5 - Impossible

597 Kata
Dengan perlahan, Jaemin melepas dekapan Jeno. Ia duduk di tepi tempat tidur kemudian melihat wajah Jeno yang tertidur tenang, melihat itu ia menghela nafas. Jaemin berdiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Awalnya ia ragu, namun ia melanjutkan tindakannya berjalan kearah meja kerja Jeno yang terdapat laptop disana. Beruntungnya posisi Jeno membelakanginya saat ini. Entah apa yang dilakukan Jaemin, namun suara ketukan keyboard membuat Jeno membuka matanya. Saat ia tidak melihat Jaemin di pelukannya, ia sudah dapat menebak jika suara keyboard itu perbuatan Jaemin. Jeno tak bergerak, ia hanya membiarkan Jaemin melakukannya. Setelah merasa urusannya selesai, sudut mata Jaemin menangkap pemandangan Jeno yang memperlihatkan punggungnya karena ia tidur topless. Jaemin tiba-tiba terdiam, ia melirik bergantian file di depannya dan punggung Jeno. Jaemin menghela nafas, ia menutup laptop Jeno kemudian berjalan kearah tempat tidur. Ia baru menyadari punggung Jeno terdapat begitu banyak bekas luka karena gelap sebelumnya. Jaemin menyentuh pelan punggung Jeno yang dipenuhi bekas luka itu, sulit bagi Jaemin membayangkan bagaimana Jeno mendapatkan semua bekas luka itu. Seakan Jaemin dapat melihat daging Jeno tanpa kulit saat menerima luka itu. Jeno sendiri masih terdiam, ia tak bisa menebak apa yang akan dilakukan Jaemin. Sulit dipercaya, hubungan mereka sekarang dipenuhi rasa tidak percaya akan satu sama lain. Jeno kembali menutup matanya saat Jaemin kembali naik ke tempat tidur.  *** Kini giliran Jaemin yang tidak menemukan Jeno saat ia membuka mata. Ia keluar dari kamar Jeno, kemudian menghela nafas lega saat melihat Jeno yang terlihat sibuk di dapur. Jaemin tersenyum tipis saat melihat Jeno tidak meninggalkannya. Ia pun berjalan pelan kemudian memeluk Jeno dari belakang. "Oh? Kau sudah bangun?" Ujar Jeno melihat tangan kecil itu menyelip di pinggangnya dari belakang. "Kukira kau pergi saat tidak menemukanmu setelah bangun tadi." Balas Jaemin, dengan suara pelan dan serak seperti akan menangis. Jeno yang mendengar itu berbalik kemudian membalas pelukan Jaemin dan mencium puncak kepalanya. "Aku tidak akan kemana-mana." Jawab Jeno, mendengar itu membuat Jaemin memeluk erat Jeno. "Sekarang, cuci mukamu dan gososk gigi. Aku sudah menyiapkan sarapan." Lanjut Jeno, yang kemudian diangguki Jaemin dengan malas, persis seperti anak kecil. Jeno melihat punggung Jaemin yang membelakanginya. Ia menghela nafas, sulit rasanya untuk benar-benar tersenyum di depan Jaemin setelah kejadian semalam. Jaemin kembali dengan wajah yang lebih segar, sedangkan Jeno menyambutnya dengan meja makan yang sudah tertata dan dipenuhi makanan. "Aku tidak pernah tahu kau bisa memasak." Ujar Jaemin kemudian mengambil tempat duduknya. "Well, banyak hal yang terjadi. Dan memasak salah satu skill yang harus kepelajari untuk bertahan hidup." Jawab Jeno.  Mendengar itu Jaemin terdiam, sungguh ia sangat penasaran dengan 8 tahun yang dilalui Jeno, bekas luka dan saat Jeno mengatakan 'bertahan hidup', semuanya menimbulkan pertanyaan tapi Jaemin hanya diam saja.  "Makananmu enak sekali. Tapi, sepertinya aku makan terlalu banyak.. Entah kenapa, aku merasa begitu mengantuk.."  Saat itulah Jaemin tersentak dan menatap Jeno yang menopang dagunya di depannya, " Tidak mungkin..." Ucapan Jaemin terputus, karena ia sudah terlelap detik berikutnya. *** Jaemin tersentak bangun, namun matanya tertutup sesuatu dan tangannya terasa sakit, karena terikat diatas kepalanya membuatnya tubuhnya tergantung pada tangannya. "Sudah bangun?" Jaemin mendengar suara Jeno. "Apa yang kau lakukan, Jeno?" Tanya Jaemin, ia tidak menyangka Jeno akan membiusnya. Dan sekarang ia tak tahu ada dimana karena matanya tertutup. Jeno berjalan pelan kearah Jaemin, kemudian membuka blindfold yang menutupi mata Jaemin. Detik berikutnya Jaemin terkesiap. Jaemin berada di sebuah ruangan yang dipenuhi warna hitam dan terdapat berbagai rak yang menyusun rapi s*x toys dan bondage set disana. Kemudian ia melihat tangannya yang dirantai ke langit-langit ruangan, membuat posisinya berlutut dengan kaki di rantai. "Apa kau merindukan ini?" Ujar Jeno. *** To Be Continued..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN