4 - Es Krim Rasa Coklat

1063 Kata
Aruna sungguh-sungguh terkejut ketika ia dan kedua anak Arsen hampir melewati gerbang sekolah, dan ia melihat mobil Arsen yang tadi pagi mengantarnya kini berada tepat di depan gerbang. Meski baru menaiki mobil itu sekali, Aruna yakin betul bahwa itu memanglah mobil Arsen. Yang membuatnya kebingungan adalah kenapa Arsen ada di depan sekolah kedua anaknya? Aruna menghadang kedua putri Arsen. Berjongkok di depan mereka berdua. Ia bertanya, "Itu mobil papa kalian, 'kan?" Sambil menunjuk mobil Arsen. Bintang dan Binar mengangguk. "Kok ada di sini? Bukannya papa kalian kerja?" "Iya, emang kerja, tapi kadang setiap pulang sekolah, Papa pasti selalu jemput kita berdua karena dia nggak mau kita naik taksi atau naik ojek." Bintang yang menjawab. "Terus kerjaan papa kalian?" "Ditinggal dulu dong, masa dibawa-bawa. Nanti Papa pusing." Binar menimpali. Aruna berdiri. Kembali berjalan. Selang beberapa waktu, Arsen keluar dari mobil dengan satu tangan yang memegang ponsel yang tengah menempel di telinganya. Sepertinya Arsen sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Dan dari cara bicaranya, itu jelas mengenai pekerjaan. Aruna menunggu sekitar tiga menit di dekat mobil sampai Arsen selesai dengan panggilannya dan menghampiri kedua putrinya. "Gimana sekolahnya hari ini?" tanya Arsen lembut. "Baik dong, Pa." Bintang dan Binar menyahut bersamaan. "Nggak ngerepotin Kak Aruna, 'kan?" Bintang dan Binar segera menggeleng. Mengundang kekehan geli dari Arsen. Tangannya terulur untuk mengusap kepala putrinya bergantian kemudian segera mengantar kedua putrinya untuk duduk di kursi penumpang. Ia berhenti di depan Aruna sebelum kembali masuk ke mobil. seperti ingin memastikan sesuatu. Pertanyaan yang hampir serupa yang sebelumnya ditanyakan kepada kedua putrinya, kini ditanyakan kepada Aruna. "Kedua anak saya bener-bener enggak ngerepotin kamu, 'kan?" Aruna menggeleng sambil tersenyum simpul. "Nggak kok, Mas. Mereka nggak nakal dan sama sekali nggak ngerepotin aku. Mas sendiri kenapa sampai ngejemput anak-anak segala? Padahal saya masih hafal dengan baik kok alamat rumah Mas Arsen, dan saya janji bakal nganterin kedua anak Mas Arsen dengan selamat." Arsen balas tersenyum. "Iya, saya tahu. Tapi bukan itu maksud saya. Saya yakin kalau kamu pasti bakal nganterin anak-anak sampai ke rumah, tapi emang udah kebiasaan saya aja buat ngejemput mereka setiap hari. Karena saya nggak bisa selalu main sama mereka waktu siang, seenggaknya harus saya sendiri yang ngantar jemput mereka ke sekolah," tuturnya panjang. Subhanallah, kok ada manusia sesempurna Mas Arsen? Aruna bergumam dalam hati. Sudah tampan, baik hati, sopan, bisa diandalkan, dan ternyata sangat sayang kepada kedua buah hatinya. Setiap orang tua pasti memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan rasa sayang mereka kepada anak-anak mereka. Hanya saja dari bagaimana cara Arsen mau meluangkan waktunya untuk sekadar menjemput kedua putrinya membuat Aruna terkagum-kagum. Aruna yakin seratus persen bahwa sebenarnya Arsen juga pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang bahkan belum jam makan siang. Tapi untuk kedua putrinya, Arsen bahkan rela meninggalkan pekerjaannya setiap hari hanya untuk menjemput mereka sepulang sekolah. Demi Tuhan, bukankah yang seperti ini merupakan idaman kaum hawa? Kalau sama anak saja sebegitu perhatiannya, bukankah istrinya akan mendapatkan perlakuan serupa? Tanpa sadar Aruna terus memuji Arsen dalam hati. Membuat Arsen harus menjentikkan jari untuk membangunkannya dari lamunan. "Mau pulang sekarang?" tanya Arsen. Aruna mengerjap dan mengangguk cepat. Segera masuk ke mobil. Diikuti Arsen yang juga duduk di kursi kemudi. Mobil melaju meninggalkan pelataran sekolah. Bahkan meski hanya sekadar mengambil waktu sibuknya untuk menjemput kedua putrinya, Arsen sama sekali tidak mengendarai mobilnya dengan terburu-buru. Begitu santai dan tenang. Seolah itu adalah hari liburnya dan ia bebas melakukan apa pun yang ia mau. Selama pelajaran, mungkin karena itu adalah sedikit waktu yang bisa dinikmatinya bersama kedua putrinya, Arsen bahkan menanyakan tentang banyak hal pada Bintang dan Binar. Mulai dari pelajaran apa yang mereka pelajari hari ini, apakah ada tugas dari guru atau tidak, bahkan juga menanyakan tentang beberapa teman kedua putrinya yang sepertinya sudah sangat dikenal. Itu hanyalah pembicaraan sederhana seorang ayah dan kedua anaknya. Tapi entah kenapa pembicaraan itu sangat hangat untuk Aruna. Dari bagaimana Arsen bertanya dengan ada lembut, menatap kedua putrinya lewat kaca, dan sekali menanggapi dengan tawa, semuanya terlihat begitu memukau mata. Puncaknya adalah ketika Bintang dan Binar mengadu kepada Arsen bahwa pensil warna mereka sudah pendek-pendek dan tadi ketika mereka mendapatkan tugas mewarnai, mereka bahkan sampai meminjam pensil warna temannya. Arsen hanya tertawa mendengarkan cerita kedua putrinya, tapi mengejutkannya mereka justru berhenti di depan sebuah supermarket. Ketika kedua anaknya bertanya kenapa ayahnya menghentikan mobil, Arsen hanya menjawab bahwa dirinya akan membelikan pensil warna baru untuk mereka. Membuat mereka kesenangan. Bintang dan Binar jelas yang paling bersemangat ketika turun dari mobil. Aruna hanya terkekeh melihat keduanya menarik masing-masing tangan Arsen agar cepat cepat memasuki supermarket. Tujuan awal mereka memang hanya untuk membeli pensil warna, tapi ketika sudah dihadapkan pada lorong supermarket yang berisi penuh alat tulis, Bintang dan Binar juga merengek ingin membeli buku gambar dan krayon. Membuat Arsen mau tak mau akhirnya membelikan apa yang mereka mau. "Tapi harus janji sama papa kalau kalian bakal rawat dengan baik semuanya. Buku gambarnya nggak boleh cuma sekadar dicoret-coret aja, terus pensil warnanya nggak boleh diserut terus-terusan atau itu bakal cepat pendek. Sama satu lagi, setelah dipakai, kalian juga harus langsung rapihin supaya nggak hilang. Oke?" "Oke, Boss!" Bintang dan Binar membentuk hormat untuk Arsen. Memeluk barang bawaan mereka untuk kemudian dibawa ke kasir. Di meja kasir, Arsen bertanya, "Mau sekalian beli es krim nggak?" Menawarkan kepada kedua putrinya. "Mau dong!" seru kedua putrinya bersamaan. Mereka diminta memilih sendiri es krim apa yang mereka mau, dan menyerahkannya kepada Arsen dua es krim dengan dua rasa yang berbeda. Setelah itu, Arsen malah ikut mengambil es krim. Berbeda dengan kedua putrinya yang mengambil es krim karakter, arsen mengambil satu buah es krim cone rasa coklat. Arsen menatap Aruna. Bertanya, "Kalau kamu, kira-kira ada sesuatu yang mau dibeli nggak? Biar sekalian aja, nanti saya yang bayar." "Nggak kok, Mas. Nggak pa-pa, buat anak-anak aja." "Serius? Saya kok yang bayar. Tenang aja." Aruna terkekeh. "Serius, Mas. Emang lagi nggak ada yang mau dibeli aja. Nanti kalau misalkan saya mau beli sesuatu, saya langsung tarik tangan Mas Arsen, deh, biar Mas Arsen yang bayar semuanya." Arsen terkekeh. Mengiayakan saja. "Yang ini buat kamu. Nggak boleh ditolak. Saya masih inget kamu suka banget sama es krim rasa coklat," katanya tersenyum kepada Aruna. Menyerahkan es krim itu kepada petugas kasur. Es krimnya memang baru dikeluarkan, masih dingin tentu saja, tapi Aruna justru sudah meleleh duluan mendengar perkataan Arsen yang mengatakan bahwa Arsen masih mengingat rasa es krim kesukaannya. Fiks, Mas! Kita harus nikah! teriak Aruna dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN