14. Srengenge

1070 Kata
Pada akhirnya aku lebih memilih pergi dengan segala kegamanganku, entah pertemuan tadi menyelesaikan masalah atau menambah masalah, aku lelah berjuang dalam kehampaan, ku ikuti langkah kaki ini dengan meninggalkan semua mimpi yang sudah ku susun diatas kebahagiaan, nyatanya pahit telah mengulitiku hingga tak tersisa dan melebur semua rasa. “Zahra Latifatul,” suara itu memanggilku dengan keras, namun aku sudah tidak memperdulikannya, toh dia sendiri yang memintaku tak berharap lebih. Aku mempercepat langkah kakiku, rumput hijau ini mengapa terasa sangat luas, hingga langkahku sulit sekali mencapai ujungnya, dia berteriak lagi memanggil namaku, kali ini dia memanggil dengan lebih sopan. “Ning Rara!” sepertinya suara lelaki itu tercekat pada ujung tenggorokan. Aku menghentikan langkah tanpa menoleh, aku berusaha angkuh dan kuat, padahal dadaku sesak dan ingin bertetiak memanggil Ummi, agar datang menolongku, aku butuh pelukan dari orang yang menyayangi dan mengasihiku. “Shalatlah dulu, aku tunggu dimobil,” ucapnya sambil berjalan melewatiku. Aku lihat bajunya masih basah sisa air wudhu tadi. “Iya,” jawabku singkat dan kesal, tentu saja kesal, aku pikir dia memanggilku mau apa. “Kalo kamu pulang duluan tak apa, aku bisa pulang sendiri naik taksi, lagipula aku harus ke kampus dulu ngambil motor,” kataku membalasnya dengan berjalan melewatinya tanpa menoleh. “Baiklah kalo itu mau kamu,” sahutnya, aku sekilas mendengar mendesah. “Hah, dia jawab begitu? Dasar cowok ga peka, aku tuh cuma ngetes,” batinku dengan kesal. Aku menjalani shalat Ashar dengan pikiran kemana-mana, alias tidak khusyu’, beberapa kali aku memohon ampunan kepada Allah atas kesalahanku, ketika aku keluar dari langar, kulihat dia masih menungguku sambil duduk di tepi kursi mobil dengan pintu terbuka. Dengan cueknya aku melenggang didepannya tanpa permisi, gawai didalam tas berbunyi dan bergetar, aku berhenti sejenak, setelah kulihat ternyata Sukma yang mengirimkan pesan, dia menanyakan keberadaan diriku, karena motorku masih ada dikampus, sedangkan akunya tidak ada. Kumasukkan lagi gawaiku kedalam tas, dan aku melanjutkan langkah dengan sedikit cepat, sedetik, dua detik, dia tidak memanggilku. “Baiklah aku akan naik taksi ke kampus, atau aku akan naik ojek aja, semoga keburu sebelum jam 5 sampai kampus,” ucap hatiku. “Ning Rara, tunggu, jangan pergi!” cegahnya, sepertinya dia meloncat turun dari duduknya. “Untuk apa mencegahku pergi? Bukankah Mas Hazar sendiri bilang tak usah berharap banyak, asal Mas tau, sejak kata-kata itu meletup dari mulut Mas, sejak saat itu pula Rara tidak pernah mengharapkan sesuatu yang manis dan indah untuk kehidupan mendatang,” sahutku dengan ketus. “Maaf kalo ucapanku menyakiti hatimu, aku ga bermaksud seperti itu, apakah kita bisa mencobanya?” ujarnya seraya menyentuh bahuku dari belakang. “Kita? Mencobanya katamu?” aku membalikkan dan menatapnya. Wajahnya terlihat lebih segar daripada tadi sebelum wudhu. “Aku tidak suka coba-coba, karena kehidupan rumah tangga itu bukan untuk coba-coba, bahkan sejak awal sudah kutekankan pada Ummi, emangnya makan tiwul harus dicoba dulu,” tandasku sambil menaikkan tasku yang merosot dari pundak. “Maksudnya aku, aku akan mencoba melakukan penjajakan dahulu Ning.” “Kamu tidak percaya sama aku, bahwa aku wanita baik-baik, jadi tidak perlu melakukan penjajakan dulu, aku tak sudi,” emosiku sudah melewati level 10, sungguh aku tak bisa mengontrolnya. “Astagfirullahal’azdiim,” aku beristigfar sambil memejam mata. Kudengar hembusan nafas kasarnya, dia diam dan beberapa menyugar rambutnya kebelakang, dia pun mengucapkan istigfar dan mengusap kasar mukanya. “Apakah aku salah jika aku akan mencobanya untuk bisa menerimamu Ning.” “Oouh jelas salah! aku buka kelinci percobaan, dan aku ga mau, EMOH!” aku pergi meninggalkannya. “Aarghh salah meneh, omonganku salah terus!” kesal dengan menendang botol bekas air mineral. (arrghh salah lagi, ucapanku selalu salah) “Terus terang aku memang belum bisa melupakan Nana sampai detik ini, tapi aku akan mencoba menerima kamu dengan caraku Ning,” ucapnya seperti putus asa. “Aku ga mau orang tua kita terluka, mereka menaruh harapan besar pada kita, karena mereka menginginkan kita menjadi penerus mereka kelak,” sambungnya. "Lagi-lagi kamu sebut mencoba.. mencoba menerimaku?" sindirku dengan mengulang ucapannya. “Tapi hidup berdampingan dengan orang yang sama sekali tidak mencintai kita, rumah tangga akan hampa, kedepannya akan tidak bagus, rasa itu lebih penting daripada ego, terlebih baru akan mencobanya,” aku mengutip ucapan Cak Sulis beberapa hari yang lalu. "Mas Hazar yakin? dengan kata mencoba.. kalo aku ga yakin," sanggahku sambil membuang muka. “Aku ngerti Ning, aku akan berusaha,” suaranya sangat lirih. “Aku pernah membaca tulisan Mas, mengapa wanita penting memilih dengan siapa ia menikah? Sebab laki-laki yang mencintai Allah, ia juga akan menuntun pasangannya untuk mencintai Allah, sedangkan laki-laki yang tidak mencintai Allah, ia juga tidak akan menuntun pasangannya untuk mencintai Allah, karena pada dasarnya manusia akan cenderung mengajak orang terdekatnya kepada apa yang biasa ia cintai,” tegasku panjang lebar dan sesekali aku mebetulkan letak kerudungku yang diterpa angin. “Lalu Mas Hazar mau menduakan aku gitu?” tanyaku dengan menatapnya nanar, kata-kata inilah yang sudah gatal ingin aku utarakan padanya. “Kenapa diam Mas, jawab!” desakku menuntut jawaban darinya. Lelaki berhidung mancung itu tampak memijit pelipisnya. Lagi, air mataku luruh, entah kenapa aku jadi merasa orang yang paling cengeng, sudah berapakali hari ini aku menangis, emosi dan kesedihan lebur menjadi satu tak terbantahkan, aku tak tahu mengapa tiba-tiba seberani ini menatap serta menantangnya. “Aku kembalikan cincin ini, karena aku tak pantas menerimanya, berikan saja pada orang yang seharusnya memang memakai cincin ini, aku tak mau dianggap merebut kamu darinya atau dari siapapun, aku akan menghadapi mereka, kedua orang kita,” setelah meraih tangannya dan membuka genggamannya, aku letakkan cincin yang sudah 2 bulan itu melingkar di jari manisku. Langkahku saat ini terasa ringan dan tanpa beban, meskipun ada rasa sakit terselip seperti luka goresan silet yang tajam, dalam dan menganga. Aku akan belajar untuk menanggung semuanya, belajar untuk lebih dewasa lagi, belajar menyembuhkan diri sendiri, belajar untuk ikhlas dan sabar dalam menerima keadaan serta kenyataan, bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat kita genggam dan kita miliki dengan mudah tanpa izin Allah. Aku membalikkan badan dan menatap lagi ke danau yang menghampar luas dihadapanku, hari semakin sore, semburat jingga mewarnai langit senja di atas Waduk Selorejo, dan sebentar lagi senja itu segera hilang berganti gelapnya malam tanpa bintang, srengenge sore ini tampak cantik dan paripurna, perlahan ia pulang ke peraduannya, aku menyaksikan dalam pantulan air danau yang tenang, dan mungkin, srengenge juga sebaliknya, menyaksikan diriku yang sedang memandangnya pilu terbalut dalam kepedihan, kini senja itu berubah semu. Srengenge = Matahari
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN