Jeno berjalan perlahan kearah Jaemin. Ia hendak menyentuh wajah yang terluka namun sangat ia rindukan selama ini. Sekitar satu inci dari wajah Jaemin, Jeno kembali menarik tangannya kemudian mengepal keras hingga ia yakin kukunya menembus kulitnya.
"Apa yang kau coba lakukan disini?" Ujar Jeno sambil berbalik membelakangi Jaemin
"Ini misiku." Jawab Jaemin.
"Apa kau tidak tahu berapa banyak orang yang mati menjalankan misi ini?" Jeno tanpa sadar menaikkan nada bicaranya kearah Jaemin.
"Tapi sebanding dengan kenyataan aku menemukanmu disini." Balas Jaemin masih dengan mantap, tanpa keraguan.
"Na Jaemin!! Apa kau sadar, kau sedang bermain dengan nyawamu sekarang? Jaem... Jika aku tidak datang, besok kau sudah tak akan bernyawa.." Jeno menyerah, ia berkata sangat lembut membayangkan jika ia bisa saja membunuh Jaemin secara tidak langsung jika ia membiarkan Jihoon menyiksanya lebih lama.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" Tanya Jaemin. Jeno tak membalas ucapan Jaemin, ia lebih memilih melepas ikatan Jaemin.
"Jawab aku, Jeno. Aku tak akan membiarkanmu menghilang dari pandanganku lagi." Lanjut Jaemin sambil menarik bahu Jeno agar menghadapnya.
Jeno menghela nafas, melihat wajah Jaemin yang penuh luka di depannya makin membuatnya merasa bersalah. Dengan pelan ia mengangkat tangannya untuk menarik tubuh Jaemin ke dalam dekapannya.
Jeno tak mengatakan apa-apa, ia hanya mempererat dekapannya, memperdalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher Jaemin, mencium aroma tubuh yang sangat ia rindukan.
Jaemin terdiam akibat aksi Jeno, semua gerakannya terasa begitu lembut, begitu dalam, begitu banyak perasaan yang disampaikan hanya dari satu pelukan. Namun, saat ia hendak membalas pelukan itu, Jeno justru melepas dekapannya.
"Pergilah, Jaem.. Untuk kali ini, akan kubiarkan kau pergi. Anggap saja, ini bayaran kesalahanku padamu 8 tahun yang lalu. Dengan ini, kuharap kau tak lagi menemuiku. Lupakan aku, Jaem. Bahkan status kita saat ini menjadi bukti jika kenyataan pun tak mengizinkan kita melanjutkan hubungan ini." Ujar Jeno tanpa menatap Jaemin. Kemudian hendak membuka pintu ruangan ini.
"Satu-satunya kesalahanmu adalah kau meninggalkanku 8 tahun yang lalu, dan sekarang kau ingin mengulang kesalahan itu? Jangan melarikan diri, Jeno !! Kau berdiri di puncak tertinggi dalam rantai politik, ekonomi dan hukum di negara ini. Apa yang masih membuatmu takut?" Seru Jaemin.
"Tidak, kesalahanku adalah membiarkan dirimu terbuai oleh godaan sesaat dariku dan akhirnya membuatmu begitu terobsesi padaku. 8 tahun adalah waktu yang lama untuk melupakan seseorang, semua orang berubah dalam waktu 8 tahun, aku bahkan..." Ucapan Jeno terputus.
Jaemin tak tahan lagi mendengar semua alasan dari Jeno. Ia dengan cepat berjalan kearah Jeno dan melayangkan pukulannya sekuat tenaga pada Jeno.
Tubuh Jeno menabrak dinding di belakangnya akibat pukulan Jaemin. Belum sempat ia melakukan apa-apa. Jaemin sudah mencengkram kerah bajunya.
"Lalu kenapa kau memelukku?"
***
To Be Continued....