Suara Jeno terdengar begitu asing di telinga Jaemin. Terasa begitu dingin, Jaemin dapat merasakan tubuhnya bergidik. Ada perasaan berbahaya dari Jeno sekarang, ia biasa merasakan itu saat bersama musuh, sungguh ia tak mengharapkan merasakannya dari Jeno.
"Apa kau pernah melakukannya dengan orang lain, selama delapan tahun ini?" Tanya Jeno, mengelilingi ruangan itu sambil memilih alat yang akan digunakannya.
"Setelah melakukannya denganmu, kau pikir aku bisa melakukannya dengan orang lain?" Balas Jaemin, ia sedikit meringis karena kepalanya terasa begitu sakit, mungkin efek dari obat bius yang diberikan Jeno sebelumnya. Jeno tersenyum miring mendengar jawaban Jaemin.
"Kenapa kau membiusku? Dulu, kau tak pernah melakukan itu, kau bilang kau tak perlu memakai hal semacam itu untuk menundukkanku." Tanya Jaemin.
"Itu dulu." Jawab Jeno singkat. Ia setengah berlutut di depan Jaemin agar menyesuaikan tinggi mereka, kemudian ia mulai memasangkan tali melingkari leher Jaemin dan membuat simpul mengitari tubuhnya.
Setelah puas dengan hasilnya, Jeno masih berdiam di depan Jaemin. Ia memperhatikan kulit mulus Jaemin yang hanya dihiasi tali itu.
Jeno menyentuh pelan daerah-daerah sensitif Jaemin. Jarinya menyusuri halus tubuh Jaemin, dimulai dari lekukan di pinggang Jaemin yang terbuat dari otonya kemudian turun sedikit hingga pangkal p***s Jaemin. Saat Jaemin mendesah, Jeno melepas sentuhannya kemudian berganti ke tempat lain.
Kini tangan Jeno dengan halus mengusap leher Jaemin membuat tubuhnya meremang. Tangannya mengusap tanpa tekanan, hanya sentuhan halus sekilas namun hal itu cukup membuat tubuh Jaemin merespon.
"Masih sangat sensitif." Komentar Jeno, jarinya turun ke tulang selangka Jaemin lalu berakhir di p****g Jaemin.
Jeno beberapa kali menyentuh p****g Jaemin, kemudian menariknya dan kadang memilinnya. Beberapa kali Jaemin mendesah, namun Jeno justru makin bersemangat memainkan p****g merah yang sudah tegang itu.
Jeno yang tak tahan, akhirnya mengulum tonjolan yang sangat menggoda itu. Ia menghisap dan menggigitnya sambil sesekali melirik ekspresi Jaemin yang mulai berubah erotis ditemani keringatnya yang makin membuat wajahnya begitu panas untuk dilihat.
Melihat wajah itu, Jeno beralih. Ia menarik tengkuk Jaemin, kemudian memaksa masuk mengeksplorasi bagian dalam mulut Jaemin.
Tangan Jeno masih memainkan p****g Jaemin, sehingga ruangan dipenuhi suara basah dari ciuman mereka dan diselingi desahan Jaemin.
Setelah beberapa lama, Jeno melepas ciuman panas mereka karena Jaemin yang terlihat kesulitan bernafas karena sulit mengimbangi ciumannya.
"Kau sudah kelelahan hanya dengan itu?" Ujar Jeno.
"Well, ini pertama kalinya aku melakukannya selama itu setelah delapan tahun." Balas Jaemin sambil terengah-engah.
"Sepertinya aku harus mengulang melatihmu dari awal." Jawab Jeno sambil berdiri, ia melonggarkan celananya.
"Kau masih ingat cara deepthroat kan?" Lanjut Jeno.
Posisi Jaemin yang setengah berlutut membuat tingginya tepat sepinggang Jeno dan bisa ditebak bahwa sekarang p***s Jeno tepat berada di depan mukanya.
***
TO BE CONTINUED...