"Jeno-ya, berhentilah. Kau terlalu banyak minum akhir-akhir ini." Ujar Samuel, menghentikan Jeno untuk meminum lebih banyak alkohol.
"Aku..kembali mengingatnya." Ujar Jeno dengan setengah sadar. Ia rasa dirinya sudah cukup mabuk.
Dadanya sesak, alkohol sepertinya menghancurkan pertahanan dirinya untuk tidak mengeluarkan emosinya.
Samuel menghela nafas, ia sangat paham apa yang dibicarakan Jeno sekarang. Jeno tertunduk di depannya, wajah Jeno setiap kali membahas hal ini selalu terlihat begitu menyakitkan.
Ia dan teman-temannya tak pernah tahu, apa yang terjadi pada Jeno saat ia meninggalkan Jaemin. Tapi mereka tahu Jeno tak pernah benar-benar ingin pergi dari Jaemin.
"Berdirilah, sebaiknya kau pulang dan tidur untuk menenangkan dirimu sekarang." Ujar Samuel sambil menopang tubuh Jeno menuju mobilnya. Samuel tak tahan melihat teman satunya ini begitu menderita tiap kali teringat akan Jaemin.
Samuel dan lainnya bukan tak membantunya, namun begitu tamat dari SM Private High School keberadaan Jaemin pun seperti menghilang ditelan bumi. Akhirnya mereka pun tak pernah membahas Jaemin di depan Jeno. Jeno terduduk lemas di mobilnya. Samuel meninggalkannya karena Jeno datang bersama supirnya.
"Bawa aku ke markas." Ujar Jeno dengan suara serak.
***
Jeno melepas jasnya dan membuangnya sembarangan begitu memasuki markas organisasinya.
"Oh? Bos, kau datang selarut ini?" Ujar Woojin begitu melihat Jeno datang.
"Aku butuh 'sandbag', apa ada sesuatu untukku hari ini?" Ujar Jeno sambil menggulung lengan kemejanya dan membuka dua kancing teratas bajunya.
"Kebetulan sekali, semalam Jihoon menangkap penyusup. Ia tertangkap saat mencoba memata-matai transaksi yang dilakukan Jihoon." Jelas Woojin sambil menuntun ke ruangan lain
"Hm, apa yang kalian dapat darinya?" Tanya Jeno.
"Dia masih diam, bahkan sepertinya ia belum menyerah setelah disiksa sejak semalam. Jika bos yang melakukan mungkin ia akan buka mulut, tapi dari barang-barangnya sepertinya ia salah satu Agen Intel Negara." Lanjut Woojin.
"Lagi? Sudah berapa agen mereka yang habis dengan kita? Apa mereka belum menyerah juga?" Tukas Jeno, yang hanya dijawab dengan gidikan bahu oleh Woojin. Ia membuka pintu ruangan tempat agen itu ditahan.
Ruangan itu hanya berisi satu orang yang sedang terikat di kursi dengan kepala tertunduk di tengah ruangan dan dua orang lain yang langsung membungkuk begitu melihat Jeno masuk. Woojin dengan sigap menyerahkan sarung tangan hitam yang biasa dipakai Jeno saat menyiksa seseorang.
"Bangunkan dia." Perintah Jeno sambil memakai sarung tangannya. Jihoon yang berada di samping agen itu, dengan keras menarik rambutnya agar mendongak menghadap Jeno.
Jeno menjatuhkan sarung tangannya. Seseorang yang ia cari selama ini, berada tepat di depan matanya dengan keadaan yang mengenaskan. Jeno menggertakkan giginya.
"Semuanya keluar!!" Seru Jeno.
Tiga orang yang berada disana tersentak kaget karena Jeno tiba-tiba teriak seperti itu, mereka pun meninggalkan ruangan tertutup itu dan menutup pintunya.
Seseorang yang terikat di kursi itu terbangun akibat teriakan Jeno. Ia mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum polos begitu melihat sosok di depannya.
"Akhirnya.., aku menemukanmu." Desah Jaemin.
Jeno mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak berlari memeluk Jaemin di hadapannya.
***
TO BE CONTINUED..