Seketika wajahnya yang semula terlihat kalem, kini berubah menjadi tegang, dia ambil foto yang ada ditanganku, matanya nanar menatap foto tersebut, kemudian dia turun dari mobil meninggalkanku sendiri, kali ini dia tak membukakan pintu untukku.
Kulihat diremasnya foto itu, aku segera turun dari mobil seraya membawa tas serta kantong makanku, aku berjalan mendekati kursi yang ada di dekat danau. Hazar berjalan menuju bibir danau, dilemparnya jauh-jauh foto itu, tangannya masih mengepal dan bergetar.
“Arrghhhh,” teriaknya sambil membalikan badan dan memandangku tajam, membuat nyaliku jadi kecil untuk mau tahu lebih tentang foto itu, aku menundukkan kepala.
“Kamu dapat darimana foto itu?” dia bertanya sambil mendekat kearahku, dan aku semakin menundukkan kepala dan memeluk erat tasku, seperti anak TK yang akan dimarahi oleh ibunya.
“Jawab! Kamu dapatkan dari mana?” hardiknya dengan suara ditahan.
Aku terkejut ketika dia membentakku walau dengan suaranya pelan dan sepertinay dia marah, kuberanikan menatapnya dan mencoba pertanyaan darinya, meski mata ini sudah berkaca-kaca, bukan karena aku takut, tapi seumur-umur aku belum pernah dibentak oleh siapapun, termasuk Abi dan Ummi.
Dia! dia belum jadi suami sudah berani membentak dengan tatapan membunuh, aku Rara, yang tak pernah takut pada siapapun, tapi kenapa kini..
“Rara dapat dari Gus Mo dan Afifah,” aku menjawab dengan suara sangat peran seraya menggigit bibir bawahku.
“Mereka mengatakan apa tentang foto ini?” dia masih menatapku yang berdiri tak jauh dariku.
“Kenapa diam? Ayo jawab! Mereka bilang apa?” ulangnya.
“Mereka bilang, itu cinta pertama Mas Hazar dan sudah berteman dari kecil,” sahutku sebentar menatapnya lalu kualihkan arah pandangku menatap pemandangan yang ada disebrang danau, karena pemandangan disana lebih indah daripada yang ada dihadapanku.
“Dan kamu percaya?”
Aku mengangguk pelan dan tiba-tiba pipiku menghangat oleh air mata yang luruh, kenapa hati ini menjadi sakit, sakit teringat lagi foto itu, ingat ucapannya saat pertama kali bertemu.
“Itu masa lalu yang tak mungkin aku bisa lupakan, meskipun Umma memaksa dan berupaya menghilangkan dari otakku, dengan menjodohkanku, aku butuh waktu, jadi jangan berharap banyak,” katanya sambil membalikkan badan dan menjauhiku menuju bibir dananu lagi.
“Maaf Mas, aku memang tidak mengharap banyak darimu, terlebih pertemuanku denganmu pertama kali, tak ada chemistry sama sekali, aku tak mendapatkan sikap yang baik dari kamu, dari cara kamu menatapku waktu itu,” aku bangun dari duduk dan mendekatinya.
“Kenapa tak kamu tolak saja perjodohan ini dari awal, aku memang dari awal tidak mau dijodohkan, juga tak sudi punya suami seperti kamu Mas, dingin dan tak punya sopan santun terhadap diriku, hiks..” suaraku bergetar, namun aku berusaha kuat menghadapi kenyataan ini.
“Kenapa diam?” tuntutku membalikkan ucapannya yang tadi dia lontarkan padaku.
Aku memiringkan kepalaku dan menatapnya, wajah bersih itu tegang dan merah, sepertinya dia sedang menahan amarah, dia balik menatapku, aku melengos dan bersedekap menghadap ke danau.
“Aku tak ingin menyakiti hati Buya dan Ummu, apa kamu tega menyakiti orang tuamu dengan menolak permintaanya?” dia balik bertanya.
Aku segan menjawabnya, kutinggalkan dia dan kembali duduk dikursi, aku ambil saputangan dari dalam tas dan membersihkan air mata dipipi. Aku sudah terlalu malas menjawab pertanyaan bodohnya, dan aku memilih diam saja.
Dia membalikkan badan, berjalan dan ikut duduk dikursi, dia duduk disampingku setelah menggeser tas juga kantong makanku, kami masih diam, sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing, kulirik jam ditangan, waktu sudah menunjukkan pukul 12.15.
Lamat-lamat terdengar suara Adzan berkumandang dari kejauhan, kami masih terpekur, masih menikmati lantunan suara Adzan yang bersahutan dari masjid ke masjid, kupanjatkan doa agar diberikan jalan keluar atas permasalahan yang kami hadapi, semoga Allah senantiasa menambah kesabaranku, menguatkan hatiku, ragaku juga telingaku untuk mendengarkan kalimat menyakitkan yang keluar dari mulutnya nanti.
Dia pun masih anteng dengan posisinya, duduk dengan kedua sikutnya bertumpu pada lutut serta tangannya menutupi wajah, kudengar dia juga berdoa, entah apa doa yang dia panjatkan, apakah sama doanya dengan doaku, yang pasti dia membaca doa setelah Adzan.
Perutku tak dapat dikompromi, dia bunyi disaat yang tidak tepat, ini memang sudah waktunya makan siang, bahkan Adzan sudah memanggil untuk segera menunaikannya, namun kami berdua masih saja diam tak bergeming.
Dia hanya melirikku ketika perut ini berteriak minta diisi, tapi kuabaikan saja, karena rasa laparku kalah dengan rasa sakitku, biarlah cacing-cacing dalam perutku turut merasakan perih, seperih hati ini.
“Maafkan aku, aku mau mencari langgar terdekat,” pamitnya, lelaki yang ada disampingku itu bangkit dan berjalan perlahan meninggalkanku.
“Percuma!” pekikku, dan dia menghentikan langkahnya.
“Percuma, kata maafmu tak mengubah stigmaku padamu, dan ucapanmu, sudah berhasil membuat goresan dihatiku,” aku berteriak tidak menoleh kearahnya, biarkan saja dia dengar atau tidak, tapi kudengar suara kaki melangkah, itu tandanya dia mendengar semua ucapanku.
Aku menangis sejadi-jadinya, pundakku hingga tersengal hebat, aku meremas rokku dan sesekali menyeka air mata serta lendir yang mengalir lembut dari hidungku. Setelah puas menangis dan lega rasa didada, aku melirik kantung yang berisi makanan bekal dari Ummi.
Ketika aku akan menyentuh kantong itu, tiba-tiba lelaki itu duduk dan mengagetkanku, sehingga tempat makanku jatuh, Hazar melirik tasku yang berantakan, ketika aku akan membereskannya, tangan Hazar pun terulur untuk mengambilnya, akhirnya kedua tangan kami saling bersentuhan.
“Ehh,” aku tersentak.
“Maaf,” katanya dengan buru-buru menarik tangannya dari atas tanganku.
Mukaku merah seketika, aku mengambil kotak makananku yang jatuh tersenggol Hazar, kususun 3 kotak makan itu dan aku letakkan ditengah-tengah antara aku dan dia.
“Itu makanan?” tanyanya kemudian.
“I-iya, Mas Hazar mau?” aku menyodorkan satu kotak makan padanya.
Dia ambil dan dibukanya kotak yang kuberikan tadi, lalu aku taruh sendok kedalam kotaknya, kuperhatikan mulutnya komat-kamit, mungkin sedang membaca doa makan, dan benar saja, dia menyuapkan nasi beserta lauknya kedalam mulutnya. Tak banyak yang kulakukan selain melirik dan mencuri pandang padanya.
Sepertinyad ia sedang lapar, karena dalam sekejap makanan yang ada dikotaknya habis tak tersisa, tak sedikitpun ia terganggu dengan tatapanku.
“Apakah memang karakternya seperti itu? pendiam dan tidak banyak omong, cuek dan peduli dengan keadaan sekitar, moso ono aku di jar no, ora nawar-nawarin, heehh..” aku sibuk dengan batinku menilai sikapnya. (masa ada aku didiamkan saja, tidak nawarin)
Aneh dan lucu, dia itu makan, makanan dariku tapi dengan santai dan cueknya makan sendirian, aku hanya menarik nafas pelan sambil menggedikkan bahuku.
“Ya sudahlah,” gumamku sembari memperhatikan punggungnya dari belakang, sepertinya dia akan ke mobil. Baru aku mau makan dan sedang membuka kotak nasi.
“Kamu sudah makan?” tanyanya tiba-tiba sudah ada didepanku dan memberikan sebotol air mineral. Aku menggeleng pelan seraya menerima botol yang dia berikan, aku meneruskan membuka kotak nasiku, dan mulai membaca doa mau makan dalam hati.
“Kenapa tadi tidak bareng makannya,” ucapnya dengan mencari sesuatu didalam tasku.
“Mana sendoknya?” tanyanya lagi dan aku masih saja diam tak percaya.
“Hei, ditanya kok diam aja?” semburnya dengan mengibaskan tangannya didepan mukaku.
“Sen-sendoknya cuma bawa satu,” jawabku lirih.
“Hah! cuma satu,” dia langsung membuka bekas kotak nasinya dan mengambil sendok lalu ia cuci dengan air mineral miliknya.
“Nih, maaf ga ada sabun, atau kamu mau makan pake tangan saja?” dia menatapku lekat, sumpah! Baru kali ini dia menatapku selekat ini.
“Apa?” aku juga berbalik menatapnya, ada sesuatu di matanya yang aku sendiri tak tahu, dia berubah baik dan lembut dalam hitungan tak sampai sejam, ada apa gerangan.
“Sendok ini bekas aku makan, kamu ga apa-apa makan bekas bekas sendokku?” tanyanya dengan menatapku yang membuatku salah tingkah, aku merasa dikelilingi banyak kupu-kupu dan sedang berada ditaman bunga, harum dan menenangkan.
“Ga masalah,” jawabku sambil menerima pemberian sendok darinya.
Tapi aku masih tidak percaya apa yang ku rasakan saat ini, aku belum pernah bertemu dengan orang aneh yang dalam waktu bersamaan sebentar kasar dan sebentar lembut, kupandangi sendok yang ada bekas tangannya, kurasakan sendok itu begitu hangat dan membuatku senang saat memegangnya.
“Kenapa kamu masih bengong disini? Kamu ga shalat? Seorang muslim tak boleh meninggalkan shalat dalam keadaan apapun!” suara lembut tadi berubah besar dan angkuh.
“Astagfirullah, ternyata tadi hanya lamunanku saja tho, Ya Allah ampuni dosaku,” aku tergagap mendengar suaranya dan segera mengusap sudut mataku yang masih basah, ternyata sikap lembutnya itu semu belaka.
Aku berjalan pergi meninggalkannya setelah membereskan tasku, aku tak tahu harus kemana, harus ke langgar kah atau pulang kerumah dengan diam-diam tanpa berpamitan dengannya.
“Ya Allah keluarkan aku dari kesulitan ini,” panjatku dalam hati seraya melangkah.
Langgar : Musholla / Surau