Jeno tak menjawab, tatapannya berubah sendu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu.
Jaemin menggertakkan giginya. Pandangan Jeno cukup menjawab pertanyaannya namun ia butuh ucapan kepastian dari Jeno. Tanpa menunggu, Jaemin pun menghapus jarak mereka.
Jeno terkejut karena Jaemin begitu agresif padanya. Namun, kelamaan ia sendiri kesal karena Jaemin yang memegang kendali. Ia pun mendorong Jaemin ke dinding hingga posisi mereka berubah.
Jeno melumat bibir Jaemin dengan penuh nafsu tapi tidak kasar. Jaemin dengan senang hati menyambutnya dan membuka mulutnya.
Jeno menerima lidah Jaemin yang menyapanya, membuatnya mendorong masuk lidahnya sendiri kedalam mulut Jaemin. Mereka saling bertukar saliva hingga menetes keluar hingga mengalir di dagu Jaemin.
Suara ciuman panas mereka memenuhi ruangan hampa ini, Jeno seakan lupa semuanya. Ia memegang tengkuk Jaemin agar tak melepas ciuman mereka. Sedangkan tangan satunya mengusap halus pipi Jaemin.
Tangan Jeno beralih mengangkat baju Jaemin untuk mencari dua tonjolan pink yang masih terlihat begitu segar. Ciuman Jeno turun hingga ke dagu dan leher Jaemin, pikirannya sudah terpenuhi nafsu yang tertahan selama delapan tahun terakhir.
"Aaakkhh." Desah Jaemin saat Jeno menggigit lehernya. Desahan itu seakan menjadi alarm bagi Jeno, ia menghentikan semua kegiatannya kemudian mendorong Jaemin hingga secara refleks ia mengambil jarak diantara mereka.
"Jujurlah, Jen. Kau tak bisa membohongi dirimu sendiri." Ujar Jaemin ketika melihat Jeno masih mencoba menolak kenyataan itu. Ia melangkah mendekati Jeno namun Jeno justru mengambil langkah mundur.
"Kumohon pergilah." Suara Jeno begitu pelan, ia tak sanggup menatap Jaemin dengan dirinya yang dipenuhi nafsu saat ini. Jaemin memegang lembut tangan Jeno yang terkepal keras kemudian menggenggamnya lembut.
"Kemana aku harus pergi jika kau ada disini?" Ujar Jaemin lembut.
Sudah lama sejak Jaemin mengerti ucapan Yunho padanya saat itu. Bukan hanya dirinya yang terikat pada Jeno, tapi begitu pula Jeno yang terikat padanya. Jaemin menarik tangan Jeno kearah lehernya.
"You put your Chain on My neck since long ago. Kau bisa melakukan apa pun padaku, sebagai Master-ku." Ujar Jaemin meletakkan tangan Jeno di lehernya. Jeno tanpa sadar mencengkram leher Jaemin begitu Jaemin melepas tangannya.
"I Will hurt you, badly." Desah Jeno, melepas tangannya yang sudah mencetak bekas merah di leher Jaemin.
"It's fine. The pain from you, is a pleasure to me." Jawab Jaemin dengan suara lembut yang menenangkan Jeno dari traumanya. Jeno memperhatikan wajah Jaemin yang tak terbersit sedikit pun keraguan.
"Okay, let's give it a try." Ujar Jeno akhirnya, melihat Jaemin yang penuh keyakinan meski ia terluka karenanya.
***
Jeno keluar dari ruangan itu sambil menarik tangan Jaemin, membuat semua bawahannya di organisasi itu terdiam karena tak mengerti perbuatan bosnya. Jeno membawa Jaemin ke apartementnya, karena ia belum yakin membawanya ke rumah untuk menemui Yunho.
"Duduklah." Ujar Jeno, kemudian berjalan ke kamarnya.
Jeno kembali dengan membawa kotak medis yang biasa digunakannya saat ia terluka. Kini ia berlutut dihadapan Jaemin. Ia sudah hapal kebiasaan bawahannya, jadi ia tahu apa saja yang sudah Jihoon lakukan pada Jaemin selama menyiksanya. Dengan perlahan ia membuka baju Jaemin.
Jaemin sedikit meringis saat Jeno membuka bajunya karena bajunya yang sudah menempel pada lukanya membuatnya begitu perih saat kembali terbuka karena bajunya yang perlu di lepas.
"Kau terlihat penuh tenaga saat memukulku tadi, tapi sekarang kau meringis hanya karena luka seperti ini. Ckckck." Ujar Jeno sambil terkekeh.
"Sepertinya kau kurang dipukul, hingga mulutmu masih bisa mengejekku." Balas Jaemin sambil mengerucutkan bibirnya. Jeno hanya terkekeh kemudian kembali merawat luka Jaemin.
Setelah merasa cukup, Jeno pun membawa Jaemin ke kamarnya. Jeno menyuruh Jaemin istirahat lebih dulu, karena ia mau mandi sebelum tidur. Saat Jeno keluar dari kamar mandi ternyata Jaemin benar-benar sudah terlelap di tempat tidurnya.
Jeno tersenyum tipis melihat wajah mungil yang terdapat luka dan memar itu terlelap nyenyak di sampingnya. Ia pun menarik Jaemin agar masuk kedalam dekapannya, setelah 8 tahun lamanya ia bisa kembali tidur dengan tenang. Jeno tertidur begitu saja beberapa saat kemudian.
Jaemin mendengar suara nafas teratur Jeno, kemudian ia pun membuka matanya.
***
TO BE CONTINUED..