil menunjuk arah pondok putri. “Ning, apa kamu sudah liat foto yang itu?” tanya Cak Sulis to the point. “Loh Cacak wes eruh tho?” tanyaku dengan heran. (loh kakak sudah tahu ya?) “Iyo, wingi Afifah seng kondo,” jawab Cak Sulis sambil membetulkan pecinya. (iya kemarin Afifah yang bilang) “Tanggapan kamu gimana Ning?” tanyanya. “Entahlah Cak, Rara bingung dengan semua ini,” sahutku sambil menundukkan kepala. “Kalo memang kamu ndak cinta, ya ndak usah diteruskan Ning, jangan membohongi diri sendiri, sesuatu yang dipaksakan ndak bagus nanti kedepannya, rasa itu lebih penting dari ego," Cak Sulis mencoba menyadarkanku bahwa rasa itu segalanya. “Iya Cak, saat ini Rara hanya menunggu reaksi dari Abi dan Ummi, Rara ga bisa ngambil keputusan sendiri, Rara ga mau nyakitin hati mereka,” dalihku. “Tentang rasa Rara terhadap Mas Hazar, Rara bingung Cak, Rara ga bisa mendefinisikan rasa itu, katanya cinta akan tumbuh setelah terbiasa, itu yang sering Ummi katakan pada Rara,” jawabku dengan suarat berat. “Ya sudahlah, dulu aku sempet naksir sama seorang gadis, namun aku tau bahwa gadis itu ga pernah suka sama aku, aku mundur dan tak mau mengejarnya, apalagi memaksanya,” papar Cak Sulis dengan legowo, aku tahu betul, gadis itu adalah aku, aku memang sepupuan sama dia, tapi itu sepupu jauh, dan diperbolehkan dia menikahiku, tapi Abi dan Ummi melarangnya, terlebih aku juga tak mencintainya, aku menganggap dia sebagai kakak lelakiku tidak lebih. Aku hanya menundukkan kepala saja, ketika dia mengucapkan kata sindiran itu padaku, akhirnya pulang bareng dia, karena rumah kami searah dan masih dalam lingkungan pondok. Kulihat pesan ku belum dibalas oleh Sulis, lalu aku mengeluarkan kerudung warna macarone blue yang menurut Hazar itu dari adiknya, sebetulnya aku kurang percaya bahwa itu dari Maryam, terlebih Ummi bilang bahwa itu Hazar yang membelinya, “Yo wes lah mene nganggo kudung iki, biar dia seneng,” gumamku sambil tersenyum didepan cermin. (ya sudahlah besok aku pakai krudung ini, supaya dia seneng) Malam ini aku mengerjakan tugas kuliahku yan beberapa hari ini malas kukerjakan, waktuku terus tersita dengan permasalahan yang belum ada titik terangnya, lanjut atau berhenti sampai disini, semoga besok aku dapat menemukan titik terang itu. Dan tak membutuhkan waktu yang lama, tugasku sudah selesai semua, ketika kulihat jam didinding, ternyata baru jam 9, berarti tadi aku mengerjakan dengan cepat dan bersemangat, entah ini pertanda apa, aku sendiri tak mengerti, kenapa tetiba aku merasa senang sekali ya? Apa karena besok aku akan bertemu dengannya? kuperhatikan cincin yang melingkar dijari manisku, kuusap perlahan lalu diam-diam aku tersenyum simpul, akan tetapi ketika aku memandang wajahku di cermin, mendadak berubah menjadi sendu, aku teringat ucapan dan sikapnya ketika pertama baru ketemu. Apakah kalian pernah menyukai sekaligus membenci orang yang sama dalam waktu bersamaan? itulah yang aku rasakan saat ini, jujur aku menyukai sosok Hazar yang religius dan tampan, namun aku juga benci atas sikapnya itu. Setelah kurapihkan buku serta laptopku, aku rebahan sejenak diatas kasur, kuregangkan otot-ototku yang kaku sambil memejamkan mata, lalu buru-buru aku bangun dan beranjak ke kamar mandi, karena aku belum melaksanakan shalat isya, biasanya kami sekeluarga pergi ke masjid, berhubung di luar gerimis, akhirnya aku memutuskan tidak ikut Abi dan Ummi ke masjid. وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ”Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Allah kehendaki. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” “Sadaqallahul’adzim,” aku menyudahi mengajiku, yang sebelumya kutunaikan kewajibanku terlebih dahulu, kututup Kitab Suci agamaku itu lalu aku letakkan pada meja belajar. Kulihat hordeng kamar yang masih terbuka, nampak rembulan mengintip dibalik awan hitam, gelap tanpa cahaya bulan dan bintang, langit mala mini sangat pekat, hawa dingin menusuk kulit hingga ke tulang, nyessss.. “Hawane sejuk temen,” lirihku smabil melepaskan rukuh dari atas kepalaku, lalu kugantung disamping jendela. (udaranya dingin sekali) Jendela yang terbuat dari jati itu mungkin sangat berat, hingga sang bayu tak mampu mendorongnya, aku duduk sambil memainkan rambutku yang panjang, kuputar-putar pada jari telunjukku, sambil memikirkan bagaimana besok saat ketemu dengan Hazar, pemuda dingin dan kaku itu. “Tadi aja suaranya terdengar kaku dan gugup,” ucapku sambil menggangkat bahu dan mengulum senyum. “Ya sudahlah, Bismillah untuk besok,” aku menengadahkan kepalaku ke langit gelap. Perlahan awan pekat yang menutupi bulan itu menjauh dan memperlihatkan betapa anggunnya sang bulan sabit itu, kuhirup dalam-dalam udara dingin yang menyentuh mukaku. “Bulan do’akan aku ya, dan sampaikanlah kepada Sang Pencipta semoga besok tidak ada kendala,” kataku pada bulan yang sedari tadi sudah tersenyum padaku seraya menutup jendela kamarku. Keesokan harinya aku sudah siap-siap berangkat kuliah, rutinitas pagi adalah sarapan bersama Abi dan Ummi, kebetulan sekarang hari Rabu, jadi kami tidak puasa, biasanya kami berpuasa di hari Senin dan Kamis, serta puasa Ayyamul Bidh di pertengahan bulan, setiap tanggal 13, 14, dan 15, serta puasa sunnah yang sangat dianjurkan. “Abii.. Ummi..” sapaku sambil meletakkan tas serta kunci motorku di kursi kosong. “Nduk, sarapan sek,” ajak Ummi. “Nggih Ummi,” aku menarik kursi dan segera duduk. “Mi.. cuaca hari ini cerah sekali ya, ndak seperti kemarin, mendung,” kata Abi, aku tahu bahwa ucapan Abi menyindir diriku, karena tadi iris Abi melirikku dan mengangkat alis sebelah pada Ummi. “Semoga dimulai hari ini dan seterusnya langitku cerah terus yo Bi,” timpal Ummi sambil mengulum senyum. “Hhmm Abi dan Ummi nyindir Rara? Ga usah nyindir deeh, langsung aja bilang ke Rara, pake nyindir segala,” aku memberengut sambil menuang air putih hangat. “Hehehe, ceria sekali anak Ummi, mau kemana? kuliah? Ato ada acara?” tanya Ummi heran dengan penampilanku yang lebih rapih dari biasanya. “Ga kemana-mana Ummi, ada acara dikampus nanti setelah selesai kelas,” jawabku sekenanya. “Kudunge anyar Nduk? warnane apik, nyerep nang raimu Nduk,” puji Ummi ketika melihat krudungku yang baru. (kerudungnya baru ya? warnanya bagus, meresap diwajah kamu) “Ini dari Maryam, Ummi,” jawabku sambil makan. “Dudu’ Maryam Nduk, tapi Nak Hazar, hehehe,” desis Ummi sambil terkekeh. “Loh ini kan hari Rebo, kamu ndak ngajar kelas berkuda dan memanah?” kali ini Abi ikut bersuara. “Simbok udah nyiapin bekal buat kamu Nduk,” kata Ummi seraya menunjukkan 3 buah kotak nasi. “Eh iya Mi, Bi, Rara lupa, tapi Rara udah bilang ke Cacak, agar menggantikan Rara ngajar kok, masalah bekal itu, tetep Rara bawa aja,” ujarku sembari mendekatkan 3 kotak nasi itu ke mejaku. “Yemm, bawain kantong buat bekalnya Rara,” teriak Ummi memanggil Simbok. “Nggeh Nyai,” sahut Simbok dari dalam. “Niki Nyai.” “Ealaah Ning Rara kok ayu temen, dungareni nganggo rok jin,” tegur Mbok Giyem dengan logat yang medok. (oalah mbak Rara kok cantik sekali, tumben pakai rok jeans) “Ah Simbok bisa saja,” kataku sambil malu-malu. “Temenan Ning, kalo Jakarta bilang peminis,” kata Simbok dengan sok tahu. “Opo Yem? Peminis?” tanya Ummi heran sambil menahan tawa. “Niku lho Nyai, anak cewek yang ayu, ndak tomboy,” cerocos Mbok Giyem seraya pura-pura berkpikir. “Ohh maksud kamu Feminim?” kata Ummi membetulkan ucapan Simbok. “Hehehe enggeh, niku maksut’e,” kata Simbok terkekeh. “Iishh Simbok ono-ono ae,” kami semua tertawa. "Rara pamit nggeh," pamitku pada Abi dan Ummi juga Simbok. "Nduk, kamu numpak opo? nggowo mobil opo motor?" tanya Ummi. "Motor mawon Ummi, jadi cepet sampai, bebas macet," sahutku lalu mencium punggung tangan kedua orang tuaku. Dikelas pikiranku kacau, pasalnya hingga jam 11, belum ada tanda-tanda muncul di gawaiku, baik pesan ataupun panggilan tak terjawab. Setidaknya jika dia tidak datang kan, bisa memberikan kabar dengan mengirim SMS, dosen pun sudah menyelesaikan kelas yang aku ikuti, saatnya ku berkemas dan segera pergi meniggalkan kelas, beberapa teman-temanku memanggilku agar aku jangan pulang dulu, namun semua itu tak ku hiraukan, aku terus menyusuri koridor kampus tercintaku, sesekali kuilrik gawai yang ada di genggamanku, tetap seperti tadi, tidak ada SMS atau telepon masuk masuk. Aku menarik nafas lega, manakala aku melihat dari kejauhan bahwa mobil sedan warna putih itu sudah ada di depan kampus, segera kuhampiri dia dengan hati yang tak bisa kudeskripsikan saat ini, karena aku sibuk memikirkan saat nanti ada didepan dia, dan melihat tampangnya yang dingin dan kaku. “Asalamu’alaikum Mas,” sapaku sambil menundukkan kepala dan mengatupkan tangan didadaaku. “Wa’alaikumsalam,” jawabnya datar sembari menghadap kemudi. “Tuh kan, apa kubilang, dasar flat kayak tivi di rumah,” gerundelku, tapi hanya dalam hati saja. Dia membukakan pintu mobilnya dari dalam dan menyuruhku agar segera masuk kedalam. “Masuk,” suruhnya, masih tak mau menatapku, aku pun menuruti apa yang dia perintahkan. Tak lama ia menghidupkan mobilnya, dan membawaku entah kemana, aku sendiri tak berani bertanya, bahkan meliriknya saja aku segan, kami berdua diam dalam keheningan, kutantang dia untuk bertaruh, siapa yang paling kuat menahan diri untuk tidak membuka suara. “Siapa yang kuat, ayo diem-dieman,” tantangku dalam hati sambil menarik ujung bibirku kesamping sedikit. Dia menghentikan mobilnya pada sebuah danau yang luas, ternyata Hazar membawaku ke daerah Selorejo, Waduk Selorejo, ia memarkir dirumput tak jauh dari bibir waduk, suasana siang itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa saja orang berkunjung pada siang hari ini, seperti diriku dan Hazar saat ini. Hazar membuka semua jendela modilnya, lalu ia mematikan mesinnya, dan kami masih diam seribu basa, Hazar sesekali melirik.. hanya melirik lho, bukan menoleh atau melihatku. “Ok fine, kamu diem, aku juga akan diem aja,” ancamku lagi-lagi hanya dalam hati. "Ekhem, katanya ada yang mau disampaikan ke saya, eh ke aku," tanya dia hanya melirik kearahku. "I-iya Mas," tanpa banyak omong aku langsung mengeluarkan foto dari dalam tasku. "Maaf Mas, Rara hanya ingin penjelasan tentang ini," aku menyodorkan benda tipis itu. Kulihat dia wajahnya sedikit berubah, ia menyiptkan matanya seraya mengambil foto itu dari tanganku, raut mukanya yang semula datar kini tiba-tiba tegang dan sedikit memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN