Arsen terkejut bukan main saat dirinya melihat Aruna tengah berdiri di depan pagar rumahnya. Berpakaian santai dengan hiasan senyum paling lebar. Entah sejak kapan gadis itu berdiri, tapi yang pasti, sepertinya sengaja menunggu sampai dirinya dan kedua putrinya keluar rumah.
Pagi itu sangat cerah, tapi sepertinya kalah cerah dengan senyum Aruna yang kelewat batas. Arsen berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Diikuti kedua putrinya dan Bi Ririn. Sebelum masuk ke mobil, Arsen menyempatkan datang pada Aruna.
"Baru aja aku mau mencet bel," kata Aruna.
"Apa gak kepagian datang ke rumah saya jam segini?" tanya Arsen melirik arloji di tangan kirinya.
"Kebetulan aku itu orang yang suka bangun pagi. Sebelum azan subuh aku udah melek, Mas. Makanya Alhamdulillah rezeki-ku gak pernah dipatok ayam. Soalnya aku lebih semangat dari ayamnya."
Khas Aruna sekali. Banyak bicara, banyak humornya, dan yang pasti tidak bisa diduga.
"Saya mau nganter anak-anak, abis itu mau kerja. Kamu ngapain sepagi itu udah ada di depan rumah saya? Jangan bilang kamu udah dapet kerjaan jadi pengantar koran?"
Aruna tertawa. Tidak menyangka Arsen akan membalas celoteh tidak jelasnya.
"Bukannya Mas Arsen sendiri yang bilang kalau Mas lagi butuh pegawai baru?"
Arsen nampak bingung. Karena seingatnya, sampai dirinya mengantar Aruna semalam, ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sedang butuh pegawai.
"Kayaknya saya gak pernah bilang kayak gitu."
"Lho, bukannya semalam Mas Arsen bilang kalau Mas emang lagi nyari-nyari pengasuh buat Bintang sama Binar?"
Arsen menatap Aruna setengah percaya. Tidak mungkin 'kan kalau Aruna sengaja datang sepagi ini untuk menunjukkan keseriusannya menjadi pengasuh kedua putrinya?
"Kamu pasti bercanda."
"Iya, Mas. Aku serius." Aruna tergelak, "gak usah keliatan shock gitu lah. Berasa yang ngelamar jadi pengasuh itu kriminal kali, ya. Aku nggak pernah ngelakuin kejahatan apa pun, kok. Kecuali nyalip antrian. Kalau emang itu bisa disebut kejahatan, oke aku ngaku."
Arsen menatap kedua putrinya yang nampak menunggunya. Gantian menatap Aruna yang secerah mentari pagi.
Ia lantas menatap Aruna serius. "Aruna, jangan bercanda, ya! Saya nggak mungkin mempekerjakan kamu karena kamu bilang kamu itu baru lulus kuliah. Kamu datang ke sini dengan tujuan untuk nyari pekerjaan."
Sekalian nyari calon suami, Mas. Tambah Aruna dalam hati.
"Apa kata orang tua kamu kalau saya bikin kamu jadi pengasuh anak saya? Itu bener-bener gak masuk akal, Aruna."
Rasanya Aruna ingin berteriak. Mas tahu nggak apa yang lebih gak masuk akal? Yaitu masih aja tetap suka sama Mas walaupun udah belasan tahun kita nggak ketemu. Dan yang lebih parahnya lagi kita itu cuma tetanggaan nggak lebih dari setahun. Itu bukan cuma gak masuk akal, Mas. Itu gila!
Namun, tentu Aruna tidak bisa mengatakannya. Bisa dicap perempuan gila dirinya kalau Arsen mendengarnya berbicara seperti itu.
"Tenang aja, Mas. Saya udah nyebar lamaran kerja, kok. Jadi ini cuma sambilan aja sampe Mas nemu pengasuh yang tepat. Gak keberatan juga kok kalau seterusnya." Aruna nyengir lebar. Membuat Arsen hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tapi gimana pun kita ini baru ketemu lagi. Saya gak bisa—"
"Astagfirullah, Mas. Tenang aja. Saya bukan penculik apalagi psikopat. Kalau perlu training, saya siap kok." Aruna memotong cepat. Tidak siap mendengar lanjutan perkataan Arsen.
Alhasil, karena sudah membuang terlalu banyak waktu, Arsen memilih untuk membuka gerbang. Membiarkan Aruna masuk. Gadis itu mengikutinya berjalan ke arah mobil.
Arsen bertanya kepada Bi Ririn. "Bi, ada kerjaan apa aja yang belum Bibi selesaikan di rumah?"
"Tinggal nyapu sama ngepel lantai, Mas," jawab Bi Ririn.
"Kalau gitu hari ini Bibi di rumah aja, biar Aruna yang nemenin anak-anak di sekolah."
"Oh, yaudah iya, Mas." Bi Ririn mengangguk. Ia berpesan kepada kedua anak Arsen untuk tidak nakal dan tidak menyusahkan Aruna.
Setelah itu, Arsen menatap kedua putrinya. "Bintang, Binar. Hari ini Kak Aruna yang bakal temenin kalian di sekolah. Jangan nakal, oke?"
"Ini bukannya Kakak yang kemarin?" Bintang bertanya.
"Iya," sahut Arsen.
"Ya udah, dianter sama Kakak ini juga gak pa-pa."
"Kalian gak takut? Kalian 'kan baru ketemu sama Kak Aruna?"
Mendengar itu, Aruna melotot ke arah Arsen, tapi Arsen tidak mempedulikannya.
"Ngapain takut? 'Kan semalam Papa yang bilang kalau Kak Aruna ini pernah tetanggaan sama Papa. Kakak-nya juga gak galak, kok. Malah asik. Iya, 'kan?" Bintang meminta persetujuan kepada Binar, dan Binar mengangguk membenarkan.
"Kalau setelah pulang sekolah kita main lego lagi boleh nggak? Aku mau bikin istana yang besar."
"Aku juga," timpal Binar terdengar bersemangat.
Aruna terkekeh. Hampir melompat kegirangan karena tidak mendapat penolakan dari kedua anak Arsen.
"Boleh. Tapi janji sama papa buat gak ngerepotin Kak Aruna. Gimana?"
Serempak, Bintang dan Binar mengangkat tangan kanannya, membentuk hormat untuk Arsen. Keduanya segera dituntun untuk memasuki mobil oleh Arsen. Aruna dipersilakan untuk duduk di kursi depan bersama dirinya sebelum Arsen masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Arsen saat Bi Ririn membukakan gerbang. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa tak jauh dari posisi rumah Arsen, tepat di seberang jalan, sebuah mobil dengan penumpang perempuan memperhatikan setiap gerak-gerik Aruna sejak tadi.
***
"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, kamu kuliah jurusan apa?" Arsen bertanya di tengah perjalanan.
"Manajemen, Mas," jawab Aruna.
"Lulusan S1 manajemen, dan kamu malah milih jadi pengasuh anak-anak saya?"
"Malahan cita-cita aku pengin jadi pengangguran kaya raya, tapi karena gak mungkin, mau gak mau aku harus gerak juga. Nggak apa-apa lulusan S1 manajemen, dan jadi pengasuh anak-anak Mas Arsen. Soalnya kalau disuruh ngasuh anak dari orang lain, aku nggak bakal mau."
"Kenapa?"
"Karena kalau sama orang lain aku nggak yakin kalau gaji aku akan dibayar tepat waktu."
"Jadi kalau sama saya kamu yakin bakal dibayar?"
"Ya, soalnya kalau gak dibayar aku bisa ngadu sama mamanya Mas Arsen. Kita berdua akrab banget lho, Mas."
Sangat akrab.
Arsen ingat bahwa dulu ibunya selalu memanjakan Aruna, terkadang melebihi dari bagaimana caranya memperlakukan ia sebagai putra kandungnya sendiri. Setiap kali Aruna ingin cookies, maka ibunya akan membuatkan itu dan meminta Aruna datang esok harinya. Mereka bahkan sering bisik-bisik bahwa cookies buatan ibunya lebih enak daripada cookies buatan ibu Aruna sendiri. Saat Aruna ingin es krim, maka Aruna tinggal membuka kulkas di rumahnya. Arsen ingat saat dirinya memakan es krim terakhir yang ada di kulkas dulu, dan ibunya marah-marah karena ia sengaja menyisakan es krim tersebut untuk Aruna.
Setelahnya, ibunya jadi sering sekali membeli es krim setiap kali pergi ke supermarket. Agar putranya dan anak tetangganya hanya perlu membuka kulkas saat ingin memakan es krim.
Kalau ditanya apa Aruna memang betulan akrab dengan ibunya, Arsen tidak akan menyangkal hal itu. Soalnya Aruna itu sudah seperti anak perempuan ibunya saja.
"Dulu pas kamu udah pindah, ibu saya suka lupa. Beberapa kali dia pernah bikin cookies kesukaan kamu, dan bilang kalau saya nggak boleh ngabisin cookies itu karena kamu pasti bakal datang ke rumah dan nyariin."
"Dan aku nggak pernah dateng?"
Arsen mengangguk pelan. "Kalau dia tahu sekarang saya mempekerjakan kamu sebagai pengasuh anak-anak saya, saya mungkin bakal digantung."
Aruna terbahak mendengarnya. Berlebihan sekali. Jelas saja tidak mungkin. Paling ibunya hanya marah, dan tidak bakal kejadian kalau tidak ketahuan.
"Mas Arsen sekarang beda banget. Dulu suka marah-marah kalau aku gangguin Mas Arsen. Suka kesal juga kalau aku ngadu sama mamanya Mas Arsen. Eh, ternyata sekarang udah gede banget, udah dewasa. Cuma tetanggaan setahun, tapi sekalinya ketemu lagi Mas Arsennya udah ngeduluin aku."
Arsen menatap Aruna sebentar, lantas kembali fokus ke jalan raya. "Sebenernya, sekarang juga bakal marah kalau kamu gangguin saya, cuma gak pake cara kekanakan lagi. Dan satu lagi, seharusnya saya yang pantas bilang kayak gitu. Dulu terakhir ketemu kamu masih bocah banget, eh sekarang ngaku udah lulus kuliah."
"Dikasih makan apa sama mamamu sampe bisa tumbuh secantik ini?" sambung Arsen.
Aruna terperangah, tertegun beberapa detik. Yang baru saja didengarnya jelas sebuah pujian untuknya bukan? Dan itu keluar langsung dari mulut Arsen.
Ya, mungkin saja hanya perkataan biasa Tentang seseorang yang baru bertemu kembali dengan teman lama setelah sekian lama berpisah. Siapa pun bisa mengatakan hal itu. Tapi karena sekarang Arsen lah yang mengatakannya, semuanya jadi terasa berbeda.
Aruna ingin berteriak, ingin menutupi wajahnya yang pasti memerah, ingin melompat pula dari mobil untuk melakukan semua itu. Tapi bodoh saja kalau benar dilakukan. Jadilah Aruna hanya bisa berusaha bersikap senormal mungkin. Layaknya seorang Aruna yang dikenal baik oleh Arsen.
"Ya, Alhamdulillah masih suka nasi sih, Mas. Kadang juga jajan bakso, mie ayam, sate, cilok juga. Tapi yang paling mahal udah jelas skincare-nya." Aruna balas menatap Arsen. Dan karena sedang menyetir, Arsen hanya terkekeh mendengar hal itu.
"Tapi sebenarnya aku itu emang udah cantik dari lahir, cuma kebetulan aja sifatnya emang agak lain dari perempuan di luar sana. Jadi kadang cantiknya suka ketutupan sama sifatnya itu."
Tidak kuat, Arsen tertawa. Sepertinya benar. Aruna memang yang paling beda dari kebanyakan perempuan. Agak konyol, kadang liar, dan tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.
Tanpa mereka sadari. Pembicaraan yang terus-menerus dilakukan di dalam mobil selama perjalanan membuat semuanya terasa singkat. Arsen menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang sekolahan. Belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa siswa yang juga diantar oleh ibu mereka.
Aruna turun. Membukakan pintu untuk anak-anak Arsen. Sebelum Aruna masuk ke sekolah bersama anak-anak, Arsen membuka kaca jendela.
"Awas jangan macem-macem. Saya punya nomor wali kelas Bintang sama Binar. Kalau kamu sampai ketahuan nyulik anak saya, kamu bakal tahu akibatnya." Arsen mengancam dengan nada yang lucu. Tidak serius.
"Gak usah aneh-aneh, Mas. Kalau kedatangan saya ke sini emang niat buat nyulik anak orang, saya pasti milih keluarga konglomerat. Emangnya Mas Arsen konglomerat?"
Arsen tertawa. Nyaring sekali. Menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan sih," katanya kemudian. Ia berpesan kepada kedua anaknya untuk tidak merepotkan Aruna dan menjadi anak baik. Keduanya memberi hormat kepada Arsen, sebagai tanda bahwa mereka akan menuruti perkataan Arsen.
Tepat sebelum Arsen ingin menutup kaca mobil, Aruna berbicara. Memaksanya menghentikan tindakannya itu.
"Aduh, harusnya sih yang nganter mamanya Bintang sama Binar. Karena ganti orang, dan kebetulan akunya cantik, jangan sampai aja dibilang mamanya mereka."
Hening. Aruna menatap Arsen. Bak baru saja melakukan kesalahan fatal, ia meneguk air liurnya sendiri.
Arsen hanya terdiam di kursi kemudi. Wajah guyonnya yang sejak tadi mengisi perjalanan, berubah menjadi tatapan dingin dan kosong. Aruna tidak tahu apa masalahnya, tapi yang pasti, itu adalah tatapan seorang Arsen yang paling mengerikan yang pernah dilihat oleh Aruna.
"Saya pamit. Nanti saya usahakan jemput pas anak-anak pulang sekolah," ujar Arsen datar. Menutup kaca dan melaju meninggalkan Aruna begitu saja.
Sepeninggal Arsen, Aruna terpaku di tempatnya untuk beberapa saat. Masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap kedua anak Arsen. Berjongkok di depan keduanya.
"Emangnya kakak ngelakuin kesalahan, ya? Kok kayaknya Papa kalian tiba-tiba marah gitu?" tanyanya khawatir.
"Kita gak pernah bahas soal Mama. Papa gak suka kalau ada orang yang nyebut-nyebut tentang Mama." Bintang menyahut tenang. Tidak terganggu sama sekali.
"Kenapa?" tanya Aruna lagi.
"Soalnya Mama udah gak ada," Binar yang gantian menjawab.
Aruna masih sempat melihat ke arah jalanan di mana Arsen melewati jalan tersebut. Mobil Arsen sudah tidak terlihat, tapi perasaan tidak enak masih menggerogoti hati Aruna.
"Tenang aja, nanti kalau Papa pulang kerja, pasti mukanya udah baik-baik aja."
"Beneran?" Aruna bertanya memastikan.
Baik Bintang maupun Binar sama-sama mengangguk percaya diri.
"Pokoknya jangan pernah ngomongin tentang Mama lagi. Gitu aja. Nanti semuanya bakal baik-baik aja."
"Emangnya kalian gak kangen sama Mama kalian?"
Keduanya saling pandang. Bintang yang menjawab, "Kangen, tapi kita lebih sayang sama Papa. Kalau bahas Mama bikin papa sedih, kita gak bakal lakuin itu. Soalnya cuma Papa yang kita punya."
Sudut hati Aruna tercubit. Sakit sekali melihat dua anak sekecil mereka harus tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu mereka. Arsen berperan menjadi seorang ibu sekaligus ayah untuk mereka. Dan itu pastilah sangat berat.
Perjalanan menyenangkan yang tadi penuh tawa, berubah menjadi suasana yang tidak disukai oleh Aruna. Ia tiba-tiba ikut sedih juga, hanya saja tidak bisa menunjukkannya, karena kedua anak Arsen tidak memerlukan hal itu.
"Ya udah, kita masuk aja yuk!" ajak Aruna memasak senyum lebar. Berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia mengambil masing-masing satu tangan Bintang dan Binar. Membawa mereka melewati gerbang sekolah.