5 - Tubuh Pelukable

1297 Kata
"Udah bilang Mama kamu kalau kamu jadi pengasuh anak-anak saya?" Arsen bertanya pada Aruna yang duduk di sampingnya. Keduanya sedang berada di mobil. Siang tadi, setelah mengantarkan kedua anaknya pulang, Arsen kembali meneruskan pekerjaannya. Baru kembali setelah malam hari. Dan karena Aruna masih ada di rumahnya, ia akhirnya memutuskan untuk mengantar gadis itu pulang ke hotel selepas makan malam. Tidak ingin membiarkan Aruna pulang sendirian. "Udah, Mas. Walaupun baru kerja hari ini, dan itu pun belum resmi, sebenernya sejak semalam aku udah bilang sama Mamaku kalau aku mau jadi pengasuh anak Mas Arsen aja sambil nyari-nyari kerjaan lain. Itung-itung nyari uang tambahan buat bekal selama di sini. Dan Mas Arsen tau gak gimana reaksi mamaku?" "Apa?" tanya Arsen. "Mamaku juga sempet kaget banget pas aku cerita kalau Mas Arsen udah nikah dan udah punya anak kembar pula. Tapi pas aku bilang mau jadi pengasuh anak-anak Mas Arsen buat sementara, dia setuju aja." Arsen sedikit menyempitkan mata, tapi tidak menunjukkan hal itu kepada Aruna dan terus fokus menyetir. Bertanya, "Kok bisa?" Masalahnya, Arsen sangat tahu bahwa Aruna itu bukan orang dari kalangan bawah. Kedua orang tuanya merupakan pengusaha yang bekerja di bidang yang berbeda. Rasanya agak aneh saja saat ibu Aruna sendiri mengizinkan putrinya untuk menjadi pengasuh saat tahu bahwa putrinya itu lulusan S1 manajemen. Tapi, ya, Arsen tidak ingin terlalu mempermasalahkan hal itu apalagi memikirkannya sampai terlalu jauh. Aruna nyengir. "Dia bilang asal nggak ngerepotin Mas Arsen aja," katanya. Sebenernya sih karena mamaku tau tujuanku sejak awal emang mau ngejar, Mas. Dan dia malah seneng pas tau ternyata Mas Arsen itu duda. Astagfirullah banget emang, tapi Alhamdulillah. Aruna meneruskan dalam hati. Tidak ingin Arsen mengetahui hal itu. Arsen manggut-manggut. Tidak berbicara lagi. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menembus ramainya Kota Jakarta. Saling berbaur dengan pengguna jalan yang lainnya. Arsen mengikuti arahan Aruna. Tiba di sebuah gedung bertingkat yang cukup besar. Aruna dibuat bingung ketika Arsen malah memarkirkan mobilnya di basement hotel, padahal dirinya sudah meminta agar diturunkan di depan hotel saja. Dan Aruna lebih bingung lagi ketika Arsen malah melepas sabuk pengamannya seolah Ingin turun dari mobil. "Mas, kenapa pakai lepas sabuk pengaman? Udah Mas Arsen langsung pulang aja, aku bukan anak kecil kok. Nggak perlu diantar sampai dalam segala." "Siapa yang mau nganter kamu?" tanya Arsen. Aruna semakin bingung. "Terus?" Arsen membuka pintu mobil. Menoleh ke arah Aruna. Berbicara, "Mau ambil barang-barang kamu. 'Kan kamu sendiri yang bilang bakal jadi pengasuh anak-anak saya. Jadi mulai hari ini kamu juga bakal tinggal di rumah saya supaya nggak perlu bolak-balik." Lantas segera turun dari mobil. Untunglah Aruna bukan tipikal orang yang lemot. Ia langsung ikut turun dari mobil dan berjalan memutar ke depan sampai tiba di tengah-tengah bagian depan mobil. Arsen berjalan ke arahnya. "Biar gampang aja. Jadi nanti kamu nggak perlu kejebak macet dan nggak perlu bolak-balik juga ke rumah saya. Yang namanya kondisi jalan raya itu nggak bisa diprediksi, dan saya nggak mau kamu sampai terlambat buat nganter anak saya ke sekolah karena lokasi yang cukup jauh ini." Demi Tuhan, Aruna sangat senang bukan main. Apa itu artinya ia akan mulai hidup satu atap dengan Arsen? Apa bisa dibilang ini adalah awal dari takdir baiknya dengan Arsen? 'Kan tidak ada salahnya juga belajar untuk hidup satu atap sebelum akhirnya nanti menjadi istri sungguhan. Ehh? Sungguh, kalau saja Arsen tidak ada di depan matanya, Aruna yakin pasti dirinya sudah guling-guling hanya karena ditawari hidup satu atap dengan pria itu. "Jadi, Mas, ini saya seriusan udah secara resmi diterima jadi pengasuhnya anak-anak Mas Arsen?" tanya Aruna. Arsen berdeham pelan. "Enggak juga sih, nanti kita urus kontraknya di rumah saya Tentang gaji dan segala macamnya." "Oke, Mas!" Aruna berseru senang. Segera berjalan lebih dulu menuju pintu masuk hotel. Diikuti oleh Arsen di belakangnya. Selama perjalanan menuju kamar Aruna, keduanya sama sekali tidak ada yang berbicara. Setibanya di depan pintu kamar, Aruna langsung menarik tas selempang ditangan kirinya, mengeluarkan sebuah card lock dari dompet yang ada di dalam tas. Ia mendekatkan card lock pada kotak sensor yang terletak di bawah daun pintu. Mengadukan card lock pada kotak sensor tersebut. Lampu sensor menunjukkan warna hijau dan terdengar bunyi pintu terbuka setelahnya. Aruna yang pertama masuk, diikuti Arsen yang langsung menyapu pandang ke segala penjuru kamar hotel milik Aruna. "Langsung beresin aja barang-barang kamu. Biar kita bisa langsung pergi. Saya nggak mau bikin anak-anak nunggu terlalu lama. Soalnya mereka biasa tidur sama saya." Aruna mengangguk. Segera berjalan ke arah ranjang, dan merapikan barang-barangnya yang tergeletak di atas ranjang dan di meja. Ada beberapa pakaian yang harus dilipat oleh Aruna, peralatan make up yang harus dimasukkan ke dalam tas make up, dan beberapa barang pribadi lainnya. "Ahh, ya. Saya lupa. Sebelum kamu benar-benar kerja sama saya, saya mau ngasih tahu kamu beberapa hal penting yang harus kamu ingat." Kegiatan Aruna yang sedang melipat pakaian terhenti. Ia memandang Arsen yang berdiri tak jauh dari posisinya. "Apa, Mas?" tanyanya. Mulai kembali menggerakkan tangan sambil mendengarkan. "Pertama, ini yang paling penting dan nggak boleh dilanggar sama sekali. Jangan pernah sebut apa pun mengenai mantan istri saya. Jangan coba cari tahu meski cuma sedikit aja. Jangan ngomongin hal itu di depan anak-anak, di depan Bi Ririn, apalagi di depan saya." Aruna kembali menghentikan kegiatan melipat pakaian. Kali ini memfokuskan dirinya secara penuh kepada Arsen. Aruna meneguk air liur. Teringat akan kejadian pagi ini saat dirinya menanyakan tentang mantan istri Arsen itu. Pria itu langsung terlihat asing di matanya. Tatapannya dingin, dan wajahnya langsung berubah datar. Ya, hanya dengan mengingat hal itu saja membuat Aruna yakin bahwa dirinya tidak akan pernah mengungkit-ngungkit lagi apalagi sampai mencari tahu mengenai mantan istri Arsen. "Kedua, jangan pernah ajak anak saya keluar tanpa seizin saya. Meski itu cuma ke taman kompleks perumahan aja. Nggak ada apa pun di dunia ini yang lebih berharga dari Bintang dan Binar. Jadi kalau kamu mau bawa anak-anak keluar, kamu harus minta izin saya dulu. Supaya saya tahu di mana kalian." Sekarang Aruna tahu bahwa Arsen adalah sesosok ayah yang sangat menyayangi kedua putri kembarnya. "Ketiga, jangan pernah juga keluar rumah tanpa seizin saya. Kalau kamu mau pergi ke suatu tempat, atau ada urusan mendesak yang mengharuskan kamu pergi secara tiba-tiba, kamu harus ngehubungin saya dan mastiin kalau kedua anak saya dijaga sama Bi Ririn." Aruna mengangguk patuh. "Yang terakhir, jangan bersikap seperti orang lain. Kalau kamu udah kerja sama saya, tinggal satu atap dengan saya, sama seperti Bi Ririn, itu artinya kamu juga sudah menjadi anggota keluarga saya. Bicarakan apa pun yang menurut kamu mengganggu dan membutuhkan bantuan saya. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kalau kamu sedang dalam masalah." Aruna semringah. Demi apa pun, ia sangat menyukai poin terakhir itu. Belum apa-apa sudah dianggap seperti keluarga saja. "Udah, itu aja. Saya sengaja bicara ini di sini supaya anak-anak nggak perlu dengar. Terutama tentang poin yang pertama. Ada yang perlu ditanyain?" Aruna menggelengkan kepalanya. "Paham kok, Mas. Pokoknya Mas Arsen tenang aja. Kebetulan aku itu cukup percaya diri kalau aku itu orang yang bisa diandalkan dan sedikit nggak tahu malu. Aku pasti bisa bekerja dengan baik, sekaligus nggak sungkan minta bantuan Mas Arsen kalau lagi butuh sesuatu." "Bagus," sahut Arsen, "kalau gitu bisa langsung dilanjut beres-beresnya." Aruna membentuk hormat untuk Arsen dan kembali meneruskan kegiatannya merapikan barang-barangnya. Tidak sampai lima menit, semuanya sudah masuk ke dalam koper miliknya. Ketika ia ingin menurunkan koper itu dari ranjang, Arsen sudah lebih dulu mendekat dan mengambil alih. "Biar saya aja yang bawa. Nanti saya tunggu di mobil sementara kamu pergi ke meja resepsionis untuk urus check out hotel." Dengan mudahnya Arsen menurunkan koper yang beratnya naudzubillah itu seolah-olah isinya hanyalah kapas. Untuk sesaat, Aruna bisa melihat postur tubuh Arsen ketika menurunkan koper miliknya. Hanya sesaat, tapi Aruna yakin seratus persen bahwa hal itu semakin meyakinkannya untuk menjadikan Arsen sebagai suaminya. Tubuh Arsen memang sangat ideal untuk dipeluk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN